
Tania masuk tergesa-gesa ke dalam kantor LJ Fashion Magazine. Dua hari dia tidak bisa tidur gara-gara memikirkan kejadian di apartemen Lia. Meski sudah berkali-kali meyakinkan diri kalau tidak ada yang terjadi malam itu. Hatinya ragu.
Hingga akhirnya dia memutuskan untuk menemui Jayden dan menanyakan hàl itu. Entahlah jawaban apa yang akan Jayden berikan. Dia sangat penasaran.
"Rey, apa bosmu ada?" tanya Tania ketika bertemu di depan ruangan Jayden.
Rey sedikit terkejut melihat kehadiran Tania. Seingatnya mereka tidak ada schedule untuk meeting.
"Ada, Bu"
"Apa dia sibuk? Maksudku sedang meeting. Kalau iya aku akan kembali nanti"
"Tidak, Bu. Pak Bos sedang tidak ada schedule" jawab Rey.
"Jadi bolehkah aku masuk. Ada yang ingin aku bicarakan" ucap Tania.
"Silahkan kalau begitu" Rey mempersilahkan setelah membukakan pintu.
"Pak Bos, ada yang ingin bertemu" ucap Rey.
"Suruh saja dia masuk" jawab Jayden tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya.
Tania masuk. Tampak Jayden yang tengah serius menatap layar laptopnya. Tidak sadar dengan kehadirannya.
Kredit Instagram.com
"Apa aku mengganggu?" tanya Tania pelan saat sudah berada di depan meja Jayden.
Jayden langsung mengalihkan pandangan dari laptopnya. Mencari ke sumber suara. Senyumnya langsung terkembang melihat Tania di depannya.
Kredit Twitter.com
"Baby, kamu di sini? Kenapa tidak bilang jika mau kemari?" sambut Jayden.
Pria itu mematikan laptopnya. Lantas mengitari mejanya. Memeluk Tania untuk beberapa waktu.
"Apa kamu merindukanku?" goda Jayden.
"Iissshh siapa juga yang merindukanmu?" cebik Tania.
"Padahal iya"
"Benarkah tidak rindu padaku?" goda Jayden lagi.
Kini keduanya sudah duduk di sofa ruang kerja Jayden. Duduk bersebelahan. Tania tampak menyilangkan kedua tangannya didepan dadanya.
"Cantiknya" guman Jayden. Memainkan surai rambut Tania. Mencium aromanya.
"Aku merindukanmu, Baby" bisik Jayden di telinga Tania. Membuat Tania menggeser tubuhnya sedikit menjauh dari Jayden.
"Geli, Kak" keluh Tania.
Jayden terbahak.
"Oh come, baby. Kita bahkan pernah lebih dari ini"
"Kak..."
"Oke-oke. Aku tidak akan membahasnya"
Hening sejenak. Jayden kembali memainkan ujung rambut Tania.
"Lalu kesini mau apa?" tanya Jayden.
Tania sedikit ragu.
__ADS_1
"Aku...aku..aku ingin bertanya soal yang terjadi malam itu" ucap Tania terbata.
Membuat Jayden menghentikan kegiatannya memainkan rambut Tania.
"Malam yang mana?" goda Jayden.
"Iisshhh kakak ini jangan pura-pura tidak tahu" kesal Tania.
Jayden terkekeh.
"Lalu kamu mau jawaban yang bagaimana?" tanya Jayden mendekatkan wajahnya ke wajah Tania.
"Tentu saja yang sebenarnya...."
Tania reflek menoleh dan hasilnya bibir keduanya bersentuhan. Tania terkejut. Jayden tersenyum tipis.
Bersamaan dengan Rey yang masuk tanpa mengetuk pintu. Dan langsung membeku. Melihat adegan romantis di depan matanya.
"Mati aku" batin Rey.
Jayden dan Tania langsung menatap ke arah Rey. Jayden dengan tatapan ingin memakan Rey. Sedang Tania tertunduk saking malunya.
"Kamu mau mati ya Rey?! Mengganggu saja!" bentak Jayden.
Rey tidak terlalu kaget dengan bentakan Jayden. Dia lebih shock melihat adegan ciuman bosnya dan wanitanya. Bentakan Jayden..itu mah makanan dia tiap hari.
"Ahh matinya nanti saja pak Bos. Ini urgent, penting, darurat, genting, ketiwasan" ucap Rey menggunakan semua bahasa mendesak yang ia tahu.
"Soal apa?"
Jayden sendiri tahu. Kalau tidak penting sekali. Rey tidak akan mengganggunya.
"Ee itu...itu Sebastian sudah disini" ucap Rey. Detik berikutnya dia mempersiapkan telinganya. Mendengarkan lengkingan suara paling keras yang akan dia terima.
"What!!???? Bagaimana bisa? Bukankah jadwalnya masih minggu depan? Bagaimana dia sudah ada di sini?" cerocos Jayden tanpa henti.
"Apa aku bilang. Kebiasaan" batin Rey sedikit melirik Tania yang menutup mulutnya karena terkejut.
Jayden mendelik mendengar ucapan Rey.
"Rey...
"Eh iya pak Bos. Sebastian menunggu Anda di ruang meeting"
Jayden terdiam.
