Mengejar Cinta Satu Malam

Mengejar Cinta Satu Malam
Awal Kehancuran


__ADS_3

Jayden melongo, ketika Natasya menyentuh dinding yang ada depannya. Dinding itu bergeser. Dan tampaklah sebuah layar monitor. Yang langsung menyala begitu Natasya sentuh.


"CCTV?" tanya Jayden.


Natasya mengangguk. Keduanya menarik nafas lega begitu melihat Tania yang hanya duduk diam dipojokan sambil menangis.


"Mau masuk?"


"Apa bisa?"


Natasya tersenyum. Sambil perlahan dia menyentuh dinding sebelah layar monitor CCTV. Memperlihatkan akses sidik jari. Yang lagi-lagi membuat Jayden terpana.


"Dia menguncinya manual. Tapi aku bisa membukanya secara digital" seloroh Natasya.


"Iisshh tidak asyik. Tidak ada privasi. Coba kalau kalian masuk waktu kita lagi bercin...ta. Berabe nggak tu"


"Wooi pakai filter dong tu mulut. Asal njeplak saja"


"La memang kenyataannya begitu"


"Pintunya akan langsung terkunci kalau sensor panasnya diatas empat puluh derajat kecuali untuk demam. Sedang CCTV-nya tidak akan bisa diakses kalau ada part dua satu plusnya"


Jayden melongo.


"Alah situ aja ngomongnya sama. No filter juga" gerutu Jayden.


"Kan lebih halus bahasaku"


"Sama saja. Kalau kriterianya seperti itu. Akan banyak yang dirugikan. Bisa saja yang terjadi didalam sana adalah pelecehan dan sejenisnya"


"Ini semua masih prototipe. Masih dikembangkan untuk lebih menyempurnakan. Seperti yang kamu bilang. Kami masih mengembangkan sensor untuk memindai kejadian didalam itu dalam konteks legal atau diperbolehkan. Contoh hubungan suami istri. Atau illegal yang masuk dalam kontek kejahatan seperti pelecehan, perselingkuhan dan sebagainya" jelas Natasya.


Natasya meletakkan telunjuknya di tempat scan.


"Finger Print Identified"


Sebuah notifikasi berbunyi. Diikuti bunyi "klik" pintu yang terbuka.


Perlahan keduanya masuk ke kamar Tania. Melihat gadis itu menangis sambil memeluk lututnya.


"Baby..." panggil Jayden lirih.


Tania malas menatap wajah Jayden. Dia masih diam dengan posisi yang sama. Melihat hal itu, hati Jayden terasa sakit. Hanya dengan melihat saja. Semua orang juga akan berpikir kalau dirinya dan ja***** itu sedang otewe bercin..ta.


"Baby, aku bisa jelaskan. Aku....kita dijebak untuk datang ke sana. Dan melihat hal itu terjadi" Jayden berkata pelan.


"Tapi kamu menikmatinya kan?" tanya Tania galak.


"Menikmati apanya? Dadanya kecil. Dia tidak seseksi kamu...astaga sakit Sya" Natasya langsung menginjak kaki Jayden. Demi mendengar omongan mesuum Jayden. Pun dengan Tania yang langsung mendelik. Mendengar ulasan absurd Jayden soal perempuan itu.


"Come on By, percaya padaku. Aku tidak ngapa-ngapain dia"


"Itu karena aku datang tepat waktu. Coba kalau tidak. Pasti kalian sudah asyik begituan" ucap Tania marah.


"Kamu cemburu?" todong Jayden.


"Aku sakit hati...brengsek!!" ucap Tania merangsek maju. Lantas memukul dada bidang Jayden.


Sedang Jayden hanya pasrah menerima pukulan dari Tania. Yang lumayan....kuat.


"Brengsek! Bilangnya sudah tobat! Tapi senggol dikit saja sudah on fire. Dasar brengsek!" Tania berteriak sekuat tenaga.


Membuat Jayden dan Natasya harus memejamkan mata. Mendengar teriakan Tania.


Setelah itu. Tania mundur, menjauh dari Jayden.


"Pergi..aku tidak mau melihatmu!" usir Tania.

__ADS_1


"Tapi By...


"Aku bilang pergi. Pergi....!" teriak Tania histeris.


Natasya langsung mendorong Jayden keluar kamar Tania.


"Aku belum selesai bicara dengannya" Jayden menolak untuk keluar dari kamar Tania.


"Beri dia waktu untuk berpikir" saran Natasya.


"Tapi...


"Dia akan baik-baik saja. Dia hanya perlu menenangkan diri" saran Natasya lagi.


Jayden terdiam. Lalu menarik nafasnya dalam.


"Oke, aku pergi dulu. Kabari aku kalau ada apa-apa" pinta Jayden.


"Tentu saja"


Jayden langsung melesat keluar dari kediaman Atmaja.


"Dimana kalian?"


"..."


"Aku kesana sekarang" ucap Jayden memacu kuda jingkraknya dengan kecepatan penuh. Tidak sabar ingin meluapkan amarahnya.


Di tempat lain,


Wanita itu tampak menatap penuh kekaguman pada sesosok pria yang duduk dihadapannya.


"Beeuuuhh ada lagi makhluk tampan selain Jayden Lee di muka bumi ini" batin wanita itu.



Kredit Instagram @_Iam_linyi


"Jadi kenapa tuan tampan ini ingin bertemu denganku?" tanya wanita itu sensual.


Sambil menyilangkan kakinya ke atas kaki lainnya. Memamerkan paha putih mulusnya. Berharap dua pria dihadapannya itu akan tergoda.


Kai dan Leo langsung berdecih melihat pemandangan itu.


