
"Kau tahu Vera bercin..ta denganku untuk membuatku tidak menemuimu lagi" bisik Bryan kembali di telinga Tania.
Gadis itu masih terduduk di lantai. Air mata mulai mengalir di pipinya.
"Semua ini salahku. Aku yang membuat Vera jadi seperti ini. Ini salahku. Salahku" batin Tania penuh rasa bersalah.
Bryan sendiri tampak puas melihat keadaan Tania. Putus asa dan merasa bersalah. Seringi tipis tampak di wajahnya.
"Kau harus bertanggungjawab pada Vera" bisik Tania pada akhirnya.
"Bertanggungjawab? Maksudmu?" tanya Bryan.
"Nikahi dia!"
"Aku tidak mau!" tolak Bryan.
"Kau benar-benar baj***** Bryan. Apa kau tahu Vera tidak pernah disentuh pria manapun" maki Tania.
"Well, memang iya. Dia masih perawan ketika aku menidurinya kala itu" ucap Bryan enteng.
"Kau memang brengsek, Bryan. Sekarang kau harus bertanggungjawab. Nikahi dia!"
Bryan tersenyum smirk.
"Karena aku memang baj***** dan brengsek. Jadi bagaimana jika aku juga mengajukan syarat. Aku akan menikahi Vera asal kau mau tidur denganku" ucap Bryan kembali berbisik di telinga Tania.
Seketika mata Tania membulat. Tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Kau keterlaluan, Bryan"
"Keterlaluan? Tentu saja tidak. Vera tidur denganku untuk menggantikanmu. Dan sekarang kau tidur denganku agar aku mau menikahi Vera. Itu adil namanya. Kau bisa menebus kesalahanmu" Bryan mencoba mempengaruhi pikiran Tania.
Tania tampak diam, berpikir. Bryan tampak memutari tubuh Tania. Memindai mangsa barunya.
"Bukankah ini hari yang indah. Aku mendapatkan kehormatan Vera. Dan sekarang gadis ini dengan bodohnya datang sendiri padaku. Menyerahkan dirinya" batin Bryan.
Pria itu berdiri di belakang Tania. Menghirup aroma mawar lembut yang menguar dari tubuh Tania.
"Aromanya benar-benar membuatku mabuk. Aahhh berapa lama aku menunggu untuk hari ini. Akhirnya datang juga" batin Bryan lagi.
Yang kini dengan berani mulai mencium leher Tania dari belakang. Setelah menyingkirkan rambut panjang Tania.
"Dan penawaranku hanya berlaku hari ini juga. Saat ini juga" bisik Bryan parau.
Has*** Bryan mulai naik. Seiring bibirnya yang mulai menciumi leher jenjang Tania. Membuat tubuh Tania merinding.
"Dengan arti lain kau ingin bercin..ta denganku sekarang? Disini?" ucap Tania tidak percaya.
"You're so smart, Baby. Aahh dan jangan salah, aku punya kamar pribadi disini. Jadi kita bisa melakukannya disana" jawab Bryan dengan ciumannya yang semakin intens di leher Tania.
"Bagaimana jika aku menolak?" ucap Tania tiba-tiba.
Membuat Bryan menghentikan aksinya.
"Maka akan aku pastikan jika aku tidak akan pernah menikahi Vera" Bryan menegaskan.
Tania tampak berpikir.
"Ingat Baby, Vera begini karena kesalahanmu. Kau yang membuatnya menyerahkan diri padaku" Bryan kembali memprovokasi Tania.
Tania masih terdiam. Hingga Bryan mulai kehilangan kesabarannya. Tubuhnya sudah mulai bergejolak minta dipuaskan.
"Dan aku tidak punya banyak waktu" ucap Bryan.
Mendorong tubuh Tania ke dinding. Lalu menyerangnya. Mencium paksa bibir Tania. Membuat Tania meronta seketika. Bryan dengan cepat mengunci pergerakan Tania. Hingga Tania tidak bisa bergerak di buatnya. Gerakan Bryan semakin liar. Tatkala Tania tidak mampu melawan.