"Dia datang lengkap dengan kru dan peralatannya. Dia sadar sudah mengacaukan schedule kita. Jadi dia hanya minta kita menyiapkan model dan wardrobe-nya. Dan masalahnya kita belum menemukan yang pas dengan gaun Bu Tania" jelas Rey.
Keduanya sudah duduk saling berhadapan di meja kerja Jayden. Pria itu tampak memijat pelan pelipisnya.
"Model yang paling mendekati"
"Ada Michi dan Lexa tapi sayang keduanya unavailable hari ini. Ada photoshoot di Bali" ucap Rey menunduk sambil membolak balikkan berkas dihadapannya.
Jayden terdiam. Matanya menatap ke arah Tania yang tengah memainkan ponselnya. Sambil sesekali tersenyum. Jayden memintanya tinggal jika dia tidak ada kesibukan kantornya. Tania tidak punya pilihan karena Jayden berkata akan memberikan jawaban atas apa yang terjadi malam itu. Jika masalah Sebastian selesai.
"Baca novel online lah tu" batin Jayden.
Tiba-tiba terlintas satu ide di kepalanya.
"Sssttt" Jayden mengkode Rey.
Rey mengangkat wajahnya menatap bos singanya.
"Menurutmu yang paling tahu detail sebuah gaun itu siapa?" pancing Jayden.
Rey berpikir sejenak.
"Ya, perancangnyalah. Siapa lagi?"
__ADS_1
"Kalau begitu menurutmu dia cocok tidak?" tanya Jayden.
Ekor matanya melirik ke arah sang pujaan hati. Rey terdiam untuk memahami maksud bosnya.
"Tentu saja dia sangat cocok" Rey meraih berkas paling bawah.
"Tinggi 170 cm, berat 50 kg. Ukuran 34 B. Pinggang M bla...
"Ukuran jangan disebutkan. Itu hanya untukku" bentak Jayden.
"Uuppss sorry Bos. Dia sangat cocok jadi model. Tapi apa dia mau" Rey ragu.
"Pasti mau. Aku punya trik untuk mengancamnya" Jayden menyeringai.
"Iissh jangan begitu pak Bos.Tidak baik mengancam kekasih hati. Bujuk baik-baik" Rey memberi saran.
"Dia jelas tidak akan mau dengan bujukan biasa. Dia hanya bisa dipaksa atau diancam. Sudah kamu diam saja. Temui dulu Sebastian. Beri aku lima belas menit untuk mengancamnya" ucap Jayden.
Lima belas menit kemudian,
Pintu ruangan meeting terbuka. Masuklah Jayden dan Tania dengan wajah masamnya.
"Sorry Lee, aku benar-benar mengacaukan schedulenya" sambut Sebastian dengan wajah penuh permintaan maafnya.
"Alasannya?"
"You know my sister Maria, dia tiba-tiba mau married next week. Dan dia baru kasih tahu aku. Kemarin. Bisa kamu bayangkan kacau semua schedule aku. Aku tunda sebagian yang tidak aku anggap urgent sekali. Tapi untukmu? Kita sudah prepare semuanya sejak lama. Dan aku jelas penasaran dengan gaun yang kamu tunjukkan padaku. It's so beautifull.
Dan sebuah kehormatan bagiku jika aku bisa mengabadikannya dengan lensa kameraku" jelas Sebastian panjang lebar.
Tania sejak tadi hanya diam mendengarkan percakapan mereka. Dia sedikit tahu soal Sebastian Arturo. Salah satu fotographer kenamaan asal Italia. Banyak model berlomba agar bisa menjadi partner Sebastian. Tapi Sebastian sendiri sangat pemilih. Maka dari itu dia sedikit terkejut ketika Jayden mampu mendatangkan Sebastian ke studio fotonya. Dan dia lihat hubungan keduanya terlihat cukup dekat. Seperti teman lama.
"Well, it's okay. Aku juga tidak masalah dengan hal ini. Untung saja kamu bawa kru-mu sendiri"
"Ya itu salah satu caraku meminta maaf. Aku tahu, aku ini sangat rewel. Jadi akan makan waktu lama jika kamu harus mempersiapkannya untukku. So I brought my own crew (Jadi aku bawa kru-ku sendiri)"
"Jadi kapan kita mulai?"
"Sekarang jika pihakmu sudah ready. My crew sudah bersiap di studio fotomu. Sorry aku bergerak agak cepat"
"Kami siap"
"So, does she the model?"
(Apa dia modelnya)
Tanya Sebastian menunjuk ke arah Tania.
"Yes, her name is Tania. Tania ini Sebastian" Jayden memperkenalkan keduanya.
"Halo, Mr Sebastian" sapa Tania berusaha tersenyum. Padahal hatinya dongkol setengah mati.
"Sebastian, panggil saja seperti itu beauty lady"
Tania tersipu mendengar pujian Sebastian.
"Jangan menggodanya Sebastian" Jayden memperingatkan.
"She's yours?" tanya Sebastian.
Jayden mengangguk.
"Oh my, finally. After a long time. You've found what you're looking for. Good choice, Lee"
(Akhirnya, setelah begitu lama. Kamu menemukan apa yang kamu cari. Pilihan yang bagus, Lee)
"Thank you. Tapi dia punya satu syarat untuk bisa menjadi modelmu"
"Apa?"
__ADS_1
****