Mengejar Cinta Satu Malam

Mengejar Cinta Satu Malam
Kakak Ipar Antimainstream


__ADS_3

Malam ini terpaksa Vera pulang ditemani Bryan lagi. Terpaksa? Entahlah. Meski Vera mulai terbiasa dengan kehadiran Bryan di dekatnya. Tidak dia pungkiri kalau dia cukup senang dengan keberadaan pria itu disisinya.


"Mandi dulu sana!" ucap Vera ketus seperti biasanya.


"Iya" jawab Bryan patuh seperti biasa.


Kali ini Bryan sudah membawa baju ganti. Meski tetap Dika yang mengantarkannya ke rumah sakit.


"Emmm enaknya" guman Vera saat menatap tumis sapi lada hitam yang dibeli Bryan untuknya.



Kredit google.com


Belum lagi makanan lain yang juga ia minta. Ada ayam goreng. Ada es teler yang sudah teler beneran. Kelamaan di dalam cup. Nggak segera dimakan.




All kredit google.com


"Kamu sudah lapar?" tanya Bryan yang melihat air liur hampir menetes di sudut bibir Vera.


"Kelamaan!"


"Ya sudah makanlah cepat" ucap Bryan lembut.


Kali ini dia benar-benar akan menunjukkan kalau dirinya sudah berubah. Tidak lagi mengulangi kebiasaannya dulu.


Vera mulai makan dengan lahap.


"Pelan-pelan aku tidak akan memintanya" lagi Bryan bicara lembut pada Vera.


Vera langsung nyengir mendengar ucapan Bryan. Terlihat sekali kalau dia seperti orang yang sedang kelaparan. Padahal tidak seperti itu. Baginya rasa makanan itu terasa begitu enak. Padahal dia biasa makan makanan itu di tiap harinya.


"Makanlah jika kamu mau" seperti biasa Bryan akan menunggu kalimat itu keluar dari bibir Vera sebelum dirinya menyentuh makanan di hadapannya.


Tanpa menunggu perintah dua kali. Bryan langsung mengambil makanan di hadapannya. Makan bersama Vera yang sedikit-sedikit melirik padanya. Bryan tahu. Tapi dia hanya diam. Meski disudut bibirnya terukir senyum tipis.


Vera langsung membersihkan meja. Sedang Bryan yang mencuci piringnya.


Malam semakin larut ketika Vera baru saja menutup laptop dan membereskan berkas-berkasnya. Sedang Bryan masih berkutat dengan laptopnya.


"Aku tidur dulu"


"Emmm"


Vera langsung melesat masuk ke kamarnya. Naik ke atas ranjangnya. Mulai memejamkan matanya. Namun hingga lima belas menit kemudian. Matanya tidak kunjung mau terpejam.


"Haissh kenapa sih ini?"


Vera menendang selimutnya. Kesal, tidak bisa tidur. Ada yang kurang ketika dia ingin memejamkan matanya. Tapi apa? Hingga tiba-tiba perutnya terasa mual. Buru-buru dia masuk ke kamar mandinya. Lalu muntah di wastafelnya.


Bryan yang mendengar suara tidak biasa dari kamar Vera. Langsung masuk. Dia melihat pintu kamar mandi yang terbuka. Menduga pasti bumil itu muntah lagi.


Dan benar saja. Perlahan dia meraih tengkuk Vera. Mengumpulkan rambut panjangnya yang berantakan. Lalu memijatnya pelan. Vera hanya diam saja dengan perlakuan Bryan padanya. Karena pada dasarnya dia merasa nyaman.


Ajaibnya, perlahan rasa mual diperutnya berkurang. Ketika aroma parfum Bryan mulai masuk ke hidungnya.


"Sudah baikan?" tanya Bryan.


Ketika dilihatnya Vera mulai membasuh mulutnya. Lantas mengangguk pelan. Bryan mengekor Vera keluar dari kamar mandinya. Menunggu Vera naik ke atas kasurnya. Namun bukannya langsung tidur. Vera malah bersandar di headboard ranjangnya.


