Mengejar Cinta Satu Malam

Mengejar Cinta Satu Malam
Hadiah Kecil


__ADS_3

Pada akhirnya acara ngegym bareng yang para pria itu rencanakan kacau balau. Karena para wanita mereka merengek. Ingin menghabiskan waktu berdua saja. Hingga tak ayal para pria itu tidak bisa menolak permintaan para wanitanya.


Sedang Vera dan Bryan, jangan ditanya lagi. Keduanya langsung pamit begitu acara makan siang mereka selesai. Ya, Vera memang teelihat lelah sekali. Namun juga bahagia.


Ketiga couple itu lantas berpisah. Karena masing-masing ingin menikmati waktu mereka. Jangan heran jika dua couple yang sudah sah itu langsung check in ke hotel sebelah.


Meninggalkan Jayden dan Tania yang melongo. Mendengar pamitan absurd ala pengantin baru itu.


"Kami pamit dulu ya. Mau ngegym paling nikmat sedunia plus paling efektif membakar lemak dan kalori" begitu Sean berpamitan diikuti Rey yang mengulum senyumnya.


Mana berani dia berucap seperti Sean. Yamg ada besok dia "diceraikan" dari istrinya. Satu di Bandung, satu di Surabaya. Bisa berabe nafkah batinnya.


"Sialan kalian!" umpat Jayden begitu sadar dengan maksud Sean.


Namun kedua couple itu takkan bisa mendengar umpatan Jayden. Karena mereka sudah buru-buru masuk ke lift.


Jayden hanya bisa memaki sebanyak yang dia mau. Sedang Tania hanya diam. Mendengar makian Jayden. Dengan tangannya yang bergelayut manja di lengan kekar Jayden.


Setelah puas memaki. Pria bertubuh tinggi itu akhirnya diam juga.


"Mau nyari apa?" tanya Jayden pada akhirnya. Setelah berhasil menekan rasa kesalnya.


"Entahlah. Kita lihat sambil jalan-jalan ya" pinta Tania.


"No problem" jawab Jayden.


Kapan lagi mereka bisa menghabiskan waktu berdua. Meski kalau ikutkan Jayden. Pria itu lebih suka menghabiskan waktu mereka di apartementnya. Lebih-lebih diatas ranjangnya. Haaiiisshhh..


Keduanya berjalan sambil bergandengan tangan. Masih berputar-putar tidak tentu arah. Hingga mata Tania. Melihat sebuah toko perhiasan. Dia dari tadi berpikir ingin memberikan hadiah apa jika putra Vera lahir.


"Kak..."


"Hmm"


"Punya langganan toko perhiasan di sini?"


Jayden mengerutkan dahinya mendengar pertanyaan Tania.


"Kayaknya enggak deh. Buat apa? Mau pesen cincin kawin?"


"Isshh, enggaklah"


"Terus?"


"Ya, cari aja dulu"


"Aku tidak tahu. Coba aku tanya Rey"


"Eh Kak jangan...


Tapi Jayden sudah mendial nomer Rey. Membuat Rey yang diujung sana. Sedang on fire. Langsung mengumpat kesal. Lupa mematikan ponselnya.


Sambil menahan desa*** agar tidak lolos dari bibirnya. Pria yang sudah polos diujung sana, itu menjawab panggilan dari bos tidak tahu diri itu. Bisa-bisanya menghubunginya saat dirinya sedang menikmati surga dunia.


"Ya Pak Bos" jawab Rey dengan nafas tersengal.


"Kamu ada rekomendasi toko perhiasan di mall ini?" tanya Jayden to the point.


Rey sedikit berpikir. Sementara dibawah sana sang istri terus mende*** nikmat.


"Oh ada pak Bos" Rey cepat mengingat kalau dirinya memesan cincin dan perhiasan untuk seserahan dari toko perhiasan di mall itu.


"Tapi lupa nama tokonya" sambung Rey sambil terus memacu tubuhnya di atas tubuh Maura, yang terus menikmati setiap gerakan dari suaminya.


"Sebutkan saja lantainya. Aku sendiri yang akan mencarinya" jawab Jayden.


"Ada di lantai tujuh pak Bos" info Rey cepat.

__ADS_1


Tuuut,


Bunyi panggilan dimatikan. Membuat Rey berdecak kesal.


"Seenaknya sendiri" umpatnya.


"Sayang...." suara seksi Maura menyadarkan Rey. Lantas dengan cepat mengubah posisi mereka. Memacu tubuh Maura dari arah belakang membuat wanita itu menjerit nikmat seketika.


"Sialan kau Rey, beraninya kau mengangkat teleponku saat lagi bercin..ta" umpat Jayden dalam hati.


(Lah salah siapa menelepon di waktu yang tidak tepat 🤔🤔)


Selanjutnya mereka berjalan menuju lantai tujuh. Hingga sampai di sebuah toko perhiasan yang besar dan terlihat mewah.


Jayden langsung masuk. Dan disambut oleh pegawai yang ada disana. Awalnya mereka biasa saja. Tapi setelah menyebutkan nama Reyhan Armando. Sang manager sendiri yang melayani mereka.


"Ada yang bisa kami bantu tuan...


"Lee, Jayden Lee" Jayden menjawab pertanyaan tidak terucap dari manager itu.


"Aa, tuan Lee" sambut manager itu.


"Apa yang kamu mau?" tanya Jayden.


