
Janji suci usai diucapkan. Bisa dilihat, Bryan mencium kening Vera lama sekali. Seolah menggambarkan betapa dia begitu bersyukur atas datangnya hari ini.
Potongan lirik dari lagu lawas milik Westlife, yang berjudul Swear It Again terdengar mengalun lembut di seluruh venue pernikahan.
l'm never gona say goodbye
cause I never wanna see you cry
I swore to you my love would remain
and I swear it all over again and I
I never wanna treat you bad
cause I never wanna see you sad
I swore to share your joy and your pain
and I swear it all over again
The more I know of you
is the more I know I love you
and the more that I'm sure
I want you forever and ever more
And the more that you love me
the more that I know
that I'm never gonna let you go
gotta let you know that I
Seolah menggambarkan bagaimana janji Bryan untuk tidak lagi menyakiti hati Vera, sang istri tercinta.
"Kenapa lu?" tanya Jayden pada Sean yang malah meletakkan kepalanya di atas meja. Menggunakan dua tangannya sebagai alas. Menatap lurus ke altar. Dimana Vera dan Bryan tengah bertukar cincin.
Kredit Pinterest.com
"Gue terhura, Bro. Nggak lihat apa?" jawab Sean hampir mewek.
"Yeah dia nangis" ledek Jayden.
Sean mencebik kesal mendengar ucapan Jayden. Sedang Nita yang berada di sebelah Sean langsung memeluk bahu sang kekasih.
Semua mengulum senyum. Melihat tingkah Sean yang kadang memang seperti anak kecil. Tapi sudah sibuk pengen belah duren.
"Makanya buruan nyusul" usul Tania.
"Mesti dong. Betul nggak Rey" jawab Sean berubah cerah.
"Yoi" jawab Rey tak kalah sumringahnya.
"Kalian kapan?" tanya Maura.
"Kami?" tanya Tania balik.
Semua mengangguk.
"Kalian tahu kan. Kami harus menyelesaikan urusan di Jakarta dulu. Sebelum kami menikah" jawab Jayden menatap lurus pada Tania. Memakai setelan simple. Hanya kaos oblong hitam dan jas dengan warna senada. Membuatnya terlihat semakin menawan.
__ADS_1
Kredit Instagram@cha_eun_woo316
Tania bergeming mendengar kata Jakarta. Haruskah dia pulang ke Jakarta? Pikirnya menatap balik mata tajam Jayden yang menatapnya dengan satu tangan menopang pipinya. Membuat wajahnya sedikit miring saat menatap Tania.
"Betul juga. Ayahku baru bisa datang bulan depan" guman Sean.
"Jadi sabar ya Sayang. Tunggu ayahku datang. Baru aku akan melamar ke rumahmu" tambah Sean kemudian. Membuat rona merah langsung terlihat di wajah manis Nita.
"Berarti di sini yang sudah siap adalah Rey" timpal Tania.
Rey mengangguk malu. Pun dengan Maura.
"Pak Bos sudah melamarkan Maura untukku minggu lalu ke keluarganya. Soalnya papa dan mama belum bisa datang ke sini" ucap Rey tersipu.
"Waah kenapa tidak bilang. Kan kita bisa ikutan" seloroh Sean.
"Ikutan bikin kacau" sahut Jayden kesal.
"Sorry pak Bos" ucap Rey minta maaf.
"Kenapa?" tanya Tania.
"Itu Mbak. Tetangga saya pada heboh mau pak Lee jadi mantu mereka" Maura yang menjawab.
Semua meledakkan tawanya. Tapi tidak dengan Jayden. Pria itu menatap kesal pada Rey. Membuat Rey semakin takut pada Bos Singanya itu.
"Terus...terus..." tanya Sean kepo.
"Ya terpaksa saya bilang kalau pak Bos sudah nikah sama Mbak Tania. Baru mereka kicep" jawab Maura.
Mendengar hal itu Tania langsung diam. Membuat Jayden langsung menatap Tania.
"Itu pak Bos yang ikut. Coba kalau ditambah kamu yang ikut. Beeuuuhh bisa lebih heboh tu kampungnya Maura" seloroh Nita.
Kredit google.com
Menikmati waktu lebih santai. Juga hidangan yang disediakan disana.
"Bokapnya Bryan datang?" tanya Sean.
"Datang. Aku tadi sempat bertemu" jawab Jayden.
"Untung kasusnya cepat selesai. Habis mereka di penjara" ucap Sean.
"Yeah biar ngerasain hidup di sana. Kelamaan hidup enak mereka" sambar Rey.
