Mengejar Cinta Satu Malam

Mengejar Cinta Satu Malam
Bersama Lia 2


__ADS_3

Lia terlihat begitu senang. Saat Jayden, sang Appa, membawanya ke sebuah mall besar di kawasan Jakarta Selatan. Gadis itu berjalan sambil sesekali melompat kecil. Sebagai tanda kalau dia sangat bahagia.


Tangan kanan dan kirinya tidak lepas dari gandengan Jayden dan Tania.


"Mau makan dulu atau mau langsung main?" tanya Jayden.


"Main dulu. Lia mau main dulu" ucap Lia antusias.


Membuat Tania tersenyum.


"Oke Lia main dulu. Eomma mau nyari minum dulu untuk Lia ya. Tadi Eomma lupa bawa" pinta Tania.


"Oke Eomma"


Mereka berpisah dipintu masuk Time Zone.



Kredit google.com


Tania turun ke lantai dibawahnya. Dimana banyak food stall di sana. Masuk ke salah satu gerai ayam goreng terkemuka. Mengingat setahu Tania, si kembar sangat menyukai ayam goreng.


Membeli dua paket ayam goreng take away. Juga dua buah botol air mineral. Tania kembali naik ke lantai atas. Sedikit celingak celinguk di Time Zone. Mengingat banyaknya permainan di sana. Hingga dia menemukan keberadaan Jayden di permainan capit boneka.



Kredit google.com


Dimana Lia yang terlihat manyun.


"Dapat?" tanya Tania begitu berada di dekat keduanya.


"Nope. Appa payah!" gerutu gadis kecil itu.


"Mana ada Appa payah. Appa hanya belum dapat saja"


"Appa payah. Dali tadi belum dapat...Eomma.." gadis kecil itu merengek.


"Iya...iya. Biar Eomma coba" ucap Tania mengambil alih permainan dari Jayden.


Sedang Lia langsung minta gendong ke Jayden.


"Lia mau yang mana?" tanya Tania. Mulai menggerakkan capitnya.


"Boneka lumba-lumba walna bilu" ucap gadis kecil itu.


"Baik ayo kita ambil hadiahnya" guman Tania tampak berkonsentrasi pada tombol di mesin capit itu.


"Bisakah?" tanya Jayden tepat di belakang Tania. Hembusan nafas Jayden membuat tengkuk Tania meremang.


"Jangan menggangguku" desis Tania.


Dia tahu, Jayden sengaja melakukannya untuk menggodanya. Capit itu mulai bergerak dengan Lia yang terus berteriak menyemangatinya.


"Kili Eomma, kanan sedikit...sedikit lagi..lagi....


Teriak Lia berulang kali. Hingga gadis itu melonjak girang dalam gendongam Jayden.Membuat pria tinggi itu hampir terjengkang. Ketika boneka yang diinginkannya benar-benar didapatnya.


"Yeyyy. DapaĆ ttt" ucap gadis itu senang sambil memeluk boneka lumba-lumbanya.


"Terima kasih, Eomma"


"Sama-sama" Tania tersenyum. Membuat Jayden ikut tersenyum. Melihatnya sedikit bisa melupakan kesedihannya.


"Masih mau?" tanya Tania.


Lia mengangguk antusias. Hingga akhirnya hampir semua boneka yang Lia inginkan. Berhasil didapatkan Tania.


"Abang halus lihat ini" ucap Lia.


"Kenapa?" tanya Tania.


"Sebab Abang selalu bilang. Kalau Lia tidak mungkin dapat semua yang Lia mau"

__ADS_1


Tania tertegun.


"Benar. Tidak semua yang kita inginkan. Dapat kita dapatkan" batin Tania menatap Jayden.


"Lia mau main apa lagi?" tanya Jayden.


"Main itu" tunjuk Lia ke arah permainan boom boom car.


Dan kemudian ketiganya sudah saling berteriak ketika mobil mereka bertubrukan dengan mobil lainnya. Hampir setengah jam mereka menghabiskan waktu di wahana itu.


***


Tania dan Jayden duduk di sebuah bangku kayu. Di luar permainan mandi bola. Keduanya serius mengawasi Lia yang tengah bermain bola seorang diri. Enggan untuk ditemani.



Kredit google.com


Menikmati ayam goreng yang tadi Tania beli. Mengganjal perut karena Lia belum mau diajak makan. Masih ingin bermain.


"Kenapa Abangnya tidak ikut?"


"Hyun Ae kaku seperti papanya. Sangat jarang berinteraksi dengan dunia luar.


"Kalau seperti ini. Apa yang dia lakukan?"


"Apalagi, belajarlah dengan mamanya"


"Tidak bosan?"


"Dia sendiri yang minta" Jayden sedikit menghela nafasnya.


"Kasihan" guman Tania.


"Kan aku sudah bilang, dia sendiri yang minta. Bukankah itu bagus. Anak-anakku tidak perlu bersusah payah belajar jadi pewaris. Karena sudah ada Hyun Ae" ujar Jayden.


Tania mencebikkan bibirnya. Tidak setuju dengan ucapan Jayden.


"Tidak setuju dengan pola pikirmu"


Jayden tersenyum. Menatap Tania. Sedang gadis itu terus mengawasi Lia yang bermain mandi bola. Sesekali melambaikan tangan ke arah Jayden dan Tania.


