
Praaannngggg,
Bunyi gelas yang dihantamkan ke dinding begitu memekakkan telinga.Seorang pria tampan tampak terduduk lesu di kursi kerjanya.
"Mama tidak peduli. Terserah bagaimana pun caranya. Gadis itu harus jadi milikmu. Kalau cara biasa tidak bisa. Gunakan cara lain. Tiduri dia. Buat dia hamil anakmu. Dengan begitu keluarganya tidak akan bisa menolakmu lagi. Gadis itu adalah kunci emas kita. Agar kita bisa hidup mewah lagi seperti dulu"
Kata-kata sang mama tadi pagi masih terngiang jelas di telinganya. Dia pikir siapa sebenarnya gadis yang dimaksud oleh mamanya itu.
"Ah, Mama hanya memikirkan dirinya sendiri. Tidak pernah memikirkan sedikitpun soal perasaanku" ucap Bryan putus asa. Dengan mata berkaca-kaca.
Dia membuat satu kesalahan besar dengan mengambil keputusan untuk mengikuti sang Mama ketika papa dan mamanya berpisah. Dia yang sudah dewasa kala itu. Bisa memilih ingin ikut dengan siapa.
Dan kesalahan itu semakin membuatnya tertekan. Membuatnya terpaksa mencari pelarian. Alkohol, **** dan One Night Stand adalah hal biasa bagi seorang Bryan.
Namun Bryan merasa akhir-akhir ini dia mulai berubah. Meski dia masih berkawan baik dengan alkohol tapi untuk kebiasaan ONS-nya sudah berkurang.
"Apa karena Vera? Aku jadi tidak berselera lagi dengan ONS" batin Bryan.
"Ahhh tidak mungkin kalau ini karena Vera. Bahkan dulu ketika aku masih pacaran dengan Tania. Aku masih ONS tiap malam" guman Bryan.
Hingga ditengah kekalutan pikirannya itu. Tiba-tiba dia meraih kunci mobilnya. Keluar dari kantor agensinya. Entah kenapa mobilnya melaju ke arah kantor Vera.
Dia langsung naik ke lantai ruangan Vera berada. Hari masih sore tapi. Tapi jam pulang kantor sudah lewat. Membuat kantor Vera sudah terlihat sepi.
Meski begitu, Bryan yakin kalau Vera belum pulang. Dan benar saja. Sayup-sayup dia mendengar suara Vera dari ruangannya.
"Ya, pak Baskara. Kami akan mengirimkan samplenya minggu depan. Sedangkan untuk orderan Bapak yang kemarin sudah kami kirimkan kemarin. Mohon dicek. Dan tolong feedback-nya ya Pak" ucap Vera dengan menjepit ponselnya dengan bahunya.
Sedang tangannya sibuk dengan pena, kertas. Laptop yang masih menyala. Namun satu hal yang membuat hati Bryan berdebar sekaligus membuat tubuhnya panas.
Vera sudah melepas blazernya. Meninggalkan blus berwarna navy. Yang sangat kontras dengan kulit putihnya. Dan mungkin Vera pikir karena sudah tidak ada orang. Jadi dia membuka dua kancing teratas blusnya. Hingga tanpa sadar hal itu menampilkan sedikit belahan dadanya. Ditambah, Vera mengikat tinggi rambutnya. Menampilkan leher jenjangnya yang begitu menggoda.
Bryan menelan ludahnya. Bryan yang notabene seorang casanova. Yang boleh dibilang senggol dikit langsung terang****. Melihat hal seperti itu, tentu saja langsung bereaksi tubuhnya. Bak kucing diberi ikan goreng. Mata siap Bryan seolah siap menerkam Vera. Yang masih menghubungi kliennya. Tanpa sadar seorang Bryan menatapnya lapar.
"Baik Pak, terima kasih atas pesanan dan kepercayaan Bapak. Semoga produk kami bisa memuaskan Bapak. Dan semoga kita bisa bekerjasama di proyek selanjutnya. Ditunggu pesanan selanjutnya ya Pak. Terima kasih, selamat sore" ucap Vera menutup panggilannya.
