
Tania terbangun dan kembali bingung.
" Ini dimana lagi?" gumannya.
"Kamarkulah. Masak tidak hafal-hafal juga" seloroh Jayden yang sudah rapi dengan setelan suit-nya.
Kredit Instagram@leesuhochaeunwoo
"Kenapa aku bisa disini" tanya Tania bingung.
"Kamu tidak ingat kejadian semalam?"
"Kamu ngapain aku lagi?" tanya Tania balik.
"Astaga, aku tidak ngapa-ngapain kamu. Padahal kamu sek** sekali" ucap Jayden menunjuk dada Tania dengan dagunya.
Tania reflek mengikuti arah pandangan Jayden. Dan dia langsung menarik selimut untuk menutupi belahan dadanya yang sedikit mengintip dari balik dress-nya.
"Kamu ...
"Buang baju itu! Jangan dipakai lagi" perintah Jayden.
"Tapi kak....
"Kamu tahu semalam kamu dibius Bryan lalu dibawa ke hotel. Ingat tidak" ucap Jayden cepat.
Tania langsung menutup mulutnya. Tidak percaya.
"Kakak tidak bohong kan?"
"Buat apa aku bohong. Tanya Sean dan Vera kalau kamu tidak percaya. Untung saja kami datang tepat waktu. Kalau tidak habis kamu diterkam Bryan"
Tania bergidik ngeri.
"Hiii..."
"Makanya kalau pakai baju yang benar" protes Jayden.
"Ini juga bener"
"Bener apanya. Kelihatan semua begitu. Nggak sekalian saja telan*****. Biar aku tidak repot-repot membukanya" ucap Jayden sambil naik ke atas kasurnya.
"Iihh Kakak apaan sih. Ngomongnya kok gitu" ucap Tania memundurkan tubuhnya. Karena Jayden semakin merangsek maju.
"Kenapa?" tanya Jayden tepat didepan wajah Tania yang menunduk. Tidak berani menatap wajah Jayden.
"Kakak ihh sana" ucap Tania mendorong jauh tubuh Jayden.
Jayden terkekeh.
"Cepat bangun. Mau ke kantor tidak. Tadi Nita menghubungi. Hari ini Vera tidak masuk. Ngantuk nungguin kamu semalaman" ucap Jayden berdiri lantas merapikan jasnya.
"Aku tunggu di meja makan"
"Hei, bajuku mana?"
"Cari saja di walk in closet" ujar Jayden sembari keluar kamarnya.
***
"Ada apa, Mas?" tanya Nita.
Dia melihat Sean tampak tengah memikirkan sesuatu.
"Aku rasa Vera menyembunyikan sesuatu"
__ADS_1
Nita mengerutkan dahinya. Keduanya sedang mengambil sarapan mereka di sebuah restoran di dekat kantor Nita. Sean tampak menawan dengan setelan formal berwarna maroon.
Kredit Pinterest.com
"Maksud Mas?" tanya Nita.
"Kamu tahu Vera menyusul Bryan ke hotel. Dan baru dua jam kemudian dia keluar. Apa kamu tidak curiga. Kalau mereka...
"Mereka apa?" tanya Nita polos.
"Masak kamu tidak tahu sih sayang"
"Ya memang aku nggak tahu. Memang mereka ngapain?"
"Aduh punya cewek kok yo polos amat gini sih. Jangan-jangan gue ajak indehoy di hotel juga dia tidak tahu" batin Sean tidak percaya menatap Nita.
"Mereka ngapain? Kok malah diam saja sih"
"Tidur bareng" jawab Sean pada akhirnya.
"Ha tidur bareng? Making love maksud Mas"
"La itu malah nyambung"
"Habisnya teman kantor pada nggunain istilah ML untuk ngomongin yang begituan"
Sean ber-ooo ria.
"Beda istilah to rupanya"
"Terus kalau mereka begituan memangnya kenapa?" tanya Nita dengan kepolosannya lagi.
"Astaga Ta. Masak tidak paham juga. Itu artinya si brengsek itu manfaatin Vera. Itu bisa nyakitin Vera. Merusak masa depan Vera" jelas Sean.
"Terus kita harus bagaimana? Eh tunggu dulu memangnya Bryan dan mbak Vera beneran sudah tidur bareng" tanya Nita.
"Yang aku takutkan kalau Bryan yang memaksa dan Vera tidak bisa melawan"
"Kasihan ya mbak Vera jadi lebih kayak diperk*** gitu ya?" ucap Nita.
Sean mengangguk.
"Jadi aku minta mulai sekarang. Tolong kamu awasi Vera. Bagaimana sikapnya setelah ini. Dia berubah atau tidak. Aku akan menemui si brengsek itu. Memberinya peringatan" ucap Sean.
Nita mengangguk mengerti.
***
Suasana BA Management sedikit heboh. Ketika Sean masuk ke gedung itu. Banyak yang bertanya untuk apa Sean Huang, pemilik Huang Enterprise mengunjungi kantor mereka.
Sebenarnya banyak agensi yang menawarkan Sean untuk masuk ke dunia hiburan. Menģingat wajah tampan dan body sempurna yang dia miliki. Namun Sean menolak. Lebih senang berbisnis di bidang pengadaan peralatan medis dan kesehatan. Yang sekarang bisnisnya menguasai hampir enam puluh persen pasar di negeri ini.
Tanpa bertanya Sean langsung naik ke kantor Bryan yang berada di lantai tujuh dari bangunan sepuluh lantai itu. Tanpa ragu dia langsung masuk ke ruangan Bryan.