"Apa kamu ingin anakmu dipaksa menjadi pewaris? Tidak kan? Aku tidak akan memaksa kecuali mereka menginginkan. Aku punya bisnis sendiri. Begitu juga dengan dirimu. Kita memerlukan orang untuk meneruskan bisnis kita" oceh Jayden.


Kali ini Tania menatap Jayden.


"Kenapa kamu membicarakan soal anak denganku?" tanya Tania curiga.


"Karena aku ingin memilikinya denganmu"


Blush,


Wajah Tania langsung merona merah. Tidak menyangka jika Jayden sudah berpikir sejauh itu soal hubungan mereka.


"Kamu tahu. Jika waktu itu aku membiarkanmu hamil. Anak kita akan seumuran Lia dan Hyun Ae" ucap Jayden menerawang.


"Ha..." Tania melongo.


Jayden menatap Tania.


"Baby, aku serius denganmu. Aku ingin bersamamu. Ingin selamanya denganmu. Menghabiskan hidupku denganmu"


Sejenak Tania membeku mendengar ucapan Jayden. Kedua mata mereka mengunci satu sama lain. Hingga Tania yang pertama kali memutus kontak mata itu.


"Kau akan bosan denganku" ujar Tania.


"Kenapa kamu berpikir seperti itu. Lihatlah sudah berapa lama kita bersama. Aku tidak pernah merasa bosan denganmu. Aku selalu rindu padamu. Padahal kita bersama tanpa **** sama sekali"


Tania mendelik mendengar ucapan vulgar Jayden.


"Kenapa? Memang aku salah bicara. Aku rasa tidak. Baby, dengar aku ingin bersama denganmu bukan karena bercin..ta denganmu menyenangkan. Tapi karena aku mencintaimu" ucap Jayden sungguh-sungguh.


Keduanya saling pandang untuk beberapa saat. Hingga suara Lia mengejutkan keduanya.

__ADS_1


"Eomma..."


"Ah iya sayang, kenapa?" jawab Tania gelagapan.


"Lia lapal. Ayo makan" rengek Lia.


"Oo Lia sudah lapar. Jadi Lia cantik mau makan apa?" tanya Tania meraih tubuh Lia lantas mendudukkannya di atas pangkuannya.


Jayden memberikan air mineral kepada Lia. Membiarkan gadis kecil itu meminumnya.


"Lia mau makan pizza, boleh?" tanya Lia.


Yang tentu saja diangguki oleh Jayden dan Tania. Tania dan Lia berjalan lebih dulu. Sambil terus bergandengan tangan. Sedang Jayden terus mengekor dibelakang mereka. Membawa boneka milik Lia.


Memasuki sebuah resto pizza siap saji. Mereka menikmati makan siang mereka dengan lahap. Dalam sekejap dua loyang besar pizza ukuran sedang tandas dihabiskan mereka bertiga.


Membuat Lia berseloroh.


"Abis ini Appa pasti masuk luang gym. Sama sepelti papa kalau habis makan sama Lia"


"Kenapa?" tanya Tania.


"Takut pelutnya buncit" kekeh Lia. Membuat Tania ikut terkekeh.


"Nanti kalau absku hilang dan aku tidak seksi lagi kamu cari yang lain lagi" gerutu Jayden.


"Iisshh sampai segitunya" cebik Tania.


Jayden tersenyum.


"Habis makan Lia mau kemana lagi?" tanya Jayden.


"Pulang yuk Appa. Lia ngantuk" ucap gadis itu sambil menguap.


"Kalau begitu. Lia tunggu sebentar ya. Appa belikan pizza untuk Abang dulu. Okay?" tanya Jayden.


Gadis kecil itu mengangguk. Jayden berlalu. Sepuluh menit kemudian pria tampan itu kembali. Melihat Lia yang hampir tidak bisa membuka matanya. Lagi-lagi Jayden tersenyum.


"Biarkan aku yang menggendongnya" pinta Jayden.


Dalam sekejap tubuh mungil Lia sudah berpindah, bersandar pada bahu lebar Jayden.


***


Mobil CRV Jayden masuk ke garasi rumah keluarga Lee. Tania sedikit merasa gugup.


"Kenapa? Mamaku tidak makan orang" seloroh Jayden.


Bersamaan dengan itu sesosok wanita cantik, dengan tubuh langsing. Menyambut mereka di pintu.


"Merepotkankah?" tanya wanita itu dengan senyum manisnya. Membuatnya terlihat semakin cantik.


"Diakah yang bernama Nina. Cantiknya. Pantas Jayden langsung bisa oleng dari kebiasaan casanovanya" batin Tania menatap wanita itu.


"Tidak dia tidak merepotkan" Jyden menjawab.


"Kenalkan aku Nina. Kamu pasti Tania" ucap Nina ramah.


"Salam kenal Kak. Senang bertemu dengan kakak" jawab Tania terbata-bata.


"Kenapa kamu nggak jumpa dia dari dulu sih Jay. Jadi nggak bikin orang darah tinggi" ucap Nina tanpa basa basi.


"La kalau ketemunya baru sekarang gimana coba. Lagian tidak seru melihat kakakku itu tidak darah tinggi. Kapan lagi aku bisa mengerjainya" seloroh Jayden tanpa dosa.


"Wis dasar, punya ipar satu saja bikin kepala puyeng" jawab Nina.


Membuat Tania menatap Jayden.


"Memang orang ini kerjaannya bikin darah tinggi saja" batin Tania.


Lantas mengikuti Nina masuk ke dalam rumah dengan Lia masih tertidur dalam gendongannya.


****

__ADS_1


__ADS_2