
Kali ini Bryan makan dengan wajah sumringah. Dia pikir plan A akan ia rasakan lagi. Ternyata tidak. Dari awal, Sean sudah mengatakan kalau dia yang akan mentraktir mereka.
Meski mereka makan dengan menu lokal. Tidak masalah yang penting kenyang dan lebih serunya gretongan alias gratis.
Jayden terpaksa mengikut menu yang mereka pesan. Dia tidak begitu paham dengan menu lokal. Hingga dia pasrah saja saat Rey memilihkan menu sate ayam untuknya.
Kredit google.com
Yang membuat Jayden mengerutkan dahinya.
"Ini bagaimana makannya?" Jayden bertanya sambil mengambil satu tusuk sate ayam yang terlihat menggiurkan.
"Ya elah tinggal gigit doang. Seperti ini" ucap Bryan sambil menggigit satenya.
"Hiiii tidak elegan" cetus Jayden.
Membuat yang lain langsung meledakkan tawanya.
"Elu pikir baju? Elegan?" jawab Sean.
"Begini pak Bos kalau mau makan sate yang elegan" ujar Rey sambil menunjukkan cara melepas daging sate dari tusukannya menggunakan garpu lalu memakannya seperti biasa.
"Nah itu baru makan yang bener" girang Jayden memulai makannya.
"Dasar bule Korea" ledek Sean.
"Kayak elu kagak aja. Bule Cina" Jayden meledek balik Sean.
"Lalu kita bule abal-abal Rey" ucap Bryan pada Rey yang hanya bisa mengulum senyumnya.
"Oh ya hiper *** itu apa?" tanya Rey kepo.
"Masak kamu nggak tahu. Googling sendiri aja deh" jawab Sean.
"Ahh tuan Sean nggak seru" gerutu Rey.
"Hiper *** itu keinginan untuk berhubungan *** yang berlebihan. Dengan kata lain kamu maunya bercin...ta terus. Pagi, siang, sore, malam. Seperti tidak pernah puas. Lebih kurang seperti itu" jelas Bryan singkat.
"Bukan karena stamina mereka yang oke ya?" tanya Sean.
"Biarpun staminanya oke. Begitu mereka puas ya sudah. Meski menginginkan lagi masih dalam taraf wajar. Seperti anak hiper aktif. Mereka kelebihan tenaga dan disalurkan untuk berhubungan *** yang nyatanya tidak pernah ada kata puas dalam kamus mereka. Yang kudengar seperti itu.Yang aku tahu hyper *** bisa membuat kita kecanduan. Benarnya aku kurang tahu" ucap Jayden membuat Rey manggut-manggut.
Akhirnya setelah pembahasan mengenai kelainan yang Michael punya. Mereka melanjutkan makan mereka dengan tenang.
****
Keempat pria itu tampak setengah berlari memasuki IGD tempat Vera dirawat beberapa waktu lalu.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Jayden panik.
Mereka bermaksud kembali ke kantor Jayden setelah acara makan mereka selesai. Karena mobil mereka semua ditinggal di kantor Jayden.
Namun semua kembali berantakan ketika Nita menelepon. Mengatakan kalau Tania terluka. Ada yang bermaksud melukai Vera tapi Tania berhasil menghalanginya. Alhasil, Tania mengalami luka tusuk di perutnya.
"Masih diperiksa dokter. Darahnya....banyak sekali" ucap Vera berkaca-kaca. Ada noda darah di baju dan tangannya.
Dia nampak shock hingga entah keberanian dari mana. Bryan mendekat.Lalu memeluk Vera dengan lembut. Dan tanpa diduga Vera tidak menolak. Membuat semua orang mengulum senyumnya.
"Pandai sekali dia mengambil kesempatan" batin mereka bersamaan, saling memandang satu sama lain.
Vera sendiri tidak tahu kenapa dia tidak menolak ketika Bryan memeluknya. Sebab rasa khawatir yang sejak tadi begitu menyesakkan dadanya. Seketika berkurang ketika Bryan memeluknya. Aroma parfum Bryan benar-benar bisa menenangkan hatinya.
