
"Bagaimana?" tanya Lee Joon.
"Apanya?" tanya Jayden balik.
Lee Joon menghela nafasnya. Keduanya sedang menikmati waktu mereka di ruang tengah, unit yang dibeli Jayden untuk Lia.
"Hubunganmu dengan Fanny"
Giliran Jayden yang menarik nafasnya.
"Dia mengganti identitasnya di sini. Pantas aku tidak bisa menemukannya dulu"
"Benarkah?" ucap Lee Joon tidak percaya.
"Dia sekarang menggunakan nama Tania. Membuka bisnis konveksi dan sebenarnya dia bisa merancang baju. Tapi dia seperti menutup diri pada dunia"
"Kau mau tahu sebabnya?"
"Kau tahu?"
"Aku bertemu Kai akhir-akhir ini. Dan dia menanyakan track recordmu. Aku rasa dia tahu Fanny ada di sini. Hanya saja dia membiarkannya saja"
"Apa dia tahu aku mengejar adiknya?"
"Mungkin. Tapi satu hal yang aku tangkap dari sikap Kai dan Fanny.Fanny sedang bersembunyi dari Kai. Ataupun keluarganya. Keluarga Hadiwinata"
"Alasannya?"
"Entah. Hanya aku tahu satu hal. Fanny dulu mencintai Kai. Dan hampir menikah"
"What!!!"
Jayden jelas terkejut dengan fakta itu.
"Mereka dipaksa kakek Fanny waktu. Mereka tahu Fanny mencintai Kai. Tapi tidak dengan Kai. Kai hanya mencintai Natasya. Istrinya. Kakak tiri Fanny"
Jayden terdiam.
"Jadi yang meninggalkannya di hari pernikahan mereka adalah Kai"
Lee Joon mengangguk.
"Lebih parahnya lagi Kai meninggalkan Fanny sebelum acara tukar cincin berlangsung. Aku ada di sana waktu itu"
"Dia pasti hancur. Pantas dia sampai mabuk siang-siang" guman Jayden.
"Begitulah yang aku tahu"
Keduanya terdiam. Hingga suara ribut dari arah belakang mengejutkan mereka.
"Lia, jangan makan banyak-banyak. Itu manis sekali"
"Mama, dikit lagi. Ma..." rengek Lia.
Tak lama dua orang anak kembar beda gender. Tampak berlari ke arah mereka.
Kredit google.co
Hyun Ae dan Lia ya guys
"Apa sih ribut-ribut? Duh mana bajunya couplelan lagi" keluh Jayden.
"Neneknya yang membelikan. Suka sekali membelikan barang couple"
"Neneknya ya mamamu" ledek Jayden.
"Eommamu juga" Lee Joon balik meledek.
"Iissh malah pada saling meledek" lerai Nina.
"Ada apa sih?" tanya Lee Joon.
"Ini lihat ulah adikmu. Anakmu kan susah disuruh gosok gigi. Malah dibelikan makanan manis seperti ini" gerutu Nina.
Kredit Instagram.com
"He, he aku tadi lewat toko roti. Terus lihat kue ini cantik kayak Lia. Terus Appa beli deh" ucap Jayden sambil menoel hidung Lia.
Mengabaikan protes Nina.
"Lain kali jangan diulangi lagi" Nina memperingatkan.
"Kalau nggak khilaf big boss" jawab Jayden santai.
Membuat Nina membulatkan matanya. Sedang Lee Joon tampak menatap tajam adiknya.
__ADS_1
Kredit Instagram@eunwoo_th
"Astaga.. Bro. Masih jealous mode on aja" gerutu Jayden.
"Elu buruan kewong. Baru gue kagak jealousan lagi ama lu" ucap Lee Joon mengubah nada bicaranya.
"Yee e, kalau dianya mau. Udah gue nikahin dari kemarin" balas Jayden.
"Siapa yang mau nikah? Appa?" tanya Lia dengan bahasanya yang masih amburadul.
"He e"
"Belalti cudah ketemu eomma dong"
"R, Lia R," ledek Hyun Ae yang memang lebih fasih bicaranya ketimbang Lia.
"Iihh lihat Appa. Abang jahat ama Lia" adu Lia.
"Abang nggak jahat tapi itu benar"
"Appa...." rengek Lia.
"Abang bule Koreamu itu memang begitu Lia. Jadi nggak usah marah-marah" hibur Jayden.
Lia menjulurkan lidahnya ke arah Hyun Ae yang balik menjulurkan lidahnya.
"Pusing gue" keluh Lee Joon.
"Tapi hiburan kan?"
Lee Joon mengangguk mantap.
"Hyun Ae, Lia gosok gigi yuk. Kan tadi sudah makan kue manis" bujuk Nina.
"Ayo gosok gigi sana. Besok Appa belikan lagi kue manisnya" bisik Jayden di telinga Lia.
"Benelan?" tanya Lia.
Jayden mengangguk.
"Plomise?" tanya Lia menunjukkan jari kelingkingnya.
Jayden memutar matanya malas. Kena jebak dia. Lee Joon dan Nina mengulum senyumnya.
"Iya...iya. Appa janji" jawab Jayden mengaitkan kelingking besarnya ke kelingking imut Lia. Membuat kelingking imut itu "tenggelam" dalam kelingking besar Jayden.
"Dia pasti menagihnya" bisik Lee Joon.
"Dia licik seperti Mamanya" ucap Jayden.
