Mengejar Cinta Satu Malam

Mengejar Cinta Satu Malam
Pria Yang Tepat


__ADS_3

Tania membuka matanya perlahan. Sedikit mengalami disorientasi tempat. Lantas menoleh ke sisi kirinya. Sebab dia merasa ada orang disana. Wajah Jaydenlah yang pertama kali Tania lihat.


Seketika air mata mengalir di pipinya. Jayden perlahan membuka matanya. Lantas memeluk tubuh Tania.


"Menangislah" ucap Jayden parau.


Benar saja. Tangis Tania semakin kencang terdengar. Namun teredam dada bidang Jayden. Jayden mengusap punggung Tania perlahan.


"Jangan khawatir semua akan baik-baik saja" hibur Jayden lagi.


"Aku jahat. Aku begitu marah pada Mama. Hingga aku sama sekali tidak mau menjenguknya. Aku jahat Kak, aku jahat" lirih Tania.


"Semua sudah takdir. Jangan terlalu menyalahkan diri sendiri"


Tania terdiam. Hanya isak tangis yang sejak tadi terdengar lirih. Jayden hanya diam membiarkan Tania menangis didadanya.


Hening beberapa saat. Hingga satu ketukan pintu terdengar. Perlahan Tania beringsut menjauh dari Jayden. Bersamaan dengan pintu kamar yang terbuka. Nampaklah sang kakak, Nadya yang membawa nampan makan malam.


"Kakakmu disini. Aku pergi dulu" ucap Jayden. Mencium sekilas puncak kepala Tania. Berlalu turun dari ranjang besar itu.


"Makanlah dulu" ucap Nadya pada Jayden sebelum pria itu menghilang di balik pintu.


"Mau makan dulu atau membersihkan diri dulu?" tanya Nadya.


Tania terdiam.


"Mamamu sakit. Tapi tidak mau memberitahumu. Dia cukup senang kamu hidup baik di sana" ucap Nadya tiba-tiba.


Seketika Tania mengangkat wajahnya. Menatap manik mata Nadya.


"Sakit?"


Nadya mengangguk.


"Kami sudah mencoba membujuknya untuk berobat. Tapi dia selalu menolak.Hingga pada akhirnya dia pergi"


"Mama sakit apa?"


"Breast cancer, kanker payudara. Waktu kami memeriksanya masih stadium dua awal. Seharusnya masih ada kemungkinan sembuh. Setidaknya itu yang dikatakan dokter Jocelyn. Tapi Mamamu menolak untuk dirawat. Hingga kondisinya semakin memburuk" jelas Nadya sendu.


Tania hanya diam mencerna ucapan Nadya. Rasa bersalah itu semakin besar dia rasa. Andai saja dia tidak terlalu egois, hanya memikirkan soal dirinya sendiri. Mungkin mamanya masih hidup sampai saat ini. Setidaknya dia bisa ikut membujuk mamanya agar mau dirawat.


Tania menundukkan kepalanya. Seakan tidak mampu menatap Nadya.


"Kakak tidak bisa bicara banyak. Semua tergantung padamu. Kami tahu kamu merasa bersalah. Menyesal. Tapi kami juga tidak ingin kamu bersedih terlalu lama. Bukan karena kami tidak mau kamu mengingat mamamu. Tapi yang pergi biarkanlah pergi. Dan yang masih hidup. Kita harus melanjutkan hidup kita. No matter what"


Tania terdiam.


"Bersedihlah secukupnya setelah itu angkatlah wajahmu. Hapus air matamu. Dan lanjutkan hidupmu. Akan ada bahagia menunggumu di ujung sana" nasihat Nadya.


***


"Mau pulang?" tanya Natasya ketika melihat Jayden menuruni anak tangga dari lantai dua.


"Mau mandi. Ganti baju. Gerah. Bau asam" cerocos Jayden.


Entah kenapa dia mudah sekali akrab dengan keluarga ini.


"Alah bau asempun dia masih mau nempel sama kamu" ledek Natasya.


"Jangan salah asem-asem gini masih ada wanginya Jungkok lo" ujar Jayden PD mengendus wangi tubuhnya sendiri.

__ADS_1


"Alah bau asem. Asem sajalah. Jangan bawa-bawa nama Jungkook. Digeruduk Army baru tahu rasa kamu" sungut Natasya.


"Yeah dia tahu Army juga" ucap Jayden tidak percaya.


"Hey aku ini kerja di dunia pertelevisian. Bagaimana tidak tahu tu boyband kalau tiap hari aku dicekokin lagunya yang Butter itu di studio" ucap Natasya sambil hilir mudik menata makanan di meja makan.


"Makan dulu sebelum pulang" ajak Natasya.


"Berarti anak buahmu Army dong" Jayden masih sibuk membahas BTS.


"Iya. Lah kamu sendiri apa fanboy juga. Secara kalian satu komplek" ucap Natasya asal.


"Darimana kamu tahu kami satu komplek" jawab Jayden kali ini ikut duduk.


"Iseng, la emang bener?" tanya Natasya kepo.


