
Ketiganya menatap tidak percaya pada pemandangan didepannya. Kamar itu sudah disulap menjadi sebuah kamar pengantin yang emmm....romantis.
Ketiganya secara tidak sadar mengusap tengkuk mereka bersamaan. Entah apa maksudnya. Mungkin ketiganya langsung berpikiran yang aneh-aneh soal malam pertama. Sambil terus menatap kamar itu.
Kredit google.com
"Sudahlah ayo kita cepat bantu Vera ganti. Terus kita keluar dari sini" ucap Tania. Setengah mendorong tubuh Vera ke arah kamar mandi.
"Kenapa buru-buru pergi? Nggak ngobrol dulu" ucap Vera polos.
"Hei calon ibu. Kamu itu sekarang sudah married. Sudah nikah. Jadi sekarang kamu sama suami kamu kalau dikamar" jelas Nita yang akhir-akhir ini semakin berani dalam hal berbicara.
Keduanya membantu Vera berganti baju. Lalu membersihkan diri. Mereka baru selesai makan ketika pintu kamar terbuka. Membuat Tania dan Nita langsung undur diri. Meninggalkan Vera hanya dengan Bryan dikamar romantis itu.
Diluar kamar, ternyata Jayden dan Sean sudah menunggu... Keduanya tampak keluar dengan wajah merona. Membuat dua pria itu saling pandang.
"Ada apa?" tanya Sean.
Kedua wanita itu kompak menggeleng. Membuat Jayden dan Sean hanya bisa saling pandang kembali. Tidak paham dengan apa yang terjadi pada dua wanitanya.
"Apa harus menginap?" tanya Tania.
"Aku capek. Malas nyetir" jawab Jayden.
"Tapi emak aku" ucap Nita ragu.
"Kami bilang kamu tidur sama Tania" potong Sean cepat.
Membuat dua wanita itu tersenyum.Lantas bergandengan tangan ketika masuk ke lift. Berbeda dengan Sean dan Jayden yang tersenyum penuh arti.
Mereka turun satu lantai dibawah lantai Bryan dan Vera. Saat akan memasuki satu kamar. Tiba-tiba dua pria itu langsung menarik satu tangan dari Tania dan Nita. Membuat gandengan mereka terpisah. Tanpa kata dua pria itu langsung memasukkan mereka ke kamar masing-masing.
Membuat Tania dan Nita langsung protes di kamar masing-masing.
"Dasar tukang tipu. Tukang bohong" maki Tania yang merasa dibohongi oleh Jayden.
Pun dengan Nita. Yang langsung mencak-mencak. Membuat Sean langsung membungkam bibir Nita yang sibuk ngedumel tidak karuan dengan bibirnya.Hingga akhirnya gadis itu terdiam.
"Kalau kamu masih ngedumel kayak tawon. Nggak cuma aku cium. Tapi aku bakalan ikut depe buat malam pertama kita kayak yang di lantai atas" ancam Sean.
Membuat Nita diam seketika. Sama dengan Tania. Gadis itu benar-benar tidak bisa berontak ketika Jayden sudah mengunci tubuhnya. Dan ini lebih parah. Sebab Jayden mengunci tubuh Tania di atas ranjang king size hotel itu. Gegara dia yang terus saja protes tidak mau diam.
Kredit goole.com
"Lepas Jayden Lee" perintah Tania.
__ADS_1
"Tidak mau" tolak Jayden.
Pria itu menatap Tania yang terus saja protes karena Jayden terus saja mengunci tubuhnya.
"Katakan padaku"
"Apa?"
"Bagaimana caranya agar kamu mau menikah denganku" tanya Jayden lembut menatap sayu pada gadis yang kini berada dibawah tubuhnya.
Sejenak Tania terdiam. Menatap balik pada pria yang berada tepat diatas tubuhnya. Hening tercipta di kamar itu.
Berbeda dengan kamar di lantai atas mereka. Bryan yang selesai membersihkan diri. Langsung menyambar bibir Vera yang kini sudah resmi menjadi istrinya.
Tak menolak. Vera langsung membalas ciuman sang suami. Tak lama pasangan pengantin baru itu sudah sama-sama dalam keadaan polos. Melanjutkan sesi malam kedua mereka yang tentunya lebih panas dari saat malam pertama mereka. Yang terpaksa terjadi akibat Bryan yang mabuk.
Di kamar Jayden dan Tania,
"Jawablah. Aku ingin tahu yang kamu rasakan padaku" tanya Jayden.
Kali ini dia sudah merebahkan tubuhnya disamping Tania. Sama-sama menatap langit-langit kamar hotel mereka.
"Entahlah" jawab Tania ambigu.
"Oh come on.Jangan membuatku frustrasi dengan terus menjawab "entahlah". Kamu ragu? Lalu katakan bagian mana dari diriku yang membuatmu ragu" tanya Jayden menatap Tania yang berbaring disampingnya.
