Mengejar Cinta Satu Malam

Mengejar Cinta Satu Malam
Promise Me


__ADS_3

"Pak Bos, Anda tidak akan percaya melihat ini" lapor Rey pada Jayden sambil menunjukkan laptopnya.


Pria itu tampak serius menatap laptopnya. Mengenakan kemeja putih serta kacamata membuatnya terlihat smart.



Kredit Instagram@wuli_eunwoo


"Wah dia pengen tinggal lama di penjara kayaknya" ucap Jayden sambil menyeringai.


Rey pun ikut tersenyum smirk.


"Kirimkan itu ke pak komandan. Aku tidak sabar melihatnya jadi DPO alias buronan" ucap Jayden dingin.


"Siap, pak Bos" jawab Rey girang.


Jayden sekilas melirik Tania yang masih tertidur. Lantas melanjutkan pekerjaannya. Ditemani Rey tentunya.


***


Vera langsung berteriak sambil menutup telinganya. Begitu suara petir mulai terdengar. Panik dan takut jelas terlihat di wajahnya.


"Sayang kamu tidak apa-apa?" tanya Bryan ikut panik.


"Aku takut dengan petir" jawabnya terbata-bata.


Mendengar itu,Bryan langsung memeluk Vera. Dan Vera langsung memeluk balik tubuh Bryan. Menyembunyikan wajahnya di dada bidang Bryan.


"Sudah-sudah. Tidak apa-apa. Ada aku" ucap Bryan.


Biasanya Tania yang akan selalu memeluknya jika hujan petir berlangsung.


Selang beberapa waktu. Petir mulai berkurang.


"Tidurlah. Suara petirnya sudah hilang" ucap Bryan. Perlahan membawa Vera masuk ke kamarnya.



Kredit google.com


Sebuah kamar bernuansa coklat. Lantas membiarkan Vera naik ke kasur queen size-nya.


"Tidurlah. Aku di luar kalau perlu apa-apa" ucap Bryan sambil berjalan keluar kamar Vera. Namun baru beberapa langkah. Vera memanggil.


"Bry, jangan pergi" pinta Vera melirik ke arah jendelanya yang langitnya masih berkelap kelip.


Karena biasanya juga, Tania akan menemaninya tidur. Bryan menarik sudut bibirnya.


"Bahkan alampun mendukungku" sorak Bryan dalm hati.


"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Bryan sok polos.


(Sok polos lu. Padahal kerjaan lu tukang molosin perempuan 🤣🤣)


"Suruh aku menemanimu tidur" doa Bryan.


Vera diam sambil menggigit bibir bawahnya.

__ADS_1


"Eh jangan gitu dong bikin gemas saja" gerutu Bryan dalam hati.


"Temani aku" ucap Vera pada akhirnya.


"Oohhh yes!!!!!"


Bryan hampir melompat saking girangnya. Tak menunggu lama. Mantan casanova nomer dua itu naik ke kasur Vera. Vera langsung merapatkan tubuhnya begitu Bryan duduk di sebelahnya.


"Tidurlah" ucap Bryan dengan senyum tak lekang dari wajahnya.


"Ahh sepertinya aku harus kasih hadiah ke bule Cina itu" batin Bryan.


Kalau Sean tidak memaksa Vera agar ditemani olehnya. Tidak akan ada adegan peluk-pelukan dikasur seperti ini. Malam itu adalah terindah bagi Bryan.


***


Bryan mendengus kesal, kala Dika sang asisten pribadinya menjemput dirinya dan Vera keesokan paginya. Vera memaksa bekerja karena Tania masih dirawat. Dia khawatir Nita dan Hardi akan keteteran soal pekerjaannya.


"Kamu kira aku bencis apa? Kenapa kamu bawain pakaian dengan colour seperti ini?" bentak Bryan dengan warna pakaian yang dibawakan Dika semalam.


Sedang dibelakangnya. Vera tak henti-hentinya tertawa. Melihat setelan berwarna pink yang melekat di tubuh Bryan.



Kredit google.com


"Bukannya di Korea banyak cowok yang suka pakai warna pink" Dika memberi alasan.


"Tapi aku tidak suka!" kesal Bryan.


"Kayaknya aku kalah feminim deh dibanding kamu" celetuk Vera membuat Bryan semakin kesal saja.


Membuat Dika seketika ingin muntah. Bagaimana tidak. Dia kenal sang Bos sebagai pria yang tidak akan takhluk pada satu wanita. Tapi lihatlah sekarang. Bosnya seakan menjilat ludahnya sendiri. Sudah bucin akut pada Vera.


Vera langsung mencebikkan bibirnya. Melangkah meninggalkan Bryan.



Kredit google.com


Bumìl itu terlihat cantik dengan blus putih dan blazer hitamnya. Membuat Dika melongo melihat Vera.


