Mengejar Cinta Satu Malam

Mengejar Cinta Satu Malam
Drama Di Pabrik 2


__ADS_3

Jayden dan Sean melongo melihat Tania dan Vera sangat ahli menggunakan mesin jahit. Tania sudah melepas jaketnya menyisakan kaos oblong coklatnya. Sedang Vera tinggal memakai blus merahnya.


Kedua tangan dan kaki mereka begitu lihai menjalankan mesin jahit menggunakan dinamo itu. Meski keduanya harus melepas sepatu mereka. Untuk menginjak pedal mesin jahit yang ada dibawah mesin. Meski Tania masih bisa menggunakan flat shoesnya. Berbeda dengan Vera yang memang memakai heels lima senti. Jadi harus dilepas.


"Enak juga nyeker" guman Tania yang diangguki Vera.


"Kamu hebat sekali, Baby" bisik Jayden yang baru kembali dari mobilnya untuk mengambil laptopnya.


Ia dan Sean akan ikut bekerja di ruangan pak Anwar.


"Terima kasih" jawab Tania tersipu malu.


Meski beberapa kali harus berhenti untuk bertanya pada Linda, sang supervisor yang super ramah. Namun keduanya semangat sekali untuk menemani lembur para pekerjanya. Membuat para pekerja mereka semakin semangat untuk lembur.


Meski sesekali harus berhenti untuk menunggu bagian cutting menyelesaikan potongan kain yang baru sampai. Namun wajah pekerja itu terlihat begitu senang. Lembur ditemani bos plus bonus dua wajah kece yang bebas mereka lihat. Karena Jayden dan Sean duduk di ruangan pak Anwar yang full kaca dindingnya.


Nita yang baru datang kebagian bagian konsumsi. Meski dia harus muter-muter mencari warung untuk memenuhi seratus nasi kotak untuk makan malam para pekerja yang sedang lembur. Nita gemetar ketika dia diberikan black card milik Jayden. Seumur-umur dia baru kali pegang kartu paling sakti sedunia. Yang bisa membeli isi dunia 🤣🤣🤣 (itu kata author lo)


Dan setelah muter-muter, Nita akhirnya bisa membawa seratus box nasi kotak yang isinya bisa bikin orang ngakak nggak habis-habis. Bagaimana tidak seratus box itu isinya macam-macam. Nasi padang ada. Nasi warteg ada. Nasi goreng ada. Mi goreng ada. Terakhir sekali karena saking pusingnya dia masuk restoran seafood dan pesan nasi kotak disana.


"Kamu mindahin pasar ke sini, Ta?" tanya Jayden santai.


Membuat Nita melongo. Kemana bos singa yang sering Rey ceritakan. Yang tukang ngamuk. Tukang paksa. Tukang marah. Kok kayaknya Jayden tidak seperti itu.


"Yaelah Pak Lee. Jam segini mana ada warung yang sanggup bikinin seratus box nasi.Tanpa pesan lebih dulu. Itu saja mereka pada bersihin dagangan mereka" jawab Nita manyun.


Yang langsung mendapat hiburan dari Sean.


"Elu tu, sudah dibelikan makan masih saja protes" salak Sean.


"Eehh jangan salah. Itu kartu gue. Asal elu tahu" salak Jayden tidak kalah galak.


Nita kembali melongo.


"La tak kira itu tadi kartunya Bu Tania. Soale pin-ne tanggal lahire Bu Tania. Ternyata bukan to" batin Nita heran.


Sean menatap judes Jayden. Yang balik menatap galak ke arah Sean.


"Sudah-sudah. Tinggal pada makan saja kok repot. Kasihan tu si Nita harus puter keliling Jakarta" Vera melerai.


Namun kedua pria itu masih tetap saling melempar tatapan permusuhan. Hingga Tania masuk. Membuat Jayden dan Sean memutus kontak matanya.


"Kamu mau makan apa?" tanya Tania pada Jayden.


