
*Maafkan kalau sedikit panas*
Tania langsung menghambur ke pelukan Sean. Begitu melihat pria itu menjemputnya di bandara Juanda. Hari hampir pagi ketika keduanya keluar dari area bandara itu.
"Lebih baik?" tanya pria berjaket biru itu.
Kredit facebook.com
"Tidak. Aku kecewa padanya"
"Kecewa atau cemburu" tanya Sean.
"Apa sih?"
"Apa kamu marah saat melihatnya disentuh wanita lain" selidik Sean.
"Sebenarnya apa sih yang mau kamu omongkan?"
"Kau mencintainya kan?" todong Sean.
Tania menatap tajam Sean.
"Kenapa? Yang aku katakan benar kan?" ulang Sean.
Tania menghempaskan tubuhnya kesandaran jok mobil Sean. Menarik nafasnya dalam dan pelan.
"Tidak tahu" jawab Tania lantas membuang pandangannya keluar jendela. Menatap jalanan kota Surabaya yang mulai bergeliat di pagi hari.
"Sarapan dulu ya. Aku lapar" ucap Tania pada akhirnya.
"Siap, Nona" jawab Sean sumringah.
Mobil Sean memasuki sebuah warung yang menjual lontong balap. Karena itu keinginan Tania. Menikmati seporsi lontong balap dengan lahap. Sejenak melupakan kegundahan dalam hatinya.
"Aku mau pulang. Mau tidur" jawab Tania ketika Sean menanyakan mau kemana lagi.
Dan tak lama. Mobil Sean mulai memasuki kawasan apartemen tempat Tania tinggal. Keluar dari mobil. Lantas masuk ke lobi setelah berpamitan pada Sean.
Mobil Sean meluncur meninggalkan apartemen Tania. Bersamaan dengan Tania yang masuk ke kamarnya. Sejenak menatap sekeliling. Lantas mengusap airmata yang mulai menggenang di sudut matanya.
Sejak menikah dengan Bryan. Vera tinggal dengan suaminya itu. Membuat Tania otomatis tinggal sendiri. Tapi tidak masalah. Asal Vera bahagia itu sudah cukup baginya.
Ingin menangis tapi entah mengapa air matanya sudah tidak bisa keluar. Padahal beberapa detik yang lalu. Air mata itu perasaan begitu banyak di sudut matanya. Siap ditumpahkan.
Hingga pada akhirnya. Tania menceburkan diri ke dalam bathupnya. Berendam sebentar. Mungkin akan membuatnya lebih baik. Setengah jam cukup. Dia menyudahi ritual berendamnya. Mengganti bajunya menggunakan tank top dan hot pants favoritnya.
Lantas naik ke ranjang queen sizenya. Dalam hitungan menit. Tania terlelap.
Seminggu berlalu. Namun Tania baru dua hari bekerja. Hanya Sean yang tahu kalau dia sudah kembali seminggu yang lalu. Dia mulai sibuk dengan pekerjaannya kembali.
Perasaannya juga lebih baik. Terlebih setelah dia melihat video kiriman Kai. Video dari rekaman CCTV kamar hotel. Tempat dia melihat kejadian yang waktu itu.
"Jangan salah paham lagi padanya. Dia jelas dijebak. Perbaiki hubungan kalian segera. Kakak tunggu kabar baiknya"
Sebaris pesan dari Kai untuknya. Setelah dia mengirim video itu ke ponsel Tania.
"Makan, Mbak" satu suara membuyarkan lamunan Tania.
__ADS_1
"Ayo" jawab Tania.
Lantas keluar ruangannya, bersamaan dengan Vera dan Bryan yang juga keluar dari ruangan Vera.
"Mau makan siang?" tanya Vera.
Tania dan Nita mengangguk.
"Bareng aja" ajak Vera.
"Nggak ah" jawab Nita merasa tidak enak kalau harus mengganggu makan siang pasangan suami istri itu.
"Kenapa?"
"Kita nggak mau jadi obat nyamuk. Nanti baper lagi nonton tingkah uwu kalian" kali ini Tania yang menjawab.
"Isshh kalian ini"
"Sudah sana. Buruan makan, nanti tu baby kelaparan lagi" usir Tania.
Membuat Vera tertawa ngakak.
"Iya, iya. Kalau begitu kami pergi dulu. Bye"
Keduanya berpisah jalan. Sesaat Tania melihat Bryan yang menatap tajam padanya. Seolah tengah memindai dirinya. Tapi buru-buru ditepisnya rasa curiga itu.
***
Hari pernikahan Sean dan Nita tiba. Setelah sebelumnya Rey dan Maura yang menikah. Awalnya semua berjalan lancar. Hingga satu waktu. Tania yang menjadi bridemaids bagi Nita. Gadis itu tengah mengantarkan pengantin wanita menuju ke ball room.
Begitu tangan Nita diambil alih sang ayah. Tania undur diri. Berdiri di dekat pintu masuk. Menyaksikan satu sahabatnya itu berjalan menuju Sean yang sudah menunggu diujung sana.
Tanpa sadar Tania tersenyum. Senyum yang terlihat begitu cantik bagi Jayden. Pria yang berdiri di sebelah Tania adalah Jayden.
"Apa kamu juga ingin menikah?" tanya Jayden.
"Tentu saja" jawab Tania spontan tanpa melihat siapa yang bertanya.