"Tentu saja para Bos itu puas. Apalagi kalau melihat tampilan Bos kita hari ini. Ck, ck, ck sangat hot sekali" ucap Bryan tiba-tiba.
Membuat Vera dengan cepat mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara. Mata Vera membulat sempurna. Melihat Bryan bersandar di pintu ruang kerjanya. Menatap aneh ke arah dirinya. Vera gelagapan. Buru-buru membenahi penampilannya. Secepat kilat dia mengancingkan blusnya.
"Aku sungguh tidak menyangka kalau kamu ternyata sangat sek** dan...aahh begitu menggoda" ucap Bryan berjalan mendekat ke arah Vera.
Yang berusaha menyembunyikan wajah gugupnya.
"Mau apa kau kemari, Bry? Tania tidak ada" ucap Vera sadis.
"Aku tidak mencari Tania. Aku sedang bosan. Aku pikir ke sini untuk mengganggumu. Tidak tahunya aku malah mendapat pemandangan yang wow" ucap Bryan sambil menyeringai.
"Kalau tidak ada urusan. Silahkan pergi. Aku masih banyak pekerjaan" ucap Vera. Tidak terlalu ingin menggubris perkataan Bryan.
"Tentu saja aku ada urusan denganmu" ucap Bryan ambigu saat mengucapkan kata urusan.
"Urusan apa cepat katakan. Aku sedang sibuk" jawab Vera lagi.
__ADS_1
Lagi-lagi gadis itu mengacuhkan Bryan. Sibuk dengan berkas-berkasnya. Yang mana membuat Bryan semakin terpesona.
"Tidak ada wanita yang berani mengacuhkanku. Tidak juga Tania" batin Bryan.
"Urusan kita tidak bisa diselesaikan dengan ucapan tapi dengan tindakan" ucap Bryan.
"Apa maksudmu?" tanya Vera.
Menghentikan pekerjaannya. Lantas menatap Bryan yang sudah berdiri di sampingnya.
"Karena urusan kita soal ini" ucap Bryan dan sejurus kemudian pria itu sudah meraih tengkuk Vera. Lantas menyambar bibir peach Vera. Melum**nya penuh *****.
Bryan benar-benar tidak tahan melihat Vera yang sejak tadi memainkan bibirnya sendiri. Vera yang mendapat serangan dadakan jelas terkejut. Detik berikutnya dia mendorong jauh tubuh Bryan. Membuat ciuman Bryan terlepas.
"Kamu gila ya?! Apa yang kamu lakukan ha?" teriak Vera marah. Mengusap kasar bibirnya.
"Itu ciuman pertamaku" batin Vera kesal.
"Manis sekali" ucap Bryan juga mengusap bibirnya yang basah.
Ucapan Bryan membuat Vera langsung memberikan tatapan membunuhnya.
"Apa kau sudah kekurangan stok wanita untuk kau tiduri" pekik Tania.
"Boleh dibilang dibilang begitu" jawab Bryan santai.
Vera mendengus geram mendengar jawaban Bryan. Vera menarik nafasnya dalam. Menetralisir jantungnya yang berdebar tidak karuan. Sedang Bryan hanya menatap Vera dengan jutaan perasaan yang dia sendiri tidak tahu apa. Entah kenapa Vera jadi begitu menarik di matanya.
"Apa itu tadi ciuman pertamamu" tanya Bryan santai. Perlahan mendekati Vera.
Vera mendelik ke arah Bryan.
"Apa itu tadi ciuman pertamamu?" ulang Bryan setengah berbisik karena jarak mereka yang dekat.
"Bukan urusanmu! Pergi sana. Kau menggangguku Bry!" bentak Vera.
"Oo tidak bisa. Aku baru saja memulai pemanasannya. Belum juga sampai ke intinya"
Jujur saja tubuh bagian bawah Bryan sudah mulai bergejolak. Sejak dia melihat belahan dada Vera yang terlihat begitu menggoda.
"Oh come on Vera. Takkan kamu tidak tahu yang aku mau" pancing Bryan.
"Oh tuan Bryan. Jangan membuatku bertambah pusing. Pergilah cepat jangan mengganggumu" usir Vera.
"Aku menginginkanmu, Ra" bisik Bryan parau di telinga Vera. Membuat Vera merinding dibuatnya.