"Yang susah ya si Michael. Nggak bisa gitu-gitu lagi" seloroh Sean yang langsung ditoyor Nita.
"Sakit, Yang" protes Sean.
"Tempat ramai, Mas. Jangan ngomong yang aneh-aneh" desis Nita.
Kembali ledakan tawa terdengar dari meja mereka. Rey bahkan sampai memegangi perutnya. Saking kerasnya dia tertawa.
"Mas? Ta, kamu manggil si bule Cina ini Mas? Astaga" ucap Jayden tidak percaya.
"Kenapa pak Lee? Kan lebih mesra.." jawaban simple Nita langsung membuat mereka kicep.
"Kapok lu pada" umpat Sean. Merasa menang sebab dibela sang kekasih.
Resepsi Bryan dan Vera memang tidak berlangsung lama. Dua jam saja tidak lebih. Padahal kalau dituruti. Seharian mungkin tidak selesai. Namun mengingat kondisi Vera. Mereka memilih jalan aman saja.
__ADS_1
Sebab status Bryan yang sekarang pewaris tunggal Aditama Group. Juga koleganya di dunia entertainment yang tidak terhitung jumlahnya. Banyak yang memuji Bryan, mampu berhenti dari tabiat buruknya. Bergonta-ganti pasangan.
Melabuhkan pilihan pada satu wanita. Membangun sebuah komitmen dalam bentuk pernikahan.
"Wahh selamat Bro. Akhirnya kamu kembali ke jalan yang benar" ucap Tony. Sahabat baik Bryan.
"Thank you Bro" jawab Bryan. Sambil memeluk Tony.
"Selamat Nyonya Aditama.Berhasil mengembalikan sahabat saya ke jalannya. Kabul juga doa gue tiap hari" seloroh Tony.
Membuat wajah Vera yang tadinya merah karena panggilan Tony kepadanya kembali normal.
"Nyonya Aditama?" batin Vera dengan wajah merona merah.
"Sok agamis lu" maki Bryan.
"Kayak elu beda aja dari gue" lanjut Bryan.
"Eits gue beda. Gue kan begituan cuma sama Monica doang" bisik Tony.
"Alah. Sudah makan sana" usir Bryan yang disambut tawa cekikikan Tony.
"Sudah lelahkah?" tanya Bryan berubah lembut.
Begitu Toni berlalu dari hadapan mereka.
Vera mengangguk. Bersamaan dengan itu datang Tania dan Vera. Membawakan paperbag untuk Vera.
"Ganti pakai ini" ucap Tania cepat.
Mengeluarkan flat shoes lantas memakaikannya pada Vera. Mengganti heels tujuh senti milik Vera.
"Masih kuat atau tidak? Kalau tidak kita naik saja. Istirahat di kamar Mbak Vera" saran Nita.
Vera menatap Bryan.
"Naiklah. Sebentar lagi aku menyusul. Tamunya sepertinya juga sudah habis" ucap Bryan seolah mengerti dengan keinginan Vera.
Vera melangkah diikuti Nita.
"Tania, terima kasih dan aku minta maaf" ucap Bryan pada Tania sesaat sebelum gadis itu berlalu dari hadapannya.
Tania hanya tersenyum. Memastikan memang tidak ada apa-apa lagi di antara mereka.
"Jaga dia baik-baik" jawab Tania singkat. Lantas berlalu dari hadapan Bryan.
Bryan tersenyum mendengar ucapan Tania.
Interaksi itu tak luput dari perhatian Jayden. Pria itu memicingkan mata. Ketika dia melihat senyum Bryan berubah menjadi sebuah seringai licik di mata Jayden.
"Halo, bisa lakukan sesuatu untukku. Mulai sekarang awasi pergerakan Bryan Mattew Aditama" perintah Jayden melalui ponselnya.
Entah kenapa hati Jayden merasa tidak tenang saat melihat perubahan wajah Bryan secara tiba-tiba itu.
***
Dikamar atas,
President suit room, Hotel JW Marriot.
Hotel bintang lima yang menjadi venue pernikahan Bryan dan Vera. Tania, Vera dan Nita baru saja masuk ke kamar itu. Ketika ketiganya disuguhi pemandangan yang membuat ketiganya saling melirik penuh arti. Dengan pikiran yang bergelayut di otak masing-masing.
"Ini siapa yang buat?" tanya Vera.
Yang lain mengedikkan bahunya. Pasalnya ketika mereka keluar dari kamar ini tadi siang. Keadaannya masih biasa-biasa saja.
__ADS_1
"Suamimu mungkin" timpal Nita.
****