"Iya...iya. Pintar" ucap Jayden.
Dan kembali terdengar keributan dari kamar mandi. Membuat keduanya langsung menatap kamar mandi.
"Nggak ada dikangenin. Kalau ada. Ada aja ulah mereka" keluh Lee Joon.
"Syukuri saja Bro. Nggak ingat waktu istrimu melahirkan tu bocil"
"Ingat sih. Tapi kadang kasihan juga Nina. Tensinya suka naik kalau dua-duanya lagi bandel"
"Parah?"
"Mereka pernah mendelete file laporan keuangan Mamanya. Padahal baru juga siap. Itupun "nggarapnya nyolong-nyolong" Eh ketahuan juga. Hampir nangis kejer tu maknya"
Jayden terbahak mendengar curhatan kakaknya.
"Jangan ngomongin aku" teriak Nina dari kamar mandinya.
"Nggak kok Baby" teriak Lee Joon.
"Cuman nggibah dikit" lanjut Lee Joon sambil berbisik.
Membuat Jayden kembali terbahak-bahak.
"Terus bisa dipulihkan lagi nggak filenya?" tanya Jayden penasaran.
"Untungnya bisa. Aku sudah pasang double back up di laptopnya dia. Soalnya pernah kejadian sama Max, file-nya malah diacak-acak sama Rania. Jadi aku pasang buat jaga-jaga. Dan berguna" jelas Lee Joon.
"Perlu tu buat ortu yang punya anak yang lagi rusuh-rusuhnya"
"Betul banget. Sekarang yang kebanjiran job ya perusahaanya Kai. Soalnya aku minta dia yang buatin"
"Dan meledak di pasaran" tebak Jayden.
"Yoi, dia benar-benar jenius soal IT. Kamu tahu cincin kawin istrinya. Dia pasangi GPS. Terus dia pakai DNA system. Selain sidik jarinya sendiri. Tidak ada yang bisa melepas cincin itu dari jari istrinya"
"Itu posesif bukan genius" sangkal Jayden.
"Tapi genius kan, bisa buat hal seperti itu. Dia memang pantas jadi penerus klan Liu dari Shanghai"
"Dia asli sana" tanya Jayden.
__ADS_1
Lee Joon mengangguk sambil meminum kopinya.
"Hebaat..." puji Jayden.
***
Pagi menjelang. Tania tampak sudah bersiap dengan satu koper kecilnya.
"Ini saja?" tanya Vera.
Tania mengangguk.
"Jaketnya?"
"Ada di paper bag. Aku bawa tiga. Cukup kan ya?"
"Cukuplah"
Lantas keduanya turun ke lobi. Sudah siap dengan pakaian masing-masing. Vera dengan setelan kerjanya. Dan Tania dengan style kasualnya.
"Titip ya pak Yanto. Pelan-pelan saja" ucap Vera pada supir kantornya.
"Siap bu Bos. Sekarang semua bisa lewat tol. Jadi bisa lebih cepat sampai" ucap pak Yanto sambil memberi hormat.
"Benarkah?" tanya Vera.
"Iya. Lewat tol Ngawi-Kertosono paling tiga jaman sampai ke Sarangan" jelas pak Yanto.
"Wah cepat banget dong. Dulu saja perlu lima jam lebih" gerutu Vera.
"Besok kita kesana bareng-bareng yuk" ajak Tania.
"Iya. Siapa tahu sudah nggak jomblo lagi. Kan bisa tu naik kuda couplelan keliling danau. Pasti romantis banget" ucap Vera sambil membayangkannya.
"Iya-iya. Besok kita cari pacar bareng-bareng. Setuju?"
"Setuju!" balas Vera.
"Berangkat dulu ya. Bye"
"Bye. Have fun ya" teriak Vera.
***
Sean masuk terburu-buru ke kantor Vera. Langsung masuk ke ruang Tania. Di begitu merutuki kebodohannya. Yang tidak langsung memberitahu siapa Jayden.
"Tania...Tan.." panggil Sean.
"Cari siapa?" tanya Vera.
"Tania mana? Tania mana?"
"Lah dia nggak pamit ke kamu? Dia ke Sarangan buat healing ma liburan"
"Sudah berangkat?"
"Sudah"
"Pasti sekarang tu anak lagi mewek deh, patah hati" sesal Sean.
"Kemarin sih nggak. Tahu deh sekarang"
"Memangnya kamu mau ngomongin apa?"
"Ini soal Jayden"
"Kenapa dengan dia?"
"Kamu tahunya Jayden itu sudah kewong terus dah punya anak?"
Vera mengangguk.
"La Tania bilang begitu. Emang kenapa?"
"Dia salah info. Jayden itu masih single"
"Ha maksud kamu?"
"Yang sudah nikah itu kakak kembarnya. Lee Joon. Mukanya mirip seratus persen ma muka Jayden. La wong kembar identik"
"Kamu serius"
"Triple rius kalau bisa"
"Berarti tu anak masih ada harapan dong sama si Jayden"
"Masihlah. Kasihan banget tu anak sudah salah paham sama Jayden. Jadi patah hati deh"
"Siapa yang salah paham. Sama patah hati" tanya suara baritone dari arah pintu.
Sontak membuat keduanya menoleh. Langsung terkejut melihat siapa yang datang.
__ADS_1
"Alamak. Si tuan Lee datang. Kita terciduk" batin Vera dan Sean bersamaan.
****