Mengejar Cinta Satu Malam

Mengejar Cinta Satu Malam
Selalu Ada Untukmu


__ADS_3

"Cantiknya" guman Tania.


Padahal ini bukan kali pertama dia datang ke sini. Tapi selalu saja kata itu yang terucap dari bibirnya tiap kali sampai disini. Sedang Jayden diam saja. Meski ia akui. View didepannya akan membuat siapa saja takjup akan keindahannya.



Kredit google.com


Mereka sudah duduk cantik di sebuah warung yang ada di pinggir jalan Jalan Tembus. Jalan Tembus adalah istilah yang digunakan untuk menyebut jalan penghubung antara kabupaten Magetan, Jawa Timur dan kabupaten Karanganyar,Jawa Tengah. Via Sarangan.


Yang memang terkesan menembus gunung Lawu.


Dan sepanjang pinggiran jalan itu digunakan untuk menikmati view Sarangan dan kota Magetan yang nampak di kejauhan. Di pinggir jalan itu banyak warung-warung yang didirikan. Untuk memberikan tempat pada mereka yang ingin menikmati pemandangan malam Sarangan sambil menikmati kopi atau cemilan lain. Atau sekedar nongkrong dan hang out bersama teman-teman. Meski dinginnya beeuuuhhhhh. Ampun dah.


Tania sendiri memakai dua lapis baju rajut ditambah satu jaket tebal lengkap dengan hodienya. Sedang Jayden hanya memakai kaos oblong hitam, namun kali ini dia memakai jaket berhodie-nya.


"Jangan tanya esspreso, latte atau yang lainnya di sini" ucap Tania ketika dia melihat Jayden mengerutkan dahinya memandang kopi miliknya.


"Bukan begitu. Ini sama saja Baby. Langsung dingin begitu sampai sini" keluh Jayden.


"Ya, mau gimana lagi"


"Masak iya minum kopi dingin"


Jayden penyuka kopi panas level tertentu. Jadi sedikit gimana begitu melihat kopi yang sudah dingin di depannya. Jadi hilang seleranya untuk meminumnya.


Tania menarik nafasnya. Semakin merapatkan jaketnya. Menahan dingin yang semakin datang menerpa kulitnya.


"Mau balik ke mobil?" tanya Jayden.


"Sebentar lagi" jawab Tania.


Dia teringat pertama kali ke sini. Dia menghabiskan satu malam penuh dengan menangis. Ditemani Vera dan Sean kala itu. Dia menumpahkan rasa sakit dan kecewanya di sini. Menyesal? Tidak. Hanya saja dia merasa semua terasa begitu tidak adil baginya. Kenapa?


Karena dia menganggap cintanya untuk Kak Kai-nya akan disambut baik oleh pria itu. Tapi ternyata tidak. Patah hati sekali ketika Kai lebih memilih kehilangan aset Hadiwinata ketimbang kehilangan cintanya pada kakak tirinya.


Bencikah dia pada kakak tirinya? Dulu iya. Tapi setelah dia tahu cerita yang sebenarnya. Dia merasa malu untuk bertemu dengan mereka. Meski kedua kakaknya begitu welcome dengan dirinya. Begitu menyayanginya. Tapi karena dirinya dan mamanyalah kedua kakaknya itu menderita. Melewati kehidupan yang begitu keras di luar sana. Sedang dirinya hidup nyaman di kediaman Hadiwinata. Merasa menjadi seorang putri karena semua orang memandang dirinya sebagai satu-satunya penerus Hadiwinata Group.


Tapi itu dulu. Sebelum semua terkuak. Bagaimana sang mama dengan begitu kejamnya merebut semua dari kedua kakaknya. Melenyapkan nyawa ibu kedua kakaknya. Dua kali berusaha melenyapkan hidup Natasya, kakak tirinya. Hingga sang mama berakhir di penjara untuk kurun waktu seumur hidupnya.


Membuat Tania benar-benar kecewa dengan hidupnya.Membuatnya memutuskan untuk meninggalkan Jakarta dan memulai hidupnya di sini. Surabaya.