"Aku tidak boleh gagal lagi kali ini" batin Bryan.
__ADS_1
Tepat saat itu, pintu terbuka dengan kasar. Dan tubuh Bryan kembali ditarik paksa menjauh dari tubuh Tania.
"Si**!" maki Bryan ketika kembali ada yang menggagalkan usahanya menggagahi Tania.
"Keterlaluan!" pekik Sean.
Kembali dia memukul Bryan. Jayden marah melihat bagaimana Bryan kembali hampir menyentuh Tania.
"Kau benar-benar tidak ada kapoknya ya!" ucap Sean. Menghimpit leher Bryan ke dinding.
Sedang Jayden langsung memeluk Tania. Yang langsung menangis di pelukan Jayden.
"Semua salahku, Kak. Aku yang bersalah, bersalah membuat Vera jadi seperti ini" ucap Tania dengan airmata mengalir deras di pipinya.
"Tidak ini bukan salahmu. Jangan salahkan dirimu sendiri" Jayden berusaha menenangkan Tania.
"Aku sudah memperingatkanmu hari itu. Tapi kau tidak mendengarkanku. Jadi jangan salahkan aku jika aku benar-benar menghancurkanmu kali ini" ancam Sean.
Sean terlihat begitu marah. Dia yang biasanya kalem dan tenang. Kini benar-benar menunjukkan sisi lain dari dirinya. Mata berkilat penuh amarah. Rahang yang mengatup rapat. Menggambarkan betapa besar amarah yang coba ia tahan.
Bagaimana Sean tidak marah. Pria di depannya ini. Ingin menghancurkan dua wanita sekaligus dan keduanya sudah seperti adik baginya. Vera jelas sudah hancur di tangan Bryan. Dan Bryan masih mencoba untuk menyakiti Tania. Ingin rasanya dia menghajar habis pria yang ada didepannya itu.
"Hancurkan saja dia. Jangan beri toleransi lagi" Jayden berucap.
"Ha, ha, ha kalian bercanda. Memangnya siapa kalian? Bisa menghancurkan orang lain" Bryan meremehkan.
"Kali ini kau berurusan dengan orang yang salah, Bryan Aditama" Sean berucap dengan nada penuh penekanan di tiap katanya.
"Masih lebih baik kami yang menghancurkanmu. Kau akan benar-benar habis jika sampai klan Liu turun tangan menghabisimu" ucap Sean.
Mendengar klan Liu, Tania langsung menatap Jayden.
"Jangan beritahu dia, Kak" Tania memohon.
"Kamu pikir kakak angkatmu akan diam saja? Dua kali bedebah itu mencoba melecehkanmu. Aku saja rasanya ingin membuangnya ke laut" ucap Jayden.
"Kau tidak tahu. Kalau begitu carilah tahu sendiri. Setidaknya kau tidak penasaran, ketika kau benar-benar hancur nanti"
"Sudahlah. Sekarang kau tahu kan? Kalau akan sia-sia saja membujuknya untuk bertanggungjawab pada Vera. Lagipula dia tidak akan bisa menjadi ayah dari anaknya Vera" ucap Jayden.
Yang langsung membuat mata Bryan membulat.
"Ayah? Apa maksud kalian dengan ayah dari anak Vera?" Bryan bertanya dengan nafas yang tercekat.
Disamping Sean belum melepaskan himpitan di lehernya. Mendengar kata ayah. Bryan langsung tercekat.
"Seperti yang kau dengar. Vera hamil.Dan seperti yang kau sendiri tahu. Vera tidak pernah tidur dengan siapapun. Jadi bisa dipastikan. Siapa ayah dari anaknya Vera" jelas Sean dengan gigi menggeletuk.
"Vera hamil anakku. Aku akan menjadi seorang ayah" batin Bryan bahagia bukan kepalang.
