Mengejar Cinta Satu Malam

Mengejar Cinta Satu Malam
David Mattew Aditama


__ADS_3

Persidangan yang berlangsung di pengadilan membuat Bryan semakin sibuk. Meski statusnya hanya sebagai saksi tapi dia kadang harus ikut hadir di sidang itu. Karena TKP-nya ada di kantornya.


Siang itu dia tidak hadir ke pengadilan karena ada meeting dengan bagian internal agensi. Mengenai pengumunan beberapa orang yang telah Bryan pecat kala itu. Sekaligus penggantinya. Meeting berlangsung lama karena dalam pemilihan staf baru. Bryan banyak menggunakan kandidat dari Jayden dan Sean.


Banyak yang tidak setuju pada awalnya. Mereka berpikir bahwa nantinya staf tersebut akan berkhianat pada agensi mereka. Namun Bryan menjelaskan kalau mereka merupakan staf independen. Jayden hanya merekomendasikan mereka. Dengan arahan langsung dari Nina tentunya.


"Aahh lelahnya" ucap Bryan mendudukkan diri di kursinya. Lantas mengendurkan dasinya.


Lelah jelas. Namun dia juga bahagia. Akhirnya setelah dua bulan berusaha mengambil hati Vera. Bumil itu memutuskan untuk menerima Bryan. Dan pernikahan sedang mereka rencanakan.


Kabar gembira itu langsung menyebar ke sahabatnya yang lain. Yang langsung girang mendengar kabar itu.


"Yeyy otewe belah duren" teriak Sean.


Begitu juga dengan Rey. Dia sudah menyiapkan sebuah lamaran untuk Maura. Berbeda dengan Jayden yang malah ketar-ketir mendengar Bryan menikah.


Ya iyalah. Ketika dia membawa Tania pulang ke Jakarta. Dia akan menghadapi sidang yang baginya cukup ...menegangkan. Bagaimana tidak dia harus menghadapi papa dan Kai yang terkenal begitu galak.


Bryan baru saja menghubungi Vera. Menanyakan sudah makan atau belum. Atau ingin sesuatu atau tidak. Tapi Vera menjawab sudah dan tidak untuk dua pertanyaan Bryan.


"Tuan, ada yang ingin bertemu" lapor Dika.


"Siapa?" tanya Bryan.


Dika bingung bagaimana menjelaskan. Hingga satu suara menjawab pertanyaan Bryan.


"Aku, Bry" jawab suara itu.


"Papa..." ucap Bryan berkaca-kaca.


Bryan langsung menghambur, memeluk sang papa. Menumpahkan segala rindu dan juga semua rasa yang menumpuk didada. Sang papa nampak mengusap pelan punggung kekar putra tunggalnya itu. Sedang Dika langsung undur diri sambil menutup pintu.


"Bagaimana kabarmu, Bry? Ah maaf, seharusnya Papa tidak menanyakan itu. Papa tahu kamu tidak baik-baik saja" ucap sang papa. Membuat hati Bryan semakin perih.


"Kalau tahu aku tidak baik-baik saja. Kenapa tidak datang dan menjemputku" gerutu Bryan.


"Maafkan Papa. Sekali lagi maafkan Papa. Papa tidak tahu harus melakukan apa. Ketika wanita itu mengancam akan melukaimu. Kalau Papa mendekatimu" jelas papa Bryan.


"Bagaimana Papa bisa kalah dengan Mama?" tanya Bryan heran.


"Ceritanya panjang Bry" jawab papa Bryan.


"Kalau begitu ceritakan Tuan David Mattew Aditama" perintah Bryan memanggil lengkap nama papanya.


"Dia sebenarnya bukan mama kandungmu" ucap papa Bryan.


Yang membuat Bryan terkejut.


"Bagaimana bisa? Ah tidak lalu dimana mama kandungku" tanya Bryan.


David menghela nafasnya.


"Mamamu meninggal setelah melahirkan kamu" jawab David sendu.


Bryan tambah terkejut. Dia pikir masih bisa bertemu dengan mama kandungnya.


"Setelah mamamu meninggal. Papa bertemu dengan mama tirimu. Singkat kata kami menikah. Karena dia terlihat begitu menyayangimu. Begitu juga dirimu. Namun semua mulai berubah ketika kamu beranjak dewasa. Papa baru tahu kalau mama tirimu suka bermain dengan ya....kamu tahu brondong. Ditambah lagi dia ketahuan mencuri uang dari perusahaan. Saat itu papa langsung menceraikannya"


David menjeda ceritanya.


"Selanjutnya kau tahu ceritanya. Hanya saja kau tidak tahu. Dia mengancam akan melukaimu jika papa mendekatimu. Papa benar-benar tidak berani berbuat apa-apa. Papa begitu takut kalau dia serius dengan ancamannya. Papa takut kehilanganmu. Hanya kamu satu-satunya yang papa miliki di dunia ini" ucap David berkaca-kaca.


"Pa...."


Bryan tidak bisa berkata apa-apa, mendengar cerita papanya.

__ADS_1


"Yang paling membuat papa bersedih adalah ketika kamu lebih memilih dia. Kemudian kamu terlibat dengan dunia malam. Bermain dengan banyak wanita"


"Maafkan Bry, pa"


"Papa tahu itu hanya pelarianmu. Tapi papa benar-benar sedih mendengarnya. Semua salah papa yang tidak bisa melindungimu. Maafkan papa Bry"


Bryan meraih tangan papanya.


"Semua sudah terjadi, Pa. Yang jelas Bry lega mendengar dia bukan mama kandung Bry. Hingga Bry tidak merasa menjadi anak durhaka karena memenjarakan dia. Meski Bry akui dia begitu menyayangi Bry dulu"


David menatap wajah putranya.