"Kalau begitu kapan kita menikah?"
"Eehhh...."
Tania dengan cepat menoleh ke arah sumber suara. Sedikit terkejut melihat Jaydenlah yang berada disana. Saking terkejutnya. Dia reflek memundurkan diri dengan buru-buru. Membuat heels tujuh senti yang dia pakai. Nyangkut dikarpet.
Hampir oleng kalau saja Jayden tidak segera meraih pinggang ramping Tania. Membawanya kembali berdiri.
"Kau mengejutkanku" maki Tania.
"Kau yang terlalu asyik dengan duniamu" balas Jayden.
Sesaat kemudian keduanya terdiam. Suasana menjadi canggung seketika.
"Masih marah?" tanya Jayden akhirnya buka suara. Tania menggeleng.
"Kenapa tidak menghubungiku kalau sudah tidak marah?" tanya Jayden. Memiringkan kepalanya. Menatap wajah malu-malu Tania.
"Gengsi dong" guman Tania.
Jayden mengulum senyumnya. Lupa kalau wanita itu makhluk paling ribet yang pernah ada. Maunya dimengerti terus. Maunya diperhatikan terus. Setidaknya itulah yang ada di otak Jayden soal wanita.
__ADS_1
"Kamu cantik sekali. Aku jadi tambah rindu padamu" bisik Jayden di telinga Tania. Membuat rona merah langsung terlihat di wajah mulusnya.
"Jangan menggodaku. Aku belum bilang kalau kita sudah baikan" balas Tania ketus.
Dia sebenarnya juga rindu pada pria yang berdiri disampingnya itu. Ingin sekali dia menghubungi Jayden. Setelah Sean memberitahu kalau Jayden sudah kembali ke Surabaya. Tapi ya itu tadi, dia gengsi.
"Baikan? Apa kita sedang dalam konteks pacaran" tanya Jayden.
"Ehh bu...bukan begitu maksudku" kilah Tania.
"Lalu?" pancing Jayden.
"Tidak ada lalu-lalu. Menyingkir dari hadapanku" ucap Tania mendorong jauh tubuh Jayden.
Keduanya sudah keluar dari ball room tempat pernikahan Sean dan Nita. Mereka kini berada di sebuah ruangan sepi di sebelah ball room itu.
Bukannya menjauh. Tubuh Jayden justru semakin merangsek maju. Menghimpit tubuh tinggi semampai Tania.
"Kamu mau apa?" tanya Tania ketika tubuh Jayden semakin menghimpit tubuhnya. Bahkan tubuh bagian depan mereka sudah menempel. Membuat tubuh keduanya memanas seketika.
"Jayden Lee menjauh dari...hhmmmppt...
Suara Tania tenggelam. Ketika Jayden dengan lembut menyatukan bibir mereka. Menautkannya begitu sempurna. Lantas melum**nya begitu dalam. Seolah menggambarkan betapa dalamnya rindu yang dia rasakan untuk wanita yang kini berada dalam himpitan tubuh kekarnya.
Awalnya Tania ingin menolak. Tapi seiring lihainya Jayden memancing. Akhirnya Tania terpancing juga untuk membalas ciuman Jayden. Keduanya saling berpag****. Membuat ciuman mereka semakin liar.
Tangan Jayden berada ditengkuk Tania. Yang lainnya berada di pinggang ramping Tania. Mendekap erat tubuh langsing itu. Sedang tangan Tania sudah berada di leher kokoh Jayden. Sesekali menjambak manja surai hitam Jayden. Membuat libido Jayden meroket seketika.
Jayden jelas menginginkan lebih. Apalagi aset kembar Tania sejak tadi beradu dengan dada bidang miliknya. Membuat sesuatu dibawah sana bergejolak hebat.
"Oohh Baby, I want you. Really really want you" bisik Jayden parau.
Wajahnya memerah menahan hawa panas tubuhnya yang ingin dipuaskan. Namun Tania bergeming. Cukup tahu dengan apa yang pria ini mau.
"Kita..."
"Sstttt" Jayden meletakkan telunjuknya di bibir Tania. Detik berikutnya pria itu kembali menyatukan bibir mereka. Namun kali ini. Jayden menempelkan tubuh bagian bawahnya ke tubuh Tania. Sedikit menggerakkannya. Ciuman itu terus berlanjut.
Hingga kemudian dengan tiba-tiba. Jayden melepaskan ciuman panas mereka. Lantas menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Tania. Tak berapa lama, Jayden mengerang tertahan di sana. Seiring sesuatu terasa basah mengalir dibawah sana.
"Hah leganya" batin Jayden.
Heran, bagaimana bisa dia mencapai puncaknya tanpa tersentuh sedikitpun miliknya oleh Tania.
Jayden masih mengatur nafasnya. Kala dia menatap teduh wajah Tania.
"Gadis ini benar-benar luar biasa. Menciumnya saja bisa membawaku ke puncak. Bagaiaman jika kami bercin...ta sungguhan" batin Jayden.
Perlahan mulai mengurai himpitannya pada Tania. Tania jelas bingung melihat hal itu. Tapi urung dia tanyakan. Karena Jayden sudah menariknya keluar dari ruangan itu.
***
Jayden Lee yang habis menuju puncak..eehh salah ya 😅😅😅
Kredit Instagram @eun.woo_30
He he he 😁😁😁
__ADS_1
***