
"Silahkan beristirahat den,,,nak Mirna!!." ucap Bi Irma seraya menunjuk ke arah kamar utama dengan jempolnya dengan santun.
"Iya Bi." ~Arya.
"Terima kasih banyak bi." Mirna pun ikut mengucapkan terima kasih pada Bi Irma, meski sebenarnya itu semua sudah menjadi tugas wanita paruh baya tersebut untuk melayani mereka, namun Mirna tetap berterima kasih pada wanita itu.
"Tidak perlu berterima kasih nak Mirna, itu sudah menjadi tugas bibi, kalau begitu silahkan beristirahat, bibi mau pamit kebelakang dulu mau lanjutin pekerjaan bibi." sahut wanita itu sebelum pamit ke belakang untuk melanjutkan pekerjaannya, sementara Mirna membuka handle pintu karena Arya mempersilahkan istrinya itu untuk masuk lebih dulu.
Ketika baru saja Mirna membuka handle pintu, matanya sudah di suguhkan pemandangan indah, di mana sebuah ranjang yang berukuran king Size dengan di hiasi dengan taburan kelopak bunga mawar mewah.
Tidak bisa di pungkiri sebagai wanita Mirna merasa terharu, di perlakukan suaminya semanis ini. masih juga menatap seisi ruangan dengan rasa kagum, tiba tiba Mirna terkejut saat merasakan dua lengan kokoh yang kini melingkar di perutnya.
"Cup." tiba tiba Mirna merasa bulu kuduknya meremang saat Arya menyelipkan rambutnya ke samping, kemudian mulai mengecup lembut tengkuknya.
"Apa kamu suka??." Tanya Arya dengan nada yang terdengar begitu lembut, di saat pria itu menyandarkan dagunya pada bahu sang istri.
Mirna pun hanya bisa mengangguk seakan bibirnya terkunci saat merasakan jantungnya semakin tak beraturan ketika posisi keduanya terasa begitu dekat. bahkan wanita itu bisa merasakan hembusan nafas suaminya, saking dekatnya posisi mereka saat ini.
"Maaf sudah membuatmu kecewa semalam sayang." masih dengan posisi yang sama Arya kembali berujar, sehingga membuat Mirna yang menjadi lawan bicaranya menjadi malu setengah mati, mengingat tingkahnya semalam yang secara tidak langsung mendambakan sentuhan dari pria itu.
"Ya ampun, kenapa pake di bahas lagi sih kejadian semalam." dalam hati Mirna berusaha tetap tenang, meski sebenarnya kini ia tengah menahan rasa malu. bahkan jika seandainya ia bisa menghilang untuk sementara waktu dari muka bumi, mungkin ia sudah melakukannya saking malunya.
Saat merasakan hembusan napas suaminya mulai tidak beraturan usia menciumi tengkuknya, bisa di pastikan jika suaminya tersebut seratus persen pria tulen, tak seperti dugaan gilannya selama beberapa hari terakhir.
Di satu sisi Mirna merasa tenang karena dugaan selama beberapa hari terakhir ini salah, namun di sisi lain ia juga ketakutan memikirkan nasibnya malam ini. jika di lihat dari riasan kamar yang telah di siapkan, serta sikap manis suaminya tersebut, Mirna bisa menebak jika malam ini adalah di mana malam terakhir ia akan menyandang status perawan.
Setelah memberikan kecupan lembut di area belakang leher Mirna yang nampak putih bersih nan jenjang tersebut, Arya membalikkan tubuh Mirna agar mengarah padanya.
Mirna perlahan menutup matanya saat Arya mulai mengikis jarak di antara keduanya, kecupan hangat perlahan berubah menjadi sebuah cium*n panas, sampai pria itu baru melepaskan istrinya saat merasakan Mirna mulai kehabisan napas.
__ADS_1
Baru beberapa kali Mirna menghela napas, kini suaminya itu kembali menikmati bib*r ranum miliknya.
Masih dengan posisi bercium*n, Arya menuntun lembut tubuh Mirna menuju ranjang, hingga tubuh wanita itu terlentang di ranjang.
Masih dengan menikmati bib*r ranum milik istrinya, tangan Arya kini mulai aktif membuka satu persatu kancing kemeja yang kini di kenakan istrinya. sampai dua kancing kemeja Mirna mulai terbuka, namun saat Mirna mulai merasakan tangan suaminya mulai menggerayangi bagian atasnya, wanita itu segera melepaskan cium*n di antara keduanya.
"Kenapa, apa kamu belum siap melaksanakan kewajiban kamu sebagai seorang istri??." tanya Arya, dari raut wajahnya Mirna bisa menebak jika pria itu merasa kecewa, saat ia tiba tiba menghentikan aktivitas panas di antara keduanya.
"Bukan begitu, aku hanya ingin_" Mirna tak menyelesaikan kalimatnya saat Arya lebih dulu menyela.
"Hanya ingin apa??." lanjut tanya Arya, meski kecewa namun Arya bukan tipe pria yang suka mengintimidasi wanita, apalagi wanita itu adalah istrinya sendiri.
