
"Apa yang kamu katakan, Leo?" tanya Kai ketika Leo, sang asisten memberinya laporan yang mengejutkannya.
"Mbak Fanny dua kali hampir dilecehkan oleh mantan pacarnya. Bryan Aditama. Untung saja tuan Lee dan Sean bisa datang tepat waktu. Tapi masalahnya mereka gagal melindungj Vera. Dia sekarang hamil anak Bryan"
"Ooh *****!!!" umapt Kai.
Leo menunduk takut.
"Bagaimana mereka bisa kecolongan?"
"Mereka terlalu fokus dengan mbak Fanny. Lalai ketika Vera menyusul mereka ke hotel waktu itu. Dan Bryan melecehkannya" jelas Leo.
"Kurang ajar! Lalu apa yang mereka lakukan sekarang?"
"Mereka akan menghancurkan orang yang selama ini memanfaatkan Bryan"
"Bagus jika mereka mulai bertindak. Kalau tidak aku sendiri yang akan turun tangan sendiri"
Kredit Instagram@dreamylinyi
Kaizo Aditya ya guys
***
Jayden terus mengikuti kemana Tania pergi. Tidak dia pedulikan tatapan orang padanya. Dan juga panasnya sinar matahari.
"Oh my, panasnya" gumannya lirih.
Matanya terus mengawasi kemana sang kekasih hatinya melangkah. Tania tampaknya tidak tahu jika Jayden mengikutinya. Dia terus saja berjalan. Tanpa tahu kemana tujuannya.
"Dasar tukang bohong. Penipu" makinya tiap kali teringat perbuatan Sean.
Bagaimana bisa dia tidak tahu. Kalau Sean adalah mata-mata Kai.
"Bodoh. Bodoh.Bodoh" ucapnya lagi sambil memukul kepalanya.
"Sudahlah. Jangan menyakiti dirimu sendiri" ucap Jayden menahan tangan Tania yang ingin memukul kepalanya sendiri lagi.
"Ngapain Kakak di sini?" ketus Tania.
"Ya jadi stalker kamulah. Apalagi" jawab Jayden enteng.
"Sudah kubilang jangan mengikutiku"
"Kamu lupa siapa aku?"
Tania terdiam.
"Semaunya sendiri" gerutu Tania.
"Nah tu tahu. Ayo pulang" ajak Jayden.
"Ogah. Malas ketemu tukang bohong"
"Yang bohong siapa?"
"Kakaklah sama Sean"
"Bukan bohong. Cuma main rahasia-rahasiaan sedikit" ucap Jayden sambil memberikan kode sedikit dengan jarinya.
"Sama saja. Tetep namanya bohong" kesal Tania.
"Oh come Baby, kakakmu hanya memberikanmu apa yang kamu inginkan. Tanpa melepas pengawasannya. Kamu tahu mereka begitu mencemaskanmu. Jadi itulah mengapa mengirim Sean. Lagipula apa Sean pernah merugikanmu. Tidak bukan. Kecuali ketika bilang dia menyukaimu" jelas Jayden.
Tania terdiam.
"Ayolah Baby, ada hal yang lebih penting dari sekedar tahu kalau Sean itu bodyguard kamu. Kamu bisa pukul dia kalau kamu mau. Sekarang kita pulang dulu. Kita harus mencari solusi bagi masalah Vera" ucap Jayden membuat Tania sadar.
Vera membutuhkan dukungan darinya. Dia bisa melihat kalau Vera sendiri cukup shock dengan peristiwa pelecehan yang Bryan lakukan. Ditambah sekarang dia sedang hamil anak Bryan.
"Ya, kita pulang ya" bujuk Jayden.
__ADS_1
Tania menarik nafasnya.
"Ayo kita pulang" ajak Tania pada akhirnya.
Jayden langsung mengembangkan senyumnya.
"Tapi jajan dulu" ucap Tania membuat senyum Jayden memudar.
Dia tidak membawa dompetnya. Hanya ponsel saja yang sepertinya tanpa sengaja terbawa disaku jaket pink-nya.
Kredit Instagram@Leesuhochaeunwoo
Bibir Tania maju lima senti. Meski akhirnya dia bisa membeli boba green tea idamanannya. Karena akhirnya Jayden ingat kalau Rey sudah mengisi dompet digital dan e-wallet-nya.
