Menikah Di Usia Remaja.

Menikah Di Usia Remaja.
Sebuah pelukan.


__ADS_3

Setibanya di rumah Alisya segera masuk ke kamar sementara Kheano menemui papanya di ruang kerja.


Kheano duduk di sebuah kursi yang berhadapan dengan papanya, dengan sebuah meja kerja sebagai perantara keduanya.


"Apa kamu akan tatap melanjutkan kuliah di luar negeri??" tanya papanya pada Kheano.


"Iya pah, Khe akan tetap melanjutkan kuliah di luar negeri, sebagai kepala rumah tangga Khe harus bisa berdiri di atas kaki Khe sendiri tanpa harus menjadi bayang bayang papa di perusahaan." Ucap Khe yang sejak dulu ingin berusaha dari nol hingga menjadi pengusaha sehebat papanya.


"Khe ingin sukses seperti papa, biar anak anak Khe nanti bangga Sama papanya, sama seperti Khe yang selalu bangga pada papa." ucap Khe yakin.


"Lalu bagaimana dengan istri kamu??" Sesungguhnya papanya sangat resah jika anak dan menantunya harus terpisah jauh dengan waktu yang cukup lama.


Bisa menangkap kekhawatiran di wajah papanya, Kheano berusaha meyakinkan pria paruh baya tersebut agar tidak terlalu mengkhawatirkan nasib pernikahannya.


"Papa tidak perlu khawatir, Khe akan memberi pengertian pada Alisya." ucapan putranya bisa sedikit membuat papanya Kheano bernapas lega, namun tidak sepenuhnya rela.


"Papa tidak perlu khawatir Khe bukan laki laki baj*ngan yang rela mengkhianati istrinya. Khe ke luar negeri untuk menuntut ilmu bukan untuk bersenang senang, jadi papa jangan berpikir yang tidak tidak tentang Khe selama di luar negeri nanti." lanjut ucap Khe untuk menyakinkan papanya.


"Baiklah, papa percaya padamu Khe, papa harap kamu tidak mengecewakan kepercayaan yang papa berikan." ujar papanya sebelum mengakhiri obrolan di antara keduanya.


***


Seorang gadis yang sudah hampir beberapa bulan tidak pulang ke rumah ayahnya, petang ini memutuskan untuk mengunjungi sang ayah. karena asisten ayahnya memberi kabar jika ayahnya sedang sakit dan tidak mau makan.


"Bi apa ayah sudah mau makan??" Tanya Mirna pada salah satu ART saat ia baru saja tiba di kediaman ayahnya.


"Belum non, tuan besar sejak kemarin tidak mau makan sama sekali." jawab bi Atun sopan pada Mirna.


"Bibi buatkan makan siang, lalu antarkan ke kamar ayah!!." seru Mirna sebelum berlalu ke kamar ayahnya.


Baru saja membuka handle pintu, ucapan ketus ayahnya sudah menyambut kedatangan Mirna.


"Ayah pikir kamu sudah lupa jalan ke rumah ayah." cetus ayahnya yang kini tengah terbaring lemah di ranjangnya.


"Ayah." Mirna melanjutkan langkahnya mendekati ranjang ayahnya.


Tidak lama kemudian bi Atun masuk dengan membawa sebuah nampan yang berisikan makan siang untuk tuan besarnya.


"Sebaiknya ayah makan dulu, kata bi Atun sejak kemarin ayah tidak mau makan." ucap Mirna sembari mengambil alih nampan dari tangan bi Atun.


"Ayah tidak lapar." jawab ayahnya tanpa menatap ke arah Mirna.


"Bagaimana ayah bisa cepat sehat kalau ayah tidak mau makan. ayah makan ya biar Mirna suapin." Mirna mencoba merayu ayahnya yang sejak kemarin mogok makan karena Mirna kekeh menolak menggantikan posisi ayahnya di perusahaan, serta Mirna juga menolak menikah dengan pria pilihan ayahnya yang konon kata ayahnya sebentar lagi baru lulus SMA.


"Apa kamu tidak dengar kalau ayah tidak lapar." melihat ayahnya terus menolak membuat Mirna menghela dalam lalu menghembusnya perlahan.


"Sampai kapan ayah akan mogok makan seperti ini??." ucap Mirna yang hampir kehabisan akal membujuk ayahnya.


"Sampai kamu menerima salah satu dari permintaan ayah." Tegas pria paruh baya tersebut seraya melirik sinis ke arah putrinya.


"Terserah ayah saja, jika ayah tetap kekeh tidak mau makan, Mirna tidak bisa memaksa ayah." ucap Mirna lalu beranjak meninggalkan kamar ayahnya.


Mirna kenal betul dengan watak keras ayahnya, itu sebabnya ia berhenti terus memaksa.


"Bi, saya balik ke sekolah dulu, mungkin akan ke sini lagi besok malam. soalnya siswa di sekolah lusa akan segera ujian akhir." ucap Mirna berpamitan pada bi Atun.

__ADS_1


"Baik Non." sahut bi Atun patuh.


Mirna berjalan keluar dengan di antarkan Bu Atun sampai depan rumah.


