
"Sial!" suara umpatan keluar dari bibir Bryan. Bersamaan dengan suara ponsel yang dibanting hingga hancur berkeping-keping.
Bagaimana dia sudah ketahuan. Bahkan belum ada satu kali dua puluh empat jam. Tapi Kai dan Jayden sudah bisa menghancurkan wanita yang dia suruh untuk menjebak Jayden. Membuat kacau hubungannya dengan Tania.
Ya, orang yang ada dibalik kejadian itu adalah Bryan. Entah kenapa dia tidak suka melihat Tania bahagia. Dia benci melihat wanita itu tersenyum. Dendamkah dia?
Entahlah yang Bryan tahu. Ia hanya ingin membuat gadis itu menangis tiada henti. Lalu bagaimana soal perasaannya pada Vera. Bryan mengakui kalau sekarang dia sudah bisa mencintai Vera. Wanita itu memberinya cinta dan kasih juga perhatian yang tak terhitung besarnya.
Hingga akhirnya hati Bryan luluh juga. Rumah tangga mereka juga berjalan harmonis. Tapi siapa sangka jika ternyata sampai sekarang. Bryan masih memiliki rasa tidak puas hati pada Tania. Ingin melihat gadis itu menderita adalah tujuannya sekarang.
"Aaahhh kalian brengsek! Bedebah! Kurang ajar!" kembali umpatan itu terdengar dari bibir Bryan. Seiring tangannya yang turut membuang seluruh barang yang ada diatas mejanya. Nafasnya memburu. Menahan amarah yang siap meledak di ubun-ubunnya.
"Okay, kau bisa lolos kali ini. Mari pikirkan cara lain untuk membuatmu menderita dan menangis tiada henti" ucap Bryan sambil menyeringai.
Tanpa Bryan sadari, sepasang mata menyaksikan dan mendengarkan semua yang terjadi di ruangan itu. Sesaat dia hanya disana. Namun kemudian dia berlalu meninggalkan ruangan Bryan. Meraih ponselnya. Lantas menghubungi seseorang.
***
"Apa kau sungguh-sungguh dengan ancamanmu" tanya Jayden.
"Aku memang mendeportasinya. Agar dia jauh dari negara ini. Tapi untuk pemutusan kontrak. Aku hanya memerintahkan untuk wilayah Asia. Jadi kalau dia bisa menggunakan otaknya. Kita sebenarnya memberinya kesempatan untuk go internasional. Karena saat ini look Asia mulai dilirik oleh pangsa pasar Amerika dan Eropa" jelas Kai.
"Itu kalau dia bisa berpikir. Tapi kalau tidak...aku tidak tahu dia akan jadi apa" timpal Jayden.
"Setidaknya aku tidak memblokir semua kartunya. Itu hasil kerja keras dia. Ya..meski kau juga tahu. Kalau dia menggunakan tubuhnya untuk mendapatkan beberapa kontrak" ucap Kai jijik.
"Ya, sudah jadi rahasia umum. Meski tidak semua model seperti itu"
"Asalkan mereka bisa bekerja dan profesional. Aku tidak terlalu masalah. Tapi aku memang menghindari hal-hal seperti itu" ucap Jayden.
"Awas saja kalau kau sampai berbuat seperti itu" ancam Kai.
"Tidak akan. Lalu bagaimana? Apa kau sudah dapat videonya. Aku harus membuktikan pada adikmu kalau aku tidak sengaja menyentuhnya"
"Ciihh, kau dan Justin sama saja" Kai berdecih sebal.
Jayden hanya nyengir mendengar ocehan Kai.
"Ya, Ann" ucap Kai saat ponselnya berbunyi.
".."
"Benarkah?"
"..."
"Biarkan saja. Sean akan mengurusnya"
"...."
"Baik"
"Kenapa?" tanya Jayden.
"Bersabarlah menghadapi adikku" ucap Kai sambil menarik nafasnya.
"Ada apa?"