"Aku keluar dulu"


"Bry,...


"Ya?"


"Temani aku sebentar" pinta Vera akhirnya.

__ADS_1


Bryan langsung tersenyum.


"Kenapa senyum-senyum?" salak Vera.


"Tidak ada. Aku senang kamu memintaku menemanimu tidur" jawab Bryan jujur.


"Jangan berpikiran macam-macam!" Vera memperingatkan.


"Memangnya apa yang aku pikirkan?" tanya Bryan sambil naik ke atas ranjang Vera.


"Apapun yang ada di pikiranmu. Buang jauh-jauh" ujar Vera melihat Bryan yang ikut bersandar di headboard ranjang Vera.


"Bagaimana aku membuang jauh-jauh hal yang ada dipikiranku. La wong itu isinya cuma kamu sama bayi kita. Betul tidak boy" ucap Bryan sambil mengusap lembut perut Vera.


Sontak tingkah Bryan itu membuat wajah Vera memerah. Malu sekaligus bahagia. Melihat Bryan begitu menyayangi bayi mereka.


"Ra....


"Apa?"


"Tidak bisakah kamu memberiku kesempatan. Biarkan aku memperbaiki diriku. Bertanggungjawab. Untukmu dan dia" ucap Bryan sambil menatap wajah Vera.


Sebuah kalimat sederhana namun membuat Vera tersentuh. Terlebih kata "untukmu dan dia". Vera bisa melihat kesungguhan dan ketulusan di mata Bryan.


"Apa yang bisa kau janjikan untukku?" tanya Vera melipat tangannya didepan dadanya.


"Apapun yang kau inginkan. Aku akan mencoba memenuhinya" jawab Bryan yakin.


Tidak ada hal yang lebih Bryan inginkan selain bersama wanita yang kini tengah mengandung anaknya.


"Berikanlah dia kesempatan. Untuk berubah dan memperbaiki diri. Tidakkah itu akan adil baginya. Ingat dia ayah dari anakmu. Dia berhak untuk bisa bersama anaknya. Lihatlah kesungguhan dan ketulusannya" sebaris saran dari Tania diakhir pertemuan mereka sore tadi.


"Bagaimana jika aku meminta hanya aku wanita yang ada dihidupmu?" tanya Vera.


Katakanlah Vera egois. Tapi tidak ingin diduakan. Wanita mana juga yang mau diduakan. Terlebih didepannya ini adalah seorang casanova. Meski ngakunya sudah otewe tobat.


"Tentu saja kamu akan menjadi satu-satunya wanita dihidupku. Satu-satunya wanita yang mau mengandung anakku. Satu-satunya wanita yang masih pe-ra-wan saat bercin..ta denganku" kalimat terakhir diucapkan sambil berbisik.


Membuat Vera langsung mendelik. Dia yang angannya sudah melambung tinggi seperti dihempaskan ke tanah mendengar kalimat terakhir dari Bryan.


"Terserah kamu mau percaya atau tidak. Kemungkinan sejak awal, aku memang mencintaimu bukan Tania" ucap Bryan menerawang langit-langit kamar Vera.


"Apa semua ucapanmu itu bisa dipercaya" tantang Vera.


"Percaya atau tidak, semua ada ditanganmu. Setidaknya aku sudah berusaha memperjuangkanmu dan anak kita" ucap Bryan pasrah.


Vera menatap wajah Bryan yang terlihat lelah. Pria didepannya ini telah melewati begitu banyak hal belakangan ini.


"Orang yang menusukku, adalah mama Bryan. Kemungkinan dia ingin melukaimu. Karena yang kudengar dari Jayden. Mamanya menginginkan Bryan untuk menikahiku. Namun Bryan bersikeras ingin menikahimu. Karena dia mencintaimu. Juga karena kamu sedang mengandung anaknya.