"Kau pikir kami akan tergoda dengan tubuh kotormu itu?" ucap Kai sadis.


"Kau belum mencobanya tuan. Belum tahu aku bisa memanjakanmu di ranjang sampai pagi"


"Dasar murahan!" guman Leo.


"Aku setuju denganmu" sahut Kai cepat.


Wanitu itu mendelik tidak percaya. Ada yang tidak tergoda dengan tubuh mulusnya.


"Kau terkejut? Ha.. ha.. bahkan wanita kami bisa membuat kami tidak keluar dari kamar selama seminggu jika kami mau. Kau...siapa kau?" Kai meremehkan.


Wanita itu jelas marah mendengar ucapan pedas dan hinaan dari Kai.


"Kalau begitu apa yang kau inginkan dariku?" marah wanita itu.


"Aku ingin menghancurkanmu. Kau berani mengusik adikku. Maka kau harus terima akibatnya" ucap Kai penuh amarah.


Mendengar hal itu, wanita itu tertawa sumbang. Meremehkan Kai.


"Memangnya apa yang kau bisa lakukan? Oh, jadi gadis cengeng itu adikmu"


Kai menyeringai mendengar ucapan wanita didepannya itu.

__ADS_1


"Ya, dia gadis cengeng yang cantik. Dan sebentar lagi gadis cengeng itu akan membuatmu hidup dijalanan"


"Wah lihat dia...percaya diri sekali dia. Memangnya apa yang akan dia lakukan untuk bisa melemparku ke jalanan" sombong wanita itu.


Dia pikir dua pria didepannya itu hanya menggertaknya. Mereka tidak akan berani menyentuhnya.


"Bukan dia yang akan melemparmu ke jalanan. Tapi aku. Jangan berpikir aku tidak bisa melakukannya" Kai kembali berucap.


"Buktikan kalau begitu" tantang wanita itu.


"Leo..." ucap Kai.


Leo meletakkan selembar kertas diatas meja. Didepan wanita itu.


"Bacalah" perintah Kai.


Wanita itu meraih kertas yang ada diatas meja. Lantas membacanya.


"Apa ini?" tanya wanita itu tidak paham.


Kai diam. Kali ini Leo yang bicara.


"Itu surat perintah deportasi. Anda harus keluar dari negara ini dalam waktu 2 kali dua puluh empat jam. Kalau tidak pihak imigrasi akan menjemput paksa Anda dan memulangkan Anda. Kalau Anda melarikan diri. Anda otomatis akan masuk DPO alias jadi buronan. Dan satu lagi. Anda dicekal untuk masuk negara ini. Dengan kata lain Anda diblack list, tidak diizinkan datang ke negara ini. Dan itu berlangsung untuk jangka waktu yang tidak dapat kami tentukan" jelas Leo panjang lebar.


Membuat wanita itu membulatkan matanya. Dideportasi? Dicekal? Dia tidak salah dengar kan.


"Kau bercanda denganku. Kau tidak bisa melakukan ini padaku. Memangnya kau siapa?"


"Siapa aku tidak penting. Sekarang pergi dan enyah dari hadapanku"


"Kau tidak bisa mengusirku. Aku akan menghubungi tuan Han" ucap wanita itu meraih ponselnya. Menghubungi seseorang.


Dia tampak berbicara pada seseorang. Awalnya dia begitu senang. Tapi lama-kelamaan wajahnya langsung berubah muram. Perlahan menatap tidak percaya pada dua pria dihadapannya.


Detik berikutnya. Wanita itu sudah bersujud memohon ampun pada Kai.


"Tuan, aku mohon ampuni aku. Aku tidak tahu siapa mereka. Aku hanya menjalankan perintah orang" ucapnya menghiba.


"Kau pikir aku akan semudah itu mengampunimu. Jangan mimpi! Kau membuat adikku menangis. Dan kau harus membayarnya seribu kali lipat lebih sakit daripada yang dirasakan adikku" jawab Kai dingin.


Sungguh wanita itu telah salah memilih lawan kali ini. Dia terus menangis tersedu. Memohon ampun. Tapi Kai tidak menggubrisnya sama sekali.


"Tuan aku mohon ampuni aku..."mohon wanita itu lagi.


"Jangan dengarkan air mata buayanya" ucap suara bas dari arah pintu masuk.


"Lama sekali kau. Aku muak melihatnya" gerutu Kai.


Menyambut Jayden. Yang membuat wanita itu semakin ketakutan.


"Jadi apa yang ingin kau lakukan padanya?" tanya Kai pada Jayden yang langsung duduk di sebelah Kai.


"Menghancurkannya" jawab Jayden dingin.


Wanita itu langsung terduduk lemas.


"Leo, perintahkan semua agensi untuk membatalkan kontrak dengan wanita ini" ucap Jayden dengan tatapan tajamnya.


"Tunggu, kau tidak bisa melakukan ini padaku. Kau harus membayar pinaltinya"


"Pinalti? Denda? Apa kau tahu semua agensi itu ada di bawah naungan Liu Corp dan LJ Group? Liu Corp adalah miliknya dan LJ Group adalah milikku" jelas Jayden. Melirik ke arah Kai.


Wanita itu terkejut luar biasa. Dia sampai kehilangan kata-kata. Tidak sanggup bersuara.


"Kau terkejut? Selamat menikmati kehancuranmu...Leo seret dia keluar. Aku muak melihatnya" perintah Jayden.


Dua orang langsung menyeret wanita itu keluar. Tidak hanya keluar kamar. Tapi keluar hotel. Membuatnya jadi tontonan orang.

__ADS_1


Wanita itu masih tidak percaya. Kalau semua yang dia lakukan akan menjadi awal kehancurannya.


***


__ADS_2