Mengejar Cinta Satu Malam

Mengejar Cinta Satu Malam
Pria Berwajah Dua


__ADS_3

"Tania, boleh Kakak bicara?" tanya Kai.


Tania cukup terkejut mendapati sang kakak sudah ada didepannya. Menarik kursi lantas membawanya ke balkon kamar Tania.


Dia masih enggan untuk menatap wajah Kai. Wajah yang dulu ia puja dan cinta. Tapi sekarang semua sudah berubah. Rasa yang dia punya untuk pria yang ada dihadapannya bukanlah cinta untuk seorang pria. Tapi entahlah, rasa apa yang ia punya untuk Kai.


Kai menatap Tania lama. Seulas senyum terbit di wajah pria tampan itu.


"Adikku yang manja sudah tumbuh dewasa. Dan semakin cantik" ucap Kai tiba-tiba.


"Ya?" Tania tidak menyangka akan mendengar kalimat semacam itu keluar dari bibir Kai.


"Kenapa? Apa Kakak salah. Pantas saja Jayden bisa oleng dan tobat dari kebiasaannya menjadi casanova"


"Dia berhenti karena jatuh cinta pada istri kakaknya" sahut Tania cepat.


"Lalu kamu?"


Tania diam. Kali ini dia memberanikan diri menatap wajah Kai. Diusianya yang hampir kepala tiga. Kai semakin mempesona. Semakin terlihat dewasa. Dan tentunya semakin hot. Kalau dulu. Jantung Tania akan bermaraton ria, saat berhadapan dengan Kai. Tapi sekarang tidak lagi. Rasa berdebar itu sudah tidak lagi ia rasa. Menguap, hilang entah kemana.


"Masih marah dengan Kakak?" tanya Kai.


"Punya hak apa aku marah dengan Kakak. Semua yang terjadi dimasa lalu. Semua salahku. Kakak sama sekali tidak bersalah. Perasaanku adalah milikku. Jadi aku bebas melabuhkannya pada siapapun. Kalaupun pada akhirnya aku terluka, kecewa. Itu semua adalah salahku" ucap Tania sendu.


"Berarti hatimu sudah bukan milik Kakak lagi dong" goda Kai sambil tersenyum.


Merasa lega, pada akhirnya Tania mampu melepas perasaannya pada dirinya.


"Hatiku ya milikku" tegas Tania.


"Yakin? Bukan milik orang lain atau lebih tepatnya pria lain" goda Kai lagi.


"Tidak tahu"


Rasa malu yang Tania rasakan, perlahan menghilang. Melihat sikap Kai yang masih hangat seperti dulu. Sama sekali tidak berubah.


"Kakak minta maaf atas semua kejadian di masa lalu, Tania. Kamu lebih suka menggunakan nama itu?"


"Kakak tidak perlu minta maaf. Sudah aku katakan. Kakak tidak bersalah dalam hal ini. Dan iya, aku lebih suka menggunakan nama Tania"


"Nama pemberian Papamu?"


Tania mengangguk.


"Apa kamu mengubah semua identitasmu waktu di Surabaya" tanya Kai.


Tania mengangguk.


"Kalau begitu. Kakak harus menghubungi pengacara kita. Untuk melegalkan perubahan identitasmu. Juga perubahan identitas atas seluruh aset yang kamu punya"


"Kak, aku merasa tidak berhak. Aset atau apapun itu. Aku merasa tidak memiliki hak untuk mendapatkannya" Tania menolak.


"Itu bukan keinginan Kakak. Kakakmu sendiri yang mengaturnya untukmu"


"Kakakku?"


"Emm, Natasya dan Nadya. Mereka membaginya adil. Karena bagaimanapun kamu tetap anak papa Kevin"


Tania terharu mendengar ucapan Kai.


"Apa aku keterlaluan?"


"Soal?"

__ADS_1


"Aku pergi ke Surabaya tidak pamit"


"Sedikit. Membuat kakakmu puyeng"


"Meski ujung-ujungnya tetap bisa juga menemukanku"


"He he itu keahlian kami. Jadi sekarang bagaimana?"


Apanya?"


"Nasib Jayden Lee"


Tania terdiam.


"Katakan apapun yang ada dihati dan pikiranmu. Akan Kakak dengarkan"


Kai menatap lembut pada Tania.


"Tania merasa tidak pantas untuk dia" ucap Tania sendu.


Kai mengerutkan dahinya. Tidak paham dengan ucapan adiknya itu.


"Apa maksudmu dengan dirimu tidak pantas untuk Jayden"


"Kan aku putri pembunuh" jawab Tania dengan mata berkaca-kaca.


"Siapa yang bilang? Apa Jayden yang mengatakannya padamu?"


Tania menggeleng. Tanpa sadar Tania mengeratkan pegangannya pada ponselnya. Membuat Kai menduga. Pastilah ada yang tidak beres dengan hal itu.


"Jayden tidak tahu siapa mama. Tapi aku merasa itu hal yang benar. Terlepas dari masa lalunya yang pernah menjadi casanova. Aku hanyalah putri seorang pembunuh. Aku takut itu akan membebani Jayden"


"Omong kosong apa itu. Dengarkan aku Tania. Dirimu tidak ada hubungannya dengan kejahatan yang mamamu lakukan. Kamu bersih tanpa cacat di mata kami. Kalaupun Jayden tahu masalah mamamu. Aku rasa dia tidak masalah"


"Tapi masalah bagiku Kak"


Tania menggelengkan kepalanya.


"Bisa Kakak lihat Jayden tulus mencintai kamu. Apa itu tidak cukup?"


"Tidak tahu"


Kai menarik nafasnya dalam. Di paham akan keraguan yang ada di hati Tania.