"Astaga mau beli boba saja pakai acara ngambek. Kan sudah kebeli" ucap Jayden saat mereka turun taksi yang mereka naiki.
"Bodo" jawab Tania ketus.
Meninggalkan Jayden yang harus membawa dua paper bag. Berisi minuman boba sesuai keinginan Tania untuk semua orang.
"Oh my God, gini amat karmamu padaku" keluh Jayden.
Dia yang dulu bersikap seenaknya dengan para wanita. Kini harus ekstra sabar menghadapi seorang wanita yang sudah berhasil menakhlukkan hatinya.
Jayden hanya diam mengikuti Tania masuk ke sebuah ruang VIP di lantai empat. Keduanya saling pandang ketika mendengar teriakan Vera saat mereka akan masuk ke ruangan tempat Vera dirawat.
"Aku tidak akan menikah dengan siapapun" teriak Vera.
"Tapi Ra, semua demi anakmu. Dia perlu status dan pengakuan" Sean coba membujuk.
"Dengan menikah denganmu. Dan melihat Nita menangis. Kamu gila ya?" lagi Vera berteriak.
"Aku tidak apa-apa Mbak" ucap Nita lirih.
Nita mengizinkan Sean menikahi Vera agar bayi dalam kandungan memiliki status dan terhindar dari cibiran orang. Meski ya tidak bisa dipungkiri kalau dia sedikit tidak rela.
"Jangan bohong kamu. Mulutmu bisa berkata ya tapi tidak dengan mata kamu"
"Aku tidak akan menikah dengan siapapun. Aku hanya akan menikah dengan orang yang mencintaiku. Dan bisa menerima keadaanku. Sean jelas mencintaimu"
Tania dan Jayden yang masuk. Hanya bisa diam mendengar perdebatan mereka.
"Kau? Apa kau juga akan mengajukan diri untuk menikahiku?" tanya Vera pada Jayden.
Yang jelas terkejut dengan pertanyaan Vera.
"Tentu saja tidak. Aku hanya akan menikah dengannya" jawab Jayden menunjuk Tania dengan dagunya.
"Bagus"
"Ada banyak cara untuk membuat seorang anak memiliki sebuah status tanpa adanya pernikahan. Kita bisa mengadopsinya. Kita bisa merawatnya bersama-sama. Tidak masalah jika kamu tidak mau menikah. Dia akan memiliki kami yang bisa menjadi papa dan mama angkatnya" ucap Jayden membuat Vera berkaca-kaca.
"Terima kasih. Terima kasih" ucap Vera tidak menyangka kalau Jayden akan paham dengan apa yang dia inginkan.
"Sudah jangan menangis. Yang penting kamu harus menjaga kesehatanmu dan dia" ucap Tania memeluk Vera yang sudah berderai airmata. Kemudian Tania mengusap lembut perut Vera.
Sean tampak memeluk Nita yang ikut menangis. Dia sadar dengan keegoisannya.
"Maafkan aku. Maafkan aku, sudah menyakiti hatimu" bisiknya lirih di telinga Nita.
Membuat Nita semakin terisak dalam pelukan Sean.
Tanpa sadar, pembicaraan mereka didengar Bryan dari balik pintu. Pria itu hanya bisa terdiam dengan rasa sesal memenuhi dadanya.
Dan sesuai ucapan Jayden. Tania menoyor kepala Sean. Membuat Sean ingin mengamuk tapi melihat kode dari Jayden. Dia menunda amukannya.
"Awas kalau kamu bohong lagi" ancam Tania.
"Iiisshhh tidak kakak tidak adik hobinya mengancam orang. Duuh gini amat nasib gue" keluh Sean. Membuat Rey tertawa ngakak di luar ruangan.
" Rey aku dengar itu" teriak Sean.
__ADS_1
Dan Rey melanjutkan tawanya dalam diam.
"Dia mencintai Bryan" ucap Jayden ketika mereka berkumpul di sofa di sudut ruangan.
