Mengejar Cinta Satu Malam

Mengejar Cinta Satu Malam
Balada Nasi Padang


__ADS_3

Para wanita itu masih heboh dengan acara belanja mereka. Dua troli tampak sudah penuh dengan barang belanjaan mereka. Ada baju bayi. Selimut bayi. Kaos kaki. Bahkan jaket dan baju untuk anak umur satu tahun ke atas sudah mereka beli.


"Hei anakku belum lahir. Tapi kenapa kalian sudah membelikan baju besar-besar untuknya" protes Vera.


"Dia kan nanti bakalan tumbuh besar. Jadi tidak salah dong kita beli" bela Maura.


"Iya, lagian kata emakku. Anak kecil itu tumbuhnya cepat. Tahu-tahu sudah tidak muat saja tu baju" Nita ikut menimpali.


"Tania...." teriak Vera.


"Apa?"


Dia sendiri malah sibuk memilih setelan untuk anak berumur satu tahun lebih.


"Kamu? Apa yang kamu lakukan?" tanya Vera.


"Pilih bajulah. Buat our little Prince" ucap Tania sambil terus memilih baju.


"Iiih kenapa bagus semua sih. Kalau diborong saja semua gimana ya?" guman Tania.


Membuat mata Vera berkaca-kaca. Tidak menyangka jika dia mempunyai teman-teman yang begitu memperhatikannya.


"Kamu tahu Boy. Mama rasa kamu akan menjadi anak yang paling beruntung di dunia. Lihatlah para tantemu begitu menyayangimu" batin Vera mengusap lembut perut buncitnya.


"Eh Bu, ini bagus tidak?" tanya Nita dari arah belakang Vera.


"USG-nya cowok Ta, masak kamu suruh pakai warna pink"


"Kan lucu Ra, Imut lagi" jawab Nita dengan wajah berbinar.


"Gak, pokoknya kasih warna cowok" galak Vera.


"Kamu mending ambil aja. Buat anak kamu nanti. Siapa tahu habis ini kamu atau aku yang hamil" seloroh Maura.


"Iya juga ya" jawab Nita.


"Wah habis ini pada lembur dong kalian" ledek Vera.


"Haissh hati-hati ngomongnya, ada yang lagi otewe" Maura memperingatkan.


Tania pura-pura tidak mendengar.


"Otewe apanya. Aku malah yang paling duluan tahu rasanya. Apalagi ditambah kemarin" batin Tania.


"Lah kok malah terbayang-bayang miliknya Jayden sih" batin Tania sambil geleng-geleng kepala.


"Eh kenapa kamu? Kok malah melamun" tanya Nita tiba-tiba.


"Eh enggak kok. Lagi bingung milih. Bagusan yang mana ya?" Tania beralasan sambil menunjukkan dua baju di tangannya.


"Yang hijau kayanya lebih cakep deh" saran Nita.


"Kayaknya iya" Tania asal saja mengiyakan.


Menutupi pikiran liarnya yang malah travelling ke mana-mana.


"Ah lama-lama aku bisa gila sendiri" batin Tania lagi.


Dan akhirnya setelah hampir tiga jam hunting. Sesi belanja mereka selesai. Terlebih lagi Vera juga mulai kelelahan. Beberapa item yang berukuran besar langsung dikirim ke apartemen Bryan. Sedang barang-barang yang mereka beli. Masih dimasukkan ke dalam box. Nanti menyusul dikirim ke alamat yang sama.

__ADS_1


Mereka beristirahat sambil menikmati makan siang mereka. Dan restoran Padang menjadi pilihan si ibu hamil. Membuat yang lain menurut saja.


"Ini kalau Jayden tahu, aku makan disini. Dia pasti penasaran" ucap Tania sambil menggigit rendangnya.


"Dia belum pernah kamu ajak makan nasi Padang?" tanya Nita.


Tania menggeleng.


"Kata Rey mereka mau kesini" timpal Maura setelah melihat ponselnya.


"Benarkah?" tanya Vera.


"Suamimu aku tidak tahu. Disini tertulis ada Sean, Jayden dan juga Rey" jawab Maura


Vera sedikit kecewa. Entah kenapa akhir-akhir ini dia merasa suaminya tidak sedekat dulu dengan pria teman-temannya. Dia jarang cerita soal Jayden dan yang lainnya. Jarang berkumpul juga. Padahal ia sering tahu kalau Jayden, Sean dan Rey sering ngumpul bareng.


"Kenapa?" tanya Nita.


"Mungkin dia masih sibuk. Kan sekarang dia banyak kerjaannya" hibur Tanià.


Vera terdiam. Entah mengapa. Mendengar ucapan Tania. Vera merasa, Tania tahu lebih banyak soal Bryan ketimbang dia, istrinya.


"Lagi makan apa Sayang?" tanya satu suara.


Membuat yang lain mendongak. Menatap Bryan yang datang. Langsung mencium pipi istrinya. Membuat si empunya pipi langsung merona merah.


