Mengejar Cinta Satu Malam

Mengejar Cinta Satu Malam
Milikmu? Mimpi Saja Kau!


__ADS_3

Bryan tengah menatap sesosok tubuh yang nampak tertidur pulas di sebuah ranjang besar. Tertidur? Tidak. Tapi dia dibius oleh Bryan. Lantas pria itu membawanya kemari. Di sebuah suit kamar hotel yang ada di pusat kota Surabaya.


Bryan sendiri tampak asyik meminum whiskey dari gelasnya. Sudah bergelas-gelas yang dia minum.


Beberapa waktu sebelumnya. Dia membawa gadis yang tengah terlelap di kasurnya itu dengan cara membiusnya. Setelah dia keluar dari kantornya.


"Tinggal menunggu waktu saja. Kau akan jadi milikku. Tidak akan kubiarkan kau bahagia bersamanya. Aku tidak bahagia. Jangan kau harap, kau akan merasakan kebahagiaan juga" guman Bryan.


***


"Sudah menemukannya?" tanya Sean.


"Belum. Oh ya Tuhan, kemana dia pergi?" Vera berucap. Panik luar biasa.


"Sudah menghubungi tuan Lee?" tanya Nita kali ini.


"Dia sedang otewe kesini" jawab Sean. Bersamaan dengan pintu ruangan Vera yang terbuka.


"Berapa lama dia menghilang?" tanya Jayden dingin.


"Sejak jam pulang kantor tadi. Aku pikir dia pergi denganmu" jawab Vera panik.


Jayden melirik jam di pergelangan tangannya.


"Hampir tengah malam. Dia tidak mungkin pergi sendiri tanpa memberi kabar terlebih dulu kan"


"Dia selalu memberi kabar kemanapun dia pergi. Kecuali kalau kami tahu dia pergi denganmu"


"Rey, bisa kau cek CCTV di depan kantor ini"


Rey mengangguk. Meraih laptopnya lalu menguliknya sejenak.


"Pengawal bayanganmu?" tanya Jayden pada Sean.


Pertanyaan Jayden membuat Vera dan Nita membulatkan matanya.


"Kamu mengawalnya secara rahasia" tanya Vera.


Sean tidak menjawab pertanyaan Vera.


"Aku menarik mereka. Ketika dia putus dengan Bryan lalu bersama denganmu. Kamu tidak mungkin mengajaknya ke hotel kan"


"Bodoh!! Kamu ceroboh Sean!" maki Jayden.


"Bukankah dia aman bersamamu"


"Aku tidak menempel padanya dua puluh empat jam" pekik Jayden.


Membuat Sean sadar akan kesalahan.


"Astaga, aku lupa itu"


"Bukankah tugas utamamu menjaganya. Jadi ada aku atau tidak. Itu tidak berpengaruh pada tugasmu. Iya, dia aman saat bersamaku. Aku jamin itu. Tapi lihat sekarang. Meleng sebentar dia sudah hilang"


Sean menelan ludahnya kasar. Sadar betapa besar kesalahan yang dia perbuat. Dan interaksi antara Jayden dan Sean itu membuat Vera dan Nita bingung. Tidak paham dengan ucapan kedua orang itu.


"Pak Bos" Rey menyela ketegangan antara kedua bos tampan itu.


"Bagaimana?"


"Sepertinya dia tahu lingkungan kantor ini dengan baik. Dia menunggu bu Tania sampai di blind spot. Saat membawanya pergi"

__ADS_1


"*****!!" Jayden mengumpat kesal.


"Apa kita punya tersangka yang sama?" tanya Jayden pada Sean.


Dan Sean mengangguk.


"Kalau begitu lacak keberadaannya" perintah Jayden.


Sean langsung meraih ponselnya.


"Joni cari dia sampai dapat" perintahnya singkat.


"Rey, retas CCTV seluruh kota. Cari dimana si brengsek itu berada. Kalau kau kesulitan. Beritahu aku. Aku akan meminta bantuan Lee Joon. Dengan resiko kita akan dihajar keluarga Hadiwinata dan klan Liu sekaligus jika sesuatu terjadi pada Tania"


Sean kembali menelan ludahnya kasar. Sedang Rey langsung mengangguk.


"Sebenarnya siapa tersangkanya?" tanya Vera meski dia sepertinya sudah tahu jawabannya.


Jayden dan Sean saling berpandangan.


"Dia, orang yang ada di pikiranmu"


Giliran Vera yang menelan ludahnya berat.


Lain Vera lain pula Nita.


"Keluarga Hadiwinata? Klan Liu? Sebenarnya siapa Bu Tania sebenarnya. Kenapa semua takut akan dihajar oleh dua keluarga tajir itu jika terjadi hal buruk pada bu Tania" batin Nita tanpa berani bertanya.


Mengingat suasana yang mencekam melebihi kuburan.


"Rey, cari dia di hotel seluruh kota ini. Aku merasa dia membawa Tania kesana" saran Sean.


Membuat semua orang, terutama Jayden panik seketika.