Vera sudah tertidur setelah meminum vitaminnya. Rencananya lusa, Vera sudah boleh pulang. Besok dia masih harus menjalani beberapa pemeriksaan lagi. Seperti kadar HB darah, urine dan pemeriksaan dasar bagi ibu hamil. Serta memastikan kalau dehidrasinya sudah berhasil diatasi.
"Apa maksud Kakak?" tanya Tania.
"Vera mencintai Bryan. Karena itu, selain dia tidak mampu melawan Bryan waktu dia melecehkan Vera, dia melakukan itu karena dia juga mencintai si brengsek itu. Vera merasa ini kesalahannya sendiri. Jadi dia tidak ingin kita, menjadi korban dari kesalahannya" jelas Jayden panjang lebar.
"Aku tidak percaya jika mbak Vera bisa suka sama Bryan. Ingat kelakuannya itu lo" Nita berpendapat.
"Ialah Vera yang masih segelan dapat barang bekas kayak si Bryan. Darah tinggi aku, kalau ingat tadi Vera memintaku untuk tidak menghancurkan Bryan" ucap Sean.
"Bagaimana bisa?" tanya Tania.
"Aku tadi menghubungi kakakmu. Dia bertanya kita yang bertindak atau dia yang turun tangan. Ya jelas aku jawab kita yang bertindak. Eee tidak tahunya dia ternyata dengar. Terus memohon supaya Bryan tidak diapa-apain" cerita Sean.
"Terus?" tanya Tania.
"Ya aku hanya bisa menjamin, untuk tidak melibatkan Bryan terlalu jauh dalam kasus ini. Karena pada dasarnya dia juga korban disini. Kasihan sebenarnya. Tapi kalau ingat kelakuannya. Eneg aku" kesal Sean.
"Sabar Mas, sabar Mas" ucap Nita menenangkan Sean dengan mengusap lembut lengannya.
"Lalu langkah kita selanjutnya bagaimana?" tanya Tania.
"Kita tetap akan menaikkan kasusnya ke meja hijau. Ada banyak pihak yang dirugikan dalam hal ini. Salah satunya ayah Bryan, David Aditama" jawab Jayden.
"Bapaknya Bryan bule?" tanya Nita malah salah fokus dengan ayah Bryan.
"He e. Sekarang dia tinggal di Australia. Tapi dia bersedia datang jika diminta menjadi saksi"
"Dia mengalami kerugian yang lumayan banyak saat masih bersama mamanya Bryan" tambah Sean.
Keempatnya terdiam. Larut dalam pikiran masing-masing.
**
"Ra, kamu sendiri dulu nggak apa-apa kan. Aku mau pulang sebentar ambil baju. Kan masih nginep lagi semalam" pamit Tania.
Vera mengangguk. Dia baru saja selesai dengan morning sick-nya.
"Aku nggak lama. Tante tinggal dulu ya sebentar. Jangan nakal sama mama. Nanti tunggu Tante kalau mau nakal" ucap Tania mengusap lembut perut Vera.
"Nakal kok suruh nunda dulu" Vera mencebikkan bibirnya.
Sedang Tania terkekeh mendengar gerutuan Vera. Keadaan Vera jauh lebih baik. Apalagi setelah semua menerima kehamilan Vera. Dan herannya para pria itu rela menerima jadi korban ngidam anak Vera.
"Kenapa juga harus gue yang nyari martabak sepagi ini" gerutu Sean.
"Mana ada martabak jualan sepagi ini, Le" tambah Sean.
"Bodo. Pokoknya cariin. Dia mau yang nyari kamu" suruh Vera.
"Le? Kamu manggil Le?" tanya Jayden.
"Thole? Anak laki-laki" Sean asal menjawab.
"La?"
"Biar nanti bisa aku ajarin buat ngehajar bapaknya" bisik Sean ke telinga Jayden.
Membuat Jayden langsung mengembangkan senyumnya.
"Good idea. Boleh juga tu idenya" Jayden mendukung rencana Sean.
"Ide apa?" tanya Tania curiga.
"Ide jualan martabak pagi-pagi" jawab Sean asal.
Semua itu membuat Vera tersenyum. Namun senyum itu langsung memudar. Ketika dia mendengar sebuah suara memanggilnya. Sepeninggal Tania. Vera hanya sendiri di ruangannya.
"Mau apa ke sini?"
__ADS_1
****