
Jayden menatap penuh cinta pada putri kecilnya, Lia. Putri angkat maksudnya. Gadis kecil itu tampak menikmati ayam goreng kesukaannya. Tentu saja setelah berdebat dengan sang mama.
Lia sedikit cerewet. Persis sang mama, Nina. Sedang Hyun Ae jelas duplikat sang papa, Lee Joon. Lebih pendiam. Tapi sekalinya ngomong bisa nyelekit kaya harga cabe sekarang. Pedes bingit.
"Apakah merepotkan?" tanya Jayden setelah kedua bocil itu selesai makan.
Dan sekarang bermain di area playground di sebelah mereka makan. Nina menarik nafasnya.
"Hyun Ae lebih mudah dikendalikan. Tapi Lia, aduuuh. Heran aku perempuan kok susah banget di suruh diam Kamu akan tahu setelah punya sendiri" sungut Nina.
Jayden terkekeh.
"Sorry nggak bisa bantuin jaga. Demi masa depan"
"Sudah ketemukah?"
Jayden mengangguk.
"Wahhh. Aman dong rumah tanggaku. Pebinornya sudah ketemu pawangnya" ledek Nina.
Jayden langsung memanyunkan bibirnya.
"Sembarangan kalau ngomong" cebik Jayden.
Nina yang gantian terbahak.
"Dia mana?"
"Langsung ketemu klien"
Jayden ber-ooo ria. Tak lama Hyun Ae mendekat. Sedang Lia masih asyik bermain ditemani satu maid mereka.
"Ma, abang capek" rengek Hyun Ae.
"Muka bule Korea kok dipanggilnya abang" ledek Jayden.
"Kayak situ kagak aja" sungut Hyun Ae dengan bahasa yang belum jelas sepenuhnya.
"Iiisss pedesnya mulut kayak babenya aja" debat Jayden.
"Mana ada!" sangkal Hyun Ae.
Keduannya saling menatap tajam. Tapi detik berikutnya Jayden mencium sayang pipi Hyun Ae. Yang langsung diprotes oleh sang anak.
"Iiihh jangan cium-cium napa? Lia Appamu nakal" adu Hyun Ae.
Sedang Lia hanya melengos mendengar aduan sang abang.
Jayden terbahak-bahak melihat hal itu.
"Andai waktu itu Tania hamil anakku. Pasti usianya lebih kurang sama dengan Hyun Ae dan Lia" batin Jayden.
"Bagaimana perkembangan hubungan kalian?" tanya Nina sambil meminum mocchachino-nya.
Sebelah tangannya mengusap-usap lembut rambut Hyun Ae. Anak itu mulai mengantuk. Sedikit-sedikit mulai mengatupkan matanya.
"Agak susah" jawab Jayden sedikit frustrasi.
"Kamu mantan casanova gagal dapetin wanita yang kamu mau...waah rekor ini" ledek Nina.
"Kegagalanku hanya kamu. Itupun karena kamu istri Lee Joon. Kalau tidak. Tidak akan selamat kamu.Pasti sudah aku rebut kamu dari suamimu" ucap Jayden menatap Nina tajam.
"Hiii serem. Hei jangan menatapku seperti itu. Kamu membuatku takut" ucap Nina.
Jayden menghela nafasnya.
"Sorry, aku masih mencoba" ucap Jayden sendu.
Hening sejenak.
__ADS_1
"It's okay. Semua perlu waktu. Asal jangan lakukan itu di depan Lee Joon. Kamu bisa dihajar lagi sama dia" Nina memperingatkan.
Jayden mengangguk.
"Lalu dengan yang ini. Apa masalahnya? Sampai-sampai pesonamu tidak mempan untuknya"
"Enak saja tidak mempan. Dia jelas menyukaiku. Tapi entahlah.Dia sepertinya sedikit menahan perasaannya. Belum mau mengakui perasaannya"
"Pelan-pelan saja. Semua perlu proses.Ingat...yang terpenting kalian bisa saling mencintai nantinya" ucap Nina.
Jayden mengangguk.
"Dia seperti punya trauma soal hubungan cintanya di masa lalu. Temannya sedikit memberitahuku" ucap Jayden mengingat sedikit ucapan Sean soal Tania yang memiliki luka di hatinya.
"Perlu bantuan?" tanya Nina lagi.
"Aku masih bisa menghandlenya"
Dan mereka pun berbincang sebentar. Hingga Lia pun merengek karena sudah lelah. Bahkan Hyun Ae sudah terlelap di pelukan sang Mama.
"Appa gendong abang ya. Kasihan Mama. Berat" bujuk Jayden.
Karena biasanya Lia enggan sang appa dekat-dekat dengan abangnya. Tapi melihat Nina yang terlihat keberatan menggendong Hyun Ae. Membuatnya tidak tega.
"Sebental saja, oke?"
"Oke"
Dan Jayden langsung meraih tubuh Hyun Ae yang memang terlihat lebih panjang untuk anak seusianya. Anak itu kembali tertidur pulas di pundak Jayden.
"Pulang dulu ya" bujuk Nina pada Lia. Dan gadis kecil itu mengangguk. Membuat Nina bernafas lega.
"Dia susah dibujuk" bisik Nina pada Jayden. Dan pria itu hanya ber-oo ria.
Masuk ke mobil Jayden.Melajukannya menuju apartemennya. Tak lama mereka sampai. Dan di depan lobi. Tampak pria yang persis sama dengan Jayden sudah menunggu.