"Satu lagi bi, jika terjadi sesuatu segera hubungi saya!!" lanjut ucap Mirna ketika hendak membuka pintu mobil Pajero kesayangannya, sebab ia membelinya dari hasil keringatnya sendiri.


"Baik Non." jawab bi Atun pada Mirna yang kini telah berada di dalam mobilnya.


Setelah memasang seat belt Mirna pun segera melajukan Pajero berwarna putih miliknya tersebut keluar dari gerbang rumah ayahnya.


Setelah meninggalkan rumah ayahnya Mirna segera menuju rumah salah satu siswanya, Arya, sebab malam ini bimbingan belajar kembali di laksanakan di rumah Arya, mengingat Arya yang belum lama kecelakaan, jadi kasian jika harus melaksanakan bimbingan belajar di rumah Kheano seperti sebelumnya


Saat memasuki gerbang rumah Arya, Mirna sudah melihat Kheano,.Andi serta Bobi menunggu di teras rumah Arya.


"Assalamualaikum." ucap Mirna.


"Waallaikumsalam Bu guru cantik." sahut Bobi serta Andi, sementara Kheano hanya tersenyum melihat tingkah kedua sahabatnya tersebut.


"Maaf ya...ibu sedikit terlambat, soalnya ayahnya ibu lagi kurang sehat." ucap Mirna jujur.


"Kalau ayahnya Bu Mirna sakit kan gampang, tinggal di rawat aja sama calon mantu." timpal Arya yang kini baru saja tiba usai mengambil bukunya di kamar.


Untuk beberapa saat Mirna mengeryit heran mendengar ucapan Arya, sebelum ia mengeluarkan laptop dari tasnya kemudian fokus memberi bimbingan belajar pada ke empat siswa siswanya tersebut.


Sekolah sengaja membagi kelas 12 menjadi beberapa kelompok dalam menjalani bimbingan belajar, satu kelompok terdiri dari empat sampai lima orang siswa atau siswi. bukan secara kebetulan ke empatnya berada satu kelompok, itu karena Kheano yang sengaja meminta agar mereka berada dalam satu kelompok. mengingat pembimbing di kelompok mereka adalah Bu Mirna, guru muda yang lebih mengerti dengan sikap anak muda. apalagi Bu Mirna memiliki wajah yang sangat cantik, hal itu semakin membuat Arya, Andi serta Bobi menyetujui ide Kheano, saat meminta mereka berempat di satukan dalam kelompok.


Wajah Mirna terbilang baby face, itu terbukti saat ada orang tua siswa yang datang ke sekolah, salah satu dari wali siswa memanggil Mirna dengan sebutan nak, mereka menyangka Mirna adalah siswa di sana.


Kurang lebih enam puluh menit belajar di bawah bimbingan Bu Mirna, kini mereka sebuah kembali ke rumah masing masing tak terkecuali Kheano.


Beberapa kali mengetuk pintu namun tak mendapat sahutan, Kheano pun memutuskan membuka pintu kamar. Kheano yang saat ini masih berdiri di ambang pintu, di suguhkan wajah istrinya yang tengah terlelap di balik selimut putih.


Wajah imut itu bahkan terlihat semakin cantik saat terlelap, tanpa sadar usai mengunci pintu kamar Kheano berjalan mendekati ranjang di mana istrinya tengah menikmati mimpinya.


Kheano yang kini duduk di tepi ranjang menatap lekat wajah cantik gadis yang telah sah menjadi istrinya sejak sebulan yang lalu tersebut, mungkin karena terbawa perasaan tanpa sadar Kheano mengusap lembut bibir Alisya,


Perlahan Kheano semakin mengikis jarak di antara keduanya. namun sayang saat bibirnya hendak mendarat cantik pada bibir Alisya, gadis itu tiba tiba membuka matanya.


"Kakak sudah pulang??." ucapan Alisya membuat Kheano bagai maling yang ketahuan, Ia segera menjauhkan wajahnya dari gadis itu.


"Kakak kenapa??" lanjut tanya Alisya saat melihat Kheano salah tingkah.


"Oh itu...tadi ada nyamuk di kening kamu." jawab Kheano asal, agar Alisya tidak curiga padanya yang tadi hendak mencium bibirnya.


"Kakak mau makan dulu??" tanya Alisya mengingat tadi Kheano pergi belum sempat makan malam.


"Boleh deh." ucap Kheano sebelum berlalu ke kamar mandi, sementara Alisya segera beranjak dari tempat tidur menuju dapur.


Usai memanaskan makanan lalu menyajikannya di meja, Alisya segera mempersilahkan Kheano yang kini tengah menuruni anak tangga untuk segera makan malam.


"Sebaiknya kakak segera makan, takutnya kakak sakit perut karena telat makan!!." kata Alisya saat Kheano sudah berdiri di depan meja makan.


"Hemt" sahut Kheano lalu menarik sebuah kursi lalu duduk.


Setelah menyuap sesendok makanan ke mulutnya, Kheano pun mengarahkan sesendok makanan ke mulut istrinya.

__ADS_1


"Aaaaa." Kheano meminta Alisya membuka mulutnya saat sendok dalam genggamannya berada tepat di depan mulut gadis itu.


