Mengejar Cinta Satu Malam

Mengejar Cinta Satu Malam
Kampung Batik Giriloyo


__ADS_3

Niat hati ke Yogyakarta ingin mempelajari lebih dalam soal batik. Tapi nyatanya sudah hampir satu minggu, Tania stay di kota gudeg itu. Dia belum sempat pergi ke kampung batik Giriloyo.


Padahal tempatnya masih satu kecamatan dengan tempat tinggal Andri. Hari-hari Tania disibukkan dengan pekerjaan kantornya yang seolah tidak ada habisnya.


Hingga pernah dia mengeluh pada Jayden. Ketika dia menghubungi kekasihnya itu.


"Tahu begini aku kerja saja dulu" sungut Tania.


"La yang nyuruh kamu kesana juga siapa?" Jayden balik bertanya.


"Kakak..."


"Ya sudah kalau begitu pulang sini"


"Tapi aku sudah sampai sini. Rugi dong kalau nggak disempatin ke sana"


"La kalau gitu ya jangan ngeluh. Bikin kepala puyeng tahu nggak?"


"Iiihh Kakak marah"


"Marahlah. Punya calon istri kok malah LDR-an. Nggak lucu"


"Anggap saja lagi dipingit"


"Dipingit tu cuma sehari. Ini sudah berapa hari coba"


Dan obrolan mereka berlanjut hingga tengah malam. Tidak terasa sampai keduanya terlelap.


Akhirnya keesokan harinya. Setelah mengecek pekerjaannya berkali-kali. Tania akhirnya memutuskan pergi ke Giriloyo juga.


"Selesaikan urusan di sana. Lalu kita pikirkan langkah selanjutnya" batin Tania.


"Sudah siap?" tanya Tania.


Melihat Yuli dan Qila sudah siap juga. Membawa perlengkapan Qila yang lumayan heboh. Tania sedikit mengerutkan dahinya. Kala melihat Andi yang juga nampak rapi.


"Mbak, dia boleh ikut nggak?" tanya Yuli.


"Emm boleh. Kenapa juga nggak boleh" jawab Tania santai.


"Biar dia nanti yang jagain Qila"


"Oke. Kamu bisa nyetir?" tanya Tania pada Andi.


Andi menggeleng. Bukannya tidak bisa. Tapi dia takut kalau nanti malah mengacaukan semuanya.


"Oke sudah siap?" tanya Tania setelah semua masuk ke mobilnya.


"Siap!!!" Qila yang menjawab antusias.


Anak itu senang sekali tiap diajak naik mobil. Sejenak Tania menekan layar GPS-nya. Menuliskan tempat tujuannya. Meski ada Yuli yang jadi tour guide-nya. Hanya memastikan saja.


"Qila jangan pegang-pegang lo!" sang ibu memberikan tatapan peringatan.

__ADS_1


Tania tersenyum. Setiap kali melihat interaksi ibu dan anak itu. Perlahan mobil mewah itu mulai melandas ke jalan raya. Tania tampak menyelipkan headset bluetooth-nya.


Andi yang duduk di kursi belakang. Hanya diam menatap Tania dari belakang. Pria itu sungguh minder melihat gaya hidup Tania.


"Aku bener tidak ada apa-apanya dibanding kamu" batin Andi. Benar-benar sudah tidak punya keberanian untuk mendekati Tania.


Apalagi melihat cincin berkilau yang terpasang di jari Tania. Sudah pasti berlian dan mahal. Andi hanya bisa menghela nafasnya. Menyesal tidak pernah menuruti nasihat Andri, kakaknya.


Untuk berusaha mencari kerja. Lalu bekerja dengan baik. Agar suatu hari jika kamu punya gadis yang kamu suka. Kamu merasa percaya diri untuk mendekati dan mengejarnya. Tidak seperti sekarang. Menatap wajah cantik Tania saja dia tidak mempunyai keberanian.


"Ya, Kak?" suara Tania membuyarkan lamunan Andi.


"..."


"Tidak tahu"


"..."


"Aku lagi nyetir Kak"


"..."


"Ke Giriloyo"


"..."


"Iya, nanti malam lagi saja teleponnya"


"Kakakku yang di Jakarta" jawab Tania.


Yuli ber-ooo ria.


"Ada apa Kak Natasya tumben nelepon aku. Biasanya cuma chattingan saja" batin Tania.


Tidak berapa lama mobil Tania mulai memasuki kawasan kampung batik Giriloyo. Bersamaan dengan mobilnya melewati sebuah gapura dan papan nama yang bertuliskan Kampung Batik Giriloyo. Kampung batik Giriloyo terletak di desa Wukirsari, Kecamatan Imogiri. Kabupaten Bantul, Yogyakarta.



Sumber Google.com


"Sudah sampai" celoteh Qila.


"Kok tahu?" tanya Tania.


"Itu mobilnya sudah berhenti" jawab Qila polos.


"Masak? Kalau Tante berhenti karena lampu merah" uji Tania.


"Tidak ada lampu merah disini Tante" jawab Qila.