Menatap kedua putra putrinya tidur sambil menyandarkan kepala mereka.
"Gemasnya" seru Jayden. Meraih ponselnya. Lantas mengambil gambarnya.
Nina melotot.
"Koleksi pribadi. Jangan khawatir aku tidak main medsos" ucap Jayden.
Jayden keluar dari mobilnya. Lantas memeluk kakaknya.
"What's up Bro"
"As you see. Much better"
"Sounds good"
Dan keduanya tertawa.
"Malah kangen-kangenan. Anaknya ini dulu" sungut Nina masih dari dalam mobil.
"Big boss marah" ledek Jayden.
Sedang Lee Joon mencebik kesal. Pada akhirnya Lee Joon menggendong Hyun Ae dan Jayden menggendong Lia.
Berjalan beriringan masuk ke lobi apartement.
"Berasa punya dua suami ya Nin" goda Jayden yang langsung mendapat cubitan di perut Jayden.
"Astaga. Sakit Nina" protes Nina.
"Makanya kalau ngomong jangan sembarangan" sungut Nina.
Sedang Lee Joon langsung mendengus kesal.
__ADS_1
"Kalem Bro. Kalem"
Lee Joon malah menatap sengit pada adik kembarnya. Untung lobi sepi hingga tidak ada yang memperhatikan mereka. Kalau tidak pasti langsung viral di medsos.
"Kalau mau masak. Semua sudah siap. Kulkas penuh" ucap Jayden saat sudah keluar dari kamar si kembar. Usai menidurkan Lia.
"Thank you" ucap Nina.
Mulai menyeret kopernya. Karena sang suami langsung mandi. Dan dia harus segera menyiapkan pakaian suaminya.
"Aku balik dulu. Apa-apa hubungi aku atau Rey"
Dan Nina melambaikan tangannya sebagai kode oke.
****
"Semua sudah siap?"
"Apaan sih.Aku cuma kesana beberapa hari doang. Paling banter juga satu minggu"
"Ya tapi kan kamu sendiri. Jadi semua harus siap. Jangan sampai ada yang ketinggalan. Susah ngirimnya"
Tania tergelak.
"Emang kamu pikir aku mau piknik ke hutan?"
"La bukannya gunung identik sama hutannya"
"Kayak kamu belum pernah ke sana saja. Mana ada hutan di sana. Hutannya masih jauh no di atas gunung"
Vera terkekeh. Dia bukannya belum pernah ikut ke Sarangan. Saja menggoda Tania. Gadis itu akhirnya memutuskan untuk jadi pergi ke Sarangan. Setelah semua design-nya di-acc. Tinggal bagian produksi yang menyelesaikannya.
Sedang untuk pesanan gaun. Ada tim khusus yang mengerjakannya. Dia sudah memberikan kisi-kisi bagaimana mengerjakannya.Dia tinggal mengevaluasinya setelah dia kembali nanti.
"Masih susah sinyal nggak di sana?"
"Tahu deh. Terakhir kali hanya provider ini yang bisa lanciir sinyalnya" jawab Tania.
"Yang penting bawa jaket cadangan. Dinginnya beuurrrrhhhh"
"Kamu betul. Belum sampai saja. Dinginnya sudah sampai kaki"
Vera terakhir kali ikut ke Sarangan enam bulan yang lalu. Setelah itu dia tidak bisa ikut lagi. Karena kesibukan konveksi mereka. Jadi tidak bisa ditinggal bersama.
Tania sendiri. Sejak pindah ke Surabaya. Jadi rutin pergi ke sana untuk liburan. Menenangkan diri dan juga healing. Biasanya setiap dua atau tiga bulan sekali dia akan pergi ke sana. Dan ini sudah hampir lima bulan. Rekor dia paling lama tidak liburan.
"Oh ya beliin kaktus yang kecil-kecil itu ya. Lucu deh dijadikan pajangan atas meja. Ijo-ijo imut gitu. Apa ya namanya?"
"Phylodendrum kalau nggak salah. Nanti aku cari deh. Terakhir kali pernah lihat waktu lewat di Telaga Wahyu banyak yang jual kayaknya" jawab Tania.
"Jadi diantar pak Yanto saja ya. Nanti kamu bisa stay selama yang kamu mau. Nanti biar dijemput lagi. Jangan nyetir sendiri" ucap Vera memberi saran.
Tania mengangguk. Dia sebenarnya bisa menyetir mobil. Tapi terakhir kali dia membawa mobil sendiri. Pikirannya blank. Nyaris nyemplung ke sungai. Untung waktu itu dia bersama Sean. Hingga Sean bisa mengerem mobil Tania tepat waktu. Sejak saat itu. Tania dilarang membawa mobil.
"Patah hati saja. Impact-nya ke mana-mana. Apa kabar TRD Sportivo ma Vios gue di basement" batin Tania.
"Dulu aku ke sana buat melupakan Kak Kai. Sekarang aku ke sana buat melupakan Jayden. Apesmu, Sarangan jadi tempat pelarianku. Tempat yang baik buat nyembuhin patah hati" batin Tania lagi.
"Mbak Tania. Ada tamu didepan yang nyariin" ucap seorang staf padanya.
"Siapa?"
"Nggak kenal deh"
"Kalau tuan Lee atau pak Bryan bilang saja saya tidak ada" pesan Tania pada stafnya.
"Aku tidak ingin bertemu siapapun dari kalian. Pengen sendiri dulu" batin Tania sambil memejamkan mata.
*****
__ADS_1