"Apa lihat-lihat!" bentak Bryan melihat kelakuan sang asisten.


"Astaga Bos. Ngelirik dikit doang"


"Sekarang itu dilarang!" ucap Bryan memperingatkan.


Mereka masuk ke mobil dengan Dika sebagai supirnya.


"Apa yang kuminta sudah kau siapkan?" tanya Bryan.


"Sudah. Satu jam lagi mereka akan berkumpul" lapor Dika.


"Apa kau tidak tahu kalau Karina satu tim dengan Michael" selidik Bryan.


Sementara Vera hanya jadi pendengar yang baik. Lebih menikmati masa tenangnya. Karena biasanya waktu seperti ini dia lagi parah-parahnya muntah. Tapi sejak semalam. Perutnya nyaman-nyaman saja.

__ADS_1


Sedikit melirik Bryan.


"Apa karena dia?" batin Vera.


Sedang Bryan masih sibuk berbicara dengan Dika. Hingga tak terasa mereka sampai di kantor Vera.


"Aku akan menjemputmu untuk makan siang?" ucap Bryan saat Vera hendak turun.


"Tidak usah. Kamu akan sibuk hari ini" ucap Vera.


Bryan terdiam. Memang betul kemungkinan dia akan sibuk. Tapi dia juga ingin menunjukkan perhatiannya pada Vera. Membuktikan kalau dia benar-benar sudah berubah. Juga karena dia ingin bertemu Vera.


"Tapi aku ingin memastikan kamu makan dengan benar" Bryan ingin memastikan.


"Aku jadi tukang makan sekarang" ketus Vera.


"Sayang..."


Vera mendelik dipanggil sayang oleh Bryan.


"Iya deh. Iya. Aku gak maksa. Tapi beneran ya kamu makan siang.Jangan lupa"


"Idih jangan lebay deh. Ada Nita yang ngingetin aku. Dah aku pergi" ucap Vera.


Membuka pintu. Lalu keluar dari mobil Bryan.


"Kamu dengar itu Ka? Dia bilang aku lebay. Oh my God. Perempuan lain akan klepek-klepek dapat perhatian dariku. Tapi dia dengan santainya mengataiku lebay. Kalau tidak ingat dia sedang hamil sudah aku seret dia ke kasur" omel Bryan sepanjang jalan.


Membuat Dika hanya bisa mengulum senyumnya. Melihat bosnya frustrasi gegara seorang perempuan.


Bryan masuk ke kantornya setelah menukar jas pink-nya dengan jas hitam milik Dika. Membuat Dika yang gantian jengkel menatap jas pink yang kini melekat ditubuhnya.


"Enak kan dikerjain" bisik Bryan.


"Kalau nggak ingat demi kelangsungan gaji. Sudah kumaki habis-habisan kau pak Bos" batin Dika dongkol.


Pada akhirnya rapat yang diinginkan Bryan bisa berlangsung. Dia mengumumkan akan mengadakan perombakan besar-besaran di agensi miliknya. Dia akan membersihkan nama agensinya yang sudah tercemar gara-gara ulah Michael dan orang-orangnya.


Bryan secara pribadi meminta maaf kepada para model dibawah umur yang direkrut Michael dan dipekerjakan paksa olehnya. Bryan bersedia mengganti rugi setiap kerugian yang diderita oleh para model dibawah umur itu. Dan bersedia menerima mereka di agensi miliknya jika suatu hari nanti mereka sudah cukup umur. Dan tentu saja jika mereka berbakat.


Karina dan yang terlibat dengan kejahatan Michael langsung dipecat hari itu juga. Mereka juga diwajibkan memberi keterangan di kantor polisi. Setelah itu terserah kantor polisi mau memberi tindakan apa pada mereka.


Juga staf yang bekerja di bagian keuangan. Yang selama ini membantu Michael dan mamanya memanipulasi data dan laporan keuangan mereka.


Bryan langsung memijat pelan pelipisnya. Pusing melanda kepalanya tiba-tiba.


"Anda oke pak Bos?" tanya Dika.


Meletakkan secangkir teh hijau di meja bosnya. Sedang Bryan menggeleng mendengar pertanyaan asistennya.


"Maaf pak Bos. Saya lalai dalam hal ini" ucap Dika meminta maaf.


Cukup sadar kalau dia membuat kesalahan fatal saat ini. Tidak teliti hingga Michael bisa bergerak dengan leluasa di kantor agensi milik bosnya.


"Sudahlah. Ini juga kesalahanku" jawab Bryan.


Dia juga merasa bersalah kali ini. Hal sebesar ini bisa lolos dari pengamatannya.

__ADS_1


"Aku membuat banyak kesalahan besar. Tapi aku akan berusaha memperbaikinya. Promise me" tekad Bryan.


****


__ADS_2