Belum lagi masalah diagensinya. Penggelapan dana. Perekrutan model dibawah umur. Pelecehan sek****. Dia sedang berada di fase terendah dalam hidupnya. Dia butuh dukungan. Dan akan lebih ampuh jika dukungan itu datang darimu. Tentu saja bersama anak kalian. Dia jelas ingin bertanggungjawab atas apa yang telah dia lakukan padamu. Jadi pikirkanlah lagi. Langkah apa yang akan kamu ambil kedepannya"


***


"Yang kamu laporkan benar Rey?" tanya Jayden.


"Benar pak Bos" jawab Rey mantap.


"Semoga saja semua segera selesai. Kasihan sekali Bryan.Pasti berat untuknya. Memenjarakan ibunya sendiri" guman Jayden.


"Tapi pak Bos bukannya mamanya Non Tania juga dipenjara?" tanya Rey.


"Tapi itu kan bukan Tania yang memenjarakannya" kilah Jayden.


"Iya juga ya. Beda kasus" ucap Rey lirih.


Jayden masih mengerjakan beberapa berkas yang dibawa Rey. Ketika ponselnya berbunyi.


"Ya, halo" sapa Jayden tanpa melihat nama peneleponnya.


"Apa yang kau lakukan pada adikku, ha?" teriak seseorang diujung sana.

__ADS_1


Membuat Jayden menjauhkan ponselnya dari telinganya. Melirik nama peneleponnya.


"Nomor tidak dikenal"


Sedikit mengerutkan dahinya. Mengingat suara itu.


"Aku tidak melakukan apa-apa pada adikmu. Atau lebih tepatnya belum" kekeh Jayden setelah mengingat suara penelepon itu.


"Dasar kampret lu!" umpat pria diseberang sana.


"Apa Bambaannggg?!" balas Jayden.


"Haisshh kenapa kamu jadi seperti Nadya?" gerutu pria itu.


"Makanya jangan asal njeplak kalau ngomong. Ngapain telepon gue?" tanya Jayden to the poin.


"Gimana adik gue?"


"Dia baik-baik saja. Mungkin besok sudah boleh pulang"


"Sudah tertangkap kan pelakunya?"


"Sudah. Baru saja aku diberi kabar"


"Bagus. Kalau tidak...


"Jangan menggunakan nama klan Liu disini. Bisa hancur semua kalau kamu menurunkan pasukanmu" oceh Jayden.


Yang disambut kekehan di seberang.


"Sudahlah. Jangan khawatir. Aku sudah bereskan semua masalahnya"


"Kapan kamu akan membawanya pulang?"


"Setelah masalah Vera selesai"


"Kapan itu?"


"Sebentar lagi. Rekonsilisasi mereka berjalan baik"


"Jangan lama-lama. Nanti adikku keburu elu terkam lagi"


Jayden terkekeh.


"Memang sudah pun" batin Jayden.


"Ya sudah aku tutup teleponnya. Awas kalau sampai terjadi apa-apa lagi pada adikku. Aku habisi kau" ancam pria itu.


"Alah jangan galak-galak kenapa?" gerutu Jayden.


"Suka hati akulah. Sudah aku tutup"


Tuuuut,


Bunyi sambungan telepon diputus.


"Siapa?" tanya Rey kepo.


"Calon kakak ipar" jawab Jayden.


Rey manggut-manggut. Tahu siapa yang dimaksud Jayden. Untung Tania sudah tidur setelah meminum obatnya. Kalau tidak. Entah reaksi apa yang dia berikan. Mendengar Kaizo menghubungi Jayden.


Sedang Jayden tersenyum puas. Menamai kontak Kai dengan nama Kakak Ipar Antimainstream. Secara dia juga punya kakak ipar yang lain. Yang dia beri nama Kakak Ipar Cantik. Yang kalau Lee Joon tahu. Pasti auto dikeplak kepala Jayden.


****



Kredit Instagram@bemilk_linyi


Bonus pict Kakak Ipar Antimainstream ya.

__ADS_1


Antimainstreamlah orang cakepnya kebangetan 😍😍😍


*****


__ADS_2