
Sejenak suasana menjadi sedikit gaduh. Karena Tania seperti dianggap telah melakukan kesalahan. Banyak orang yang berkerumun untuk melihat kejadian itu. Membuat Tania jadi merasa tidak nyaman. Apalagi Qila sudah mulai rewel.
Karena dikerumuni banyak orang. Balita itu mulai kegerahan.
"Oomm...." rengeknya pada Andi yang sejak tadi menggendongnya.
"Ini sebenarnya ada apa sih? Kalau kartu itu tidak bisa digunakan. Saya bisa menggunakan kartu lain" ucap Tania keras.
Dia merasa tidak membuat kesalahan. Tapi kenapa semua orang menatap dirinya. Seolah pencuri atau penjahat.
"Tunggu sebentar, Nona. Kami sedang memastikan sesuatu" ucap pria itu kini berubah lebih sopan.
Tak berapa lama, seorang pria lain keluar dari ruang lain dengan langkah terburu-buru.
"Itu memang dia. Adik dari tuan Eric Liu"
"Kau bicara apa soal kakakku?" sentak Tania.
Mendengar nama asli Kai disebut.
"Maafkan kami Nona. Karena tidak mengenali Nona Tania" ucap pria itu penuh permintaan maaf.
Tania melongo. Mendengar pria itu tahu namanya.
"Mari Nona ikut kami dulu" pria itu mempersilahkan Tania mengikuti dirinya.
"Ehh..kita mau dibawa kemana? Saya bukan pencuri. Saya sanggup bayar belanjaan saya" tolak Tania.
"Tentu saja Nona sanggup membayar semua ini. Karena semua ini milik Kakak Nona" ucap pria itu.
Membuat Tania dan yang lainnya melongo.
"Tak kirain mau nyolong. Rupanya adiknya yang punya toko to" guman beberapa pengunjung yang ikut menyaksikan kejadian itu.
"Kenapa Kakak tidak bilang kalau punya toko emas disini" ucap Tania keras.
Membuat Kai langsung menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Aduh, jangan teriak napa? Budeg nanti aku?" Kai gantian berteriak.
"Habisnya bikin orang kesal saja" jawab Tania.
"Aku bahkan tidak tahu aku punya toko emas" kilah Kai.
"Dasar orang kaya. Kak di Surabaya punya cabang tidak?" tanya Tania tiba-tiba.
"Aku tidak tahu. Tanya saja sama orang yang di sana" jawab Kai cepat. Karena rasa mual mulai menyerang.
Kai cepat melambaikan tangannya ke Leo. Dengan cepat Leo meraih botol parfum Natasya di atas meja kerja Kai. Karena pria itu kini duduk di sofa. Menghirup aromanya. Lantas menarik nafasnya. Rasa lega mulai terasa.
Kredit Instagram @ bemilk_linyi
(Abang Kai yang lagi mabok 🤣🤣)
"Pak punya cabang di Surabaya tidak?" tanya Tania pada pria tadi yang ternyata manager di toko itu.
"Punya dua, Mbak" jawab pria itu.
"Punya Kak, dua" jawab Tania pada Kai.
"Kenapa tanya-tanya? Pengen punya?" tanya Kai yang sudah mulai berkuran mualnya.
"Iihh nggaklah. Nggak tahu caranya"
__ADS_1
"Kamu tinggal urun nama saja. Semua orangku yang urus. Ahhh, kamu kan pandai design tu. Kenapa kamu nggak coba design perhiasan juga. Kita bisa join" tawar Kai.
"Dasar otak bisnis. Tapi boleh juga tu idenya" pada akhirnya Tania berucap.
"Ya sudah nanti kita teleponan lagi. Aku mau ...huwek..."
Terdengar suara muntah di seberang. Membuat Tania panik.
"Kak...Kakak...Kak Kai kenapa?" tanya Tania panik.
"Pak Bos muntah Mbak" suara Leo yang menjawab.
"La dia kenapa? Sakit?"
"Eemm bukan...itu pak Bos ngidam. Bu Natasya hamil pak Bos yang ngidam. Ya sudah mbak tak tutup teleponnya dulu. Mau nolongin pak Bos"
Tania melongo mendengar ucapan Leo.
"Kakakku hamil? Oohh yes, kakakku hamil" teriak Tania.
Membuat semua orang tersenyum. Pasalnya mereka juga menanti kelahiran ahli waris dari klan Liu yang selama ini menjadi tempat mereka mencari nafkah.
Sementara Qila dan Andi hanya bengong mendengar teriakan Tania. Balita itu kini duduk diam. Karena didepannya ada banyak makanan yang disediakan oleh pegawai disana.
Tania masih senyum-senyum sendiri, ketika kilauan cincinnya. Mengenai matanya.
