Mengejar Cinta Satu Malam

Mengejar Cinta Satu Malam
Feeling Sean


__ADS_3

Dan persiapan pernikahan Jayden dan Tania akhirnya dimulai. Meski lamaran resmi belum dibuat. Tapi dua keluarga itu sudah heboh. Terutama kakak Tania dan Sofia. Resepsi di dua tempat. Jakarta dan Surabaya.


Jelas akan membuat mereka sibuk. Meski yang di Surabaya akan dihandle sepenuhnya oleh WO yang ditunjuk. Lagipula skala resepsi di Surabaya akan lebih kecil. Hanya untuk klien lokal saja.


Pusatnya, ya tentu saja berada di Jakarta. Dimana relasi bisnis dari tiga perusahaan terkemuka akan tumpah ruah disana. Mengingat ini juga resepsi pamungkas dari keluarga Hadiwinata.


Padahal calon pengantinnya sendiri masih sangat santai. Tania berpikir akan melakukan persiapan dadakan saja. Jadi tidak perlu ribet. Bahkan Jayden sendiri belum melamar dirinya resmi. Belum ada cincin lamaran yang bertengger di jarinya.


Sean dan yang lainnya langsung mengucapkan selamat begitu berita itu tersebar. Terlebih Vera. Dia sampai speecless tidak tahu harus berkata apa.


Hanya kata "selamat" yang terus saja ia ucapkan kepada Tania. Dengan Tania yang langsung memeluk sahabatnya itu.


"Tapi aku mungkin tidak bisa datang. Jika aku sudah lahiran" keluh Vera.


"Kenapa tidak?"


"Nanti repot dan merepotkan"


"Ada banyak maid di sana yang bisa membantumu"


"Kenapa tidak menikah sebelum aku lahiran saja?"


"Aku tidak bisa fokus kalau "dia" belum melihat dunia, my baby boy" ucap Tania sambil mengusap lembut perut Vera.


Vera berkaca-kaca melihat Tania yang begitu menyayangi bayinya. Pun dengan Nita, yang juga begitu menyayangi calon anak Vera dan Bryan . Meski Nita masih merasa malu. Karena dia terus digoda soal malam pertamanya. Dengan pertanyaan yang sama oleh para temannya.


"Ta, suami kamu kan tampangnya kalem banget tu. Apa dia sekalem itu waktu diranjang. Atau sebaliknya"


Begitulah pertanyaan yang sering dilontarkan teman kantor Nita. Membuat Nita kadang hanya diam. Tidak menjawab. Masak iya dia harus menjawab. Kalau sekarang dia harus menjalani double lembur. Ya di kantor, ya di kamar. Meski yang dikamar lembur yang nikmat dan bikin nagih.


Berbeda dengan Rey yang dari tampang saja sudah kelihatan ganasnya. Maura bahkan sampai mengeluh. Suaminya itu suka tidak lihat tempat. Main tembak saja.


Satu tempat bekerja bersama sang suami. Membuat Rey, benar-benar tidak melewatkan sesi panas mereka begitu ada kesempatan. Persis seperti yang Jayden katakan.


Belum lagi cerita Vera. Yang mana, Bryan semakin ke sini semakin rajin saja menengok calon anaknya. Dengan dalih sesuai saran dokter. Untuk membuat jalan lahir bagi anaknya.


Dan semua cerita itu, selalu membuat Tania menelan salivanya susah payah. Teringat dulu, Jayden juga begitu liar saat bercin..ta dengan dirinya. Waktu aku mabuk saja sudah seperti itu. Bagaimana kalau aku dalam keadaan sadar.


Tania bergidik ngeri. Mengingat kali pertama dia melihat milik Jayden dalam keadaan sadar. Dirinya tampak begitu shock. Beuuhh baru lihat saja sudah panas dingin. Apalagi kalau sampai dilesakkan masuk ke dalam miliknya. Entah bagaimana rasanya.

__ADS_1


Tanpa para perempuan itu sadari. Hubungan pertemanan para pria mereka sudah tidak sehangat dulu. Terutama Jayden. Sejak kejadian dia dijebak di hotel waktu itu. Dia sedikit memasang jarak pada Bryan.


Pun dengan Bryan. Yang seolah tahu dengan hal itu. Diapun juga semakin menarik diri dari pertemanan itu. Meski kalau sedang berkumpul komplit dengan para istri. Dia akan ikut hadir menemani Vera. Karena bagaimanapun dia, mencemaskan keadaan Vera kalau harus keluar sendiri.


"Sayang, besok boleh tidak aku keluar dengan Tania dan yang lainnya. Mau hunting keperluan buat baby kita" ucap Vera sambil memeluk dada bidang polos sang suami.


Mereka baru saja selesai melewati sesi panas mereka. Keduanya masih dalam keadaan polos.Dengan perut Vera yang nampak menonjol dibalik selimut tebal mereka.


"Aku sih tidak masalah. Asal selalu berhati-hati saja" jawab Bryan sambil mencium puncak kepala Vera.


Bryan akui dia benar-benar bucin dengan calon ibu satu ini. Rasa yang dulu dia tidak pernah miliki untuk wanita lain. Seharusnya dia bersyukur dengan apa yang sudah dia miliki sekarang. Tapi nyatanya tidak.


