
Jayden tersenyum menatap Tania yang terus saja manyun. Gadis itu sedang dirias oleh kru MUA.
Setengah jam sebelumnya,
"Apa kamu gila? Menyuruhku jadi model. Tidak...tidak..aku tidak mau" Tania hampir berteriak mendengar permintaan Jayden. Supaya menjadi model bagi bajunya sendiri.
"Oohh baby please. Help me. Tidak ada model yang cocok available hari ini" Jayden coba membujuk.
"Tidak mau!" Tania kekeuh pada pendiriannya.
"Oke tidak masalah kalau kamu tidak mau. Tapi aku tidak janji bisa memberikan jawabannya hari ini. Karena aku mungkin akan sibuk sekali. Secara modelnya aku belum dapat"
Tania sejenak berpikir. Dia benar-benar penasaran dengan kejadian malam itu. Apa yang dia dan Jayden lakukan malam itu. Jayden mengulum senyumnya. Melihat wajah bingung Tania. Jayden cukup tahu sifat Tania yang jika sudah panasaran akan melakukan apapun. Asal dia bisa tahu jawabannya.
"Bagaimana? Kalau tidak aku harus pergi mencari modelnya sekarang. Kamu bisa pulang sendiri kan?" tanya Jayden sambil berbalik menuju pintu keluar.
Namun baru beberapa langkah. Tania bersuara.
"Oke, oke... aku mau...
"Got it" batin Jayden tertawa penuh kemenangan.
"Dengan satu syarat"
"Apa?"
****
"Kenapa dia tidak ingin wajahnya diekspose. Padahal dia sangat cantik" ucap Sebastian sambil mempersiapkan lensa kameranya. Sedang para kru menyiapkan properti pendukung lainnya.
Sebastian sedikit heran dengan permintaan modelnya yang satu ini.
"Don't ekspose my face clearly"
(Jangan tunjukkan wajahku dengan jelas"
Itu syarat yang diajukan Tania. Ketika sebagian besar orang ingin menunjukkan wajahnya di depan kamera. Tapi tidak dengan gadis ini.
"Dia bukan model"
"I know it. But why? She has a beautifull face. Why does she has to hide it? Kenapa kita tidak tunjukkan saja wajah cantiknya itu" Sebastian penasaran.
(Aku tahu. Tapi kenapa? Dia punya wajah yang cantik. Kenapa dia harus menyembunyikannya)
"Aku tidak ingin mereka tahu keberadaanku. Majalahmu akan dirilis online. Besar kemungkinan kakakku akan tahu aku di sini. Aku belum siap bertemu mereka" alasan Tania tidak ingin wajahnya diekspose kamera Sebastian.
"She is my future wife. Aku tidak ingin ada yang menyakitinya. Jika orang tahu dia adalah calon istriku" kali ini Jayden yang beralasan.
Sebastian sejenak menatap Jayden. Dia sedikit paham dengan posisi Jayden. Betapa banyaknya wanita di luaran sana yang ingin berada di samping seorang Jayden Lee. Dan tidak sedikit yang akan melakukan segala cara untuk mencapai tujuannya itu. Termasuk cara kotor dan licik.
Sebastian cukup tahu, bagaimana pria disampingnya ini melakukan segala cara agar dirinya tetap bersih. Meski Sebastian juga tahu betapa brengseknya Jayden di masa lalu. Tetapi sebagai teman. Bukankah dia sepatutnya ikut senang jika Jayden ingin berubah menjadi lebih baik.
"Boleh aku tanya sesuatu?"
Jayden mengangguk.
"Diakah yang membuatmu berubah sejak dua tahun ini?"
"Actually, bukan dia. Yang benar-benar membuatku berubah...dia tidak bisa kumiliki. Tapi yang ini salah satu alasanku untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik. Dan yang ini harus jadi milikku" ucap Jayden.
"This one must be so special..."
(Yang ini pastilah sangat spesial)
"Kamu benar. Hanya dia satu-satunya yang bisa mengalihkan hatiku dari wanita yang sudah mengubahku"
"Yeah I see. Tidak heran jika kamu begitu...yeah crazy about her..cause she is very beautifull...
Sebastian memberi kode untuk berbalik kepada Jayden. Dan ketika Jayden berbalik dia melongo melihat bagaimana cantiknya Tania dengan gaun rancangannya sendiri.
Tak hanya Jayden. Semua yang ada di sana berguman memuji kecantikan Tania. Membuat Tania tersipu malu karena semua orang menatap sambil berbisik-bisik saat melihatnya.
"Apakah aku terlihat aneh. Kenapa semua orang menatapku seperti itu" tanya Tania pada Jayden. Sedang Jayden tak bisa melepaskan tatapan matanya pada Tania.
Jayden perlahan mendekati Tania. Jantungnya berdebar begitu kencang melihat kecantikan Tania.
"Bolehkah aku membawamu pulang. Dan mengurungmu di kamarku. Kamu cantik sekali, Baby"
__ADS_1
Ucap Jayden sambil menuntun Tania menuju set yang sudah disiapkan untuknya. Tania hanya tersenyum mendengar hal itu.
"Oke, modelnya sudah siap. Kita bisa mulai photoshootnya" ucap Sebastian.
Sejenak Sebastian menatap Tania.
"Don't be nervous. I know this is your first time. Relaks and enjoy" saran Sebastian.
(Jangan takut. Aku tahu ini kali pertama untukmu. Rileks dan nikmati saja"
Awalnya Tania begitu canggung. Dengan lensa Sebastian yang terus membidik ke arahnya. Juga dengan kilau lampu yang begitu terang. Beberapa kali Sebastian tampak mengarahkan beberapa gaya untuk Tania. Namun setelah beberapa saat. Tania secara alami mampu berpose sendiri. Tanpa arahan dari Sebastian.
