
Sebuah panggilan masuk ke ponsel Tania. Sedikit mengerutkan dahinya. Panggilan internasional dengan kode negara entah dari mana.
"Good morning sir, this is Tania Adelia's speaking. May I help you" sapa Tania.
Membuat seorang pria diujung sana tertawa terbahak-bahak.
"Sorry, to whom I'm speaking?" lagi Tania berucap.
Sedikit merasa dikerjai oleh orang itu. Tania baru saja akan menutup panggilan teleponnya. Ketika suara diujung sana mencegahnya.
"Ooh wait, wait please don't end this calling. This is me Tania. Sebastian Arturo. Masih ingat?"
"Sebastian Arturo?"
Tania sedikit mengingat.
"Aahh tuan Sebastian yang dari Milan. Yang fotographer waktu itu" Tania akhirnya ingat.
"Yes, smart girl. Ya, itu saya. Bagaimana kabarmu?"
"Baik, tuan Sebastian"
"Sebastian, panggil saja Sebastian"
Tania menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Jangan sungkan padaku. Aku yang minta nomor ponselmu pada kekasihmu"
"Ya? Ada yang bisa saya bantu"
Cukup heran seorang Sebastian Arturo mencari dirinya.
"Apa kamu punya design gaun pengantin yang hampir sama dengan yang kamu pakai waktu prewedding kamu?"
Tania sejenak berpikir.
"Saya ada beberapa design yang seperti itu. Memang kenapa Sebastian?"
"Aahh begini.. I'm getting married in two months. Dan kekasihku melihat fotomu di rumahku. Dia bilang gaunmu cantik dan ingin memakai yang seperti itu"
"Anda mau menikah? Wah selamat ya Sebastian"
"Thank you. So, bisa kamu kirimkan designmu ke saya. Biar Maria memilihnya sendiri. Tenang designmu aman denganku"
"Ahh jangan seperti itu Sebastian. Aku percaya padamu. Oke akan aku kirimkan beberapa designku yang sejenis dengan gaun itu"
"Akan kukirimkan surelku. Oke aku tunggu designmu. Juga undangan pernikahanmu"
Deg,
Jantung Tania serasa berhenti berdetak. Undangan pernikahan?
__ADS_1
"Emm itu...itu...
"Pokoknya aku tunggu. Bye sweetie. See you later" ucap Sebastian. Lantas menutup panggilannya.
Tania mematung mendengar ucapan Sebastian. Masih sedikit shock hingga lama dia seolah melamun.
"Tante, Qila mau main" suara Qila membuyarkan lamunan Tania.
"Oh iya tentu saja. Qila boleh main. Tapi Tante mau kerja dulu sebentar ya" bujuk Tania.
"Oke. Qila mau nonton Upin Ipin" ucap gadis kecil itu lantas meraih remot TV. Mulai duduk di depan TV. Asyik sendiri.
Sedang Tania mulai memilih design yang akan ia kirim ke Sebastian.
Hari berganti. Minggu berganti. Tidak terasa hampir sebulan Tania berada di kota gudeg itu. Semua berjalan dengan lancar. Dia dan Jayden masih intens berkomunikasi setiap hari. Urusan kantor juga berjalan dengan baik.
Hanya urusan hati yang tidak berjalan baik. Dia rindu, dia ingin pulang. Tapi bimbang.
Hingga suatu pagi di hari Minggu. Setelah acara masak bersama dengan Yuli. Tania tampak ikut duduk di sebelah Andri. Yang tengah mengawasi Qila bermain.
"Mas..." panggil Tania.
Dia memang memanggil "mas" pada Andri sejak dulu. Selain karena usianya yang memang jauh diatas Tania. Juga karena sifatnya yang membuat Tania nyaman untuk meluahkan isi hatinya. Tania mendapatkan sosok kakak dalam diri Andri. Tapi sosok kakak yang berbeda dengan Kai.
Selain itu Andri sosok yang agamis. Selalu ada kesabaran dalam setiap perkataannya.
"Ada apa?" jawab Andri.
"Kamu masih bimbang soal hatimu?" tebak Andri ketika melihat Tania memainkan jarinya sendiri. Menandakan kalau dia sedang dalam galau mode on.
Andri sendiri sudah menganggap Tania seperti adiknya sendiri. Karena itu Tania merasa bebas untuk curhat soal apapun pada Andri. Andri adalah satu-satunya sosok di luar lingkup pertemanan Tania, yang tahu setiap detail masalah yang dia hadapi.
Pria itu kerap memberi masukan yang membuat Tania bisa menentukan keputusan apa yang harus ia ambil dalam hidupnya.
Mendengar pertanyaan Andri, Tania kembali terdiam.
"Kamu itu jelas suka, jelas cinta tapi kok yo masih gengsi buat ngaku sama Jayden" seloroh Andri.
Mandengar ucapan Andri, Tania langsung menatap pria berkacamata itu.
"Masak sih?" tanya Tania.
"Iya, tapi memang seperti itulah kebanyakan orang. Tidak sadar dengan perasaan sendiri. Sadarnya nanti jika orang itu sudah pergi atau diambil orang"
Tania membulatkan matanya. Pergi? Diambil orang? Tidak boleh! Tidak boleh, Jayden diambil orang.
