
Tania berlari masuk ke ruang IGD sebuah rumah sakit.
"Mbak, mbak Vera tiba-tiba pingsan. Sekarang di IGD rumah sakit XX"
Pesan singkat yang dikirim oleh Nita. Membuat Tania langsung melesat menuju rumah sakit yang Nita sebutkan. Untung saja meeting dengan klien-nya sudah selesai.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Tania ngos-ngosan. Dia melihat Tania dan Hardi, seorang stafnya di depan IGD.
"Belum tahu. Masih diperiksa"
Tania terdiam.
"Hardi kamu bisa kembali ke kantor. Tolong handle semua pekerjaannya selama kami tidak ada" perintah Tania.
"Baik, Bu" jawab Hardi patuh.
"Hubungi kami jika ada apa-apa" pesan Nita.
"Siap, Mbak. Kalau begitu saya permisi dulu"
Nita dan Tania mengangguk.
"Apa yang terjadi" tanya Tania. Seusai Hardi menghilang dari pandangan mereka.
"Tidak tahu. Tahu-tahu ada bunyi "gubrak" dan mbak Vera sudah ambruk di lantai" jelas Nita.
"Sudah menghubungi Sean"
"Sudah katanya langsung otewe. Tapi kok belum sampai ....nah itu dia" ucap Nita.
Sean sampai dengan nafas terengah-engah.
"Ada apa?" tanya Sean.
"Vera tiba-tiba pingsan" jawab Nita cepat.
Belum sempat mereka berbicara lagi. Seorang dokter keluar. Membuat ketiganya langsung mengerumuni dokter itu.
"Bagaimana keadaannya, dok?" tanya Tania.
"Keadaannya baik-baik saja. Hanya kelelahan. Tapi bisakah saya bicara pada suami pasien"
"Suami?" ucap ketiganya bersamaan.
"Iya, ada yang perlu saya bicarakan dengan suami pasien" ucap dokter itu lagi.
***
Tania dan Nita jelas shock.
"Saya suaminya?" aku Sean setelah terlebih dahulu mengkode Nita. Dan untungnya Nita yang biasanya polos. Kali ini tampak paham lalu menganggukkan kepalanya. Memberi izin Sean.
"Begini, Pak. Saat ini istri bapak sedang mengandung. Dan agak sedikit bermasalah. Karena dia mengalami dehidrasi. Karena kekurangan cairan"
Duaarrr,
Ucapan dokter itu. Bagaikan sambaran petir disiang hari bagi ketiganya. Meski terlihat Sean tidak terlalu terkejut.
"Ha...ha..hamil, Dok?" tanya Tania tidak percaya.
"Iya, usia kandungannya hampir delapan minggu"
"Dua bulan? Fix, itu anak si brengsek itu" batin Sean dengan rahang mengeras, menahan amarah.
"Tapi Dok...dia belum...
Ucapan Tania dipotong Sean.
"Apa dia perlu dirawat" tanya Sean.Mengabaikan tatapan penuh pertanyaan dari Tania.
"Perlu. Setidaknya sampai dehidrasinya teratasi. Setelah itu kita juga harus berkonsultasi ke bagian Obgyn untuk perawatan lebih lanjut. Karena saya pikir kalian belum tahu tentang kehamilan istri Anda.
"Belum, Dok. Kami belum tahu" jawab Sean datar.
__ADS_1
Dan disinilah mereka. Di ruang rawat sementara Vera. Sementara karena mereka masih menunggu pemeriksaan dari dokter Obgyn. Kalau perlu dirawat lama. Mereka akan memindahkannya ke ruang VIP.
"Vera hamil anak siapa?" tanya Tania. Meskipun dia bisa menduganya. Sean dan Nita hanya diam. Mereka bertiga saling pandang.
"Aku di mana?" suara Vera tiba-tiba membuat ketiganya menoleh ke arahnya.
"Sudah bangun?" tanya Sean yang lebih dulu bisa menguasai dirinya.
"Aku kenapa?"
"Tadi kata Nita, kamu pingsan. Terus dibawa ke sini" kali ini Tania yang bicara.
"Lalu ini dimana?"
"Rumah sakit, mbak. Kata dokter mbak Vera kekurangan cairan. Dehidrasi" jawab Nita mengeja kata terakhirnya.
"Kalau aku dibawa ke rumah sakit. Takkan rumah sakit tidak tahu kalau aku hamil" batin Vera menatap ketiga orang temannya itu.
"Apa aku perlu tinggal disini. Aku tidak mau lama-lama di sini. Aku ingin pulang" pinta Vera.
Ketiga orang itu saling pandang.
"Ra, boleh aku bertanya?" tanya Tania hati-hati.
"Apa?" jawab Vera sedikit ragu menatap Tania.
Tania menarik nafasnya pelan dan dalam.
"Kata dokter ...."Tania menjeda ucapannya.
Seolah tidak sanggup menanyakannya. Sean dan Nita nampak berusaha mencegah Tania. Mereka pikir ini bukan waktu yang tepat.
Namun Tania menatap keduanya. Seolah mengisyaratkan kalau mereka harus menanyakannya.
"Kata dokter kamu hamil. Apakah itu anak Bryan" tanya Tania cepat.
Vera langsung menatap Tania dan yang lainnya. Sejenak dia terdiam.
Vera menunduk. Hening cukup lama. Hingga akhirnya pelan, Vera mengangguk.
"Astaga" Nita menutup mulutnya.
Sean mengepalkan tinjunya. Tapi Tania, matanya langsung berkaca-kaca. Lalu tanpa ba, bi, bu. Gadis itu melesat keluar dari kamar Vera.