"Aku hanya ingin tanya, apa aku bisa menyiapkan diri terlebih dahulu??." mendengar jawaban istrinya yang terdengar terbata, karena takut ia tersinggung itu pun langsung tersenyum.
Arya nampak menghela napas dalam lalu menghembusnya perlahan untuk mengontrol hasr*tnya, yang tadinya sudah memuncak.
"Apaan sih." Mirna nampak menepuk lengan kokoh Arya, hal itu membuat pria segera menyingkir dari hadapan Mirna agar tak menghalangi langkah istrinya Yang hendak ke kamar mandi dengan wajahnya yang mulai merona.
"Apa tidak sebaiknya kita mandi bersama saja, biar lebih mempersingkat waktu gitu!!." mendengar tawaran Arya membuat wajah Mirna semakin merah merona.
"Nggak perlu." jawabnya sebelum menghilang di balik pintu kamar mandi.
Setelah kurang lebih satu jam Mirna melakukan aktivitas di kamar mandi kini ia keluar dengan sebuah jubah mandi yang menutupi tubuhnya.
Sementara Arya segera menggantikan posisi Mirna di kamar mandi, mungkin karena kebelet atau semacamnya, Arya pun tak butuh waktu lama di kamar mandi. hanya kurang lebih setengah jam, kini ia keluar dengan mengenakan sebuah handuk putih yang di lilitkan di pinggangnya. hal itu semakin menambah kesan seksi pada pria itu.
Ketika beberapa langkah meningkatkan kamar mandi, Arya baru menyadari jika saat ini istrinya telah nampak begitu cantik dan seksi dengan balutan lingerie berbahan satin dengan warna maroon. potongan lingerie yang panjangnya sepaha tersebut, membuat Arya sulit menelan salivanya.
Sementara Mirna hanya bisa menunduk malu saat menyadari jika saat ini dirinya menjadi pusat perhatian sang suami, bahkan dari ujung kaki hingga ujung rambut.
__ADS_1
Baru saja mendapat tatapan seperti itu sudah membuat Mirna keringat dingin, padahal suhu di kamar tersebut bisa di bilang cukup dingin, apalagi letak vila itu berada di daerah puncak.
Mirna nampak memilin buku buku jarinya, saat menyadari suaminya mulai melangkah mendekatinya.
"Kenapa sayang, apa kamu masih takut??." mendengar pertanyaan itu membuat Mirna langsung mengangguk, sebelum bersuara.
"Ini akan menjadi pengalaman pertama bagiku, maaf jika nanti aku belum bisa melakukan yang terbaik sebagai seorang istri." ucap Mirna dengan posisi sedikit menunduk tak berani menatap suaminya, sementara Arya yang di ajak bicara langsung mengulum senyum.
"Tanpa mengatakannya pun, dari sikap kamu saja aku bisa menebak jika ini akan menjadi pengalaman pertama juga bagimu." sahut Arya, sementara Mirna segera menengadah menatap suaminya setelah mencerna kalimat suaminya, yang barusan mengatakan "pengalaman pertama juga", yang artinya itu juga akan menjadi pengalaman pertama bagi pria itu.
"Apa ini juga akan menjadi pengalaman pertama bagimu??." tanya Mirna hati hati agar menyinggung perasaan suaminya.
Boro boro tersinggung dengan pertanyaan istrinya, Arya justru tersenyum.
"Apa Kamu pikir saya ini pria brengsek, yang sudah pernah melakukan hubungan sek*s di luar nikah. aku memang bandel, Tapi aku masih sadar akan dosa, sebab zina itu dilarang dalam agama." jawab Arya lalu menampilkan senyum manisnya.
"Ini juga merupakan pengalaman pertama bagiku, sebelumnya aku juga minta maaf jika sebagai suami aku belum bisa melakukan sesuatu yang sesuai dengan harapan kamu sayang. tapi tidak bisa di pungkiri sebagai pria normal, setiap malam aku juga selalu mendamba ingin merasakan sesuatu yang sudah menjadi hakku sayang." lanjut ucap Arya sebelum kembali mengecup lembut bibir istrinya.
Tidak jauh berbeda seperti tadi, ciuman lembut kini berubah menjadi sebuah cium*n panas. Mirna yang kini berdiri di samping ranjang, segera merebahkan tubuhnya saat pria itu menuntunnya.
Kini Arya mengungkung tubuh istrinya dengan lengan kokohnya sebagai penyangga.
Perlahan cium*n Arya turun ke bagian leher jenjang milik istrinya yang nampak putih bersih.
Wanita itu mulai terdengar mengerang saat tangan suaminya mulai bermain dengan kedua benda kenyal miliknya secara bergantian.
Karena lingerie yang saat ini di kenakan Mirna terbilang halus dan tipis sehingga wanita itu bisa merasakan sesuatu di bawah sana yang mulai mengganjal yang berasal dari bagian tubuh suaminya.
"Sayang, apa aku boleh melakukannya sekarang, aku sudah tidak sanggup lagi menahannya??."ucap Arya dengan suara yang terdengar berat menahan hasr*t, Mirna pun mengangguk yakin untuk menyerahkan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya tersebut pada pria yang telah sah menjadi imam dalam rumah tangganya.
__ADS_1