Mengejar Cinta Satu Malam

Mengejar Cinta Satu Malam
Sarangan, A Lake To Remember


__ADS_3

Pagi baru mulai menyapa. Masih gelap namun semburat merah diujung timur sudah mulai terlihat. Alarm Jayden berbunyi.


"Baby, bangun. Katanya mau lihat sunrise. Tu dah mulai nongol mataharinya" ucap Jayden panjang lebar.


Tania menggerakkan tubuhnya pelan. Perlahan membuka matanya. Sedikit risih dengan posisi mereka. Yang sudah setengah rebahan. Dan dia yang setengah menindih tubuh kekar Jayden.


"Lima menit, Kak" rengek Tania.


Jayden gemas melihat tingkah Tania.


"Baby bangun. Aku pernah merasakan bercin** denganmu. Jangan buat aku ingin melakukannya lagi sekarang" ancam Jayden.


Tania tidak merespon. Membuat Jayden kesal. Posisi mereka benar-benar membuat kepala Jayden pusing. Pagi hari adalah waktu yang merepotkan untuk pria. Setidaknya itu yanģ Jayden alami.


Tania malah semakin menenggelamkan wajahnya ke ceruk leher Jayden.


"Haiiisssh gadis ini benar-benar sebuah ancaman" gerutu Jayden.


Hingga kemudian dia ada ide. Perlahan dia menggeser tubuhnya. Sedikit mengubah posisi Tania. Hingga memudahkan dia mencium bibir Tania. Awalnya Tania hanya diam saja. Tapi ketika Jayden mulai melu*** dan hampir melakukan "french kiss" alias memasukkan lidahnya ke mulut Tania. Gadis itu terbangun.


Tania mendorong jauh tubuh Jayden.


"Kakak apa-apaan sih?" sungut Tania.


"Morning kiss. Siapa suruh dibangunin susah bener" jawab Jayden santai.


Wajah Jayden tepat berada didepan wajah Tania.


"Modus..." kesal Tania.


"Nggak papakan modus mulu. Lagian kalau sudah tidur susah bener dibangunkan" ucap Jayden. Kembali menegakkan kursinya.


"Tu mataharinya sudah terbit"


"Cantik ya" guman Tania.


"He em"




Kredit google.com


"Suka?"


"Banget. Nggak pernah kesampaian mau lihat sunrise tiap kali ke sini"


"Kenapa?"


"Ya nggak bisalah ngajak pak Yono nongki di sini semalaman. Pernah pergi bertiga sama Sean. Eh pada molor semua sampai siang. Yang ada kita jadinya berjemur. Bukan nonton sunrise" sungut Tania.


Dan Jayden terkekeh. Mereka menikmati sunrise sejenàk. Kemudian memutuskan untuk turun. Mencari kopi dan sarapan. Karena lapar mulai mendera perut mereka. Warung di Jalan Tembus tidak ada yang buka kalau pagi. Sebab kebanyakan pedagangnya baru menutup warungnya menjelang dini hari.


Menikmati kopi dan beberapa cemilan yang ada untuk mengganjal perut mereka.


Balik ke villa. Keduanya balik naik ke kasur mereka. Melanjutkan tidur.


"Ngapain kakak ikut ke sini. Balik ke kamar Kakak sana" usir Tania. Melihat Jayden malah ikut naik ke kasurnya.


"Malas. Sudah tidak bisa melek lagi" ucap Jayden.


Dan pria itu malah dengan santainya membuka kaosnya. Melemparnya ke sembarang arah. Membuat Tania membulatkan matanya.


"Kakak sengaja ya"


Jayden sudah mulai masuk ke alam mimpinya. Tidak memperdulikan perkataan Tania. Membuat Tania mendengus kesal.


****


"Bu ada masalah di pabrik" ucap Nita panik.

__ADS_1


"Masalah apa?"


"Kain yang dikirim dari Jakarta salah"


"Haaa salah bagaimana?"


"Mereka tertukar saat memasukkan ke dalam mobil box-nya" jelas Nita.


"Oh my, terus ini bagaimana? Tunggu dulu. Kain yang dikirim itu lebih bagus atau lebih buruk dari kualitas yang kita minta"


"Sebentar Bu..."


Nita mengecek sebentar. Sementara Vera menghidupkan laptopnya.


"Lebih bagus satu grade, Bu"


"Okay, kita lihat dulu. Mereka sedang proses orderan siapa" ucap Vera.


Dia sedikit panik. Biasanya saat genting seperti ini. Tania yang selalu membuat keputusan. Tapi sejak tadi, Vera tidak bisa menghubungi ponsel Tania.


"Sinyalnya kabur terbawa ke puncak Lawu" batin Tania kesal.


"Nita coba hubungi Bu Tania. Siapa tahu denganmu sinyalnya bisa diajak kompromi"


Nita lantas mencoba menghubungi Tania. Beberapa kali Nita mencoba.


"Tidak bisa Bu" ucap Nita akhirnya menyerah.


"Tenang Vera, kamu pasti bisa melakukannya" batin Vera.


"Kelemahanmu adalah kami kurang tenang jika sudah panik. Jadi usahakan untuk tenangkan dirimu dulu. Jika kamu perlu mengambil keputusan ketika aku tidak ada disampingmu" pesan Tania padanya di waktu dulu.


"Halo, Pak Rahman bagaimana keadaan di sana?" Vera menghubungi mandor di pabrik bagian penerimaan barang.


"Barangnya masih otewe Bu. Tapi dari sana sudah memberi info. Kalau memang ada kesalahan pengiriman" jelas pak Rahman.


