Mengejar Cinta Satu Malam

Mengejar Cinta Satu Malam
Kamu Salah Paham


__ADS_3

l'll always remember


it's was late afternoon


it lasted forever


and ended so soon


you were round by yourself


starring up at the dark grey sky


I was changed


*In places no one will fin*d


all your feelings so deep inside


and was there that I realize


that forever was in your eyes


the moment I saw you cry


Jayden jelas melongo begitu dia mulai memasuki kawasan Telaga Sarangan. Dia pikir tempatnya akan sangat sepi atau bisa jadi hanya hamparan hutan saja. Setidaknya itu yang ada dipikirannya. Ternyata dia salah.


Begitu dia mulai masuk dia langsung disuguhi pemandangan danau dengan latar belakang sebuah gunung yang terlihat begitu menakjubkan.




All kredit google.com


"It's so amazing" gumannya pelan.


Pantas saja Tania begitu betah berada disini. Dia melajukan mobilnya pelan. Mencari villa yang ditempati Tania dan juga menikmati pemandangan di depannya. Hingga dia bisa melihat villa Tania setelah melewati sebuah persimpangan.



Kredit Instagram@tioirawan


Dia memarkirkan mobilnya. Lalu masuk ke villa. Dia sendiri sudah memesan kamar tepat di depan kamar Tania. Sesuai info dari Vera.


Resepsionis jelas terpesona dengan wajah Lee Joo. Yang nampak santai memakai kemeja putih. Tanpa jaket. Dia sendiri sudah terbiasa dengan cuaca dingin. Ingat dia tinggal di Korea lebih dari 25 tahun. Dingin seperti ini masih bisa ditahannya. Tanpa jaket sekalipun.



Kredit Instagram.com


Langsung masuk ke kamarnya. Berniat ingin membersihkan diri. Hanya sekedsr cuci muka. Karena dia ingin segera bertemu Tania. Banyak hal yang ingin dia bicarakan pada gadis itu.


Tanpa mengganti bajunya dia langsung keluar kamar.


***


Tania sedikit mengerutkan dahinya. Ketika lewat di parkiran.


"Tidak mungkin kan itu mobil Jayden" batin Tania.


Melihat mobil Toyota Rush milik Jayden yang terparkir di depan villa. Dia melanjutkan langkahnya untuk berjalan-jalan. Baru kali ini dia keluar jalan-jalan. Dua hari dia hanya menikmati view Sarangan dari balkon kamarnya. Masih enggan untuk keluar. Berkutat dengan pikirannya sendiri. Berniat move on dari Jayden setelah ini.


"Sarapan dulu mbaknya" tawar seorang pedagang sate kelinci di daerah itu.


Di Sarangan memang banyak yang menjual sate kelinci. Namun sate jenis lainnya juga banyak.


Namun Tania menolak dengan halus. Belum lapar. Atau tidak lapar. Entahlah sejak datang ke sini. Tania kehilangan selera makannya.

__ADS_1


Tania terus meneruskan jalan-jalannya. Tanpa tahu sesosok pria mengikutinya dari belakang. Mengenakan jaket berhodie. Tania tampak memasukkan kedua tangannya kedalam saku jaketnya.


Jayden tampak mengulum senyumnya. Dia tahu Tania tidak tahan dingin.


"Padahal aku ingin mengajaknya liburan ke Korea pas musim dingin ini. Tapi melihatnya tidak tahan dengan suhu 16° C, aku jadi tidak tega" batin Jayden sambil melirik ponselnya. Dimana disana tertera suhu 16°"


"Pengennya sih naik kuda tapi kalau dinginnya begini. Beerrhhh balik villa aja kali ya" guman Tania yang terdengar jelas di telinga Jayden.


Membuat Jayden kembali tersenyum.


"Benar-benar tidak tahan suhu dingin"


Namun langkah Tania terhenti. Membuat Jayden ikut berhenti. Lantas memundurkan langkahnya. Menyadari jaraknya terlalu dekat dengan Tania.


"Perasaan aku mencium parfumnya Jayden. Tapi masak iya dia ada di sini. Dan nggak mungkin juga ada orang yang akan memakai parfum yang sama dengan pria itu. Itu kan parfum mehong alias mahal" batin Tania.


Tania celingak celinguk. Menoleh ke kiri dan kanan. Hingga satu suara membuatnya berbalik.


"Are you lost, Baby?"


Tania langsung membulatkan matanya. Melihat siapa yang bertanya.


"Kamu? Kamu ngapain di sini?" tanya Tania spontan.


"Kamu yang ngapain ke sini nggak ngajak aku" balas Jayden.


"Ha..."


"Bukannya kemarin istri dan anaknya baru datang. Seharusnya kan mereka lagi ngabisin waktu bersama. Atau mereka akan menghabiskan waktu untuk ....haisssh kenapa juga aku mikir aneh-aneh. Mereka kan suami istri. Jadi wajar dong mereka melakukannya" batin Tania.


"Ngapain juga aku ngajakin kamu ke sini. Kamu kan..." Tania menggantung ucapannya.


"Aku kenapa?"


