Mengejar Cinta Satu Malam

Mengejar Cinta Satu Malam
Tidak Habis Pikir


__ADS_3

"Jangan beritahukan pada Vera kalau aku yang menyumbangkan darah untuknya"


"Apa kau gila? Dia harus tahu, kalau bukan karena darahmu dia pasti sudah mati" Jayden jelas tidak terima dengan permintaan Tania.


"Apa itu akan berguna? Dia tetap akan menganggapku menggoda suaminya"


"Akan kubongkar kebusukan si brengsek itu"


"Jangan sekarang. Vera baru saja melahirkan. Dia tidak boleh stress. Akan berpengaruh pada produksi ASI-nya. Kamu tidak kasihan pada anaknya" Jayden mendengus kesal mendengar ucapan Tania yang terus saja membela Vera.


"Alvian Andrew Aditama. Mereka memberinya nama itu" Sean akhirnya ikut bicara.


"Alvian? Kamu dengar Kak?"


"Ya, aku dengar" jawab Jayden judes.


"Apakah aku boleh melihatnya?"


"Aku tidak masalah. Tidak tahu dengan dua orang gila itu" kembali Jayden memaki.


"Kak....."


"Iya..aku antar"


Pada akhirnya Jayden dengan setengah hati mengantarkan Tania menuju ruang inkubator. Ruang perawatan sementara. Menunggu kondisi sang ibu siap untuk merawat bayinya sendiri.


Petugas memperbolehkan masuk. Dengan dalih Tania adalah tante dari Alvian.


"Oh ya Tuhan, Tampannya kamu" ucap Tania mencium lembut pipi Vian.


Jayden sedikit melirik ke baby Vian.


"Ciih masih juga tampanan anakku kelak" Jayden berdecih.


"Papa apa tidak ingin menggendongku" ucap Tania. Mendekatkan baby Vian pada Jayden.



Kredit google.com


"Aku bukan papanya" tolak Jayden.


"Iissh galaknya. Tidak apa-apa. Papa galak yang penting Mama tidak. Semoga kamu selalu hidup dalam kebahagiaan Vi" ucap Tania mencium lama pipi bayi itu.


"Letakkan anakku ke tempatnya" suara Bryan terdengar dari balik punggung Jayden.


"Bry...aku hanya ingin melihatnya sebentar"


"Aku bilang letakkan!" Bryan mengucapkan setiap kata penuh penekanan.


Jelas sekali Bryan ingin berteriak tapi ditahannya. Mengingat mereka bertiga berada di ruang inkubator.


Perlahan Tania meletakkan baby Vi kembali ke tempatnya. Setelah mencium pipi bayi itu lama. Entah kenapa Tania merasa kalau dia tidak akan bertemu lagi dengan bayi mungil itu.


"Jangan pernah datang menemui istri dan anakku lagi" ucap Bryan.


"Apa maksudmu? Dia berhak bertemu mereka"


"Dia tidak berhak melihat putraku. Karena aku ayahnya dan juga suaminya, jadi aku yang memutuskan apapun yang berhubungan dengan mereka"


"Bry, kau tahu kan aku sangat menyayangi Vian"


"Karena itulah aku ingin menyiksamu" batin Bryan.


"Lalu kau pikir aku peduli!"

__ADS_1


"Bryan jaga ucapanmu!" bentak Jayden.


"Kenapa kau lakukan ini padaku? Pada kami. Kau sengaja kan membuat kami salah paham" ucap Tania mulai berurai air mata.


Mendengar hal itu Bryan hanya mengedikkan bahu. Seolah apa yang dilakukannya hanya sebuah permainan anak kecil yang tidak berarti.


"Apa karena aku pernah menolakmu dulu?" Tania bertanya.


Bryan tersenyum smirk.


"Kenapa juga aku harus menyesal tidak mendapatkanmu. Aku punya Vera sekarang"


"Lalu kenapa kau lakukan ini padaku?!" teriak Tania.


"Emm, mungkin melihatmu menangis akan sangat menyenangkan"


"Dasar orang gila!" teriak Jayden tak kalah keras. Melupakan kalau mereka sedang berada di rumah sakit.


"Kenapa kalian terlihat sangat frustrasi?" ejek Bryan.


"Kau...." Jayden bersiap melayangkan tinjunya. Dia berhenti ketika Tania menahan lengannya.


"Kenapa? Tidak berani memukulku? Dasar pengecut! Aaa tapi dengan begitu kalian akan jadi pasangan yang serasi. Satunya ja**** satu lagi pengecut" ucap Bryan santai.


Kali ini Jayden tidak lagi bisa menahan diri. Pria tinggi itu merangsek maju. Langsung mencengkeram kerah baju Bryan.


"Ooohh, slow bro" ucap Bryan santai.


"Aku akan menghancurkanmu" ancam Jayden.


"Ooo, kali ini kau tidak akan berani melakukannya. Karena jika kau berani menyentuh bisnisku seujung kuku saja. Aku pastikan Vera dan Vian akan ikut menderita bersamaku" ancam Bryan balik.


Jayden mengeratkan rahangnya mendengar ucapan Bryan. Saat itu juga, Bryan menepis cekalan tangan Jayden di kerah bajunya. Mengusap-usapnya seolah bekas tangan Jayden adalah kotoran yang harus segera dibersihkan.


"Bry, biarkan aku melihat Vi dan Vera" mohon Tania lagi.


