
Tania masih termenung dikamarnya.Mencoba berdamai dengan takdir. Mencoba menerima semua yang telah terjadi. Itu yang berulangkali kedua kakaknya ucapkan.
Hingga lamunannya buyar ketika ponselnya berbunyi.
"Ya?"
"Apa kamu baik-baik saja"
Sejenak Tania menggeleng. Seolah orang di seberang sana bisa melihat tindakannya.
"Menangislah"
Detik berikutnya suara tangisan itu kembali terdengar. Sedang orang yang diujung sana hanya diam mendengarkan. Hingga beberapa waktu kemudian tangis Tania mereda.
"Lebih baik?"
Lagi-lagi Tania mengangguk.
"Maaf aku tidak ada disana. Aku tidak bisa menemanimu seperti biasanya. Tapi aku yakin kamu dikelilingi oleh orang-orang yang menyayangimu"
"Entahlah"
"Kenapa? Apa mereka tidak baik padamu?"
"Tidak bukan begitu. Mereka baik, sangat baik. Tapi entahlah...aku hanya merasa asing disini"
"Pulanglah kalau begitu. Vera juga sangat mencemaskanmu"
"Mungkin beberapa hari lagi. Akan kuselesaikan semua urusanku disini. Setelah ini aku akan pulang. Aku tidak ingin kembali ke sini. Disini seperti bukan tempatku"
Terdengar helaan nafas di seberang.
"Selesaikan urusanmu. Lalu bicarakan semuanya dengan kakakmu. Okay?"
"Okay. Aku mengerti"
"Aku tutup ya. Baik-baik disana"
Tania mengangguk.Bersamaan dengan itu pintu kamar terbuka. Tania tidak ingin melihat siapa yang masuk ke kamarnya. Dia pikir terserahlah. Siapa saja bisa masuk ke kamarnya. Karena kedua kakaknya sering hilir mudik keluar masuk kamarnya.
Gadis itu masih diam sambil memeluk lututnya. Hingga ujung matanya menatap sandal rumahan seseorang berdiri di depannya. Tania mendongak untuk melihat siapa yang berdiri di depannya. Sejenak dia terpaku menatap orang itu.
"Masih tidak mau keluar?" tanya Jayden.
Tania menghela nafasnya lantas menggelengkan kepala.
Kredit Instagram@actor_eunwoo.o_c
"Tidak ingin jalan-jalan?" tanya Jayden lagi.
Tania mengedikkan bahunya. Kini giliran Jayden yang menarik nafasnya. Sedikit bingung menghadapi gadis dihadapannya.
__ADS_1
"Oh ya ada yang ingin bertemu" ucap Jayden tiba-tiba teringat akan satu hal.
"Siapa?" tanya Tania, baru kali ini dia bersuara.
Jayden baru saja akan menjawab. Ketika sebuah suara imut menerobos masuk ke kamar Tania. Disertai sosok mungil seorang gadis kecil.
"Appa dimana Eomma?" tanya Lia polos.
Jayden menunjuk dengan ekor matanya. Menunjuk Tania yang sejenak terkesima melihat Lia. Seorang gadis kecil bermata bulat. Berpipi chubby. Bergaun baby blue. Dengan rambut panjang yang diikat sebagian. Tidakkah dia terlihat begitu manis.
"Eomma...." pekik Lia. Lantas menghambur naik ke atas ranjang besar Tania. Tanpa ragu gadis kecil itu langsung memeluk leher Tania. Seolah mengungkapkan rindu setelah lama tidak bertemu. Sedang Tania langsung membeku mendapat perlakuan manis itu.
"Eomma, kenapa eomma lama sekali datangnya?" tanya gadis kecil itu tiba-tiba.
"Emmmm itu, itu...eomma masih sibuk ada pekerjaan yang harus eomma selesaikan dulu" jawab Tania gelagapan.
"Iiisshh kalian olang dewasa. Selain pekeljaan tidak ada lagi yang dibicalakan" gerutu Lia.
Sedang Tania langsung mendelik mendengar ucapan polos gadis kecil itu. Lantas menatap tajam pada Jayden yang langsung membuat muka tak tahu.
"Siapa yang mengajari Lia bicara seperti itu" tanya Tania lembut.
"Uummm tidak ada. Hanya saja Lia sama Abang seling melihat Mama dan yang lainnya suka lupa banyak hal jika sudah sibuk dengan yang namanya kelja" gerutu Lia lagi.
Lagi-lagi Tania terkejut dengan gaya bicara Lia yang lebih mirip gaya bicara orang dewasa pada umumnya. Padahal umurnya baru menginjak empat tahun.
"Kan mereka kerja buat Lia dan juga Abang" ucap Tania lembut. Gadis kecil itu mulai memainkan surai panjang rambut Tania. Sama seperti sering Jayden lakukan padanya.
Lia sudah duduk manis dipangkuan Tania. Sedang Jayden, duduk di sofa tidak jauh dari mereka. Netra hitamnya menatap tajam kearah dua orang yang berada diatas ranjang besar itu. Sambil sesekali memainkan ponselnya.