Entah mengapa mendengar Vera hamil. Dia merasa bahagia. Hingga tidak sadar jika Sean telah melepaskan himpitan di lehernya. Bahkan ruangan kerjanya kini telah kosong. Hanya tinggal dirinya sendiri.
"Rey, kirimkan semua bukti yang kita punya kepadanya. Besok baru kirimkan salinannya ke kantor polisi" perintah Jayden.
"Baik, pak Bos"
"Kakak sungguh ingin menghancurkan Bryan"
"Dia sudah melampaui batas, Baby. Perlu diberi sedikit pelajaran" jelas Jayden.
"Masih mending kami yang turun tangan Tan, kalau sampai berita ini sampai ke kakakmu. Tidak tahu rudal mana yang akan dikirim untuk menghancurkan Bryan" canda Sean.
"Asal kau tidak melapor saja"
"Kau pikir mata-matanya hanya aku"
"Oh damm it. Aku lupa siapa dia?"
__ADS_1
Sean terkekeh mendengar umpatan Jayden.
"Kau mata-mata kakakku, Sean?"
Wajah Sean langsung berubah. Lupa kalau Tania tidak tahu perannya. Sean menatap Tania. Yang balik menatapnya dengan tatapan tidak percaya.
"Dia bukan mata-mata. Dia bodyguard-mu" Jayden melerai.
"Dia mengawasiku. Dia tahu aku ada disini" tanya Tania menatap tajam pada Jayden.
"Dia tidak mungkin mengabaikanmu. Dia selalu menjagamu. Selalu mengawasimu" jelas Jayden.
"Dan Kakak tahu semua ini" tanya Tania tajam.
Pertanyaan Tania membuat Jayden dan Sean tersadar.
"Alamak. Bakal ada bom atom meledak ini" batin Jayden dan Sean saling pandang.
"Kalian membohongiku selama ini. Kalian keterlaluan!" pekik Tania.
Membuat semua orang sejenak memejamkan mata. Mendengar lengkingan suara Tania.
"Baby, bukan begitu maksudku. Aku tidak bermaksud membohongimu" Jayden coba menjelaskan.
Begitu juga Sean.
"Tania aku bisa jelaskan semuanya" Sean ikut membujuk.
Tapi sepertinya kemarahan Tania sudah tidak bisa dibendung lagi. Dia yang sudah kesal dari tadi. Semakin bertambah marah mendengar kenyataan kalau Kaizo sejak awal tahu dirinya berada di Surabaya.
"Kalian semua pembohong!" kembali Tania berteriak.
"Baby,...
"Tania,....
Ucap Jayden dan Sean bersamaan.
"Rey, hentikan mobilnya!" perintah Tania.
"Tapi Mbak..." Rey mencoba menolak.
"Berhenti aku bilang!" salak Tania.
"Baby, jangan begini. Kita bicarakan ini baik-baik. Okay?"
Triiing,
Satu lirikan maut Tania berikan. Membuat Jayden kicep seketika.
"Alamak dia marah beneran" batin Jayden.
"Tania. Dengarkan aku. Kita bicarakan ini lagi nanti ya" bujuk Sean kembali.
"Tidak mau! Rey aku bilang berhenti!"
Dan ciiiiittttttt, terdengar bunyi rem yang diinjak dalam dan tiba-tiba.
Diikuti bunyi suara pintu mobil yang ditutup kasar. Membuat ketiga pria itu melonģo. Hanya bisa melihat Tania melangkah menjauh dari mobil itu. Setelah sebelumnya membuat kode.
"Jangan mengikutiku"
Ketiga pria itu hanya bisa saling pandang. Masalah yang satu belum selesai. Kini muncul lagi masalah lain. Dan urusan membujuk wanita yang sedang marah itu lebih susah daripada menghadapi klien killer mereka.
"Angel iki. Wis, wis angel iki"
Ucap Jayden membuat Sean dan Rey melongo.
__ADS_1
***