Bahkan rasa mual yang juga sejak tadi menyiksanya. Sirna seketika. Ada apa dengan dirinya. Pikir Vera. Kenapa dia tiba-tiba begitu menginginkan pria brengsek ini untuk berada didekatnya.
Ditengah pemandangan yang begitu melegakan hati itu. Pintu ruang IGD terbuka.
__ADS_1
"Bagaimana keadaannya Dok?" tanya Jayden tak sabaran.
"Lukanya cukup dalam. Tapi untungnya tidak mengenai organ dalamnya"
Semua orang menari nafasnya lega.
"Hanya saja dia perlu menerima beberapa jahitan yang akan meninggalkan bekas sedikit di kulit mulusnya"
Jayden langsung membulatkan matanya mendengar kata dokter itu. Dengan kata lain dokter itu sudah melihat kulit mulus dan perut seksi milik Tania. Wajah Jayden langsung berubah merah menahan amarah.
"Apa tidak bisa hilang Dok" tanya Sean ikut memprovokasi Jayden.
"Ya bisa sih Pak. Sekarang yang penting keadaan pasien baik-baik saja. Pendarahannya untung saja langsung bisa kami hentikan. Dia dibawa tepat waktu ke sini" jelas dokter itu.
"Apa maksudmu dengan bertanya kalau bekasnya bisa hilang atau tidak?" tanya Jayden judes.
"Elu yang apa maksudnya pelototin tu dokter. Eh Lee sudah tugas dokter ngobatin pasien. Tidak peduli dimana lukanya. Ini masih mending di perut. Coba kalau lukanya di payu****nya. Hayo elu mau gimana?" jawan Sean tak kalah galak.
"Sean Huang!"
"Apa? Posesif boleh tapi lihat situasi dan kondisinya. Sekarang yang penting Tania baik-baik saja. Lagian tu dokter sudah biasa melihat perut pasien. Baik yang mulus, seksi. Nggak akan bikin otak mereka traveling ke mana-mana. Emang kita. Lihat paha mulus dikit aja, otak sudah tidak bisa dikondisikan" omel Sean yang sudah seperti rel kereta api.
Yang lain langsung membulatkan mata mendengar ocehan Sean soal paha mulus dan perut seksi. Terlebih Nita. Sedikit tidak percaya jika Sean bisa mengucapkan hal-hal seperti itu.
Jayden ingin membalas. Tapi Rey menyentuh lengannya.
"Rumah sakit pak Bos" Rey mengingatkan.
Pada akhirnya Jayden hanya bisa memdengus geram. Dengan matanya terus saja menatap nyalang pada Sean.
Namun seolah tidak peduli. Sean malah menarik tangan Nita untuk duduk dikursi tunggu. Mengikuti Vera yang sudah dari tadi duduk. Setelah dibujuk oleh Bryan.
"Ini terus acaranya bagaimana?" tanya Sean.
Tania sudah dipindahkan ke ruang rawat VIP. Sesuai keinginan Jayden. Karena menurut dokter luka Tania masih harus diobservasi dalam dua atau tiga hari mendatang. Gadis itu masih tertidur akibat pengaruh obat bius.
Kredit google.com
"Tapi..." Vera ingin protes tapi Sean memotongnya.
"Kamu pulang dan istirahat. Kamu harus memperhatikan kesehatanmu dan bayimu. Bryan akan mengantarmu pulang" putus Sean.
Vera langsung memanyunkan bibirnya. Tidak suka dengan keputusan Sean. Sedang Bryan langsung mengembangkan senyumnya. Melalui tatapan matanya dia berterima kasih pada Sean.
"Tapi aku tidak mau di apartemen sendirian" ucap Vera.
"Mau kutemani? tawar Bryan.
Dia mulai berani mengambil kesempatan.
"Tidak mau!"