"Tu kan, dengar kata pergi sama diambil orang langsung mau protes, tidak terima. Tapi kamu tidak mau berada di sisinya. Masih setia dengan ego dan juga gengsimu sendiri. Tidak ingat kalau dia itu juga punya rasa. Punya sabar yang terkadang bisa habis"
Andri menjeda ucapannya. Membiarkan ucapannya mengguyur hati Tania yang masih bingung biar sadar.
"Kami para pria punya toleransi yang tinggi kala menghadapi perempuan yang kami cinta. Kami bisa melakukan apapun untuk perempuan itu. Asal mereka bisa berada disisi kami. Tapi ada kalanya, rasa toleransi itu hilang ketika kami seolah tidak dihargai. Ketika rasa cinta kami tidak dianggap. Ketika rasa cinta kami hanya dianggap seperti angin lalu. Sampai dititik itu biasanya kami akan menyerah"
__ADS_1
Ucap Andri menatap netra hitam Tania. Sedang Tania pun sama. Menatap mata Andri, berusaha memahami setiap ucapan Andri.
"Kami akan pergi mencari wanita lain yang lebih bisa menghargai perasaan kami. Membalas rasa cinta yang kami punya. Tentu dengan rasa yang sepadan. Jadi sebelum kamu menyesal karena Jayden bosan menunggu kepastian darimu. Kejarlah dia. Akui perasaanmu padanya. Boleh aku tebak? Kamu belum pernah mengakui perasaanmu pada Jayden kan?" todong Andri.
Tania berpikir sejenak. Lantas menggeleng.
"Pria pun sama seperti wanita. Kami juga ingin mendengar pasangan kami mengucapkan kalimat sakral itu" ucap Andri.
Tania menatap Andri.
"Kamu tidak tahu?"
Tania menggeleng.
"Astagfirullah hal'adzim. Aku cinta padamu Tan, I love you kata anak zaman now"
Tania nyengir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Jangan kira kaum perempuan saja yang suka digombalin kaum pria. Tapi kami, kadang mau digombalin juga. Meski tidak terlalu sering"
"Ada banyak hal dalam hidup ini yang harus kita pelajari. Termasuk itu tadi soal perasaan. Jangan pikir karena Jayden hanya diam. Dia terus mau menunggumu. Ada kalanya dia akan sampai dititik jenuh. Lelah menunggumu. Lalu pada akhirnya memilih untuk meninggalkanmu" ucap Andri yang langsung membuat Tania kembali membulatkan matanya.
"Mau ditinggal Jayden?" tanya Andri.
Reflek Tania menggeleng. Ditinggalkan Jayden? Tidak dia tidak bisa kalau berpisah dengan pria mesum bin sesuka hatinya itu. Hatinya sudah terbiasa dengan kehadiran Jayden.
Bahkan sejak kehadiran Jayden. Tania tidak pernah berpikir untuk mencari pria lain.Sudah mentok kali ya hatinya.
"Aku tidak bilang kami pria terbaik untuk kalian. Tapi Insyaallah, kami akan berusaha jadi lebih baik, jadi yang terbaik bagi kalian. Wanita yang sudah kami pilih untuk jadi pasangan kami" ucap Andri.
Tania diam.
"Termasuk Jayden. Kita tahu seperti apa dia di masa lalu. Kamu sendiri yang cerita. Tapi kamu sendiri juga cerita, kalau Jayden sudah tobat dari kebiasaan lamanya. Bukankah itu bermakna kalau dia sedang berusaha memperbaiki diri"
"Jika alasanmu tidak menerimanya karena masa lalunya. Percayalah, semua orang punya masa lalu. Aku, kamu, Jayden semua punya. Tapi tidakkah kamu ingat, kita ada disini juga karena adanya masa lalu. Hingga pada akhirnya, mari kesampingkan urusan masa lalu. Fokuskan diri kita pada masa kini dan masa yang akan datang. Itu yang paling penting"
"Lupakan egomu. Turunkan gengsimu. Lalu tataplah masa depanmu. Jika kamu tidak mau kehilangannya. Pulang. Berhenti main kabur-kaburan" ucap Andri mengakhiri sesi panjang ceramah hari Minggunya.
"Mas Andri ngusir aku?" tanya Tania.
"Iya. Meski aku senang kamu disini. Ngirit aku. Ada yang nanggung jajane Qila" ucap Andri nyengir.
Tania memanyunkan bibirnya.
"Tapi percayalah, tempatmu bukan disini. Ada pria yang rela berkorban apapun untukmu. Menunggumu pulang di Surabaya" ucap Andri.
Membuat mata gadis itu berkaca-kaca.
"Pulanglah. Pastikan kamu tidak kehilangan dia. Setelah kamu mendapatkan dia. Tidak masalah jika kamu mau ke sini sesukamu. Kami selalu menyambut kehadiranmu di sini" ucap Andri mengusap lembut kepala Tania.
Andri menyayangi Tania. Sama seperti dia menyayangi Andi dan Vera. Karena itu dia ingin Tania bisa bahagia. Mengingat betapa banyak hal yang sudah dilalui gadis itu sendirian. Tanpa orang tua. Tanpa saudara.
__ADS_1
****