"Apa saja asal kamu yang pilih pasti aku makan" jawab Jayden yang membuat Nita auto baper mendengarnya.


"Duh manisnya. Romantisnya" batin Nita dengan hati meleleh mendengar ucapan Jayden pada Tania.


"Kamu Sean?"


"Eh dia biar Vera yang ngurusin. Kamu urus saja aku" ucap Jayden galak.


"Dasar kampret lu" maki Sean.


Yang mendapat juluran lidah dari Jayden.


"He ngomong apaan sih" ucap Vera.


"Abisnya tu orang nyebelin banget" sungut Sean.


"Kayak elu kagak aja" balas Jayden.


"Berhenti nggak berantemnya!" amuk Tania.


Membuat kedua pria tampan itu langsung diam. Dengan bibir manyun lima senti dan tangan bersedekap di dada masing-masing.


"La wong kompak gitu kok yo masih berantem aja" celetuk Nita yang langsung membuat dua pria itu mendelik padanya.


"Astaga Bu. Sereeemmm, kalau pada ngamuk ternyata" guman Nita lirih bersembunyi di balik tubuh Tania.


Tania dan Vera hanya memutar matanya malas melihat tingkah kekanakan dua pria dewasa itu.

__ADS_1


"Makan dulu" ucap Tania lembut.


Meletakkan nasi dari restoran seafood untuk Jayden dan Sean. Membuat kedua pria itu langsung mengembangkan senyumnya.


"Terima kasih" ucap Jayden dan Sean bersamaan.


Namun detik berikutnya keduanya langsung membuang muka. Tidak ingin melihat satu sama lain.


"Astaga. Kalian lebih parah dari Tom and Jeŕry" celetuk Vera.


Yang langsung mendapat tatapan tajam dari dua pria tampan itu.


"Lah pakai marah lagi. Kan bener itu" Vera membela diri.


"Sudah Ra. Biarkan saja. Nanti juga akur sendiri" ucap Tania. Lalu mulai ikut makan. Pun dengan Nita dan Vera.


"Tadi ada drama Mbak di kantor" ucap Nita di tengah acara makan mereka.


"Drama apa?" tanya Sean.


"Biasa. Mantannya Bu Tania nyariin Bu Vera" jawab Nita.


"Dia move on ke kamu, Ra" ucap Jayden.


"Apa sih dia tu cuma nggangguin aku. Minta aku bantuin dia buat balikan sama Tania" elak Vera.


Meski entah kenapa yang dikatakan Jayden begitu mengena di hatinya.


"Terus elunya mau?" tanya Sean.


"Ya enggaklah. Maka itu di nyariin aku terus. Bikin mumet aja" keluh Vera.


"Jangan kamu bantu. Tania sudah sama aku. Bentar lagi kami mau married"


Byurrr,


"Uhuukk"


"Baby, kamu nggak apa-apa kan?" tanya Jayden


"Kamu kenapa?" tanya Sean.


Keduanya memberikan tisu bersamaan ke arah Tania. Membuat Tania bingung.


"Elu urusin Nita aja sana. Tania urusan gue. Kalau enggak, gue suruh Rey rebut Nita dari elu" ancam Jayden.


"Elu ngancamnya kok gitu" protes Sean.


"Terus gue harus gimana?" jawab Jayden santai sambil membersihkan tangan Tania dari bekas air mineralnya sendiri.


"Nggak sportif lu" sungut Sean.


"Biarin yang penting gue menang" cibir Jayden.


"Astaga Tan, gini amat pilihan lo" protes Sean.


"Gue belum milih dia Sean" ucap Tania santai.


"Maksud kamu apa, Baby? Kan...


"Baru mulai dari awal" potong Tania.


Membuat Sean mengembangkan senyumnya.


"Do you hear that, Bro?" ledek Sean.


"Tapi Baby,....


"Sudah selesaikan makannya. Aku mau balik jahit dulu. Tinggal dikit lagi" ucap Tania. Melirik jamnya. Jam sebelas malam.