"Tuan Lin, apa disini ada yang bisa dipadankan dengan cincin ini. Dengan minta tolong bawakan cincin nikah"
Pria yang dipanggil tuan Lin itu sejenak mengamati cincin di jari manis Tania. Sebagai orang yang ahli dibidang perhiasan. Tuan Lin langsung tahu bagaimana karakteristik cincin yang Tania pakai.
"Dari brand Cartier?" tanya tuan Lin.
"Tidak tahu. Seseorang memberikannya untukku"
"Tunangan Anda?"
Tuan Lin tersenyum. Lantas mengambil sebuah baki yang dia ambil dari lemari besi di belakangnya. Bersamaan dengan baki yang berisi cincin nikah.
Sedang perhiasan yang tadi dipilih Tania sudah di kemas dengan cantik.
"Cincin Nona akan sangat cantik jika dipadankan dengan gelang ini, ini dan ini" tuan Lin memberikan tiga pilihan kepada Tania.
"Oh ya mbak, cincin itu suruh pria itu memilih" pinta Tania pada pegawai disana.
"Hei buat apa coba?" tolak Andi.
"Buat elu nikahlah. Gue modalin cincinnya. Elu tinggal cari calonnya. Cepet pilih" perintah Tania galak.
Dan entah kenapa, Andi hanya bisa nurut saja. Lantas mulai sibuk mengamati cincin dihadapannya. Ditemani seorang pegawai disana. Sambil sesekali mengajak Qila bercanda.
Sang pegawai sesekali tampak melirik Andi. Entah kenapa, wajahnya begitu familiar untuknya.
"Maaf Mas, boleh nanya?" pegawai itu memberanikan diri bertanya. Daripada penasaran.
"Tanya apa Mbak?" jawab Andi sambil memilih cincin dihadapannya.
"Mas namanya Andi bukan? Yang tinggal di Imogiri bawah makam sultan"
Andi mendongakkan wajahnya. Menatap wanita yang ternyata setelah dilihat lebih jelas nampak cantik. Jantungnya tiba-tiba saja berdebar kencang.
"Iya, namaku Andi. Benar rumahku bawah makam sultan. Kenapa?"
"Mas Andi lupa ya sama aku. Ini aku Puspa. Kita sekelas waktu di SMA"
Andi sedikit mengingat. Lalu tiba-tiba dia menepuk jidatnya.
__ADS_1
"Puspa yang kalau sekolah naikknya sepeda onthel. Terus rambutnya selalu dikuncir dua" oceh Andi.
"Iya itu aku. Tapi kok yang diingat itu ya" keluh Puspa.
"La emang itu yang paling melekat di kamu. Tapi sekarang kamu beda lo...cantik" puji Andi. Membuat pipi Puspa langsung bersemu merah.
"Mas Andi bisa aja" jawab Puspa malu-malu.
Keduanya terkekeh. Tanpa sadar ada yang memperhatikan interaksi keduanya.
"Woi cepetan pilih. Kalau sudah dapat calonnya. Pilih yang ukurannya pas sekalian"
"Tania...." pekik Andi.
Sedang Tania tertawa terbahak-bahak. Bersama dengan Qila. Yang juga ikut tertawa.
"Om Andi marah" ucap Qila polos.
"Qila diam" perintah Andi.
"Yang bagus yang mana Pa?" tanya Andi.
"Semuanya bagus. Juga mahal" bisik Puspa.
"Kalau yang kamu suka?" tanya Andi lagi.
Puspa yang tidak sadar dengan jebakan Andi langsung melihat deretan cincin di hadapannya.
"Kenapa tidak bawa pacar Mas saja ke sini" ucap Puspa.
Tiba-tiba menunjuk satu pasang cincin yang memang Andipun juga suka.
"Ini cantik Mas" ucap Puspa.
"Coba pinjam jari kamu. Kayaknya pas di jari kamu" ucap Andi lagi.
Dan entah kenapa Puspa lagi-lagi manut. Mengulurkan jari tangannya. Dan sruut, cincin terpasang sempurna di jari Puspa.
"Pas tidak?" tanya Andi.
"Pas, Mas" jawab Puspa.
"Tan...aku ambil ini" ucap Andi.
"Sekalian sama yang jual nggak?" tanya Tania balik.
"Kalau dia mau, aku juga mau" jawab Andi sambil melirik Puspa yang wajahnya langsung memerah malu.
"Mas Andi apa-apaan sih?" tanya Puspa.
"La aku ngomong apa adanya Pa. Kamu punya pacar nggak?" tanya Andi.
Puspa menggeleng.
"Ya sudah tidak ada masalah to kalau kamu denganku saja" ucap Andi.
Yang langsung membuat Puspa menatap Andi.
"Maksud mas Andi?" tanya Puspa.
Andi bingung harus menjawab apa.
"Kamu mau nggak jadi pacarnya atau malah jadi istrinya sekalian?" seloroh Tania.
"La...?"
__ADS_1
Baik Andi maupun Puspa melongo mendengar ucapan Tania. Tidak tahu harus menjawab apa.
***