"Kakak mau tanya. Sebenarnya bagaimana perasaanmu pada Jayden Lee"


Tania diam. Menundukkan wajahnya. Tidak mau menatap wajah Kai.


"Tania, angkat wajahmu dan tatap mata Kakak" perintah Kai.


Perlahan Tania mengangkat wajahnya. Begitu dia melakukan hal itu. Mata coklatnya langsung bersirobok dengan netra hitam Kai. Mata tajam yang tidak akan pernah bisa ditolak pesonanya oleh siapapun. Termasuk Tania.


"Jawab pertanyaan Kakak. Apa kamu mencintai Jayden Lee?"


Seiring air mata yang mengalir di pipi. Tania mengangguk. Sungguh dia memang mencintai Jayden.


"Bukan karena kalian pernah tidur bersama?"


Tania menggeleng.


"Kalau begitu masalah selesai. Kakak akan mengurus pernikahan kalian"


"Kak..."

__ADS_1


Tania memekik. Menahan lengan Kai yang hendak keluar dari kamarnya.


"Kenapa? Kamu tidak ingin menikah dengan orang yang kamu cintai"


"Bukan begitu. Tapi biarkan aku menyelesaikan masalah hatiku dulu. Biarkan aku memantapkan hatiku dulu. Aku mohon..."


Kai menghela nafasnya.


"Bicarakan semua yang menjadi beban dalam hatimu dengannya. Jangan menyembunyikan apapun darinya" saran Kai.


Tania tersenyum. Kakaknya benar-benar tidak berubah. Selalu menuruti keinginannya. Kai ikut tersenyum melihat senyum Tania.


Kai langsung masuk ke ruang kerjanya begitu dia keluar dari kamar Tania. Membuka laptopnya. Lantas menguliknya sebentar. Sedetik kemudian senyum evil terbit di bibir seksinya.


"Mau meracuni pikiran adikku rupanya. Kau tidak tahu berhadapan dengan siapa?" guman Kai.


Sejurus kemudian dia meraih ponselnya. Menghubungi Leo, sang asisten pribadi.


"Halo Leo,bisa lakukan sesuatu untukku. Berikan peringatan kecil orang yang sudah aku kirimkan datanya ke e-mailmu. Malam ini juga" titah Kai.


Setelah itu Kai langsung menutup panggilannya. Membuat Leo, sang asisten sedikit geram. Masalahnya dia sedang tanggung. Sebentar lagi puncak itu akan segera datang.


Rupanya Kai menelepon di waktu yang kurang tepat. Sebab Leo sedang on fire bersama istri tercinta, Lisa.


"Ah, bodoh ah. Terlambat satu jam. Pasti dia tidak akan membunuhku" guman Leo.


Lantas kembali melanjutkan sesi panasnya yang tertunda. Gegara bos Kai memberinya perintah hampir tengah malam. Awalnya Lisa berpikir kalau sesi panas mereka sudah berakhir. Sebab Leo, biasanya akan lebih mementingkan perintah bosnya.


Tapi ternyata dia salah. Karena Leo ternyata kembali membawa tubuhnya melayang, menikmati surga dunia. Mengabaikan sejenak perintah Kai.


Kembali ke Kai yang masih mengulik laptopnya. Pria itu kembali mengerutkan dahinya. Ketika menemukan satu lagi fakta baru soal si pengganggu. Hingga kemudian diapun kembali meraih ponselnya. Kembali menghubungi seseorang.


"Dia sepertinya kembali berulah" ucap Kai begitu panggilannya diangkat.


"Lalu kau ingin aku melakukan apa?" tanya suara diseberang.


"Awasi saja dulu. Kita tidak mungkin menyerangnya sekarang. Kita belum punya bukti. Lagipula, istrinya sedang mengandung. Tidak baik jika kita membuatnya stres"


"Sok baik lu!" umpat suara diseberang.


"Makanya gunakan kesempatan dengan baik sewaktu aku sedang baik. Kalau baikku hilang. Kau tahu sendiri akibatnya"


"Kau sebaiknya katakan itu pada bedebah itu. Biang kerok tidak tahu diri. Sudah ditolong masih tidak sadar. Tak pithes, baru tahu rasa dia" kembali suara diseberang mengumpat.


"Ha, ha, bagus sekali kata-katamu. Cocok buat dia. Tapi nanti dulu. Jangan dipithes sekarang. Kita tunggu, sebenarnya apa yang dia inginkan. Dan apa tujuannya"


"Siap Bos. Padahal sebenarnya tanganku sudah gatal ingin bejeg-bejeg tu muka. Menyesal aku baikan dengan dia. Sekalinya brengsek tetap saja brengsek"


"Ya, ya tunggu saja waktunya. Sudah aku tidur dulu. Mau nyari istri tercinta"


"Sial!! Kau meledekku ya?"


"Tidak. Bukannya sebentar lagi kamu juga mau kewong"


"Tapi kan sekarang belum!"


"Terserah. Yang penting aku sekarang mau mencari istriku. Bye, bye calon pengantin. Ingat ya baru calon...."


Tuuut,


Bunyi sambungan telepon yang ditutup sepihak oleh Kai. Menyisakan umpatan dari pria diujung sana. Yang tiada henti memaki Kai. Seolah sengaja memanas-manasi dirinya.


"Awas kau ya. Lihat saja jika aku sudah menikah nanti. Akan kubalas kau. Dia pikir hanya dia saja yang bisa pamer kalau sudah punya istri. Aku juga bisa" tekad pria itu yang tidak lain adalah Sean.

__ADS_1


"Brengsek sekali kau. Aku pikir kau benar-benar berubah. Nyatanya tidak. Dasar pria berwajah dua" guman pria itu lagi. Mengepalkan kedua tangannya. Menahan emosinya agar tidak meledak.


****


__ADS_2