Mengejar Cinta Satu Malam

Mengejar Cinta Satu Malam
Pawang Singa Datang


__ADS_3

Vera duduk dengan wajah yang terlihat gugup. Dia yang biasanya galak pada Bryan. Sekarang hanya bisa diam. Menatap pria yang wajahnya 11,12 dengan Bryan.


Wajah David memang persis Bryan. Boleh dibilang wajah Bryan adalah fotokopi David. Tapi tidak dengan kelakuannya.


Vera hanya bisa diam menatap David. Tidak tahu harus berkata apa.


"Pa, Papa menakutinya" seloroh Bryan melihat interaksi dua manusia beda umur, beda gender itu.


David tersenyum.


"Sorry" ucap David santai.


Bryan memutar matanya jengah.


"Jadi namamu siapa?" tanya David.


"Altania Vera Om. Biasa dipanggil Vera"


"Aku kira dipanggilnya Al seperti yang lagi ngetren sekarang semua panggilannya Al"


"Al biasanya buat cowok Om"


"Iya juga"


"Tinggal dimana? Atau jangan-jangan kalian sudah tinggal serumah?"


Bryan menatap judes pada Papanya.


"Vera bukan wanita seperti itu, Pa. Kan Papa sendiri yang bilang" protes Bryan.


"Iissh diam kamu. Papa tanya Vera bukan kamu"


"Saya tinggal di apartement bareng teman saya"


"Bekerja?"


Vera mengangguk.


"Sudah belum interviewnya" kembali Bryan berceloteh.


"Isshh kamu ini. Takut bener nggak lolos screening" jawab David.


"Awas saja kalau tidak dilolosin. Kagak nikah gue seumur hidup" ancam Bryan.


"Emang bisa kamu seumur hidup puasa? Bisa karatan tu" ledek David.


Membuat Vera membulatkan matanya.Mendengar obrolan absurb ayah dan anak itu. Bryan mencebik kesal pada papanya. Dia pikir dulu papanya tidaklah sekocak ini. Kenapa sekarang jadi seperti tukang lawak yang sering wara wiri di televisi ya.


Apa papanya mengalami benturan atau sejenisnya. Hingga kepalamya jadi sedikit tidak normal. Isshh kenapa dia jadi berpikiran yang tidak-tidak soal papanya. Bryan menggelengkan kepalanya agar dirinya kembali waras, terserah papanya mau bagaimana. Yang penting dia bisa menikah dengan Vera. Itu yang penting.


"Jadi berapa lama kamu kenal si brengsek ini?" tanya David.


Membuat Bryan tidak jadi mengembalikan kewarasannya.


"Papa ini ngomongnya kok gitu sih. Aku ini anak papa" Bryan memanyunkan bibirnya.


Kembali Vera hanya bisa mengerutkan dahinya. Mendengar ayah dan anak itu dari tadi hanya berdebat sendiri. Tidak kompak sama sekali.


"Vera..."


"Ah iya Om"


"Jadi sejak kapan kamu mengenal mantan casanova ini yang katanya otewe tobat"


Bryan berdecih kesal mendengar ucapan papanya.


"Kira-kira satu tahun lalu. Ketika dia pacaran sama teman saya"


"Jadi temanmu eks-nya dia?"


Vera mengangguk.

__ADS_1


"Alah sebenarnya dia suka padaku sejak aku pacaran sama temannya. Betul tidak Sayang" ucap Bryan yang langsung mendapat pelototan dari Vera.


"Atau kamu yang mau macarin mereka berdua" tuduh David.


"Mungkin saja Om. Karena dia kan casanova" Vera ikut mengompori.


"Sayang kok kamu malah dukung Papa sih" protes Jayden.


"Kan kamu memang brengsek!" umpat Vera.


"Sayang..."


David tergelak melihat Bryan yang tidak berkutik di depan Vera.


"Bagus. Sekarang kamu sudah ketemu batunya. Jadi Papa nggak perlu nenggelemin kamu ke Bengawan Solo"


"Ya...Om kalau ditenggelemin di Bengawan Solo nanti si brengsek itu metong dong" tanpa sadar Vera membela Bryan.


Membuat Bryan mengembangkan senyumnya. Begitupun dengan David.


"Misi selesai"


***


Vera berjalan keluar dari agensi Bryan dengan wajah penuh amarah.


"Sayang jangan marah. Itu semua akal-akalannya Papa" Bryan membela diri.


"Bodo amat!" desis Vera.


"Sayang...tolong dengarkan aku. Please.."


Vera menarik nafasnya pelan dan dalam. Berusaha menurunkan amarahnya.


"Apa?" tanya Vera judes.


Sedang interaksi sepasang manusia itu tidak lepas dari pengamatan David yang melihat keduanya dari jendela kaca ruangan Bryan.


"Akhirnya ada juga wanita yang bisa mengendalikan kamu" guman David.


"Terimakasih sudah menjaga putraku dari wanita itu" ucap David.


"Itu sudah menjadi pekerjaan saya. Saya hanya menjalankan tugas saya"


"Terima kasih. Setidaknya saya sudah bisa tenang"


"Selama ini tuan Lee dan tuan Huang yang membantu Tuan Bryan meski pada awalnya mereka bermusuhan. Karena tuan Bryan terus menerus mengejar Nona Tania yang menjadi incaran tuan Lee"


"Begitu ya?"


"Iya bahkan tuan Bryan dua kali hampir saja melecehkan Nona Tania. Untung saya masih bisa menggagalkannya. Dengan mengirim pesan pada tuan Lee. Meski yang terakhir kami lalai hingga yang menjadi korban Nona Vera"


"Berarti putraku dulu memang brengsek!" umpat David.


