Mengejar Cinta Satu Malam

Mengejar Cinta Satu Malam
Akan Kuhukum Kamu


__ADS_3

"Dimana Tania?" tanya Bryan.


"Ada urusan apa mencarinya?"


"Bukan urusanmu!"


" Kalau tidak ada urusan, untuk apa mencarinya"


Bryan mendengus kesal.


"Aku tidak tahu" bohong Vera.


"Jangan bohong padaku Vera. Orang terdekat Tania adalah kamu. Tidak ada yang tidak dia ceritakan padamu"


"Kamu salah. Ada banyak hal yang masih tidak aku ketahui soalnya"


Bryan menatap tajam Vera. Menatap dua bola mata gadis itu. Mencari kebohongan disana.


"Kamu tahu Bry, Tania melewati banyak masa sulit dalam hidupnya. Mengenalmu memberikan harapan untuknya. Tapi ternyata kamu pun sama. Hanya melukainya" ucap Vera lantas berlalu meninggalkan Bryan yang mematung mendengar ucapan Vera.


Bukan ucapan Vera soal Tania. Tapi Vera memanggilnya "Bry" panggilan sayang dari mamanya. Namun sekarang semua itu sudah hilang. Tidak ada kasih sayang dalam diri mamanya untuknya.


Mata Bryan berkaca-kaca.


***


"Jangan galak-galak kenapa?" protes Jayden.


Tania hanya diam mendengar protes Jayden.


"Pesanannya Mbak, Oppa" ucap seorang pedagang sate kelinci mengantarkan pesanan Tania dan Jayden.


Tania memesan sate kelinci karena tiba-tiba merasa lapar. Sedang Jayden hanya pasrah saja ketika Tania juga memesankan untuk dirinya.


Tania langsung terbahak mendengar panggilan abang tukang sate itu.


"Kenapa Mbak?"


"Masnya panggil dia Oppa"


"La kan itu orang Korea to. La kalo nggak dipanggil Oppa mosok dipanggil Mas, ndak lucu to Mbak"


"Alah mana ada orang Korea doyan rujak cingur"


"Mosok to Mbak. Bule Korea abal-abal ya"


"Enak saja bilang abal-abal. Ori semua ini. Kagak pakai oplas"


"Busyet dah. Bule Korea rasa lokal"


"Sudah sana-sana. Mau makan aku" usir Jayden.


Dan Masnya pun pergi sambil ketawa ngakak. Lihat bule Korea yang fasih mengumpat pakai bahasa Indonesia.


"Kenapa?" Tania melihat Jayden yang hanya menatap satenya.


"Nggak tega makan" ucap pria itu sendu.


Dan meledaklah tawa Tania.


"Oh my...yang benar saja"


"Mereka kan imut-imut. Sayang, nggak tega"


"Tapi ini enak loh. Beneran. Kamu sama dengan Sean. Dia juga nggak mau makan sate kelinci kalau ke sini"


"Sean pernah ke sini sama kamu" tanya Jayden kesal.


"Pernahlah dulu kita sering pergi bertiga. Waktu pabrik belum rame banget. Tapi sekarang dia juga sama sibuknya. Jadi jarang liburan bareng. Kenapa?"


"Sebenarnya siapa sih Sean buat kamu"


Tania menatap Jayden. Sedikit tahu jika pria itu tidak suka kedekatannya dengan Sean. Cemburu.


"He's the best friend ever. Teman terbaik yang pernah ada. Meski ya...seperti katamu. Pertemanan pria dan wanita itu bullsyit. Dia menyukaiku"


"Kan apa aku bilang. Dia pasti punya rasa sama kamu"


"Well, itu hak dia"


"Lalu kamu?"


"Aku? Aku tidak punya rasa apa-apa ke dia" jawab Tania tegas.


"Are you sure?"

__ADS_1


"Yes, I'm sure" jawab Tania yakin.


"Tapi aku tetap tidak percaya padanya"


"Kenapa? Sekarang dia lagi nguber-nguber Nita. Saingan sama asistenmu?"