"Saya ingin memesan gelang bayi untuk keponakan saya yang akan lahir sekitar sebulanan lagi" jawab Tania cepat.


Membuat Jayden langsung menatap Tania.


"Aku ingin memberi hadiah untuk anak Vera" Tania menjawab pertanyaan tatapan mata Jayden.


"Oo bisa sekali Mbak. Sebentar saya ambilkan beberapa contohnya" ucap manager toko itu.


"Aku kesana melihat-lihat ya?" pamit Jayden ketika melihat manager itu sudah kembali dengan dua baki di tangannya.


"Lihat dulu Mbak. Siapa tahu ada yang cocok. Atau Mbak punya design sendiri. Kami akan membuatkannya untuk Anda"


Mata Tania melebar. Mendengar hal. Dia menghentikan kegiatannya melihat gelang-gelang imut nan lucu itu.


"Tentu saja. Tenaga kami sangat ahli di bidangnya. Juga sangat ptofesional" sahut manager itu.


Tania menatap deretan gelang imut itu lagi. Lantas mengambil kertas design dan pena dari dalam tasnya.


"Mbaknya designer ya?" tebak manager itu. Yang dijawab Tania dengan senyuman.


"Wah hebat sekali Mbak-nya ini" puji sang manager.


Tania tampak berkonsentrasi menggambar sesuatu di kertasnya. Sepuluh menit kemudian. Sang manager hampir berteriak ketika Tania menyerahkan model gelang yang dia inginkan.


"Wah, ini cantik sekali. Eksklusif sekali kelihatannya" puji sang manager menatap kertas yang ada dihadapannya.


"Bisa kalian mewujudkannya?" tanya Tania.


"Tentu saja bisa. Hanya mungkin perlu waktu ya mbak. Karena kami harus memesan dulu rubi dan safirnya" jawab manager itu.


"Tidak masalah. Dia masih bulan depan lahirnya. Dan satu lagi berapapun biayanya akan saya bayar" tegas Tania.


"Siap Mbak" jawan sang manager mantap.


Selanjutnya kedua orang itu membahas detail gelang yang dipesan Tania. Melupakan Jayden yang tengah menatap deretan cincin pernikahan di depannya.


"Ada yang bisa kami bantu, Tuan?" tanya pelayan disana ramah.


"Cincin pernikahan, aku sedang mencarinya" ucap Jayden.


"Anda ingin cincin yang seperti apa?" tanya pelayan itu.


Jayden melirik ke arah Tania.

__ADS_1


"Simple, mata tunggal. Namun terlihat mewah dan elegan. Aah, jangan yang terlalu mencolok modelnya" jawab Jayden.


Pelayan itu tersenyum. Dia tentu sudah hafal dengan kriteria seperti itu. Kriteria untuk seorang sultan.


"Ini ada beberapa contoh. Silahkan dilihat dulu" ucap pelayan itu.


Jayden tampak melihat-lihat beberapa model cincin. Cukup lama. Hingga matanya terpaku pada sebuah cincin yang terlihat manis dan juga cantik di matanya.


"Sesuai dengan wajah Tania" batin Jayden.


Dia menyentuh cincin itu. Membuat sang pelayan tersenyum.


"Anda pintar sekali memilih" puji pelayan itu.


Sedang Jayden langsung tersenyum. Membayangkan cincin itu pasti akan cantik sekali kalau terpasang di jari manis Tania.


"Aku ambil ini. Simpankan dulu untukku. Dan pilihkan ukuran jarinya untuk wanita itu. Aku tidak tahu ukuran jarinya" Jayden menunjuk Tania dengan dagunya.


Pelayan itu tersenyum.


"Tentu saja, Tuan"


"Akan kutuliskan alamat kantorku saja" tambah Jayden menuliskan alamat kantornya di secarik kertas.


Jayden lantas mendekati Tania yang rupanya juga sudah selesai.


"Kalau sudah siap. Nanti kirimkan saja ke alamatku. Pegawaimu sudah mencatatnya" ucap Jayden sambil duduk disamping Tania.


"Tapi Kak..."


Jika sudah begini bisa dipastikan kalau Jayden yang akan membayarnya.


"Kenapa?"


"Biar aku yang bayar untuk gelang anaknya Vera" pinta Tania.


Jayden sejenak menatap Tania.


"Baik untuk gelang anaknya Vera. Lain aku yang bayar" putus Jayden pada akhirnya.


Cukupa paham dengan keinginan Tania.


"Terima kasih Kak" ucap Tania sumringah.


"Berterima kasihlah yang benar" bisik Jayden.


"Aiissshh, mulai deh" cebik Tania.


Keduanya keluar dari toko perhiasan itu dengan wajah sumringah.


"Senang?" tanya Jayden.


Tania mengangguk antusias.


Tania jelas terlihat begitu bahagia. Sebuah hadiah kecil sudah dia siapkan untuk malaikat kecil Vera. Berharap sebuah takdir yang indah akan terjadi setelahnya.


Senyum kembali terukir di wajah cantik Tania. Membuat Jayden yang berjalan disebelahnya. Hanya ikut mengulum senyumnya.


"Apa yang kamu siapkan" tanya Jayden.


"Bukan apa-apa. Hanya sebuah hadiah kecil dan juga sebuah doa. Semoga takdir yang indah disiapkan untuk anak Vera" jawab Tania ambigu.


***



Kredit Instagram @ eun.woo.aroha

__ADS_1


Yang abis beli cincin kawin 🤗🤗🤗


****


__ADS_2