Membuat Tania tertawa.


"Anakmu pintar Mbak"

__ADS_1


"Bikin mumet iya" jawab Yuli.


Tania malah terbahak. Ketiganya langsung turun. Dengan Tania menyandang kameranya. Juga handycamnya. Yuli dan Andi sibuk dengan Qila. Yang sudah berlarian ke sana kemari.


"Qila jangan lari-lari!" Yuli berteriak.


Sedang Andi sudah kewalahan menhandle Qila. Anak itu benar-benar aktif. Juga berani. Tidak peduli dimana tempatnya. Anak itu tetap aktif bergerak lincah. Tidak mau diam.


Sementara itu Tania sudah mulai memasuki sebuah Joglo ( bangunan seperti pendopo gitu). Yang didalamnya sudah banyak orang yang kebanyakan wanita. Melakukan aktivitas membatik. Sedikit berbincang dengan orang yang bertanggungjawab di sana.



Kredit Google.com


Orang itu dengan sumringah mempersilahkan Tania untuk melihat proses membatik. Mulai pemilihan kain dasar untuk membatik. Penggambaran pola batik. Baru masuk ke tahap yang paling rumit. Proses membatik. Lalu proses pencelupan kain batik itu dengan bahan pengawet khusus yang ramah lingkungan. Agar kain batik itu bisa tetap awet.


Semua itu tidak luput dari pengamatan Tania. Yang sesekali memotretnya menggunakan kameranya atau merekammnya menggunakan handycamnya.


Di sana dia juga diajari cara mengenali kualitas batik yang bagus. Karena Tania mengatakan kalau dia punya pabrik konveksi di daerah Surabaya. Membuat penanggungjawab di sana antusias sekali dengan Tania.


Secara mereka perlu tempat untuk memasarkan produk hasil kampung batik itu. Juga, agar kampung batik itu lebih banyak dikenal khalayak ramai.


Tania sendiri sempat merasakan sendiri bagaimana rumit dan susahnya membatik. Dia harus duduk bersimpuh. Dengan kain yang sudah digambari motif batik terlebih dahulu. Dihamparkan didepannya. Bahkan dia sempat kepanasan saat memegang canting. Alat yang digunakan untuk membatik.



Kredit google.com


Bagaimana tidak panas. Karena canting itu diletakkan di sebuah wadah yang berisi malam ( cat untuk membatik ). Dan dibawahnya ada kompor kecil yang terus menyala. Untuk menjaga malam itu agar tetap hangat dan tetap cair.


Canting harus dicelupkan ke dalam cairan malam dengan kuantiti yang pas. Tidak boleh kebanyakan, juga tidak boleh terlalu sedikit.Setelah itu harus ditiup sebentar.


Waktu diaplikasikan ke kain yang sudah digambari pola. Juga harus hati-hati. Jika kita terlalu tergesa-gesa saat melukisnya. Cairan malam akan terlalu banyak yang tertuang ke kain. Hingga hasilnya garis yang kita gambar akan jadi tebal. Tidak tipis. Dalam beberapa kejadian malah cairan malam akan membentuk noda bulat bukan garis tipis seperti coretan pena atau pensil.


Pada akhirnya Tania menyerah. Dia tertawa sendiri melihat hasil batikannya. Yang penuh noda bulat-bulat. Tidak seperti milik mbak-mbak dan ibu-ibu yang sudah ahli dalam hal batik membatik. Hasil batikan mereka seperti orang yang menggambar dengan pensil. Rapi, bersih tanpa noda.


Tania kian berdecak kagum. Ketika masuk ke galeri dimana kain batik yang sudah jadi akan dipajang di sana. Siap memanjakan mata dan menarik minat para pengunjung kampung batik itu.



Kredit Google.com


Seorang penjaga disana ada menerangkan beberapa motif batik yang tersedia. Tapi Tania sama sekali tidak paham. Karena ternyata tiap motif batik itu biasa digunakan untuk acara tertentu saja. Saking banyaknya motif batik yang ada disana. Juga pilihan warna.


Tania benar-benar belajar banyak hari itu. Dia semakin ingin menggunakan kain batik dalam setiap rancangannya. Melihat betapa cantiknya kain batik jika dipadukan dengan kain lain. Atau tanpa paduan kain lain.


"Benar-benar cantik. Ini mengagumkan. Luar biasa" pujian itu tidak pernah berhenti terlontar dari bibir Tania.


Kamera dan handycam gadis itu juga tidak berhenti mengabadikan kecantikan kain batik di galeri itu. Pada akhirnya dia meminta nomor telepon penanggungjawab kampung itu. Siapa tahu dia ingin memesan kain dari sana.


Namun ternyata kampung batik itu sudah punya website mereka sendiri. Membuat Tania semakin girang dibuatnya. Tidak sia-sia dia menunda beberapa meeting virtualnya. Untuk bisa pergi ke sini. Karena hasilnya dia mendapatkan bahan baku juga ilmu untuk menambah pengetahuannya soal batik.


****

__ADS_1


__ADS_2