"What!!! Nita sekretarismu. Rey juga"


"Mereka lagi mencoba pedekate ke Nita. Hasil entahlah"


"Yang aku tahu Rey diuber-uber Manda. Staf dia. Asisten dia"


"Wah menarik tu"


"Menarik apanya. Itu bikin semua jadi ribet" ucap Jayden sambil menggigit sate kelincinya. Melupakan rasa tidak teganya.


Sedang Tania hanya mengulum senyumnya.


"Pria ini tukang makan. Tapi bodynya oke-oke aja" batin Tania.


Sesaat kemudian Tania menggeleng-gelengkan kepalanya. Mengusir pikiran kotor yang mulai masuk ke kepalanya.


***


Malam harinya mereka kembali menikmati makan malam dibalkon kamar Tania. Tania kembali kesal ketika Jayden memaksa ikut masuk ke kamarnya.


"Kenapa? Aku kan "suamimu" ucap Jayden santai.


Pria itu nampak menikmati baksonya.


"Suami dari mananya" protes Tania.


"Oke deh, your future husband. Calon suamimu"


"Percaya diri sekali kamu"


"Why not, you're single, I'm single. Tidak ada masalah kalau kita bersama. Bahkan menikah. Mereka nggak punya hak protes" ucap Jayden.


"Whatever" ucap Tania masa bodoh.


Keduanya lantas menikmati baksonya dalam diam.


"Indah ya" ucap Jayden.


"Itu..." ucap Jayden menunjuk view Sarangan di malam hari.




All kredit google.com


"Memang cantik"


"Pantes betah di sini"


"Ngilangin stres sebentar boleh dong" Tania memberi alasan.


"Iyalah, Bos mah bebas"


Tania langsung membulatkan matanya.


"Siapa yang Bos? Kamu?"


"Kamulah? Siapa lagi"


"Bosnya Vera bukan aku" sangkal Tania.


"Jangan bohong lagilah. Aku tahu semuanya. Kenapa kamu menyembunyikannya"


"Menyembunyikan apa?"


"Kalau kamu Bosnya bukan Vera"


"Kamu tidak perlu tahu"


Jayden menarik nafasnya pelan. Dia pikir harus ekstra sabar menghadapi Tania.


"Ya sudah kalau belum mau cerita"


Tania menatap Jayden tidak percaya.


"Dengar, aku ini bukan pria yang sabaran. Kamu tahu itu. Aku ini seenaknya sendiri. Kamu juga tahu itu. Tapi aku akan merubahnya sedikit demi sedikit. Aku akan berusaha agar kamu mau menerimaku. Juga mencintaiku" ucap Jayden menggenggam jemari Tania diatas meja.


Tania hanya diam membiarkan Jayden menggenggam jemarinya. Membiarkan desiran aneh mengalir perlahan. Menghangatkan hatinya yang telah lama beku. Perlahan ditatapnya wajah Jayden.

__ADS_1


Wajah tampan nan mempesona. Dengan senyum yang mampu menyihir siapa saja. Terutama kaum hawa. Untuk takhluk pada pesona Jayden Lee.


"Siapa yang tidak akan jatuh pada pesona seorang Jayden Lee. Apa aku juga akan terjerat pada cintanya" batin Tania.


"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Jayden.


"Tidak ada. Hanya saja apa aku pantas untukmu"


Jayden tersenyum. Merasa lucu dengan keraguan Tania.


"Apa kamu mencintaiku? Apa kamu mau menikah denganmu" tanya Jayden.


Tania mengerutkan dahinya. Tidak tahu harus menjawab apa.


"Kamu tidak harus menjawabnya sekarang. Tapi pertanyaan pantas dan tidaknya kamu untukku. Seolah memberitahuku kalau kamu siap menikah denganku"


Dan ucapan Jayden sontak membuat Tania gelagapan.