Dia memulai bisnis konveksinya dengan modal tabungan miliknya. Karena dia meninggalkan semua yang berhubungan dengan Hadiwinata. Selain merasa tidak berhak. Dia juga tidak ingin dilacak menggunakan kartu-kartu yang ia gunakan. Dia benar-benar memulai semua dari nol bersama Vera. Beruntungnya mereka bertemu Sean kala itu. Yang bersedia menjadi investor untuk bisnis konveksinya.


Tanpa tahu siapa orang yang berdiri di belakang Sean. Sejak saat itu juga Sean menjadi partner bisnis dan juga sahabat bagi Tania dan Vera.


"Ada yang kamu pikirkan?" tanya Jayden.


Membuyarkan lamunan Tania. Keduanya sudah kembali ke mobil Jayden. Dingin sekali di luar. Hingga membuat mereka memutuskan untuk mencari udara hangat di dalam mobil Jayden. Karena mobil Jayden dilengkapi penghangat ruangan.


"Hanya ingat masa lalu"


"Biasanya menyakitkan. Betul tidak?"


Tania mengangguk ragu. Tania berpikir, Jayden adalah orang luar kedua yang begitu nyaman dia ajak bicara setelah Sean. Bicara dengan Jayden seperti bicara dengan seorang psikiater. Nyaman dan membuat Tania ingin menumpahkan semua unek-uneknya.


"Kamu tahu? Aku melarikan diri ke sini?"

__ADS_1


"Sama dong kalau begitu"


"Kamu lari dari perasaanmu ke Kak Nina?"


Jayden mengangguk.


"Dan juga mengejarmu. Cinta satu malamku" tambah Jayden sambil terkekeh.


Tania ikut tersenyum mendengarnya.


"Aku lari dari kenyataan. Lari dari rasa bersalah. Lari dari rasa malu. Pengecut sekali ya"


"Bukan pengecut hanya perlu waktu untuk menghadapinya" ucap Jayden menatap lembut ke arah Tania.


Secara garis besar dia tahu yang dialami Tania. Tapi detailnya Jayden ingin gadis itu yang membuka ceritanya sendiri.


"Aku merasa jatuh cinta tapi pada orang yang salah. Aku merasa bersalah karena kehadiranku membuat kedua kakakku menderita. Dan aku merasa malu untuk bertemu mereka. Aku benar-benar tidak punya muka"


"Sudah pernah bertemu mereka. Mencoba maksudku" tanya Jayden.


Tania menggeleng.


"Ingin bertemu?"


"Aku rindu kak Tasya dan Nadya" jawab Tania sendu.


"Tahu bagaimana perasaan mereka?"


Tania kembali menggeleng.


"Kamu belum pernah mencoba.Tapi sudah minder duluan. Aku belum pernah bertemu mereka. Tapi aku rasa kedua kakakmu orang yang baik"


Perlahan Jayden memeluk Tania. Membiarkan gadis itu menangis dalam pelukannya.


"Mereka bilang Tania adalah nama yang ayah berikan untukku" ucap Tania lagi.


Cukup lama Tania berada dalam pelukan Jayden. Hingga perlahan tangisnya mulai reda. Tania jelas perlu sosok yang peduli dan perhatian padanya. Dan itu sekarang dia dapatkan dari Jayden. Pria yang beberapa bulan terakhir mendekatinya.


"Kamu tahu semua orang pernah mengalami masa sulit dalam hidupnya. Akupun sama. Tapi percayalah kalau semua akan berakhir. Akan ada kebahagiaan untuk semua orang" ucap Jayden sambil menepuk-nepuk lembut punggung Tania.


"Apa aku masih pantas bahagia?" tanya Tania.


"Kenapa tidak?"


