
"Mau apa lagi kamu ke sini?" murka Vera.
Bryan tercekat mendengar kemarahan Vera. Namun ia sendiri juga sadar. Kesalahan fatal apa yang sudah ia perbuat. Bagi gadis seperti Vera, Bryan tahu kalau kehormatan sangat penting baginya.
"Aku minta maaf, Ra. Aku tidak bermaksud melakukan itu padamu" ucap Bryan penuh sesal.
"Apa kau pikir dengan permintaan maafmu bisa mengembalikan apa yang sudah kau ambil dariku ha?" bentak Vera.
Dia marah. Benar-benar marah dengan Bryan. Meski ia melihat jelas bagaimana pria itu begitu menyesali perbuatannya.
"Ra....
"Pergilah. Aku tidak ingin melihatmu" potong Vera cepat.
Vera berlalu dari tempat itu. Tapi tangan Bryan menahannya.
"Jangan menyentuhku!" desis Vera menepis tangan Bryan.
Vera merasa jijik. Sentuhan tangan Bryan mengingatkannya pada saat Bryan menyentuh tiap jengkal tubuhnya. Mencu***nya tanpa peduli akan tangisannya.
"Vera, aku benar-benar menyesal. Percayalah padaku. Aku akan bertanggungjawab"
"Apa kamu bilang? Percaya padamu? Percaya pada seorang pria yang tiap malam menghabiskan waktunya dengan perempuan yang berbeda. Jangan harap!" ucap Vera pedas.
"Terserah kamu mau percaya padaku atau tidak. Aku akan bertanggungjawab atas perbuatanku" tekad Bryan.
Vera membalikkan badannya.
"Apa yang akan kamu lakukan dengan ucapan akan bertanggungjawab padaku?" tantang Vera.
"Aku akan menikahimu" ucap Bryan cepat. Saat itu hanya itu yang ada dalam pikirannya.
"Menikah? Denganmu? Yang benar saja. Apa kau tahu apa yang diperlukan dalam sebuah pernikahan?" tanya Vera.
Bryan terdiam. Dia sungguh kehilangan kata menghadapi kemarahan Vera yang tak main-main kali ini.
"Kamu tidak tahu jawabannya kan? Cinta dan kesetiaan. Dua hal penting yang harus ada dalam sebuah pernikahan. Apa kamu punya itu?"
Bryan terdiam lagi. Cinta dan kesetiaan, dua kata yang jelas tidak ada dalam kamus hidupnya.
"Kau tidak punya kan? Apalagi kata setia" Vera berkata seraya berlalu dari hadapan Bryan.
"Ra..."
"Jangan menemuiku. Jangan mendatangiku. Jangan pernah muncul lagi dihadapanku!" ucap Vera tajam.
Bryan hanya bisa diam ditempatnya.
"Aku membencimu, Bryan Aditama" ucap Vera lirih namun Bryan masih bisa mendengarnya dengan jelas.
"Vera, aku mohon...."
Entah kenapa hatinya begitu sakit mendengar semua ucapan Vera hari ini. Tanpa terasa air mata Bryan menetes. Untuk pertama kali sejak perpisahan kedua orangnya. Seorang Bryan Aditama menangis karena seorang Altania Vera.
"Maafkan aku Ra. Sungguh aku minta maaf" batin Bryan menatap punggung Vera yang mulai menghilang dari pandangannya.
***
Beberapa hari berlalu. Sikap Vera berubah. Dia jadi lebih pendiam dan tertutup. Tidak banyak tersenyum seperti biasanya. Untuk yang tidak terlalu dekat dengan Vera. Mungkin tidak akan sadar dengan perubahan itu. Tapi bagi Tania, Sean dan Nita. Mereka sadar akan hal itu.
"Aku yakin si brengsek itu sudah melakukan sesuatu pada Vera" ucap Sean penuh amarah.
Ketiganya tengah menghabiskan makan siang mereka. Sedang Vera memilih menghindar tidak ikut. Dengan alasan masih ada pekerjaan yang harus dia selesaikan. Jadi dia akan pesan makanan saja.
"Maksudmu apa?" tanya Tania sambil menyuapkan satu sendok soto Lamongan ke mulutnya.
__ADS_1
"Pikirkan apa yang bisa Bryan lakukan pada seorang wanita" pancing Sean.
Tania terdiam sejenak. Detik berikutnya kedua matanya membulat sempurna.
"Apa yang kau maksud. Vera sudah...
"Ya itu maksudku"
"Tapi bagaimana itu bisa terjadi?"
"Bagaimana apanya? Vera masuk ke hotèl. Dan keluar dua jam kemudian. Apa yang itu bagaimana bisa terjadi. Tentu saja itu bisa terjadi"
"Lalu kita harus bagaimana?" tanya Tania.
Semua orang terdiam.
"Semua ini salahku. Jika saja aku tidak menjalin hubungan dengan Bryan. Mungkin Vera tidak akan mengalami hal ini"
"Jangan menyalahkan diri dulu. Kita tidak tahu yang sebenarnya terjadi. Aku sudah menanyai keduanya. Dan keduanya kompak tidak mau memberitahuku" ucap Sean.
