Mengejar Cinta Satu Malam

Mengejar Cinta Satu Malam
Penicilinku Berbeda


__ADS_3

Mereka pada akhirnya mulai berdiskusi soal design yang ingin Jayden gunakan. Setelah suasana canggung itu berakhir. Bagaimana Tania tidak canggung. Jayden benar-benar menempatkan tubuhnya begitu dekat dengannya. Nyaris menempel.


Mereka berdua berdiskusi di ruang tengah yang juga menghadap ke balkon. Pria itu langsung berubah serius saat bekerja.


"Tuan Rey mana?" tanya Tania.


Karena dia tidak melihat Rey keluar dari apartement Jayden. Tapi tidak melihatnya di manapun.


"Balik ke unitnya. Sedang mengurus pembelian unit untuk putriku. Bulan depan mereka mau ke sini" jawab Jayden tanpa sadar.


Membuat Tania tercekat.


"Bahkan keluarganya mau datang bulan depan" batin Tania.


Entah kenapa ada rasa kecewa terselip di hatinya. Seakan ada rasa tidak rela melihat pria disampingnya menjadi milik wanita lain. Padahal dia tahu benar kalau Jayden memanglah pria beristri.


Tunggu dulu, kalau Jayden punya istri kenapa juga pria ini mengajaknya menikah. Dasar pria gila!. Lagipula kenapa juga mereka tinggal diunit yang terpisah. Bukannya tinggal di apartement ini saja sudah cukup. Aneh sekali pikir Tania.


"Kamu menyukai batik?" tanya Jayden tiba-tiba.


"Aahhh ya?" jawab Tania gelagapan.


"Kamu melamun?" tanya Jayden.


"Tidaakkk!"


"Melamunkan apa?"


"Tidak ada. Tadi tanya apa?"


Jayden menghela nafasnya.


"Kamu suka batik?"


"Suka banget sih tidak. Kenapa?"


"Aku suka beberapa design kamu yang ada unsur batiknya. Terlihat etnik-nya. Eksotik. Maklum aku besar di Korea jadi baru akhir-akhir ini tahu batik"


"Kamu lama di Korea?"


"Aku bahkan lahir disana"


"Orang Korea asli"


"Mama Indonesia"


Tania ber-ooo ria.


"Tuan Lee...?"


"Ya..."


"Bisa tidak Anda pakai baju" ucap Tania malu-malu.


Pria itu masih memakai bathrope-nya. Tania sedikit risih karena beberapa kali dada bidang pria itu terekspose tanpa sengaja.


Mendengar pertanyaan Tania. Jayden berhenti dari kegiatannya melihat kertas-kertas design milik Tania. Pria itu menatap tajam Tania. Alih-alih menjawab pertanyaannya.


"Kenapa?" tanya Jayden dengan nada menggoda.


"Ahh itu...itu....Anda tidak merasa dingin setelah tadi berenang" jawab Tania gelagapan plus rona merah mulai muncul di wajahnya.


Jayden tersenyum tipis.


"Ini kebiasaanku kalau di rumah. Bahkan aku sering topless kalau sedang sendirian. Satu lagi aku suka telan**** kalau tidur" ucap Jayden setengah berbisik.


"What!! Telan****? Full naked? Oh God aku bisa gila lama-lama deketan dengan pria ini" batin Tania menatap Jayden tidak percaya.


Seketika otak Tania travelling ke mana-mana.


"Astaga. Otak-otak please deh jangan mikir yang enggak-enggak"


Jayden jelas ingin tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Tania yang benar-benar membuatnya gemas.


"Dan kamu harus mulai membiasakan diri dari sekarang" bisik Jayden tepat di depan wajah Tania.


Membuat rona merah semakin jelas terlihat di wajah Tania.


"Ta..tapi kenapa saya harus membiasakan diri"


"Karena cepat atau lambat kita akan tinggal bersama" ucap Jayden yakin. Sambil mencondongkan tubuhnya ke arah Tania. Membuat dada bidang pelukable itu kembali terekspose.