"Terus kamu ditemani siapa?" tantang Sean.
Vera memindai semua orang. Rey jelas tidak mungkin. Sean apalagi. Nita ...
"Nita harus pulang. Maknya lagi sakit" ucap Sean tiba-tiba. Seolah bisa membaca pikiran Vera.
Sedang Nita langsung mendelik. Menatap tajam pada Sean. Yang langsung memberikan tatapan mata penuh permintaan maaf.
"Enak saja doain mak gue sakit" batin Nita menatap tajam Sean.
"Maafkan aku sayang. Ini darurat" batin Sean sambil menatap lembut pada Nita.
Vera menarik nafasnya kesal. Mau tidak mau membiarkan pria brengsek itu menemaninya malam ini.
__ADS_1
Pada akhirnya. Rey mengantarkan dua sejoli yang seperti dua negara yang sedang mengalami perang dingin. Sedang Sean mengantar pulang Nita menggunakan taksi.
Rey benar-benar seperti wasit ketika mengantarkan Vera dan Bryan pulang ke Waterplace Apartement.
"Aduh mbok ya pada ngomong kek. Biar nggak sunyi-sunyi amat. Sudah kayak di kuburan aja suasananya" ucap Rey yang mencoba mencairkan suasana.
"Diam kamu Rey. Kalau kamu ngomong lagi tak turunin didepan sana. Depan sana ada kuburan beneran, mau?" ancam Vera galak.
"Duh galaknya. Emang semua wanita kalau lagi hamil pada jadi galak ya?" tanya Rey pada Bryan yang duduk disampingnya.
Bryan mengedikkan bahunya.
"Elu coba aja hamilin Maura. Terus elu lihat. Jadi galak nggak dia waktu hamil" celetuk Bryan asal.
Yang langsung mendapat toyoran dari arah belakang di kepalanya.
"Aduh sayang, sakit..." keluh Bryan manja.
Vera langsung mendelik mendengar panggilan Bryan pada dirinya.
"Jangan menularkan kebrengsekanmu pada orang lain" ancam Vera pedas.
"Iya-iya, aku doang yang brengsek" Bryan pasrah menerima semua perkataan Vera.
Sedang Rey langsung mengulum senyumnya. Melihat Bryan yang begitu patuh pada Vera.
Sementara dirumah sakit,
Jayden baru saja keluar dari kamar mandi, mencuci wajahnya. Dia belum bisa mandi karena masih menunggu kiriman baju dari Rey.
Dia baru saja akan menghubungi Rey. Ketika dilihatnya Tania sudah membuka matanya.
"Kamu sudah sadar, Baby"
"Aku dimana?"
"Kamu dirumah sakit"
Tania terdiam. Sedikit mengingat-ingat. Ingat ada seorang wanita yang ingin menusuk Vera. Namun dia melihatnya. Lantas dia menarik Vera ke samping. Dan hasilnya dia yang tertusuk pisau.
"Aku haus?" pinta Tania lirih.
Jayden mengambil air minum yang tersedia di meja samping tempat tidur Tania. Namun gadis itu meringis sesaat dirinya mencoba bangun dari tidurnya.
"Pakai ini. Jangan bangun dulu" ucap Jayden memberikan sedotan ke dalam gelas Tania.
Tania melirik ke perutnya.
"Sudah seperti wanita yang habis operasi caesar saja aku ini" batin Tania.
"Lihat wajah orang yang menusukmu?" tanya Jayden.
Tania menggeleng.
"Sepertinya aku dan Rey harus lembur malam ini" kekeh Jayden.
"Buat apa?"
"Ya, nyari biang kerok brengsek yang sudah nusuk kamu"
"Sudah lapor polisi kan?" tanya Tania.
Jayden mengangguk.
"Istirahatlah. Kalau bisa tidur, tidurlah. Aku di sini. Sebentar lagi Rey datang"
Tania mengangguk. Mencoba mengurangi rasa perih di perutnya dengan cara tidur.
__ADS_1
****