Bryan yang tengah mengompres wajahnya itu sedikit terkejut dengan kedatangan Sean.
"Mau apa lagi kau datang? Bukankah kalian sudah mendapatkan Tania dan merusak acaraku" bentak Bryan.
"Acara sialanmu itu!" bentak Sean balik.
"Apa masih kurang kalian menghajarku?"
"Tentu saja masih. Yang menghajarmu baru Jayden. Aku belum" jawab Sean santai.
"Ciihh"
__ADS_1
Bryan berdecih.
"Lalu mau apa kau kemari? Kalau tidak penting, pergilah! Aku malas melihat wajah kalian"
"Apa yang kau lakukan pada Vera semalam?" tanya Sean to the point.
Bryan sedikit terhenyak mendengar pertanyaan Sean.
"Berarti Vera belum menceritakannya" batin Bryan menggenggam erat kalung Vera di tangan kirinya.
"Kenapa kau bertanya padaku? Tanyakan sendiri padanya"
"Dasar brengsek!" maki Sean merangsek maju. Meraih kerah Bryan.
"Kenapa? Memangnya penting apa yang kami lakukan?"
"Jaga ucapanmu Bryan Aditama. Kalau sampai aku tahu kau memaksanya atau Melecehkannya. Akan kuhancurkan kau!" ancam Sean.
Bryan menyeringai mengejek mendengar ancaman Sean.
"Sebelum kau mengancamku. Ada baiknya kau tanyakan dulu padanya. Apa yang sudah terjadi" ucap Bryan menyentak tangan Sean.
Hingga cekalan tangan Sean pada kerah baju Bryan terlepas.
"Aku memperingatkanmu Bryan. Hati-hati dalam bertindak. Kau tidak tahu sedang berurusan dengan siapa. Kalau kau berani mengusik salah satu dari keduanya. Akan ada dua keluarga yang datang untuk menghancurkanmu" Sean memperingatkan.
"Kau pikir aku takut?" jawab Bryan tampak tidak gentar mendengar ancaman Sean.
"Baik kalau kau tidak takut. Saranku hindari Tania dan Vera. Jangan mengusik mereka berdua" Sean kembali memperingatkan. Lantas berlalu pergi dari hadapan Bryan.
"Dasar brengsek!!!!" umpat Bryan begitu Sean keluar dari ruangannya.
Sejenak di memejamkan matanya. Menggenggam erat kalung milik Vera.
"Kenapa kamu menyembunyikan semua yang terjadi semalam Ra" batin Bryan.
Sejenak rasa bersalah menyelinap masuk ke hatinya. Dia jelas tahu bahwa dia yang memaksa Vera semalam. Tanpa mempedulikan teriakan dan permohonan Vera semalam. Tangis menghiba Verapun sama sekali tidak ia hiraukan. Na*** dan amarah menguasai diri Bryan semalam. Membuatnya sama sekali tidak mempedulikan semuanya.
"Maafkan aku Vera, maafkan aku" bisik Bryan.
***
Vera memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar taman yang ada di area apartemennya. Merasa bosan setelah seharian mengurung diri di dalam kamarnya. Dan juga setelah rasa sakit di area inti dan tubuhnya berangsur menghilang.
"Dasar Bryan brengsek!" maki Vera.
Rasa benci dan marah kini menguasai hatinya. Ingin sekali mencabik-cabik tubuh pria yang sudah mengambil paksa kehormatannya.
Tania menghubunginya saat makan siang. Menanyakan bagaimana keadaannya. Vera mengatakan kalau dia hanya mengantuk saja. Ingin tidur seharian ini. Membuat Tania merasa lega. Dia pikir Vera sakit.
Memakai dress rumahan dengan sweater sebagai outernya. Vera melangkah masuk ke taman yang ada di halaman samping apartementnya. Area hijau yang disediakan untuk bersantai dan menikmati udara segar bagi penghuni apartement seperti Vera dan beberapa orang yang dijumpai Vera disana.
Suasana petang dengan angin sepoi-sepoi terasa begitu menenangkan hati Vera.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang" batin Vera.
Bagi Vera yang masih berpikiran kuno. Dia menganggap kehormatan hanya bisa diberikan kepada suaminya. Orang yang paling berhak. Tapi sekarang, harta yang mati-matian ia jaga selama ini. Hilang begitu saja di tangan pria brengsek sekelas Bryan yang hobi gonta-ganti perempuan sesuka hatinya.
Tapi dia juga tidak bisa menyalahkan siapapun. Dia sendiri yang bersikeras menyusul Tania ke hotel. Berpikiran kalau-kalau Jayden dan Sean akan kesulitan saat mengambil Tania dari Bryan.
Tanpa dia tahu sebesar apa kekuatan Jayden Lee yang sebenarnya. Yang jika Jayden mau, satu Surabaya bisa menuruti perintahnya. Apalagi dengan dukungan tiga keluarga dibelakangnya. Keluarga Lee-nya sendiri, keluarga Hadiwinata dan juga klan Liu.
Vera menarik nafasnya dalam dan lama. Dia benar-benar ingin menghilangkan rasa sesak yang ada dihatinya. Dia benar-benar menyesali kebodohannya.
Suasana sunyi sangat terasa. Hanya ada suara daun yang bergesekan karena hembusan angin. Hingga satu suara memecah kesunyian itu.
"Ra....." panggil suara itu.
__ADS_1
Membuat Vera langsung mendongak mencari sumber suara itu. Meski ia tahu benar siapa pemilik suara itu. Pria yang begitu ia benci sejak semalam. Pria yang begitu ia ingin hindari. Kini malah berdiri tepat dihadapannya.
****