Sedang Nita dan Maura saling pandang. Mereka inilah mata-mata tambahan ketika para wanita sedang berkumpul. Suami keduanya sudah bercerita soal kecurigaan mereka tentang Bryan. Dan tugas keduanya adalah mengawasi Tania dan Vera. Agar tidak terjadi hal-hal yang membahayakan keduanya.


Bryan langsung duduk diantara Vera dan Maura. Tepat di depan Tania. Membuat Bryan dengan mudah memandang Vera.


"Pada makan apa nih?" tanya Bryan membuka suara.


"Nasi Padang. Kamu sudah makan?" tanya Vera.


Dan hal itu berhasil dilihat oleh tiga pria yang berdiri di lantai dua. Bertumpu pada kaca pembatas. Ketiga pria itu tampak saling pandang.


"Aku penasaran sekali. Apa yang sedang ada di otak si brengsek itu?" ucap Sean.


Kembali Sean menyebut Bryan brengsek setelah kejadian di Jakarta waktu itu.


"Entahlah. Aku hanya takut. Pria itu melukai Tania dan Vera sekaligus" cemas Jayden.


"Tapi sampai sekarang. Kita belum menangkap pergerakan apapun darinya" timpal Rey.


"Itu yang aku cemaskan" tambah Jayden.


Ketiganya diam.


"Apa Dika belum memberi laporan apa-apa?" tanya Jayden.


"Sejauh ini Dika melaporkan kalau tidak ada hal yang mencurigakan soal tuannya" lapor Rey.


"Apa kita cukup percaya pada Dika? Maksudku dia kan lama bekerja pada si brengsek itu" Sean memberi pertimbangan.


"Kau tidak ingat kalau bos Dika itu sebenarnya tuan David. Bahkan tuan David juga sudah meminta pada kita untuk bekerjasama dengan Dika. Mengawasi dia" Jayden mengingatkan.


"Iya juga ya" ucap Sean dan Rey hampir bersamaan.


"Sudahlah ayo makan dulu. Dia sudah duduk lagi. Lagipula aku penasaran dengan apa itu nasi Padang. Kalian sepertinya belum pernah mengajakku makan itu" ujar Jayden. Mulai berjalan menuju eskalator.

__ADS_1


"Kau akan terkejut melihat apa yang mereka makan" sahut Sean.


"Kenapa?" Jayden kepo.


"Kau lihatlah sendiri" jawab Sean ambigu.


Ketiga pria tampan itu berjalan menuju ke meja Tania. Kedatangan mereka sontak menjadi perhatian para pengunjung di restoran itu.


"Makan apa By?" tanya Jayden tiba-tiba.


Membuat Tania hampir melompat saking terkejutnya. Pasalnya pria itu berbisik tepat di telinganya.


"Astaga. Kamu mengagetkanku" Tania menghentikan makannya.


Jayden dan yang lainnya terkekeh melihat hal itu.


"Oh my, pasangan otewe sah dan halal" seloroh Sean.


Mulai ikut makan dari piring sang istri.


"Apa ini?" Jayden masih bertanya.


"Nasi Padang. Mau coba?" tawar Tania.


Jayden sedikit "memeriksa" piring Tania. Dia sedikit mengerutkan dahinya.


"Tapi By, itu berlemak. Nanti abs aku hilang" keluh Jayden.


"Issh yang nyolong juga siapa. Coba aja. Enak kok" Tania coba meyakinkan.


Jayden sedikit ragu.


"Nanti aku temani ngegym deh" bisik Tania.


"Ngegym plus-plus ya?" Jayden balas berbisik.


Tania langsung mendelik mendengar hal itu. Sedang yang lain sudah memilih asyik dengan pasangan masing-masing.


Sean dan Rey mengulum senyum mereka. Saling pandang. Sambil menatap reaksi satu orang yang tampak memerah wajahnya. Entah marah atau cemburu. Sean dan Rey belum bisa memastikannya.


Pada akhirnya, ketiga pria itu mengambil porsi mereka sendiri. Setelah memantapkan diri. Habis ini mereka akan ngegym bareng.


"Oohh balada nasi Padang. Enakmu harus ditebus dengan ngegym dua jam" seloroh Jayden setelah mengambil satu porsi nasi Padang.


Lengkap dengan rendang dan ayam cabe ijo plus lalap daun singkong. Yang dia sendiri tidak tahu jelas, berapa jumlah lemak dan kalorinya. Yang jelas banyak banget.


Dan ucapan Jayden itu, sukses meledakkan tawa di meja itu.


"Balada nasi Padang?" seloroh Sean menirukan ucapan Jayden.


"Bisa jadi judul sinetron itu" usul Rey.


Yang kembali disambut gelak tawa. Hanya satu orang yang kurang menikmati moment itu.


***



Kredit Instagram @eunwo.o_chika

__ADS_1


Babang Jay yang habis ini mau ngegym plus plus bareng Tania 🤣🤣🤣


****


__ADS_2