
Hari berganti. Tania sudah diperbolehkan pulang. Luka jahitannya mengering dengan cepat. Obat yang Nita berikan benar-benar manjur. Menyembuhkan luka jahitan pada perut Tania lebih cepat dari perkiraan dokter.
Setelah hampir seminggu menjadi kaum rebahan. Akhirnya dia bisa kembali bergerak bebas. Meski tetap dengan kehati-hatian tingkat tinggi. Luka luarnya mungkin sudah kering. Tapi luka dalamnya kemungkinan belum.
Ada resiko pendarahan jika Tania melakukan gerakan yang terlalu ekstrim atau tiba-tiba. Hubungan Vera dan Bryan juga semakin membaik. Vera berkata mencoba memberi kesempatan pada Bryan.
Bukan hanya karena ada anak di antara mereka. Tapi karena ia mencintai Bryan. Juga ingin mendukung pria itu untuk berubah menjadi lebih baik. Memberi dukungan penuh pada Bryan, saat pria itu harus bolak balik ke kantor polisi. Mengurusi kasus yang terjadi di agensinya. Yang mulai bergulir di meja hijau.
Jayden tersenyum menatap Tania yang tertidur di sofa ruang kerjanya. Untung saja gadis itu memakai celana panjang. Hingga paha mulusnya tidak terlalu terekspose.
Meski Rey tetap saja memandang Tania yang tengah tertidur dengan jutaan perasaan yang tidak ia ketahui apa. Hingga tatapan penuh ancaman dari Jayden mengalihkan pandangan Rey.
Begitu Rey keluar, Jayden dengan cepat mengangkat tubuh Tania masuk ke kamar pribadinya. Sebelum ada mata yang menatap penuh has*** pada tubuh sang kekasih yang kebiasaan pelturnya susah untuk dihilangkan.
Jayden baru akan keluar kamarnya ketika ponsel disaku jasnya berbunyi. Sebuah panggilan video dari putri kesayangannya tertera dilayar ponselnya.
"Halo cantik" sapa Jayden begitu ia menggeser tombol hijau hingga wajah sang putri terpampang di layar ponselnya.
"Appa, Appa" seru Lia.
"Rindu dengan Appa-kah? Sampai menelepon?" tanya Jayden. Tanpa sadar duduk di tepi ranjang.
Lia begitu sumringah menatap wajah Jayden. Begitu pula Jayden.Dia begitu bahagia bisa menatap wajah putri kecilnya itu.
"Appa kapan pulang? Lia lindu" ucap Lia masih dengan lidah celatnya.
Membuat sebuah suara disekitar Lia tertawa terbahak-bahak.
"Abang..." suara Nina, sang Mama terdengar memperingatkan putranya, Hyun Ae.
"Lia masih belum bisa bilang "R" Om" lapor Hyun Ae meski wajahnya tidak kelihatan.
"Itu Appa, Abang jahat dengan Lia. Abang selalu nakal dengan Lia" adu Lia pada Jayden.
Membuat Jayden tertawa. Melihat dua kembar beda gender itu bertengkar tiap hari. Adalah hiburan tersendiri bagi Jayden.
"Lawan dong masak Lia kalah sama Abang" Jayden memprovokasi.
"Jayden...." desis Nina.
"Mama marah Lia" adu Jayden.
Lia langsung memasang wajah cemberut pada sang mama yang duduk didepannya memegang ponsel. Nina diseberang sana langsung memutar matanya malas.
"Mama jangan malahin Appanya Lia" marah Lia pada mamanya.
"Mama tidak marah sayang. Hanya menasihati Appa-mu yang nakal" jawab Nina lembut.
Lia nampak mengerucutkan bibirnya. Seolah tidak setuju dengan ucapan Mamanya. Lia baru saja akan berkata lagi ketika gadis cilik itu menangkap pergerakan di belakang Jayden. Mata Lia menangkap seraut wajah yang tampak tengah tertidur di belakang Jayden.
"Appa apakah itu Eomma?" tanya Lia polos. Menunjuk arah belakang Jayden.
__ADS_1
Jayden sontak menoleh ke belakang dimana wajah Tania memang tepat berada di belakangnya. Membuatnya tanpa sadar masuk ke dalam kamera panggilan video mereka.
"Alamak, terciduk aku" batin Jayden.
Diseberang sana. Wajah Lia langsung berubah jadi wajah Nina yang kepo.
"Siapa dia Jayden?" tanya Nina menggebu-nggebu. Antara kepo dan takut jika Jayden kumat casanovanya.
"Kamu tidak kenal dia?" tanya Jayden mengarahkan kamera ponselnya ke wajah Tania yang masih tertidur.
"Siapa dia? Dan kenapa dia ada di kamarmu? Itu kamarmu dikantor kan. Jangan-jangan...
"Ah pikiranmu itu lo" Jayden mendesah kesal. Ikut membaringkan tubuhnya disamping Tania. Setelah melepaskan jasnya terlebih dahulu.