"Dia kembali ke Surabaya.Malam ini"
Jayden langsung menatap tajam Kai.
"Maksudmu? Dia pulang dan tidak memberitahuku" ucap Jayden geram.
"Aku bilang sabar. Dia perlu waktu sendiri"
Jayden terdiam. Berusaha meredam emosinya. Sedang Kai langsung menepuk-nepuk bahu Jayden. Menenangkan pria yang umurnya sebaya dengannya.
Di Soekarno Hatta International Airport, tampak dua beradik itu memeluk Tania. Jelas mereka belum rela melepas adik mereka kembali ke Surabaya. Tapi mau bagaimana lagi. Sang adik yang sedang galau mode on level akut, itu tidak bisa dicegah keinginannya.
"Maaf, tidak bisa tinggal lama. Selamat atas pernikahan kakak. Maaf terlambat mengatakannya. Hadiah akan aku kirim belakangan" ucap Tania sendu.
Natasya dan Nadya saling pandang.
"Tidak apa-apa. Sebenarnya kami yang ingin sekali melihatmu menikah" ucap Nadya.
__ADS_1
"Maaf, tapi aku tidak bisa memenuhi permintaan kalian"
"Tidak apa-apa. Anggap saja kita pending dulu acaranya. Kita akan buat yang lebih meriah daripada punya kakak yang di Shanghai" ucap Nadya lagi.
Tania hanya tersenyum getir.
"Dengarkan kakak. Jangan gunakan emosi saat kamu bertemu Jayden. Ini salah paham. Kakak berani menjaminnya" nasihat Natasya.
"Kak...."
Natasya kembali memeluk adik bungsunya itu.
"Kembalilah dengan senyum"
Tania mengangguk.
"Ingat kamu masih punya hutang janji sama kakak" tagih Nadya.
Tania mengangguk. Yeah dia berjanji akan menghabiskan satu hari untuk ngemall bersama kakak-kakaknya itu. Tapi sampai sekarang belum kesampaian.
"Sampaikan salamku pada Kak Kai. Maaf aku pergi lagi dengan cara seperti ini"
"Ini masih mending pamit. Daripada waktu itu.Beuuuhh puyengnya minta ampun" seloroh Nadya.
"Apapun itu beritahu kami. Kami selalu ada untukmu. Meski kamu jauh di Surabaya" ucap Natasya berkaca-kaca.
"Maafkan aku Kak, maafkan aku" sahut Tania menghambur ke pelukan kakaknya.
"It' okay. Semua akan baik saja-saja. Percaya pada kakak"
Tania menangis dalam pelukan kakaknya. Ada satu sisi didalam dirinya yang menginginkan dirinya tinggal. Tapi disisi lain dia begitu ingin pergi dari sini.
"Sudah, sudah..." ucap Nadya mengusap air mata yang turun di pipi Tania.
"Sampaikan maafku pada Kakek. Tidak bisa menemuinya"
Natasya dan Nadya mengangguk.
"Aku pergi" ucap Tania.
"Dia pergi lagi" ucap Nadya sendu.
"Dia akan kembali" balas Natasya. Memeluk adiknya. Lantas ikut berbalik. Berjalan keluar dari airport itu.
"Dia sudah berangkat" ucap Kai. Setelah menutup panggilan teleponnya.
Jayden menghela nafasnya.
"Sean yang menjemputnya?" tanya Jayden.
"Siapa lagi? Satu-satunya orang yang dia punya. Satu-satunya orang yang tidak akan berkata tidak pada setiap keinginan Tania. Apapun itu. Tiket pulang ke Surabaya juga Sean yang dapatkan"
"Dia benar-benar menjalankan perannya dengan baik" puji Jayden.
"Tidak sia-sia, aku menyeretnya susah payah dari Shanghai waktu itu" kekeh Kai.
"Dia memang asli sana" tanya Jayden kepo.
Kai mengangguk.
"Ayahnya pimpinan laboratorium di tempat sepupuku. Luis Liu"
"Ayahnya profesor?"