"Wow, pilihanmu tepat sekali, Lee. Gaun itu hidup saat gadismu memakainya. Dan lihatlah dia begitu berbakat. Tidak ingin mengorbitkannya? Aku jamin dia akan bersinar dalam waktu yang singkat" ucap Sebastian panjang lebar. Sambil melihat monitor. Melihat hasil bidikan kameranya.
Mereka sedang beristirahat sambil menunggu Tania berganti baju. Dan touch up make up-nya.
Jayden sendiri sudah terpesona sejak Tania memulai photoshootnya.
"Aku tahu dia photogenic. Tapi aku tidak ingin publik mengenalnya"
"Sayang sekali kamu tidak mengizinkanku mengekspose wajahnya. Nilainya akan sempurna seratus jika aku bisa membidiknya lengkap dengan wajahnya"
"Kamu boleh memiliki file lengkapnya. Tapi hanya untuk koleksi pribadimu. Tidak untuk dipublikasikan. Anggap saja bonus untukmu. Asal jangan lupa permintaanku"
"Benarkah?"
Jayden mengangguk.
"Setidaknya aku bisa pamer pada Edward. Akhirnya aku bisa menemukan model dengan nilai sempurna. Meski hanya untuk koleksi pribadi"
"Terserah. Tapi kalau sampai Edward mengejarmu. Aku tidak ikut campur. Ini saja dia memintaku sendiri yang mengawasi editingnya"
"Ck, ck, ck she's so amazing, Lee. Aku ambil dari angle manapun dia tetap bisa menunjukkan sinarnya. Menakjubkan. Sayang beribu sayang"
"Dia tidak berminat jadi model. Dia lebih suka jadi designer"
"Dia designer juga?"
"Gaun yang dia pakai gaun dia sendiri"
"Are you serious?"
Jayden mengangguk.
"Ngawur kamu ini kalau ngomong. Sudah aku ganti dulu. Tinggal satu shoot lagi kan"
Sebastian mengangguk. Mulai menyiapkan kameranya lagi. Saat Tania sudah siap di set.
"Okay, let's start again"
Dan jepret, jepret, jepret...
"Okay girl, that good"
"Another one"
"Again"
"Smile"
"Look at me"
"You're so amazing, girl"
"Okay, good job"
Sebastian menutup sesi photoshoot itu dengan pujian yang tak henti-henti keluar dari bibirnya.
"Is it over?" tanya Tania.
"Not yet" kali ini Jayden yang menjawab.
Pria itu keluar dengan setelan suit.
"Mau ngapain Kak?" tanya Tania.
Ketika Jayden ikut masuk ke set. Dengan beberapa kru menambahkan properti pendukung. Bunga, pita, balon.
__ADS_1
Tania tampak bingung. Tapi semua orang tampak tidak memperhatikannya. Sedang Jayden hanya diam mengamati wajah bingung Tania.
"Okay, everything is ready" suara Sebastian memecah kebingungan Tania.
"Can you make a romantic pose? Both of you" titah Sebastian.
(Bisakah kalian berpose romantis. Kalian berdua)
Tania jelas bingung. Tapi tidak dengan Jayden. Pria itu mendekat ke arah Tania.
Jayden mendekatkan wajahnya ke wajah Tania yang membuat Tania reflek menutup matanya.
Dan " jepret" kamera Sebastian langsung membidik moment itu.
"Such a good angle" guman Sebastian.
Kredit google.com
Anggap saja seperti ini pose ya guys,
"Okay. Ulangi lagi yang seperti tadi" perintah Sebastian.
Jayden kembali mendekat ke arah Tania. Membuat gadis itu reflek mundur tapi Jayden dengan cepat meraih pinggang Tania. Hingga gadis itu tidak berkutik di buatnya.
Perlahan Jayden mencium kening Tania mesra. Membuat jantung Tania bermaraton ria. Dan kembali moment itu diabadikan oleh lensa Sebastian.
"Good job boy" puji Sebastian.
Kredit google.com
Anggap saja seperti ini 😄😄
"Kenapa gaunmu begitu terbuka" bisik Jayden, dia tadi sempat merasakan punggung Tania yang sedikit terbuka.
"Aku hanya membuatnya. Tidak terpikir akan aku pakai sendiri" jawab Tania.
"Tapi kamu cantik sekali baby" ucap Jayden lagi.
Dan interaksi bisik-bisik itu tidak lepas dari lensa kamera Sebastian yang terus berkilat. Menandakan dia terus membidik moment romantis yang ada di depannya itu.
"Hey boy, can you make it better?"
"Like this?"
Jayden mendekatkan wajahnya lagi ke wajah Tania.
"Closer" seru Sebastian.
Jayden maju lagi.
"Closer, boy"
Satu langkah lagi.
"Again"
Jayden mendelik sebal ke arah Sebastian. Dan "cup", Jayden menempelkan bibirnya ke bibir Tania.
"Itu kan yang kamu mau?" cebik Jayden antara kesal dan bahagia.
Sebastian tersenyum mendengar ucapan Jayden.
"Oh come on Lee. Bukankah kamu juga menyukainya?" goda Sebastian.
Tania heran dengan ini semua. Setahunya tidak sesi couple dalam photoshoot ini. Tapi kenapa Jayden malah jadi couplenya.
"Sebenarnya ini ada apa ya? Kan nggak ada sesi couplenya. Kok kakak malah ikut jadi coupleku" tanya Tania pada akhirnya.
Jayden tersenyum. Lantas berbisik di telinga Tania.
"Anggap saja kita nyicil prewedding kita" ucap Jayden santai.
Yang langsung membuat Tania membulatkan matanya menatap wajah tampan Jayden.
__ADS_1
****