Tania hanya diam. Gadis itu hanya menunduk. Menatap flat shoesnya sendiri.


"Eemm bukan apa-apa"


Jawab Tania singkat. Lantas berbalik meninggalkan Jayden yang tersenyum. Cukup senang dengan wajah malu Tania.


"Hei kamu mau ke mana? Kamu itu selalu meninggalkanku" ucap Jayden berlari menyusul Tania.


Lantas berjalan disamping Tania.


"Kenapa kamu selalu meninggalkanku?" tanya Jayden lagi.


"Siapa yang meninggalkanmu. Aku tidak pernah datang padamu. Kita dua orang yang kebetulan bertemu di tempat sama" jawab Tania.


"Begitu ya. Jadi waktu kita bercin** waktu itu juga karena kita bertemu di ranjang yang sama. Begitu?" goda Jayden.


"Hei ini tidak ada hubungannya dengan kejadian itu" sangkal Tania.


"Lalu?"


"Jangan membicarakan hal itu lagi" ucap Tania ketus.


Jayden terdiam. Dia tahu Tania tidak ingin mengingat kejadian itu. Hening sejenak.


"Kamu ke sini dengan siapa?" tanya Tania.


"Pakai nanya lagi. Ya sama keluarganyalah" batin Tania.


"Sendiri" jawab Jayden singkat.


Tania langsung menghentikan langkahnya mendengar jawaban Jayden. Menatap tidak percaya pada Jayden.


"Kenapa? Tidak percaya. Kamu pikir aku akan ke sini dengan siapa? Anak dan istriku?" jawab Jayden sengaja memancing Tania.

__ADS_1


"Benar kan dugaanku. Dia ke sini dengan anak dan istrinya. Lalu kenapa dia mencariku kalau dia ke sini dengan mereka" batin Tania sendu.


"Tania bisa kita kembali ke villa. Aku ingin bicara" ucap Jayden tiba-tiba.


"Kembali? Ke villa? Kamu nginap di villa mana?"


"Itu..." tunjuk Jayden.


***


"Kenapa juga dia harus nginap di sini" batin Tania kesal.


Tania menatap kesal wajah tampan Jayden yang tengah menikmati ayam penyetnya. Sekali lagi, Tania yang memilihkan menunya.


"Kalau mau balik villa buat makan. Di luar juga bisa" batin Tania lagi.


Mereka tengah menikmati makan siang di balkon kamar Tania. Tania sedikit mendelik ketika Jayden mengaku sebagai suaminya agar diizinkan masuk ke kamar Tania.


"Suami sejak kapan?" pekik Tania begitu mereka duduk di balkon Tania.


"Sejak tadi"


"Untung nggak diminta buku nikahnya. Kalau mereka buku nikah. Bagaimana?"


"Ya aku bilang saja buku nikahnya belum jadi. Kita baru nikah kemarin. Terus honeymoon kesini" jawab Jayden asal.


"Sembarangan kalau ngomong. Kalau sudah selesai makannya. Balik sana ke kamarmu" usir Tania.


"Kenapa juga aku harus balik ke kamarku. Di sana sepi. Nggak ada siapa-siapa"


"Katanya ke sini sama istrimu" ucap Tania ketus.


Jelas Tania tidak suka menyebut kata istri. Sedang Jayden tampak tersenyum. Duduk sambil menatap lembut ke arah Tania. Sedang Tania merasa ingin meledak menahan emosinya.


"Maunya apa sih? Sudah punya istri tapi menggoda wanita lain" maki Tania.


"Ini yang ingin aku bicarakan denganmu. Kamu banyak salah paham soal diriku"


"Bagian mananya?" sambar Tania cepat.


Jayden menarik nafas dalam. Inilah Tania. Emosional. Suka sembarangan berasumsi. Sembarangan menebak tanpa menyelidikinya terlebih dahulu.


"Apa yang kamu tahu soal aku?" tanya Jayden balik.


Tania diam. Dia mengalihkan pandangannya menatap telaga. Enggan menatap Jayden.


"Katakan bukankah kamu ingin bertanya banyak hal padaku" pancing Jayden.


"Sebenarnya apa sih maumu? Kamu sudah punya keluarga. Kenapa juga masih mengejarku" akhirnya Tania bersuara.


"Keluarga yang bagaimana?Aku hanya punya papa, mama dan seorang kakak....


"Bukannya kamu sudah punya anak dan istri..."pekik Tania memotong ucapan Jayden.


Jayden tersenyum.


"Jadi ini sebabnya kamu menghindariku. Benar ucapan Sean rupanya" batin Jayden.


"Dengarkan ucapanku dulu sampai habis. Aku punya kakak kembar..."


Tania langsung membulatkan matanya.


"Kakak kembar?..jadi yang aku lihat waktu itu.." batin Tania menatap bingung pada Jayden.


"Kamu salah paham padaku. Soal siapa diriku akan aku jelaskan sekarang" ucap Jayden lembut.


Membuat Tania semakin bingung. Siapa sebenarnya pria yang ada di hadapannya ini.

__ADS_1


__ADS_2