"Aku hanya merasa tidak berhak untuk bahagia setelah semua yang aku lakukan"


"Memangnya apa yang kamu lakukan? Jatuh cinta pada orang yang salah bukan suatu kejahatan. Semua yang mamamu lakukan tidak ada hubungannya denganmu. Kesalahan orang tua tidak seharusnya dilimpahkan kepada anak-anaknya. Meskipun yaaa semua akan berimbas kepada anak-anak mereka. Tapi itu tidak boleh dijadikan alasan, si anak tidak boleh bahagia. Kesalahan mamamu bukan kesalahanmu. Kesalahanmu hanya jatuh cinta pada orang yang salah" tegas Jayden.


Tania terdiam meresapi semua ucapan Jayden. Selama ini tidak ada yang berani bicara seperti itu padanya.


"Semua orang pernah berbuat kesalahan. Tapi bukan tidak bisa diperbaiki. Semua orang berhak untuk bahagia. Termasuk kamu" tambah Jayden.


Tania mempererat pelukannya pada tubuh Jayden. Pria itu telah melepaskan jaketnya. Menyisakan kaos hitam polos yang cukup ketat membalut tubuh atletis Jayden.


"Hmmm Bvlgarri Omnia Paraiba" guman Tania.


"Kamu tahu parfumku"

__ADS_1


"Siapa juga yang tidak tahu parfum kesukaan Jungkook BTS" jawab Tania.


"Haa kamu Army juga?"


"Nggak tu"


"Lalu tahu parfumnya Jungkook segala darimana?" Jayden kepo.


"Itu kemarin ngemall sama Sean. Terus ada yang kasih tester parfum. Terus Sean bilang wanginya mirip dengan parfumnya Jungkook BTS. Bvlgarri Omnia Paraiba. Masih ingat aku wanginya. Begitu ceritanya"


"Kapan kamu ngemall sama Sean?"


"Kemarin sekalian beli jaket ini"


"Kenapa nggak ngajak aku?"


"Kan kamu lagi sibuk sama istrimu dan anakmu" cibir Tania.


"Salah siapa nggak nanya sudah married apa belum" sangkal Jayden.


"Nanyain status itu dianggap tidak sopan. Masak Kakak tidak tahu" protes Tania.


"Kan aku tidak pakai cincin kawin" ucap Jayden sambil menunjukkan jemari tangannya yang memang masih kosong.


"Siapa tahu kamu lepas. Supaya dikira masih single"


"Astaga. Aku nggak bakal ngelakuin itu Baby" bujuk Jayden.


"Nggak percaya" cibir Tania.


Yang semakin mencari kenyamanan dalam pelukan Jayden.


"Kamu memancingku" goda Jayden.


"Nggak ada umpannya"


"Ada ni, umpannya gede begini" ucap Jayden sambil memeluk balik Tania.


"Jangan pegang-pegang" Tania memperingatkan.


"Kamu yang mulai duluan" elak Jayden.


"Jayden Lee diam. Tanganmu juga diam" ketus Tania.


Tania tahu tangan Jayden mulai merayap masuk ke jaketnya. Jayden terkekeh mendengar peringatan Tania.


"Iya-iya. Doakan saja aku tidak khilaf. Aku sudah dua tahun puasa lho" bisik Jayden di telinga Tania. Sedikit menggigitnya.


"Jayden Lee!" kembali Tania memperingatkan.


"Ha, ha, ha lihat dia tergoda" kekeh Jayden menatap wajah merah merona Tania yang tepat berada di bawah dagunya.


"Tidurlah. Besok kita sambut hari baru. Kisah baru. Lembaran baru. Lupakan masa lalu. Kita mulai semuanya dari awal. Aku dan kamu. Oke?" ucap Jayden sambil mengecup puncak kepala Tania.


Tania mengangguk mendengar ucapan Jayden. Sudah saatnya dia move on. Memulai kehidupan barunya. Dengan Jayden disisinya.


"Aku akan selalu ada untukmu" bisik pria itu lagi.

__ADS_1


Bisikan yang begitu menenangkan jiwa. Perlahan membawa Tania menuju ke alam mimpinya. Dalam kehangatan pelukan Jayden, Tania terlelap.


****


__ADS_2