Membuat Tania dan Jayden sontak berbalik.


"Vera....


"Kau tidak boleh menemui putraku. Dan aku tidak mau menemuimu. Pergi dari sini. Karena aku tidak mau melihatmu" ucap Vera dingin.


"Ra...." lidah Tania kelu. Tidak bisa menjawab perkataan dari sahabatnya sendiri.


"Aku bilang pergi! Dan satu lagi aku akan sangat membenci kalian jika kalian berani menyentuh keluargaku. Termasuk bisnis suamiku" ucap Vera dingin.


Lantas berlalu dari sana setelah meminta perawat mendorong kursi rodanya masuk ke dalam ruang inkubator untuk melihat anaknya.


Melihat kejadian itu. Bryan menyeringai puas. Ingin berlalu dari sana. Menyusul Vera. Namun sebelum masuk ke ruang inkubator, Bryan berhenti.


"Aahh dan satu lagi. Setelah Vian kuat aku akan membawa mereka ke Australia" info Bryan. Membuat Tania langsung membulatkan matanya.


"Kenapa kau membawanya ke sana?"


"Agar kau tidak bisa melihatnya dan juga bertemu Vera" jawan Bryan sambil tersenyum puas melihat ekspresi terkejut Tania.


"Tidak Bry, jangan bawa mereka pergi. Aku mohon" Tania berusaha mengejar Bryan yang sudah masuk ke ruang inkubator menyusul Vera.


"Kak...."


Jayden hanya bisa memeluk Tania. Berusaha menenangkan gadis itu. Lantas perlahan beranjak berlalu dari sana.


"Kita bisa mencekalnya" usul Sean.


Mereka semua sudah berkumpul di kantin rumah sakit. Maura dan Nita tampak berusaha menghibur Tania yang benar-benar terpukul kali ini. Gadis itu tak berhenti menangis.

__ADS_1


"Aku tidak menggodanya, Ta" ucap Tania.


"Aku tahu, Mbak. Kita semua sudah melihat rekaman CCTV-nya. Si gila itu sudah mengadu domba kalian" ucap Nita. Mengusap lembut punggung Tania.


"Yang sabar ya, Mbak" Maura berucap.


"Kita tidak bisa mencekalnya" jawab Jayden.


"Kenapa?" tanya Sean.


"Si gila itu mengancam akan membuat Vera dan Vian menderita jika kita mengusiknya" jelas Jayden.


"Oh sh**" Sean mengumpat.


"Lalu kita sekarang harus bagaimana, Tuan" tanya Rey.


Ingin rasanya mereka menghancurkan Bryan hingga hancur berkeping-keping tapi apa daya mereka khawatir dengan ancaman Bryan.


"Biarkan saja dia. Dia sudah terlalu bersedih. Jika aku bertindak lebih jauh lagi aku takut dia akan semakin kacau" jawab Jayden pada akhirnya.


Menatap Tania yang tampak begitu hancur. Menangis tersedu dalam pelukan Nita dengan Maura yang terus membujuknya.


"Ta, Ra, bisa aku minta tolong pada kalian" pinta Tania pada akhirnya.


"Bisa berikan ini pada baby Vi?" ucap Tania memberikan sebuah kotak yang dia ambil dari tasnya.


"Kenapa kamu tidak memberikannya sendiri?" tanya Nita.


"Dia tidak mau melihatku lagi, Ta?" jawab Tania mengusap air matanya.


Nita dan Maura saling pandang. Sebenarnya keduanya juga enggan bertemu Vera lagi. Mereka sangat marah melihat perbuatan Vera. Apalagi setelah melihat sendiri rekaman CCTV dari ruang kerja Tania.


"Tapi Mbak...."


"Aku mohon. Aku hanya ingin dia memakai ini. Aku sudah menganggap dia seperti putraku sendiri. Jadi aku mohon lakukan ini untukku. Aku tahu kalian sebenarnya tidak ingin melihat Vera. Tapi...."


Nita dan Maura saling pandang. Hingga pada akhirnya keduanya sama-sama menarik nafas mereka.


"Baik, kami akan memberikannya" ucap Maura pada akhirnya.


"Terima kasih. Kalian mau melakukannya untukku" ujar Tania sumringah.


Nita dan Maura mengangguk.


"Satu lagi. Jangan beritahu mereka kalau ini dariku. Bilang saja ini dari kalian"


Nita dan Maura kembali mengangguk. Tidak ingin membantah.


Tania tampak begitu bahagia. Menatap kotak kecil di tangannya.


"Setidaknya, aku bisa menemukanmu suatu hari nanti" batin Tania.


Semua orang hanya bisa menatap iba pada Tania. Tidak habis pikir. Bagaimana bisa Bryan mengadu domba dua sahabat itu. Dan yang lebih parahnya lagi. Vera dengan mudah mempercayai suami brengseknya itu.


Tapi apa yang bisa mereka lakukan sekarang. Mereka hanya bisa berdiam diri. Sebab Tania sudah berkata untuk tidak melakukan apapun pada Bryan. Dia takut kalau Bryan akan benar-benar membuat Vera menderita.


****



Kredit Instagram @actor_eunwoo



Kredit Google.com

__ADS_1


Bonus pict babang Jayden ama babang Sean yang jengkel setengah mati pada babang Bryan 😤😤😤😤


****


__ADS_2