"Oh God, hukuman apa lagi ini" batin Tania yang kembali merutuki dirinya sendiri.


Tania jelas tergoda dengan penampakan dada bidang itu.

__ADS_1


"Kenapa juga kita harus tinggal bersama? Kita tidak punya hubungan apapun" tegas Tania.


"Karena....kita akan menikah" jawab Jayden.


"Tuan Lee jangan bicara sembarangan. Saya tidak mungkin menikah dengan Anda" kembali Tania menegaskan.


"Kita lihat saja nanti" ucap Jayden percaya diri.


Tania mendengus geram. Tapi Jayden mengacuhkannya. Tania semakin kesal dibuatnya.


Sedang Jayden kembali melihat beberapa design. Yang kini sebagian sudah di sisihkan. Design yang diinginkan pria itu.


"Kamu pakai batik dari mana?"


"Kampung Ngasem" jawab Tania jutek.


"Itu dimana?"


"Yogyakarta" masih jutek mode on.


"Tania...."


"Apa?"


"Aiiih jangan judes-judes. Saya ini klien kamu"


"Tidak ada klien yang ngajak nikah"


"Ada...buktinya saya berani ngajakin kamu nikah"


"Kalau begitu Anda bukan klien saya. Jadi saya tidak wajib bersikap ramah kepada Anda" ucap Tania dengan nada tinggi.


"Deal! Kita pacaran sekarang"


"Ehh sekarang apa lagi?"


"Tadi bilang kalau saya bukan klien kamu. Jadi kita naik level saja jadi pacaran. Bagaimana?"


"Tidak mau!" tegas Tania.


"Astaga susahnya membujuk wanita ini" keluh Jayden.


"Jangan bicara aneh-aneh tuan Lee. Kalau sudah tidak ada yang dibicarakan saya permisi. Anda bisa mengirim sketsa mana yang Anda inginkan. Kami akan memprosesnya dan membuatkannya untuk Anda"


Setelah berkata seperti itu, Tania bangkit lalu melangkah pergi.


Tania menarik nafasnya pelan. Sejenak menatap Jayden.


"Please, aku tinggal melihat beberapa sketsa lagi. Aku sudah memutuskan beberapa. Tinggallah sebentar lagi. Lalu kita bisa makan siang. Oke?" bujuk Jayden.


"Cepatlah!" ucap Tania tegas.


Membuat Jayden mengembangkan senyumnya. Setidaknya dia masih bisa menahan gadis itu untum berada di sini.


"Yang ini, kamu ingin menggunakan sutra. Kamu ambil dari mana sutranya"


"Kota Sengkang, Kabupaten Wajo. Sulawesi Selatan. Salah satu sentra produsen sutra terbaik di negeri ini"


"Cantik...."


"Memang" batin Tania.


Dia perlahan mendekat ikut melihat design mana yang dipuji cantik oleh Jayden. Seketika Tania langsung merebut sketsa itu.


"Jangan yang ini. Dan ini" ucap Tania mengambil tiga lembar sketsa. Lantas memasukkannya kedalam tasnya. Membuat Jayden sedikit heran.


"Itu gaun pengantin kan?"


"Bukan apa-apa. Anda bisa memilih yang lain"


Jayden terdiam menatap Tania.


"Boleh aku tanya sesuatu?"


"Apa?"


"Semua ini adalah designmu sendiri kan?"


"Kenapa Anda bisa bicara seperti itu. Itu design dari beberapa staff kami"


"Jangan bohong.Banyak dari design ini benar-benar menggambarkan dirimu. Ada harapan. Ada keinginan. Ada kerinduan. Dan yang jelas....ada kesedihan dalam sketsa design ini. Ini kamu kan? Sketsa ini menggambarkan apa yang kamu rasakan. Betul tidak?" tanya Jayden.


Sejenak Tania membeku. Tidak ada satu katapun yang meleset. Semua tepat sasaran. Sketsa itu adalah pelarian Tania.


"Anda jangan bercanda" Tania mencoba menepis anggapan Jayden.

__ADS_1


Pria itu tersenyum.