"Brengsek! Baj****!! Kurangajar!!" umpatnya.
"Tania, Tania kamu mau kemana?" Sean berteriak.
Namun Tania tidak menggubrisnya. Gadis itu sudah berlari keluar rumah sakit.
"Ta, jaga Vera. Aku akan mengejarnya"
Nita mengangguk. Sedang Vera langsung menangis. Masuk dalam pelukan Nita.
"Tidak apa-apa Mbak. Percayalah semua akan baik-baik saja" hibur Nita disela-sela isak tangis Vera.
Sementara itu, Tania yang berlari keluar rumah sakit. Tidak sengaja menabrak Jayden yang baru masuk. Tapi Tania tidak menghiraukannya.
"Baby, Vera dimana...."
Jayden tampak mengerutkan dahinya. Melihat sang kekasih hati berlalu seolah tidak mengenalinya. Ketika dia berbalik, dia melihat Sean yang berlari ngos-ngosan ke arahnya.
"Tania...Tania..dimana dia?" tanyanya dengan nafas terputus-putus.
Sementara didepan rumah sakit. Tania bermaksud mencari taksi. Tapi secara kebetulan. Dia melihat Rey yang baru saja memarkirkan mobilnya. Tidak jauh dari tempatnya berdiri.
"Rey, Rey...berikan kuncinya!" palak Tania.
Rey yang masih terkejut dengan panggilan Tania, tidak langsung menjawab panggilan Tania. Rey malah melongo. Membuat Tania langsung menyambar kunci yang masih ada di tangan Rey. Masuk ke mobilnya. Menghidupkan mesinnya. Lantas melajukannya menuju pintu keluar rumah sakit.
Di sisi lain,
"Tania berhenti...berhenti" teriak Jayden dan Sean bergantian.
__ADS_1
"Si**!!!" umpat Sean.
"Dia bisa nyetir?" tanya Jayden.
"Bisa"
"Dia mau kemana?"
"Ke mana lagi coba. Kalau tidak ke tempat si brengsek itu" jawab Sean.
"Oh *****!" umpat Jayden.
"Ini ada apa to pak Bos" tanya Rey bingung.
"Nanti saja ceritanya. Kita harus menyusulnya"
"Tapi dia membawa mobilnya, Pak Bos"
"Mobilku di sana" Sean menunjuk ke mobil CRV-nya.
"Brengsek kau Bryan. Beraninya kau melecehkan Vera!" umpat Tania.
Dia melajukan TRD Sportivonya seperti balapan di sirkuit F1. Untung jalanan sedang sepi. Bodo amat dengan surat tilang yang akan datang dalam beberapa hari ke depan. Karena dengan kecepatan seperti sekarang. Kamera CCTV pengamat lalu lintas pasti sudah mendapatkan nomor plat mobilnya.
Setelah drama ala Lewis Hamilton, Tania sampai di kantor BA Management. Dia melemparkan kuncinya pada seorang petugas parkir. Langsung masuk ke kantor Bryan. Naik ke lantai tujuh.
Braaakkkk!!!,
Suara pintu yang dibuka kasar. Membuat Bryan mengalihkan pandangannya ke pintu.
"Maaf Pak, saya sudah mencegahnya" ucap sekretaris Bryan.
"Tidak apa-apa. Kau boleh keluar"
Bryan menatap Tania yang menatapnya penuh amarah.
"Halo Baby, long time no see. Kamu kemari, apa kamu merindukanku?" tanya Bryan
Berdiri dari duduknya. Berjalan mendekat ke arah Tania.
"Dasar brengsek! Apa yang sudah kau lakukan pada Vera ha?" teriak Tania. Mencengkeram kerah kemeja Bryan.
"Hoo, tahan dulu. Tenang dulu, Baby"
"Jangan memanggilku dengan panggilan menjijikkan itu. Jawab saja apa yang kau lakukan pada Vera" pekik Tania.
"Memang apa yang kulakukan?" tanya Bryan enteng.
"Dasar.....!!"
"Memangnya apa yang terjadi padanya ha?" pancing Bryan.
"Jangan berpura-pura tidak tahu. Kau melecehkannya malam itu! Kau memaksanya kan?!!" ucap Tania penuh penekanan.
Bryan sedikit terkesiap.
"Oohh yang malam itu. Jangan menyalahkanku. Dia sendiri yang datang padaku. Dia sendiri yang menyerahkan dirinya padaku. Apa kau tahu dia melakukan itu untuk menggantikanmu" bisik Bryan di telinga Tania.
Deg,
Mata Tania membulat. Dia tidak percaya dengan ucapan Bryan. Perlahan cekalan tangan Tania melemah. Membuat Bryan dengan mudah melepaskan diri. Tubuh Tania terhuyung lemah ke belakang.
"Dia mengajukan pertukaran. Aku akan berhenti mencarimu asalkan dia menggantikanmu bercin..ta denganku malam itu" ucap Bryan dengan seringai licik di wajahnya.
"Kau bohong!! Itu tidak benar!!" teriak Tania mencoba tidak mempercayai ucapan Bryan.
"Apa yang terjadi pada Vera adalah kesalahanmu. Kau yang membuatnya jadi begini" ucap Bryan lagi.
"Tidak!! Itu tidak benar!!!" teriak Tania menutup kedua telinganya.
Tubuhnya sudah terduduk di lantai. Sedang Bryan berdiri dihadapannya dengan senyum penuh kemenangan.
****
__ADS_1