Semua kembali terdiam.
"Apa kita perlu bertanya lagi pada mbak Vera" kali ini Nita yang bersuara.
Tidak ada tanggapan.
"Siapa tahu mbak Vera sudah mau bercerita" saran Nita lagi.
"Entahlah Ta, aku tahu Vera sudah lama. Dia keras kepala. Jika tidak mau ya tidak mau. Susah untuk mengubah keputusannya"
Hening kembali.
"Hei, tumben pada ngumpul disini" ucap Jayden yang tiba-tiba sudah duduk disamping Tania. Mencium pipi Tania sekilas.
"Dasar tukang sosor" maki Sean.
"Iiiss pak Lee ini. Kemana pak Lee yang kalau ketemu klien suka bikin klien keder duluan" seloroh Nita.
"Jayden yang itu kecebur laut. Jayden yang sekarang beda. Betul tidak, baby" ucap Jayden sambil menatap lembut pada Tania.
Sean menirukan gaya orang muntah mendengar ucapan Jayden.
"Elu minta tak toyor ya" ucap Jayden pedas pada Sean.
"Aduh pak Lee, jangan. Nanti kalau gesrek otaknya gimana?" bela Nita.
Yang malah membuat tawa Jayden meledak.
"Elu didoain otaknya gesrek ma calon bini elu" ledek Jayden yang membuat bibir Sean manyun lima senti.
"Eh emang ada yang salah ya sama omonganku" tanya Nita polos.
"Aduh Sean, Sean mbok yo sekali-kali pacarmu ini elu tulari isi kepalamu yang sudah terkontaminasi itu. Biar nggak polos-polos amat ...aduuuhh kok dicubit sih, baby"
"Makanya kalau ngajarin yang bener" salak Tania.
Gantian Jayden yang manyun.
"Ha, ha, ha thank you, Tania" ucap Sean.
"Awas lu!" ancam Jayden.
Sean menjulurkan lidahnya.
"Pada ngomongin apa sih. Serius amat" tanya Jayden.
__ADS_1
"Kamu merasa tidak kalau Vera berubah" tanya Tania.
"Iya. Tidak seperti dulu" jawab Jayden.
"Kita berpikir kalau sesuatu terjadi padanya waktu dia menyusuk ke hotel waktu itu" tambah Sean.
"Aku juga menduga seperti itu" lanjut Jayden.
"Tapi itu kan baru dugaan. Perlu bukti agar semua menjadi nyata" Nita ikut nimbrung.
Semua menganggukkan kepalanya.
"Anyway daripada ngomongin yang masih jadi dugaan. Aku punya yang benar-benar kenyataan" ucap Jayden membuat semua penasaran.
Beberapa saat kemudian,
"Ini datanya valid?" tanya Sean.
Jayden mengangguk.
"Apa elu meragukan kemampuan kakak iparku yang bisa dibilang setara bosmu" ucap Jayden.
Tania melirik Jayden saat menyebutkan "kakak iparku". Tania tersenyum lega. Ekspresi Jayden sudah terlihat biasa saat menyebutkan posisi Nina saat ini.
"Elu minta bantuannya? Pantas saja aku tidak bisa menemukan kesalahan agensinya si brengsek itu. Rupanya ada di laporan keuangannya" ucap Sean.
"Bukan itu saja"
Jayden lantas menjelaskan semua yang berhasil dia temukan. Membuat semua orang tercengang.
"Jadi dia hanya korban. Dimanfaatkan"
"Astaga, kasihan sekali"
"Sebenarnya dia baik. Semua kebrengsekannya itu hanya pelariannya saja"
Semua tampak terdiam.
Dua bulan kemudian,
Vera merasa khawatir pada dirinya sendiri. Sudah beberapa hari dia merasa tidak nyaman dengan tubuhnya. Mual, pusing, cepat lelah.
Dia khawatir apa yang dia takutkan terjadi. Dia takut dirinya hamil anak Bryan.
"Hah bagaimana ini?" gumannya sambil mondar mandir didalam kamarnya. Di sela-sela rasa mual yang kerap melanda.
"Aku harus beli testpack besok" tekad Vera.
"Tapi kalau aku beneran hamil anak si brengsek itu bagaimana?" gumannya.
Setelah itu tiba-tiba saja perutnya terasa seperti diaduk-aduk, tidak karuan rasanya. Vera langsung berlari masuk ke kamar mandi. Memuntahkan semua isi perutnya disana.
Semua makanan yang tadi ia makan langsung ia keluarkan. Membuatnya lemas seketika.
"Uuh rasanya menyiksa sekali" keluh Vera.
Dia terduduk di lantai kamar mandinya. Tubuhnya lemas dan wajahnya terlihat pucat.
"Apa semua orang kalau hamil mengalami ini" gumannya lagi.
Dan kembali rasa mual itu datang lagi. kembali dia muntah untuk yang kesekian kalinya.
"Aku benci dirimu Bry. Benar-benar membencimu. Awas saja kalau benar aku sampai hamil anakmu. Tidak akan aku maafkan kamu" rutuk Vera dalam hati.
Seiring rasa mual yang lagi-lagi datang mendera.
__ADS_1
****