"Lalu kalau tidak begituan ngapain dia ada di kamarmu. Siapa dia?" tanya Nina.
Sedang di belakangnya terdengar suara Hyun Ae dan Lia yang mulai bermain.
"Kamu tidak kenal dia? Dia Tania adik Kaizo" jawab Jayden.
"Adik Kaizo? Lalu buat apa dia dikamarmu. Kalian tidak melakukan itu kan?" tanya Nina curiga.
"Hei lihatlah pakaian kami masih lengkap" jawab Jayden.
"Hei kamu pikir aku bisa kamu tipu. Tanpa buka baju hal itu masih bisa dilakukan" gerutu Nina.
"Wah pintar sekali kamu sekarang. Pernah melakukannya atau sering malah?" tanya Jayden.
"Hei aku tidak bicara soal diriku. Tapi kalian. Kamu tahu kalau Kai bisa marah jika tahu kamu tidur dengan adiknya" Nina mengingatkan.
"Siapa yang bisa menjaminnya?" tanya Nina ragu.
Jayden diam. Melirik wajah polos Tania yang sedang tertidur.
"Benar juga ya siapa yang bisa menjamin dirinya untuk tidak menerkam wajah polos dihadapannya ini" monolog hati Jayden.
"Apalagi kamu itu casanova. Jangan macam-macam Jayden. Bawa pulang dan cepat nikahi dia. Sebelum kamu kebablasan dan membuat papa marah" ancam Nina.
"Iya-iya aku akan membawanya pulang" jawab Jayden patuh.
Dia mana bisa melawan ucapan Nina.
"Sekarang keluar dari sana. Sebelum kamu lepas kontrol. Tidak sadar apa kalau kamu itu mudah terpancing" perintah Nina.
"Iya-iya" Jayden kembali menurut.
Terdengar suara ribut di belakang Nina.
"Sudah dulu. Aku tutup teleponnya. Mereka mulai bertengkar. Ingat keluar dari sana cepat" ucap Nina buru-buru.
"Oke kakak ipar cantikku. Selamat berjuang" ucap Jayden setengah meledek.
__ADS_1
Nina memutar matanya malas. Mendengar ucapan Jayden. Karena si kembar jika sudah bertengkar akan jadi drama yang tidak kunjung habisnya.
Sambungan dimatikan. Jayden langsung melirik ke arah Tania yang sama sekali tidak terganggu dengan panggilan teleponnya.
"Apa kamu juga akan diam saja jika aku melakukan sesuatu padamu. Saat kau tertidur seperti ini" goda Jayden sambil mencolek pipi mulus Tania.
Yang digoda hanya menggeliatkan tubuhnya pelan. Membuat Jayden penasaran sekaligus gemas.
"Benarkah kau tidak akan melawan?" ucap Jayden lagi.
Perlahan dia mencium bibir Tania. Memainkannya. Lantas mencoba melakukan french kiss. Dan Tania sama sekali tidak melawan.
"Damm it!!"
Justru dia yang sekarang terpancing. Has***nya naik seketika. Buru-buru dia keluar dari kamar itu. Sebelum dia benar-benar kebablasan. Malas dia untuk melakukan plan B alias solo karir.
Dia keluar bersamaan dengan Rey yang juga masuk ke dalam ruangannya. Rey tidak sendiri karena dibelakangnya ada seorang pria bule yang ikut masuk bersama Rey.
"Hello man, how are you doing?" tanya pria bule itu.
Memeluk Jayden untuk beberapa waktu.
"Aku sangat baik. Sangat, sangat baik" jawab Jayden.
"Ada yang penting? Tiba-tiba kemari tanpa mengabariku lebih dulu" tanya Jayden sambil mendudukkan dirinya di sofa. Diikuti pria itu.
"Bagaimana kamu bisa melakukan itu padaku?" tanya pria itu.
"Apa maksudmu, Ed?"
"Aku baru dari Milan. Dan si Arturo itu pamer padaku kalau dia sudah menemukan model dengan nilai sempurna" jawab pria yang Jayden panggil Ed itu menggebu-nggebu.
"Aduh kenapa juga Sebastian pakai pamer segala sih. Kan jadi runyam urusannya kalau sama si vampir satu ini" batin Jayden.
Karena kebetulan pria dihadapannya ini bernama Edward Cullen. Edward menatap Jayden seolah menanti jawaban sekaligus penjelasan.
"Lah kenapa roman-romannya bos seperti orang yang ketahuan selingkuh ya?" batin Rey menatap kebingungan bosnya.
Bagaimana menjelaskan pada si vampir ini.
****
Bonus pict Jayden yang lagi bingung disidang sama si vampir.
Kredit Instagram@eunwoo_aroha
****
Met puasa bagi yang menjalankan. Semoga lancar puasanya. Diterima amal ibadahnya,
__ADS_1
Amiinn 🤲🤲🤲🤲
**