"Alisya Udah makan tadi kak." ucap Alisya.


"Itu beda, ayo buka mulutnya!!." karena Kheano tetap ngotot, Alisya pun terpaksa membuka mulutnya walaupun ia tidak merasa lapar.


Di sela makan malamnya Kheano membuka obrolan serius.


"Setelah lulus nanti saya akan segera ke luar negeri untuk melanjutkan kuliah." ucap Kheano di sela makan malamnya.


"Deg." entah kenapa jantung Alisya berdetak tak menentu ketika mendengar suaminya akan segera pergi jauh untuk menuntut ilmu, meski di awal pernikahan ia sendiri tahu bahwa Kheano pasti akan melanjutkan kuliahnya di luar negeri. meski begitu hati Alisya masih saja terasa sakit, seakan tidak rela melepas suaminya itu pergi.


Namun ia pun tak kuasa melakukannya, sebab ia sendiri tahu alasan Kheano dulu saat menerima perjodohan mereka. Kheano menerima perjodohan di antara mereka, karena tidak ingin di tentang papanya saat nanti ia melanjutkan kuliah di luar negeri.


"Baik kak." jawab Alisya sesaat setelah menetralisir gemuruh yang berkecamuk di dada.


"Apa kak Khe akan segera menceraikan aku setelah kembali nanti??." batin Alisya. jangankan sampai hal itu terjadi, membayangkan saja sudah membuat hati Alisya terasa perih.


Karena baru saja selesai makan, Kheano memutuskan untuk menonton TV yang berada di kamarnya, karena tidak baik untuk kesehatan langsung berbaring saat baru saja selesai makan.


Alisya yang tadi juga ikut makan bersama sang suami,Kini ikut duduk di sofa berdampingan dengan Kheano sembari menyaksikan saluran Televisi.


Ketika asyik menyaksikan saluran televisi yang menyajikan komedi, tiba tiba Alisya yang melirik ke arah Kheano memulai obrolan.


"Kak, nanti kalau sudah berada di luar negeri, kakak bakalan kangen nggak sama Alisya??" mendengar pertanyaan gadis itu membuat Kheano beralih dari layar televisi, lalu menatap lekat wajah Alisya.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu??." bukannya menjawab Kheano malah balik bertanya, sehingga membuat Alisya merasa tidak enak hati mempertanyakan sesuatu yang sudah pasti jawabannya, tidak.


"Mana mungkin akan ada rindu, jika di hati kakak sama sekali tidak ada tempat untukku." batin Alisya, lalu mencoba tetap tersenyum di hadapan Kheano.


"Nanti kalau di sana kakak sudah bertemu dengan seseorang, Kakak jangan sampai lupa sama Alisya ya!!! karena sebelum kakak menceraikan Alisya nanti, kakak masih sah suami Alisya Loh." ucap gadis itu, seraya mengukir senyum di wajahnya sekalipun sedikit di paksakan.


Sementara Kheano sendiri, entah kenapa hatinya terasa nyeri saat Alisya mengatakan perihal cerai, padahal ia sendirilah yang sebulan lalu sebelum menikah, yang mengatakan jika ia akan segera menceraikan gadis itu setelah kembali nanti.


Untuk beberapa saat suasana hening, sampai Alisya kembali memberanikan diri mengucapkan kalimat yang mungkin saja akan membuat suaminya tersebut tidak suka.


"kak boleh nggak Alisya meminta sesuatu dari kakak??" ucap Alisya menatap Kheano begitu pun sebaliknya, sehingga tatapan keduanya beradu.


"Memangnya kamu mau minta apa dari saya??." ucap Kheano, yang tetap selalu mempertahankan sikap datarnya di depan Alisya.


"Boleh nggak Alisya peluk Kakak, sekali aja??." ucap Alisya hati hati takut jika Kheano akan marah, sembari mengacungkan satu jarinya ke arah Kheano.


"Kalau nggak boleh juga nggak papa." lanjut ucap Alisya dengan senyum kecut karena malu, saat Kheano sama sekali tidak merespon ucapannya.


Namun sesaat kemudian Kheano merentangkan kedua tangannya.


"Katanya mau peluk!!" ucap Kheano Sembari merentangkan kedua tangannya dengan senyum manis. hal sesederhana itu sudah membuat Alisya bahagia, bagaimana tidak ini kali pertama Alisya melihat Kheano tersenyum manis padanya.


Selain itu ini juga kali pertama Alisya hendak berpelukan dengan lawan jenis, meskipun itu adalah suaminya sendiri. sehingga sebelum memeluk tubuh Kheano, ia mengumpulkan keberanian dalam dirinya.


Nyaman, itulah yang saat ini dirasakan oleh keduanya.


***


Sementara di waktu yang sama namun di tempat yang berbeda seorang gadis terlihat sedang menyusun rencana untuk menjebak seorang pria yang sudah lama menjadi idamannya.

__ADS_1


"Kamu akan segera menjadi milikku." gumam gadis itu seraya memperhatikan sebuah botol kecil yang berisi cairan, yang kini berada di genggamannya.


__ADS_2