"Tidak tahu" jawab Tania lagi.
Pria itu meraih tubuh Tania. Memiringkan tubuhnya. Lantas mencium kembali bibir Tania. Sedikit kasar dan liar. Tania memukul dada Jayden seketika. Tapi Jayden mengabaikannya. Tidak peduli lagi pada penolakan Tania.
Jayden sudah mulai bergerilya ketika tiba-tiba pintu diketuk. Bukan ketukan tapi sudah seperti gedoran.
"Wooii kalian lagi ngapain. Bukain pintu. Ini darurat" teriak Sean dari luar pintu.
Jayden mengumpat kesal. Apalagi Tania dengan cepat mendorong jauh dada Jayden. Pria itu tanpa merapikan pakaiannya yang berantakan langsung menuju pintu. Masih mengumpat ketika dia terpaksa membuka pintu.
"Mengganggu saja!" maki Jayden tepat diwajah Sean.
Sean dan Nita jelas melongo melihat tampilan berantakan Jayden. Sedikit melirik di balik punggung Jayden. Jelas mereka lihat Tania yang sudah terbaring di atas kasur king size kamar itu. Seketika pikiran kedua orang langsung travelling ke mana-mana.
"Mau apa? Mengganggu saja!" salak Jayden.
"Kalian lagi nyicil juga ya" tebak Sean.
"Nyicil darimananya. Baru juga fo****** kalian sudah ganggu" jawab Jayden asal.
Membuat ketiga orang lainnya langsung membelalakkan mata.
"Jayden Lee...!" teriak Tania dari atas kasurnya. Sungguh dia tidak percaya dengan jawaban asal tanpa filter yang keluar dari bibir Jayden.
__ADS_1
"Apa?" tantang Jayden.
"Mulutmu tu kalau ngomong dikondisikan" ucap Tania bangun dari rebahannya.
Sean langsung menutup matanya. Melihat tampilan Tania yang jauh lebih berantakan.
"Oh my God. Kalian benar-benar mau depe ya" kesal Sean.
Dia sibuk menahan has*** di kamar sebelah. Tidak tahunya di kamar sebelah malah sudah los dol tanpa rem. Apalagi Nita. Gadis setengah polos itu langsung geleng-geleng kepala. Mengusir bayangan part plus dua satu yang sekarang sering jadi tontonannya. Dengan alasan belajar buat nanti kalau sudah nikah sama Sean.
"Kalian mau apa ke sini sebenarnya? Kalau cuma buat ganggu, hussh sana pergi. Lagi tanggung juga" lagi Jayden berucap asal saja.
Membuat Sean langsung mendelik mendengarnya. Namun detik berikutnya, dia ingat tujuannya menggedor kamar Jayden.
"Ponsel kalian di mana?" tanya Sean cepat.
"Ada" jawab Jayden padahal dia lupa meletakkannya di mana.
"Kalau begitu hubungi kakakmu cepat atau...
Belum selesai Sean berbicara. Ponsel Tania berbunyi. Melangkah ke arah meja. Lantas mengangkatnya.
"Halo..."
"....."
Hening seketika. Hingga tiba-tiba ponsel Tania meluncur jatuh di atas karpet tebal kamar hotel itu. Disusul tubuh Tania yang ikut jatuh terduduk disana.
Membuat Jayden dengan cepat meraih tubuh itu sebelum jatuh sepenuhnya ke atas karpet.
"Tania....Tania..." panggil Jayden. Menepuk lembut pipi Tania yang sudah banjir air mata. Jayden dengan cepat meraih ponsel Tania yang masih menyala.
"Halo, Jayden Lee disini" Jayden mengambil alih ponsel Tania.
Sesaat dia mendengarkan seseorang bicara di ujung sana. Detik berikutnya dia langsung menoleh ke arah Tania. Yang tatapannya sudah berubah kosong.
"Kami akan pulang malam ini" ucap Jayden cepat.
"Pesawat Liu Corp baru saja mendapat izin mendarat di Juanda setengah jam yang lalu" info Sean.
Mereka sudah berada di dalam mobil Vellfire yang bisa menampung tiga pasang manusia itu. Hari hampir pagi ketika mereka memasuki area bandara Juanda, Surabaya.
Jayden sedikit memberi arahan pada Rey dan juga Maura. Karena dia tidak tahu kapan akan kembali. Pun dengan Nita yang hanya mengangguk ketika Jayden memberikan instruksinya.
"Jangan mengganggu mereka dulu" ucap Jayden diakhir kata.
Semua mengangguk paham. Sedang Tania. Gadis itu sejak tadi hanya diam tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dia sudah berhenti menangis sebenarnya. Dia masih tenggelam dalam pelukan Jayden.
Begitu turun, mereka langsung disambut oleh seorang pria yang langsung membuat tangis Tania kembali pecah.
__ADS_1
***