"Tidak tahu. Cuma rumahku memang di Hannam-dong. Cukup elite. Hanya dengar beberapa artis memang tinggal disana. Tapi tidak tahu siapa"


Natasya ber-ooo ria.


"Kai mana?" tanya Jayden.


"Tadi sih masih mandi...nah itu dia" menunjuk ke arah suaminya yang baru datang.


"Hai Bro, bagaimana?" sapa Kai.


"Bagaimana apanya?" tanya Jayden.


"Hidupmulah" canda Kai.


"Hidupku baik-baik saja. Hatiku yang tidak baik-baik saja" keluh Jayden.


"Kau tidak bisa mengatasinya?" tanya Kai heran.


"Takkan dia belum move on dariku" ucap Kai sambil menatap sang istri.


"Dia bilang sudah. Dan yang aku lihat dia juga sudah move on darimu. Dia hanya malu saat bertemu denganmu"


"Lalu masalahnya dimana?" tanyĆ  Natasya.


"Dia bilang masih ragu padaku. Okey aku akui, aku ini brengsek. Tapi kemarin-kemarin dia tidak bilang, dia meragukanku. Tapi kemarin aku tanya dia. Jawabannya begitu" Jayden coba berpikir.


"Apa ada yang kau lakukan atau ada yang aneh terjadi belakangan ini" tanya Kai.


"Aku tidak melakukan hal yang aneh" protes Jayden.


"Atau karena pesan itu" tiba-tiba Jayden membatin.


"Bersabarlah kalau begitu" saran Kai.


"Aku coba. Tapi kalau aku tidak sabar. Ya maaf akan aku hamili dia" ucap Jayden sambil menyeringai.


Yang langsung mendapat tatapan nyalang dari Kai.


"Lakukan itu dan aku akan menghajarmu sampai hancur" ancam Kai.


"Oh come on Bro. Aku tidak masalah kamu hajar. Asal aku bisa mendapatkan dia" jawab Jayden santai.


Kai langsung memijat pelan pelipisnya. Heran dengan Jayden.


"Kau ini terobsesi atau mencintai Fanny" todong Kai.

__ADS_1


"Aku mencintainya Bro. Jangan khawatir. Aku sudah mentok tidak bisa dengan yang lain. Karena itu apapun akan aku lakukan untuk mendapatkan dia" jelas Jayden.


"Aku ini heran denganmu. Kalian kembar tetapi kenapa berbeda.Kakakmu begitu on track tapi kau sudah masuk jalur sesat" ucap Kai terus terang.


Jayden tersedak mendengar pendapat Kai soal Lee Joon.


"Kau bilang kakakku on track? Aku beritahu ya dia pernah hampir melecehkan Nina gegara dia ditolak terus oleh Nina" ucap Jayden santai membuka aib sang kakak.


Gantian Kai yang tersedak. Hingga Natasya buru-buru memberikan gelas berisi air kepada sang suami.


"Are you kidding me?"


"Nope"


Kai benar-benar pusing mendengarnya.


"Kalian benar-benar identik kalau begitu. Tidak wajah. Tidak kelakuan sama saja"


"Yang penting kami bertanggungjawab dengan apa yang kami lakukan. Betul tidak kakak ipar?" ucap Jayden santai menujukan ucapannya pada Natasya yang sejak tadi hanya diam mendengar perdebatan absurd dua pria tampan itu.


Natasya langsung mendelik mendengar panggilan Jayden untuknya.


"Pede sekali kamu" jawab Natasya.


Membuat Jayden tertawa.


"Kakak ipar..kakak ipar. Kau itu belum lolos screeningku" tolak Kai.


"Screening yang bagaimana lagi. Aku tampan, kaya, baik hati. Sabar. Bodyku bagus....


"Stop....narsis sekali kamu" Kai memotong ucapan Jayden membuat pria itu langsung memanyunkan bibirnya.


"Aku berani jamin kalau hanya aku yang cocok untuk Tania" ucap Jayden memastikan.


"Kita belum tahu"


"Aku tahu"


"Astaga..."


Jayden terbahak.


"Kau bisa membuatku darah tinggi, Jayden"


"Kau tinggal konsultasi dengan Justin kalau begitu" sambar Jayden.


Membuat kepala Kai serasa ingin meledak menghadapi Jayden. Dan Jayden hanya kembali tertawa. Lantas berdiri.


"Pinjam mobil" todong Jayden.


"Astaga" Kai mengumpat.


Habis sudah kata-katanya untuk menghadapi sikap santai dan PD-nya Jayden. Pria itu masih memijat pelipisnya. Ketika akhirnya Jayden benar-benar pergi dari kediaman Atmaja. Setelah menerima kunci dari Natasya.


"Dia gila!" umpat Kai.


Natasya tertawa.


"Ada yang salah?"


"Tidak ada. Hanya tidakkah kamu sadar kalau dia akan sangat cocok untuk Fanny yang pendiam" ucap Natasya. Membuat Kai sadar.

__ADS_1


"Pria seperti Jayden yang dibutuhkan Fanny. Ceria dan jelas kalau dia itu sabar sekali. Mencintai Fanny. Tidakkah itu cukup untuknya" tambah Natasya.


***


__ADS_2