"Menjauhlah dariku!" Vera memperingatkan. Tubuhnya mulai terasa panas tidak tahu apa sebabnya.
Bryan menyeringai. Melihat rona merah di wajah Vera. Dia tahu gadis itu sedang menahan perasaannya.
"Bagaimana kalau aku tidak mau" tantang Bryan.
"Bry, sebenarnya apa yang kau inginkan?" tanya Vera gusar.
__ADS_1
"Sudah aku bilang aku menginginkanmu" tegas Bryan.
"Jangan berbelit-belit. Aku tidak punya waktu untuk meladenimu" sarkas Vera. Sungguh dia tidak tahu dengan arti "menginginkanmu" di sini.
"Baik kalau begitu aku langsung saja" ucap Bryan.
Dan detik berikutnya dia kembali menyambar bibir Vera. Langsung mema***nya penuh has***. Tanpa jeda Bryan terus memainkan bibir Vera yang terasa begitu manis bagi Bryan.
Vera langsung membulatkan matanya. Berusaha mendorong jauh tubuh Bryan. Tapi pria itu tak kalah gesit. Dia menahan kedua tangan Vera dengan kedua tangannya. Menguncinya diatas kepala Vera. Keduanya bersandar didinding ruang kerja Vera.
Satu tangan Bryan yang bebas mulai bergerilya di tubuh Vera. Menelusup masuk ke balik blus gadis itu. Membuat Vera kelabakan. Sejenak Vera terlena dengan permainan Bryan. Tubuhnya melemah mendapat serangan dadakan dari Bryan.
Dan jelas ini adalah yang pertama bagi Vera. Dia sangat awam dengan hal ini. Hingga tidak tahu harus bagaimana.
"Oh Baby, you drive me crazy" bisik Bryan ketika ia melepaskan tautan bibirnya untuk mengambil nafas.
Vera terengah-engah dengan dadanya yang naik turun. Menarik oksigen sebanyak mungkin ke dalam paru-parunya.
"Apa itu tadi" batin Vera.
Bryan pun tidak kalah ngos-ngosan. Pria itu menahan tubuh Vera yang hampir ambruk karena kakinya terasa lemas akibat permainan bibir Bryan.
Bryan menatap lembut ke arah Vera. Mengusap ujung bibir Vera yang basah dan nyaris bengkak karena ulahnya.
"Aku menyukai rasa bibirmu Ra. Sangat manis dan juga lembut" bisik Bryan.
Membuat Vera membulatkan matanya. Sadar kalau tindakannya bisa berakibat fatal. Dengan cepat Vera mendorong jauh tubuh Bryan. Namun Bryan tidak bergeming.
"Minggir!" desis Vera.
"Kita baru saja memulainya, Ra"
"Kita selesai!" pekik Vera.
Kali ini mendorong keras tubuh Bryan. Hingga tubuh Bryan menyingkir dari hadapannya.
"Vera yang benar saja. Masak iya aku harus main dengan sabun" rengek Bryan.
"Main saja sana!" jawab Vera asal. Tidak tahu maksud Bryan apa.
"Sial!! Bagaimana dia bisa tidak terpengaruh dengan ciumanku" kesal Bryan.
Pria itu baru saja berniat untuk mencium Vera lagi. Ketika pintu ruang kerja Vera terbuka. Dan Nita masuk. Untung Vera sudah merapikan penampilannya. Dan posisi keduanya juga tidak menimbulkan salah paham.
"Oh ada pak Bryan. Maaf saya tidak tahu" ucap Nita tanpa rasa bersalah sekalipun.
"Tidak apa-apa Ta. Dia juga sudah mau pergi kok" timpal Vera berusaha setenang mungkin.
Sedang Bryan, wajahnya sudah merah menahan amarah dan juga has*** yang urung disalurkan.
"Kamu benar-benar membuatku penasaran Vera. Oh damm it, dia tidak mau tidur lagi" rutuk Bryan dalam hatinya.
Bagiamana dia hanya bisa melihat bibir Vera yang sedang mengunyah makanan penuh has*** karena Nita juga ada disana. Karena keduanya ternyata lembur bersama.
__ADS_1
***-------