***


"Ah si** aku memberinya dosis terlalu tinggi. Seharusnya kau bangun saat ini. Aku ingin kita bercin..ta denganmu saat kau sadar. Hingga kau tahu siapa yang sudah membawamu ke surga dunia" racau Bryan mulai tidak karuan.


Pria itu sudah mulai mabuk. Bagaimana tidak mabuk. Dua botol whieskey sudah cukup untuk membuat orang Asia teler. Berbeda dengan orang-orang daratan Eropa yang lebih kuat dalam hal minum alkohol. Mungkin karena sudah biasa kali ya.


Sementara di lantai bawah,


Tepatnya di lobi hotel. Jayden dan Sean, Rey, Joni dan beberapa orang berpakaian hitam. Khas bodyguard. Tampak memasuki hotel mewah itu.



Kredit google.com


"Akan kuhancurkan reputasimu dalam semalam kalau sampai aku tidak menemukan Tania di sini" batin Jayden.


Melirik ke papan nama di belakang meja resepsionis.


"Selamat malam tuan Lee. Silahkan"


Seorang pria berpakaian formal menyambut mereka.


"Antarkan kami langsung ke kamar suit hotel ini. Atau berikan kami akses masuk ke sana. Agar tidak terlalu menarik perhatian pengunjung" ucap Jayden yang lebih kepada sebuah perintah.


Sang manager langsung menelan ludahnya susah payah.


"Lakukan apapun yang tuan Lee minta. Atau dia bisa menghancurkan reputasi hotel kita dalam semalam" perintah langsung dari CEO hotel, beberapa saat yang lalu kepada manager hotel yang bertugas malam itu.

__ADS_1


"Aku lebih suka kau berikan aku keycard kamar si brengsek itu. Jangan khawatir aku tidak akan membuat keributan atau merusak aset dan propertimu. Aku menjaminnya" ucap Jayden lagi.


Membuat manager itu tidak berkutik. Tidak punya pilihan selain menuruti keinginan Jayden Lee.


Jayden dan rombongannya langsung berlalu dari hadapan manager itu. Setelah mendapat keycard cadangan dari manager itu. Mengabaikan bisik-bisik petugas resepsionis di belakang mereka.


"Mereka siapa?"


"Jayden Lee, sedang mencari seseorang"


"Siapa yang dia cari?"


"Siapa yang menginap di suite?"


Sejenak resepsionis itu melihat layar komputernya.


"Dipesan atas nama Tuan Tony Hendarto. Kenal?"


Manager itu mengedikkan bahunya.


"Semoga tidak terjadi kekacauan" batin manager itu melihat rombongan Jayden Lee mulai menghilang ke dalam lift.


Di kamar atas,


"Kau tahu. Tidak mungkin orang-orang itu bisa menemukan kita. Karena aku menggunakan nama Tony untuk memesan kamar ini. Jadi santai saja kita masih punya banyak waktu. Untuk menghabiskan malam bersama. Betulkan sayang" ucap Bryan mengusap lembut pipi Tania.


Ya, sosok yang dibawa Bryan adalah Tania. Hatinya panas dan marah, mendengar Tania dan Jayden sudah melakukan foto prewedding. Hingga dalam kemarahannya. Dia memutuskan untuk menculik Tania. Bermaksud menjadikan Tania miliknya seutuhnya.


Perlahan diciumnya bibir Tania. Sejenak menikmati betapa manisnya bibir Tania. Bryan terbuai, lantas memejamkan mata mulai melu*** bibir Tania. Bersamaan dengan pintu kamar yang terbuka.


"Brengsek!!!!" maki Jayden.


Langsung menarik tubuh Bryan menjauh dari atas tubuh Tania. Dan "buuugghhh"


sebuah pukulan langsung menghantam wajah Bryan. Bryan tersungkur di lantai hotel.


"Ooh sh**!!" Bryan balik memaki.


Begitu melihat siapa yang baru saja memukulnya.


"Tidak kapok juga kamu, aku pukul wajahmu waktu itu" Sean ikut berkicau.


"Kalian semua kurang ajar. Berani mengangguku!" teriak Bryan.


"Brengsek!!" Jayden hendak maju lagi, ingin menghajar Bryan.


Tapi Sean mencegahnya.


"Sudah. Yang penting dia belum menyentuh Tania" Sean melerai.


Jayden terdiam. Lantas menatap ke arah Tania yang masih tertidur.


"Berani kau menyentuhnya akan kupatahkan tanganmu" ancam Jayden.


Melepaskan jasnya. Lantas ia pakaikan ke tubuh Tania. Menggendong Tania. Kemudian! melanģkah keluar dari kamar itu. Diikuti Sean.


"Hai brengsek!! Kau tidak bisa membawanya. Dia milikku" teriak Bryan. Berusaha menyusul Jayden, tapi dicegah oleh dua bodyguard yang dibawa Jayden.


"Lepaskan aku!! Si**!!" maki Bryan.


"Milikmu? Mimpi saja kau!!" maki Jayden.

__ADS_1


Mulai masuk ke dalam lift. Dengan Tania yang terlelap dalam pelukan Jayden. Dengan Sean, Rey, dan Joni yang mengikuti mereka.


***


__ADS_2