"Ah bukan seperti itu maksudku. Maksudku, dengan kedudukanmu. Dengan posisimu. Bukankah kamu harusnya bisa dapat yang lebih dariku" jawab Tania menundukkan wajahnya.


"Yang lebih darimu? Yang seperti apa? Yang cantik? Sek**?.... Tapi bagaimana masalahnya jika aku hanya menginginkanmu. Tidak ingin yang lain"


Jawaban Jayden membuat wajah Tania memerah. Dia merasa malu.


"Tidak perlu meragukan apapun tentang perasaanku padamu. Sekarang yang penting perasaanmu. Aku ingin menikahimu. Ingin memilikimu. Ingin bersamamu. Tapi aku tidak ingin memaksamu. Aku ingin kamu juga mencintaiku" ucap Jayden panjang lebar.


***


Malam kian larut dan udara semakin dingin. Telaga Sarangan mencapai suhu terendahnya malam ini. 15° C. Tapi Jayden tidak bermasalah. Pria itu tidur nyenyak di kamarnya.


Berbeda dengan Tania. Gadis itu sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Dia hanya berguling ke kanan. Guling ke kiri. Sebal dengan keadaannya. Gadis itu menyambar jaketnya. Dompetnya. Lalu keluar dari kamarnya.


Pukul sebelas malam.


"Mbak, bisa antar ke atas"


"Sebentar ya Mbak Tania"


Resepsionis di villa itu sudah hafal dengan dirinya.


"Kok nggak ke atas sama suaminya" ucap Rina sang resepsionis.


"Oh dia tidur. Biarkan saja. Dia capek baru datang hari ini. Nyetir sendiri lagi"


"Mbak Tania ini nikah kok ya nggak ngabarin to. Kan kita bisa kondangan itung-itung turun gunung. Nggak semedi mulu" gerutu Rina.


"Maaf, soalnya dadakan sih rencananya"


"Awas kamu ya. Membuatku jadi ikut-ikutan harus bersandiwara" batin Tania kesal.


"Berarti belum resepsi dong" ucap Rina.


"Eehhh belum sih" jawab Tania menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Aduh kenapa jadi semakin panjang sih urusannya" gerutu Tania dalam hati.


"Mbak, pak Yono sudah siap di depan"


"Oke, aku mau naik dulu ya" pamit Tania.


Perlahan keluar dari villa. Menuju mobil. Masuk. Sedikit berbasa basi dengan pak Yono, sang supir. Lalu mobil itu melaju perlahan menuju ke Jalan Tembus.


Tidak berapa lama. Tania sudah duduk manis di salah satu warung di puncak Jalan Tembus. Sambil menikmati kopi panasnya


Tania tampak menikmati pemandangan di Jalan Tembus.


"Indah sekali" gumannya.


Dia tidak bisa tidur. Teringat semua ucapan Jayden. Tidak bisa ia pungkiri. Dirinya tertarik dengan sosok Jayden. Satu hal yang dia suka dari Jayden. Pria itu begitu terbuka soal apapun. Soal masa lalunya. Baik buruknya dirinya.


Juga soal perasaannya. Tidak ada satupun yang pria itu sembunyikan.


"Apa dia benar-benar tulus dengan perasaannya atau hanya karena ingin mendapatkanku saja. Sama seperti Bryan" batin Tania ragu.


Tania sejenak menghabiskan waktunya di sana. Dia tidak bisa terlalu lama. Karena dia membawa pak Yono. Dan pria itu menunggu di mobil.


"Balik dululah. Besok ke sini lagi. Sewa mobil sendiri. Jadi bisa sampai pagi" gumannya.


Tanpa dia tahu. Jayden marah besar di villa. Tahu Tania pergi ke Jalan Tembus hanya bersama pak Yono. Tanpa memberitahunya.


"Awas saja. Akan kuhukum kamu begitu kamu pulang" batin Jayden marah.


Sedang Rina hanya bisa diam. Melihat kemarahan Jayden yang dia tahu sebagai suami Tania.


****

__ADS_1


__ADS_2