"Apa kamu marah pada Papa?"


"Marah? Tentu saja tidak. Bry hanya punya kalian dan mereka"


"Terima kasih. Tidak membenci Papa. Tidak marah pada Papa" ucap David lega.


Bryan tersenyum menatap Papanya.


"Kamu sudah dewasa sekarang" puji David.


"Dewasa karena dikarbit alias terpaksa" seloroh Bryan.


Membuat David terkekeh.


"Oh ya. Apa Papa akan tinggal lama disini? Bry dengar Papa tinggal di Australia"


"Paling seminggu. Selain memberi kesaksian. Papa juga mengalihkan semua aset Papa ke namamu. Karena dia sekarang sudah dipenjara"


"Aset?"


"Aset. Iya Papa punya aset untukmu. Pernah dengar Aditama Group. Itu milik Papa. Dan sekarang akan jadi milikmu" jelas David.


"Wah aku bakalan kaya nih. Bisa buat pesta nikahan gede-gedean ini. Padahal sudah mikir mau nyari sponsor" oceh Bryan.


"Menikah? Kamu mau menikah?" tanya David antusias.


Bryan mengangguk.


"Itulah kenapa Bry tanya. Apa Papa akan lama di sini. Bry mau Papa ada ketika Bry menikah"


"Tentu saja. Papa akan datang saat kamu menikah. Siapa calonnya?"


Bry sedikit ragu untuk memberitahu soal Vera.


"Kenapa?"


"Papa janji ya akan menerima dia. Jangan menolaknya. Karena ini saja Bry sudah mati-matian buat meyakinkan dia supaya mau nikah sama Bry"


David tersenyum.


"Tentu saja Papa akan menerimanya. Siapa sih perempuan yang mau nerima seorang casanova yang kerjaannya celup sana celup sini"


"Iiisssh Papa kok jadi ikutan mereka sih. Suka nistain Bry" gerutu Bryan.


"Lah memang kenyataannya begitu. Apa kamu mau menyangkalnya?" tanya David.


Bryan menggeleng.


"Lah tu ngaku. Jadi seperti apa dia? Pasti cantik"


"Cantiklah. Kalau tidak mana mau Bry sama dia. Sampai Bry khilaf lagi" ucap Bryan sendu.


David memicingkan matanya.

__ADS_1


"Khilaf bagaimana?"


"Bry melecehkan dia waktu Bry mabuk. Sekarang dia sedang hamil anak Bry" jelas Bryan.


"Astaga Bry. Bagaimana bisa kamu sampai melakukan itu? Lalu dia bagaimana?" tanya David tidak percaya.


"Ya awalnya dia benci banget sama Bry. Tidak mau bertemu Bry. Melihat Bry pun dia tidak mau"


"Kapok kamu Bry. Kena batunya to kamu" marah David.


"Lo Papa kok malah marah sama Bry" protes Bryan.


"Terus maunya kamu Papa dukung kamu gitu. Kamu jelas salah kok minta didukung. Bry, perempuan itu kalau dia tidak mau melakukan itu denganmu sebelum menikah. Itu berarti dia perempuan baik. Masih punya harga diri dan martabat. Berbeda dengan ****** yang memang suka menjual tubuh mereka. Kamu salah sasaran"


"Bry akui. Bry salah. Bry kecewa. Marah. Waktu itu. Dan dia datang waktu Bry lagi kacau. Ya sudah tak terkam dia" ucap Bryan tanpa filter.


Membuat David langsung menoyor kepala putrnya itu.


"Uuh sakit Pa" protes Bryan.


"Masih mending cuma tak toyor. Harusnya kamu itu dilelepin di Bengawan Solo sana. Biar otak ngeresmu itu hilang"


"Papa kata Bry ikan apa. Dilelepin di kali segedhe gitu"


"Biarin. Papa gemes sama kelakuanmu"


"Maaf Pa. Bry salah"


David menghela nafasnya.


"Lalu sekarang dia bagaimana? Sudah berapa bulan kehamilan calon cucu Papa?"


"Yey tadi mau nenggelemin Bry ke kali. Sekarang sibuk tanya soal cucu. Hasil kerja keras Bry"


"Kerja keras gundulmu!" salak David.


Bryan nyengir.


"Iya deh iya. Hasil kerja paling nikmat sedunia" celetuk Bryan.


Membuat David membulatkan matanya.


"Apa? Salah lagi? Terserah Papa deh kalau gitu mau nyebut apa. Yang jelas itu hasil kecebong Bry"


David menepuk jidatnya pelan. Kenapa gaya bicara putranya makin lama makin aneh begini.


"Salahin temen Bry, Pa. Mereka yang sudah ngeracunin Bry dengan kata-kata yang aneh plus absurd"


"Ah sudah, lupakan gaya bicaramu yang aneh itu. Sekarang jelaskan siapa menantu Papa" perintah David.


"Cie menantu....sudah mengakui ni" ledek Bryan.


"Memangnya kamu mau Papa menolaknya. Katamu dia sudah hamil hasil karya kecebongmu" tantang David.


"Iiihh jangan ditolak Pa. Ini saja susah banget buat bujuk dia mau nikah sama Bry" keluh Bryan.


"Makanya jelaskan siapa dia" titah David.


Tapi belum sempat Bryan menjawab. Dika masuk dengan laporannya.


"Maaf mengganggu tuan. Tapi dibawah ada Nona Vera ingin bertemu"


Mendengar nama Vera. Wajah Bryan langsung berbinar.


"Tuh Pa kenalin sendiri. Mantumu datang" ucap Bryan.

__ADS_1


Menyuruh Dika membawa Vera naik ke ruangannya.


***


__ADS_2