Yang membuat Tania tersenyum. Mendengar kata-kata yang keluar dari bibir Lia. Benar-benar gadis kecil ini akan dewasa sebelum waktunya.
"Iisshh anak kecil kok ngomongnya begitu"
Lia terkekeh.
"Oh ya Eomma, apa Eomma akan tidul dengan Appa?" tanya Lia polos.
"Kenapa?"
"Habisnya baju Eomma sama dengan yang dipakai Mama kalau tidul dengan Papa" jawab Lia yang langsung membuat Tania melirik dirinya sendiri.
"Astaga!!"
Tania membekap mulutnya sendiri. Takut kalau Lia terkejut dengan teriakannya tadi. Dia jelas tidak sadar kalau dia hanya memakai tank top dan jangan lupakan hot pants seksi yang dia pakai. Beruntung dia masih memakai bra-nya kalau tidak, dua asetnya pasti sudah keluar kemana-mana.
Mata Tania langsung menatap nyalang pada Jayden. Yang langsung menaikkan satu alisnya. Setelahnya Jayden menggerakkan bibirnya tanpa suara. Mengucap kata "seksi" tanpa suara. Yang membuat Tania semakin merona. Antara marah dan malu.
"Ahh kalau begitu Eomma ganti baju dulu sebentar ya" ucap Tania gelagapan.
Lia memberi kode oke. Bersamaan dengan Jayden yang juga berdiri. Menatap Tania tanpa berkedip. Membuat Tania langsung bingung harus bagaimana. Jika dia langsung berdiri begitu saja. Jelas sekali jika paha mulusnya akan jadi santapan tatapan mesum Jayden. Tapi kalau tidak. Masak iya dia harus menyeret selimutnya ke kamar mandi.
"Mandilah. Kita akan keluar menemani Lia jalan-jalan. Betul tidak Lia" ucap Jayden. Mengusap lembut puncak kepala Lia. Gadis kecil itu mengangguk.
__ADS_1
"Kamu seksi sekali Baby. Membuatku ingin menerkammu saja" bisik Jayden di telinga Tania. Kala pria itu ikut mendudukkan diri di ranjang.
Tania langsung membulatkan matanya. Mendengar ucapan mesum Jayden. Sedang Jayden tersenyum penuh arti menatap dada Tania yang cukup terbuka. Hingga menampilkan sebagian aset kembarnya yang terlihat begitu menggoda.
Satu cubitan mendarat di pinggang Jayden. Membuat pria itu meringis tertahan. Jangan lupakan ekspresi Lia menatap tingkah Eomma dan Appanya itu yang terlihat lucu di matanya.
"Ayo Eomma cepet mandi. Ganti baju. Eomma bau acem"
"Ehh benarkah?"
Lia mengangguk. Membuat Tania buru-buru melesat masuk ke kamar mandi. Mengabaikan tatapan frustrasi Jayden. Melihat tubuh seksi Tania.
"Haisshh bisa-bisanya dia memakai baju seperti itu di rumah" batin Jayden kesal. Mengingat ada Kai dan juga Justin yang tinggal di rumah itu.
Dua puluh menit kemudian. Tania sudah siap. Menghampiri Jayden dan Lia yang nampak asyik bermain game diatas kasurnya.
"Sudah siap?" tanya Jayden menelisik penampilan Tania dari atas sampai bawah.
"Kenapa ada yang salah?" tanya Tania balik menatap dirinya sendiri.
Jayden berdiri. Lantas berbisik di telinga Tania.
"Aku lebih suka yang tadi. Lebih hot dan menggai***kan"
Jayden langsung pergi menggendong Lia begitu selesai membisikkan kalimat itu.
"Jayden Lee!!! Dasar mesum!!!" desis Tania.
Kredit Facebook.com
Tania pada akhirnya mengikuti langkah Jayden yang sudah lebih dulu keluar sambil menggendong Lia. Melangkah sambil menghentak-hentakkan kakinya kesal.
"Semua kemana?"
"Ngantorlah" ucap Jayden membantu Lia memakai sepatunya. Setelahnya gadis kecil itu, langsung menghambur ke gendongan Tania.
"Jadi hari ini Lia mau kemana?"
"Jalan-jalan ke Time Zone Eomma" rengek Lia.
"No problem" jawab Tania.
Lia jelas melonjak senang dalam gendongan Tania.
"Bi, saya keluar dulu ya" pamit Tania pada ART di dapur ketika ketiganya berlalu ke basement bawah tanah keluarga Atmaja.
Jayden mengambil kunci dari deretan kunci yang tergantung. Memilih CRV milik Kai. Setelah sebelumnya mengirim pesan pada si pemilik mobil.
Lia tampak begitu gembira ketika dia sudah duduk di pangkuan Tania. Menunggu Jayden memanasi mesin mobilnya sebentar. Jayden lantas melajukan mobilnya masuk ke jalan raya.
Begitu pintu garasi tersembunyi itu terbuka bersamaan dengan gerbang depan yang juga ikut terbuka otomatis. Setelah sensornya menangkap pergerakan mobil dalam radius lima meter dari pintu gerbang.
__ADS_1
"Mengagumkan" puji Jayden. Melihat salah satu hasil kegenisiusan seorang Kaizo Aditya.
***