"Aku tahu banyak hal soal design. Bagi sebagian designer. Sketsa mereka laksana kanvas kosong untuk mengekspresikan perasaan mereka. Sama seperti seorang penyanyi dan lagunya. Seperti pelukis dan lukisannya. Apakah aku betul" ucap Jayden lagi.


Tania hanya bisa menggigit bibir bawahnya. Tidak mampu menjawab. Karena yang diucapkan Jayden benar semua.


"Apa yang kamu sembunyikan?" tanya Jayden.


"Bukan urusanmu" ucap Tania sambil memalingkan wajahnya. Tidak ingin Jayden melihatnya menangis.


Jayden menarik nafasnya.


"Baiklah jika kamu belum ingin bercerita" ucap Jayden.


Jayden paham. Mungkin akan terlalu cepat bagi Tania. Mengingat ini baru pertemuan kedua mereka. Jayden rasa akan sangat keterlaluan jika dia memaksa Tania bercerita soal masalah pribadinya.


Semua perlu waktu. Dan dia akan sabar menunggu. Sampai gadis itu bisa benar-benar menerima dirinya.


Jayden kembali sibuk dengan sketsa Tania. Ketika ponselnya berbunyi.


"Ya, Rey"


"...."


"Sudah beres?"


"...."


"Sekarang?"


"..."


"Oke"


Jayden menatap Tania yang tengah kesal memandang ponselnya.


"Apa dia mengganggumu?"


"Ha?"


"Bryan Aditama. Mantanmu"


"Sudah seperti peneror saja" guman Tania.


"Ingin aku mengatasinya?"


"Tidak usah. Nanti juga berhenti sendiri kalau sudah dapat yang baru. Dia kan tidak kekurangan stock cewek cantik"


"Kamu sedang cemburu dengannya?"


"Siapa bilang. Cemburu dengan dia. Yang benar saja"


"Bagus kalau kamu tidak punya perasaan apa-apa lagi padanya"


Tania mengerutkan dahinya mendengar ucapan Jayden.


"Bisa kamu tunggu sebentar. Aku harus menghubungi kolegaku. Kalau lapar carilah sesuatu di kulkas. Setelah ini kita makan siang oke??"


Tania mengangguk. Jayden melangkah masuk ke ruang kerjanya. Sedang Tania langsung menyandarkan tubuhnya ke sofa.


"Ahhh nyamannya"


***


"Sial!!! Dia tidak mau menerima telepon dariku" ucap Bryan dengan nada kesal luar biasa.


Dia sebenarnya tidak ada rasa dengan Tania. Tapi bagi seorang casanova jelas mereka belum akan merasa puas. Jika belum bisa membawa mangsanya naik ke kasurnya. Dan Tania adalah kegagalan pertama bagi Bryan.


Gadis itu sejak awal sudah menolak dengan tegas untuk berhubungan **** dengannya. Membuat Bryan penasaran. Karena Tania benar-benar tipe Bryan. Gadis itu pastilah memliki tubuh yang indah dan juga sek**. Pasti akan sangat hot saat berada di kasurnya.


"Sial! Sial! Sial!" umpatnya berkali-kali.


"Kenapa sayang? Bad mood tampak" ucap seorang wanita berpenampilan sek**.


"Aku sedang pusing"


"Perlu penicilin untuk menghilangkan pusingmu" tanya wanita itu dengan nada menggoda.


Apalagi wanita itu tanpa basa basi langsung duduk di pangkuan Bryan. Membuat Bryan menyeringai.


"Aku pikir kau benar. Aku perlu penicilin, obat sakit kepala?" jawab Bryan.


"Tapi penicilinku berbeda. Karena ini yang akan jadi penicilinku adalah ini" ucap Bryan lagi langsung menyambar bibir merah merekah milik wanita yang duduk dalam pangkuannya.


Bukannya menolak. Wanita itu justru menyambut ciuman panas dari Bryan.

__ADS_1


Membuat suasana semakin panas dengan aksi mereka selanjutnya.


****


__ADS_2