"Berarti barangnya belum sampai?"


"Belum Bu. Mereka baru menyadarinya dua jam lalu. Mobil box-nya sudah masuk tol Ngawi jadi sekitar tiga jaman lagi baru sampai tempat kita"


"Baik Bu, kami tunggu" ucap pak Rahman.


"Nita, aku ke pabrik dulu. Bisa kamu handle yang disini dulu? Aku free kan hari ini?" tanya Vera.


"Siap Bu. Ibu free hari ini. Tidak ada meeting" jelas Nita.


"Aku pergi dulu kalau begitu" pamit Vera.


Vera melesat turun keluar dari kantormu. Didepan lobi dia bertemu Sean.


"Ada apa?"


"Ada masalah di pabrik"


"Aku ikut denganmu"


Dan Sean langsung masuk ke mobil Vera. Tanpa mempedulikan Vera yang coba melarang.


"Masalah apa?"


"Supplier kami salah mengirim kain. Mereka tertukar saat memasukkan kedalam mobil box"


"Tidak bisa direturn (dikembalikan)?" tanya Sean.


"Tidak bisa. Kita ada *urgent shipmen*t dari beberapa customer. Dan stok material memang sedang menipis. Kami akan kehabisan waktu jika harus menunggu lagi" jelas Vera.


"Biasanya ini tidak pernah terjadi. Kalian selalu mengecek stock bahan baku" Sean heran.


"Kami tidak pernah telat memesan bahan baku. Tapi akhir-akhir ini pengiriman dari supplier banyak yang terlambat. Kondisi di jalan sedang tidak bisa diprediksi. Ditambah mereka juga sedang kesulitan mendapat bahan baku. Sedang menunggu kiriman dari mana gitu. Mereka kemarin meminta maaf memberitahu" jelas Vera.


Membuat Sean manggut-manggut. Jadi ini semua bukan kesalahan pabrik Tania.

__ADS_1


***


Tania keluar dari kamarnya sambil menenteng portable safety box-nya. Yang waktu itu Jayden berikan. Sedang pria itu sedang menata paperbag yang berisi pakaian mereka kotor mereka. Dan koper mini Tania sudah lebih dulu dibawa Jayden.


"Kamu membawa itu?" ucap Jayden.


Pria itu tengah mengurus pembayaran kamar mereka berdua. Beruntungnya kartu saktinya bisa dipakai di villa itu. Rina jelas melongo melihat Jayden membayar biaya sewa kamar mereka dengan kartu gold miliknya.


"Nyawaku ada disini"


"Alah, sekarang baru sadar punya nyawa lain. Kemarin kekeuh nggak mau pakai" ledek Jayden.


Sedang Tania hanya nyengir mendengar ledekan Jayden.


"Mbak, low seasion-nya kapan ya?" tanya Jayden.


"Yang penting nggak pas bareng liburan, Oppa. Seperti lebaran. Tahun Baru"


"Kenapa?" tanya Tania.


"Ngajak Hyun Ae sama Lia pasti asyik ni kesini"


"Dingin Kak"


"Dingin mana sama Puncak?"


"Sama sih lebih kurang"


"Nah tu tahu. Kapan-kapan ke sini ngajak mereka. Biar bisa naik speedboat rame-rame" ujar Jayden.


"Mereka masih kecik, Kak. Bahaya" Tania memperingatkan.


"Ya, kita lihat saja nanti" ucap Jayden akhirnya.


"Ini Oppa kartunya. Terima kasih sudah menginap di sini.Semoga pelayanan kami memuaskan. Silahkan datang lagi" ucap Rina sebagai resepsionis.


"Sama-sama Rin. Next, kalau luang kita ke sini lagi. Siapa tahu bisa rame-rame lagi kayak dulu" jawab Tania.


"Iya, Mbak. Kangen aku sama Mas Sean" balas Rina.


Sedang Jayden sudah mulai memanasi mesin mobilnya.


"Dia lagi sibuk cari pacar" bisik Tania.


"Dulu tak pikir, dia pacarnya Mbak Tania. Eh ternyata bukan. Malah Mbak Tania-nya sudah nikah sama oppa yang gantengnya kebangetan" celetuk Rina.


Tania tersenyum mendengar ocehan Rina.


"Baby, sudah" panggil Jayden.


"Balik dulu ya. Semoga rame selalu" doa Tania.


"Amiin. Makasih doanya. Hati-hati di jalan. Semoga cepat kesini lagi. Salam buat Oppa ganteng" bisik Rina meski tahu Jayden "suami" Tania.


"Iissshh begitu" cebik Tania.


Membuat Rina meledakkan tawanya. Berhasil menggoda Tania. Tania berlalu sambil melambaikan tangannya.


"Salam buat pak Yono ya" ucap Tania kembali.


Dan Rina memberi kode "oke" dengan tangannya.


"Sudah?" tanya Jayden yang sudah siap dengan seatbeltnya.


Tania mengangguk. Duduk disebelah Jayden. Memasang seatbeltnya sendiri. Perlahan mobil Jayden mulai meninggalkan villa tempat mereka menginap mereka selama empat hari ini. Tania yang empat hari. Jayden hanya dua hari.


"Terima kasih Sarangan. Berkat dirimu, aku mendapat kesempatan untuk memulai kehidupanku yang baru. Aku tidak akan melupakanmu. Sarangan, A lake to remember" batin Jayden.


Sejenak menatap ke sebuah tempat di mana terdapat patung dengan pahatan nama Telaga Sarangan di tengahnya. Patung selamat datang di Telaga Sarangan.


__ADS_1


Kredit google.com


****


__ADS_2