Kai kembali mengangguk.
"Kenapa dia tidak mengikuti jejak ayahnya"
"Dia tidak mau. Dia dulu banyak tawaran casting. Tapi dia menolak"
"Yeah wajahnya memang tampan. Kategori idol zaman now"
"Kau mengakuinya?"
"Memang begitu adanya. Mau bagaimana lagi" ucap Jayden sebal harus mengakui keunggulan orang lain.
__ADS_1
"Dia tidak terima sebetulnya itu" ledek Kai.
"Jangan meledekku. Aku sedang bad mood ini" geram Jayden.
Kai terkekeh melihat Jayden bersungut-sungut.
"Jadi ja**** ini yang beberapa hari ini meneror Tania. Mengirimi video hotmu yang entah tahun kapan. Tapi sebagai sesama pria ku akui kau cukup hot di ranjang" ucap Kai lagi sambil tertawa.
"Jangan mengungkit masa laluku" protes Jayden.
Membuat Kai angkat tangan.
"Dia juga meracuni pikiran Tania dengan mengatakan kalau adikku tidak pantas untukmu. Karena mamanya yang seorang pembunuh" Kai berucap tenang.
Berbeda dengan Jayden. Yang langsung mengepalkan tangannya. Berusaha menahan emosinya.
"Kau tahu kan aku tidak masalah dengan hal itu" jelas Jayden.
"Aku tahu. Tapi tidak dengan Tania. Dia benar-benar termakan isu itu. Baginya kau terlalu baik untuk bisa bersanding dengannya"
"Oh shiit!! Dasar gadis bodoh. Bagaimana dia bisa berpikir seperti itu"
"Dia ingin kau dapat yang terbaik"
"Tapi aku hanya ingin dia"
"Well kita akan lihat. Karena perjuanganmu kembali akan dimulai" ucap Kai ambigu. Membuat Jayden memicingkan matanya.
"Maksudmu?"
"Ada musuh dalam selimut. Aku tidak tahu apa tujuan sebenarnya. Tapi aku harap kau berhati-hati padanya"
"Apa kita punya tersangka yang sama" tanya Jayden menatap Kai.
"Aku rasa iya" jawab Kai tersenyum sambil meminum tehnya.
"Aku pikir dia benar-benar berubah setelah menikah. Tapi nyatanya tidak. Dia ini yang benar-benar disebut brengsek!" maki Jayden.
"Berhati-hatilah saat berhadapan dengannya. Yang aku duga dia menargetkan Tania. Tidak tahu apa motifnya"
"Aku akan menjaganya jangan khawatir"
Kai tersenyum.
"Sepertinya aku bisa bernafas lega. Melepas adikku pulang ke Surabaya dengan kau dan Sean disisinya"
"Kau bisa mengandalkan kami"
"Aku berharap begitu. Semoga adikku segera mau membuka hatinya untukmu"
"Kau mendukungku?"
"Aku tidak punya pilihan lain"
"Sialan!" umpat Jayden, membuat Kai terkekeh.
"Kau memang menyebalkan. Sama seperti Lee Joon" maki Jayden lagi.
Keduanya lantas keluar dari kamar itu. Langsung turun ke lobi.
"Kapan balik?"
"Belum tahu. Biarkan dia sendiri dulu. Ada beberapa hal yang harus aku urus disini" jawab Jayden.
"Oke, kalau begitu selamat berjuang" ucap Kai lantas masuk ke mobil yang tadinya dibawa Tania.
Sesaat melambaikan tangannya. Sebelum akhirnya melajukan kuda besinya memasuki jalan raya. Bersamaan dengan Jayden yang juga masuk ke dalam mobilnya. Mengikuti mobil Kai yang sudah lebih dulu melandas di jalan raya.
***
Jayden Lee yang lagi galau akut. Ditinggal mbak Tania pulang ke Surabaya 😅😅😅
****
__ADS_1