"Maaf tuan. Tapi memang iya. Tapi sekarang saya pastikan kalau tuan Bryan sudah berubah"


David menarik nafasnya lega.


****


Jayden tampak kesal dan juga marah. Hari ini schedule-nya kacau gegara Rey yang keasyikan mojok dengan Maura. Hingga keduanya telat datang ke meeting dengan kliennya.


Untung semua masih aman terkendali. Hanya saja reputasi Jayden merasa tercemari akibat ulah konyol sang asisten.


"Sekali lagi kamu bikin kesalahan tak kirim kamu ke Afrika!" ancam Jayden.


"Ngapain pak Bos ke Afrika? Safari ya Bos?"


"Mandiin chetaah, biar kamu sekalian jadi makan siangnya!" desis Jayden masih dengan mode marah tingkat akut level seratus.


Glek,

__ADS_1


Rey menelan ludahnya dengan susah payah. Tahu Bos Singanya lagi marah.


"Sorry deh pak Bos. Saya salah. Kelamaan mojok sama Maura" cari aman sajalah pikir Rey.


Dan mengakui kesalahan adalah cara paling jitu untuk mendapatkan maaf.


Jayden jelas mendelik mendengar pengakuan frontal dari asistennya itu.


"Enak saja bilang maaf setelah kamu dapat enaknya karena mojok sama Maura" Jayden berkata sambil melipat tangan didepan dada.



Kredit Instagram@eunwoo_aroha


Tatapan mengintimidasi Jayden berikan.


"Mati aku. Bakalan panjang ini urusannya. Ya Tuhan bolehkah aku berdoa. Kirimkan malaikat penolong untukku, please" doa Rey dalam hati.


Meski dia tahu. Kalau dirinya memang salah.


"Ayo ngomong kenapa malah diam saja?" salak Jayden.


"Ngomong apa ya Bos?" tanya Rey polos.


"Rey, lama-lama kamu beneran tak kirim ke Sahara"


Rey mengangkat wajahnya. Menatap wajah bosnya yang masih dalam mode judes on.


"Tadi ke Afrika sekarang ke Sahara. Suruh ngapain ke Sahara pak Bos?"


"Biar kamu hilang ditelan badai pasir. Lagian bisa-bisanya kamu lupa waktu meeting dengan klien sih"


Rey menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Masak iya dia harus mengatakan kalau dia keasyikan melakukan french kiss sama tangannya yang bergerilya ke mana-mana. Sampai dia lupa waktu. Bisa dipotong habis gajinya kalau pak bos singanya tahu.


"Malah diam? Hayo kamu ngapain sama Maura sampai kamu lupa waktu" pepet Jayden.


Jayden sendiri sebenarnya hanya mengerjai Rey. Cukup puas bisa melihat wajah bingung dan panik Rey. Sebagai pria dewasa serta mantan casanova, dia cukup tahu apa yang dilakukan pasangan kalau sedang berduaan. Apalagi kalau bukan melakukan depe untuk menikmati surga dunia.


Apalagi untuk ukuran Rey, yang istilahnya rada telat mendapatkan pasangan. Untuk mengaplikasikan semua ilmu yang pernah dia lihat dari Jayden. Waktu Jayden masih jadi manusia bobrok dan bejat kala itu.


"Emmm itu...itu...kami nggak ngapa-ngapain kok Bos. Cuma praktek ilmu dari pak Bos yang dulu Rey suka lihat" jawab Rey takut plus gelagapan.


"Memang kamu lihat apa?" pancing Jayden. Jayden semakin getol menggoda Rey.


"Itu..itu ...


"Itu apa?" potong Jayden cepat.


"Iihh kenapa pakai acara nanya sih. Aduuh Bos, Rey kan juga pengen rasain naik kuda yang nikmat. Bisa dimaju mundurin cantik kaya lagunya Princess Syahrini itu"


Jayden melongo mendengar istilah yang digunakan Rey sàat ingin menyebut kata bercinta.


"Memang kamu pernah lihat saya begituan. Naik kuda sambil maju mundur cantik" selidik Jayden.


"Pernah sekalinya pak Bos sudah kebelet. Tidak tahan. Pak bos lupa kunci pintu. Terus saya lupa ponsel saya. Ya sutralah. Jadi ternoda deh mata, otak sama hati saya yang masih suci dan murni" oceh Rey. Membuat Jayden mendelik mendengar ucapan polos sang asisten.


"Memangnya kapan kamu pernah lihat adegan plus dua satu milikku?" tanya Jayden yang perasaan terakhir kali melakukannya dengan Tania. Jangan-jangan apa Rey melihatnya.


"Sudah lama itu. Waktu kita ada pemotreran di puncak. Pak Bos sama Jenny. Iih panas dingin saya dibuatnya. Jadi namanya adegan plus dua satu ya bukan naik kuda yang bisa dimaju mundurin" kekeh Rey.


"Adegan plus dua satunya siapa Rey?" tiba-tiba sebuah suara terdengar dari arah belakang Rey.


Membuat dua pria itu langsung menatap ke arah sumber suara. Keduanya jelas membulatkan mata mereka. Melihat siapa yang datang.


Wajah Jayden langsung berubah panik. Takut dia mendengar obrolan absurb antara dirinya dan Rey. Sedang Rey langsung mengembangkan senyumnya.


"Pawang singa datang" kekeh Rey dalam hati.


"Uuups salah. Malaikat penolongku" ralat Rey.


Karena habis ini. Bisa dipastikan kalau gantian Jayden yang akan kelabakan diinterogasi oleh pawangnya.

__ADS_1


"Selamat, selamat. Tidak jadi dikirim safari ke Afrika sama lihat badai pasir di Sahara" batin Rey terus mengulum senyumnya. Melihat kepanikan pak bos singanya.


***


__ADS_2