Entahlah, apa yang merasuki hati dan pikirannya. Hingga kini dia masih punya satu rencana yang ingin dia jalankan. Tinggal menunggu timing yang tepat.


"Sayang apa kita juga akan ikut resepsi di Jakarta?" tanya Vera lagi.


"Ya kalau keadaan memungkinkan kenapa tidak. Sekalian jalan-jalan" jawab Bryan.


Lagi, jawaban yang membuat hati seorang Vera merasa begitu dicintai oleh suaminya. Merasa begitu beruntung bisa memiliki seorang suami seperti Bryan. Mendengar hal itu, Vera semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh sang suami. Membuat Bryan mengulum senyumnya. Senyum dengan seribu rahasia yang dimilikinya.


"Jangan pernah berpikir untuk menyakiti mereka Bry. Apa salah mereka? Apa salahnya? Apa karena dia dulu menolakmu? Papa juga akan berpikiran sama dengan dia. Kalau Papa jadi dia. Kamu sudah beruntung dengan kehidupanmu yang sekarang. Kau memiliki seorang istri yang begitu mencintaimu. Juga seorang anak yang sebentar lagi akan hadir diantara kalian. Jadi jangan pernah berpikir untuk merusak kebahagianmu sendiri. Dengan menyakiti orang lain"


Sang papa pernah menasehatinya. Tapi sama sekali tidak didengarkan oleh Bryan. Membuat sang Papa hanya bisa diam dan berdoa. Semoga Bryan tidak jadi menjalankan niat buruknya. Yang entah apa, papa Bryan pun tidak tahu.


***


Mereka akan bergabung lagi. Untuk menjemput para wanitanya. Jika mereka sudah selesai menghabiskan isi kartu suami mereka. Yang sudah bersuami. Sedang Tania yang masih otewe punya suami akan menggunakan kartunya sendiri. Meski Jayden sudah memberikan black cardnya pada Tania sejak lama.


Ingat ketika mereka harus lembur dipabrik Tania. Jayden memberikan black cardnya pada Tania untuk membeli makanan. Sejak saat itu Jayden tidak pernah memintanya kembali. Tania sudah berulangkali mengembalikannya. Tapi Jayden selalu menolak. Dengan alasan kartu itu memang milikmu.


Alhasil, kartu itu sekarang ikut jadi penghuni dompetnya bersama dua black card lainnya. Dan juga kartu sakti lainnya. Satu black card dari kakaknya Natasya. Dia bilang itu dari aset Hadiwinata. Satu lagi dari Kai. Bisa dibayangkan jika dompet itu hilang. Yang nemu bisa beli dunia seisinya. Bahkan mungkin Mars juga bisa dibeli mak.


(Ampun deh, ngehalunya gak tanggung-tanggung 🤣🤣 lagian yang jual Mars juga siapa.Mars? Marsmellow kali maksudnya 😁😁)


Para wanita itu langsung menuju baby shop. Langsung heboh melihat deretan perlengkapan bayi yang begitu imut di mata mereka. Menggoda mata mereka. Untuk segera menyentuhnya. Memilihnya. Lantas memborong semuanya.


"Astaga, aku yang hamil. Kalian yang heboh" cebik Vera.


"Eiitt calon ibu tidak boleh merengut. Nanti baby boy ikut merengut" ujar Nita yang membuat bibir Vera yang sempat manyun tersenyum kembali.

__ADS_1


Seperti yang Sean katakan sejak awal. Bayi Vera kemungkinan berjenis kelamin laki-laki. Membuat pria itu berkata pongah.


"Kan aku sudah bilang. Thole alias cowok" seloroh Sean. Membuat semua orang tertawa kala itu.


"Kayaknya kamu bisa jadi mesin USG berjalan deh Sean" seloroh Maura.


"Bukan mesin USG berjalan. Tapi lebih ke feeling" jawab Sean.


"Lalu kami bagaimana?" tanya Maura lagi.


Sejenak Sean terdiam. Kemudian menjawab.


"Kalian, aku belum dapat wangsit. Tapi disini yang aku lihat malah kau...(tunjuk Sean pada Jayden) anakmu perempuan"


Semua melongo. Lantas menatap Jayden dan Tania bergantian.


"Kamu nggak lagi hamil kan? Kalian tidak main depe sama cicil mencicil kan?" todong Vera.


"Nggak, kami tidak nyicil yang begituan. Cuma nyicil ciuman sampai pagi" jawab Jayden asal.


Plak,


Satu keplakan melayang ke lengan kekar Jayden.


"Mulutnya dong kalau ngomong. Please deh ah" ucap Tania sebal.


"Mana mungkin mbak Tania hamidun. Wong ini kita lagi kedatangan tamu barengan" ucap Nita.


"Well, terserah kalian mau percaya atau tidak. Lebih jelasnya kita lihat saja besok" seloroh Sean.


"Kenapa feelingku jadi tidak enak gini yah" batin Sean.


Memandang seluruh temannya yang sedang asyik bercengkerama. Hingga mata hazelnya bersirobok dengan netra hitam Jayden. Yang mengajaknya menatap ke arah Bryan.


Sesaat keduanya saling berpandangan kembali.


"Do you think what I think"


Dua pasang mata itu saling berkomunikasi dalam diam.

__ADS_1


(Hebat yak bisa teleportasi eh telepati. Sorry mak kleru 🤣🤣🤣)


****


__ADS_2