Setelah ketiga wanita itu keluar dari ruangan pak Anwar. Tinggal Jayden dan Sean di ruangan itu.

__ADS_1


"Apa maksud elu mendekati Tania" tanya Sean judes.


"Masih kurang jelas apa. Aku mau dia"


"Maksud elu dengan mau dia itu apa. Kalau elu ngedetin dia cuma buat nyakitin dia. Mending elu pergi jauh gi sana"


"Gue nggak ada maksud buat nyakitin dia. Asal elu tahu. Gue nyari dia hampir dua tahun ini. Gue serius sama Tania. Mau nikahin dia. Mau bahagiakan dia"


Sean terdiam. Dia mendengar semua ucapan Jayden sambil menatap mata pria itu. Mencoba mencari kebohongan di sana.


"Elu nggak bohong kan?"


"Buat apa gue bohong? Gue ingin dia tahu kalau gue serius sama Tania"


"Dia? Dia siapa?" tanya Sean.


"Bos elu"


Sean membulatkan matanya.


"Bagaimana elu tahu?"


"Elu belum tahu siapa gue" Jayden meremehkan.


Sean terdiam. Tidak menyangka jika Jayden akan tahu siapa dirinya.


"Gue tahu elu bodyguard yang sengaja dikirim oleh dia. Kakak angkat Tania. Kaizo Aditya atau Eric Liu. Benar tidak?"


"Baguslah jika elu tahu siapa gue. Jadi elu bisa hati-hati sama gue"


"Buat apa? Supaya elu ngasih laporan yang baik-baik ke dia soal gue. Sorry ya gue bukan tipe tukang cari muka. Elu nggak tahu apa kalau kakak gue sohibnya bos elu"


"Tahu"


"Kalau elu tahu. Seharusnya dia nggak cuma dengerin laporan dari elu aja"


Sean kembali terdiam. Dia tahu Jayden. Tipe yang seenaknya sendiri. Dia hanya takut kalau Jayden memaksa Tania untuk menerima pria itu.


"Gue nggak masalah sih Tania sama siapa saja. Asal dia bahagia. Tapi tidak dengan laki-laki brengsek seperti Bryan kemarin. Meski gue tahu. Elu juga brengsek dulu"


"Gue akui, gue orang brengsek. Tapi itu dulu, sebelum gue ketemu ipar gue. Sebelum gue ketemu Tania. Gue berani menjamin diri gue sendiri. Kalau gue sudah berubah"


"Yakin elu sudah berubah?"


"Bisa dibuktikan" jawab Jayden santai.


"Baik. Sebab elu sudah tahu siapa gue. Tugas gue apa. Jadi silahkan buktikan kata-kata elu. Gue tinggal laporan ke bos gue"


"Asal laporan elu bener aja. Nanti elu manipulasi pula"


"Elu kira gue tukang korupsi. Manipulasi laporan keuangan. Eh asal elu tahu juga ya. Gue juga pengen tugas gue jadi double agent ini cepet selesai. Gue juga pengen married. Pengen nengokin bokap gue" curhat Sean.


"Nah lo, kenapa jadi elu yang curhat. Elu pengen nengokin bokap elu. Ya sana tengokin. Tania biar gue yang jagain"


"Nggak ah. Nanti gue tinggal pergi elu bawa dia ke kasur elu"


"Udah kali ya"


"What!!!????. Elu serius?"


"Seriuslah. Tapi tenang. Belum gue bobol...lagi"


"Sialan lu. Awas kalau sampai elu tidurin dia. Gue bejek-bejek tu muka"


"Eh yang ada, elu dulu yang dibejek-bejek ma bos elu"


Sean melongo.


"Iya juga ya. Kalau sampai Kak Kai tahu misalnya Tania sampai tidur ma si brengsek ini. Habis aku" batin Jayden.


"Kok aku jadi merinding takut ya. Kalau sampai Kai tahu aku sudah nidurin Tania. Bakal diapain aku sama Kai" batin Jayden melirik ke arah Sean.

__ADS_1


*****


__ADS_2