
Waktu kini menunjukkan pukul setengah tujuh malam, wajah Arya terlihat berseri seri. bagaimana tidak, sebentar lagi ia segera pulang dan bertemu dengan wanita yang kini berstatus istri baginya.
Namun seketika wajah Arya berubah saat membuka beberapa notifikasi pesan yang masuk ke group kampusnya.
"Guys gue punya berita hangat nih." ucap salah satu mahasiswa yang terkenal lemes di kampus.
"Emang Lo punya berita hangat apaan sih, penasaran gue." cuit salah satu mahasiswi lainnya.
"Cepet kasi tahu, jangan Ampe gue datangin ya rumah Lo 🤣🤣🤣" bunyi cuitan mahasiswa lainnya, yang di buat penasaran dengan kabar dari mahasiswa yang di gelar si lemes di kampus.
"Sabar Napa, Lo tahu nggak tadi gue nggak sengaja lihat Bu dosen cantik jalan bareng cowok di cafe, gue yakin itu pacarnya Bu dosen cantik, soalnya mereka kelihatan mesra gitu." dengan sedikit melebih lebihkan akhirnya mahasiswa yang di gelar mahasiswa lemes, menjawab pertanyaan yang membuat hampir semua penghuni group kampus penasaran.
"Heh lemes, Lo jangan nyebarin gosip, entar kalau Bu Mirna tahu bisa di tahan nilai Lo." protes mahasiswa lain yang tidak yakin dengan berita yang di sampaikan di mahasiswa lemes.
"Ya udah kalau Lo nggak percaya, nih gue kiriman buktinya." mahasiswa yang di gelar manusia terlemes sejagad kampus itu pun, mengirim Foto Mirna dan Ferdi saat di cafe tadi, ia sengaja mengambil gambar saat Ferdi mengelus puncak kepala Mirna.
Arya nampak mengepal kedua tangannya saat melihat foto yang baru saja di kirim oleh mahasiswa yang tadi sempat mengambil gambar Mirna dan juga Dokter Ferdi.
"Kenapa kamu masih nekat bertemu diam diam dengan pria itu, apa perasaan kamu begitu besar padanya sampai kamu bela belain menemuinya di belakangku??" Nampak jelas kekecewaan di wajah Arya.
Arya pun mengambil kunci mobilnya dan segera pulang, meski ia kecewa dengan sikap istrinya yang bertemu diam diam dengan pria lain di belakangnya, namun Arya tetap pulang ke rumah ayah mertuanya.
Sementara di rumah, Mirna sedang menyiapkan makan malam untuk sang suami, Mirna teringat akan nasehat Abang sepupunya, harus bersikap baik dan melayani suami.
"Bagaimana pun aku adalah istrinya sekarang, sebagai seorang istri sudah sepatutnya aku melayaninya dengan baik." dalam hati Mirna di sela aktivitasnya menata makanan hasil masakannya sendiri di meja makan.
Sebelum memasak, tadi Mirna lebih dulu menyiapkan handuk serta pakaian ganti untuk Arya.
Tak lama kemudian Mirna mendengar suara deru mesin mobil Arya tiba.
__ADS_1
Mirna pun segera keluar untuk menyambut kedatangan pria itu, namun berbeda dengan sikap hangat Arya saat pergi tadi, kini pria itu terlihat begitu dingin.
"Kamu sudah pulang??." Mirna menyapa suaminya yang baru saja turun dari mobil.
"Hemt." sahut Arya singkat, pria itu pun langsung melangkah masuk tanpa menghiraukan istrinya yang masih diam mematung menyambut kedatangannya.
Mirna masih berpikir positif dengan sikap Arya.
"Mungkin dia sedang lelah, makanya bersikap seperti ini." begitulah Mirna yang mencoba berpikir positif dengan perubahan sikap Arya.
Mirna pun menyusul langkah Arya menuju kamar.
"Kamu mau mandi dulu atau mau makan dulu??." pertanyaan Mirna sama sekali tidak di tanggapi Arya, ia malah berlalu menuju kamar mandi setelah meraih handuk yang telah di siapkan Mirna sebelumnya.
"Apa dia selelah itu sampai tidak mendengar Ucapanku??." dalam hati Mirna bertanya tanya.
Selama Arya berada di kamar mandi, Mirna masih setia menunggu, ia duduk di sisi ranjang.
Tidak bisa di pungkiri bentuk tubuh Arya yang atletis membuat kaum hawa terpesona, tidak terkecuali istrinya,Mirna.
"Apa sudah saatnya aku memberikan sesuatu yang sudah sepantasnya dia dapatkan dariku??." batin Mirna teringat nasehat Abang sepupunya di cafe tadi.
"Tapi masa iya sih aku yang menawarkan lebih dulu, sungguh memalukan." dalam hati Mirna membayangkan bagaimana jadinya, jika sebagai perempuan malah ia yang lebih dulu menawarkan hal itu pada suaminya.
Berdasarkan pengalaman selama beberapa hari terakhir setelah mereka sah menjadi suami istri, Arya akan bersikap manis bisa di bilang secara tidak langsung ia meminta persetujuan dari sang istri untuk ke arah sana. namun malam ini berbeda, Arya nampak begitu dingin ia bahkan terkesan mengabaikan Mirna, yang jelas jelas ada di depan matanya.
Meski sudah menyadari perubahan sikap Arya, Mirna tetap berusaha bersikap biasa, ia bahkan menawarkan makan malam untuk Arya, namun di luar dugaan Mirna, suaminya itu malah menolak, yang lebih membuat hati Mirna sakit pria itu malah mengambil sebuah bantal dan selimut.
"Aku sudah masakin makanan kesukaan kamu, sebaiknya kamu makan dulu, tidak baik tidur dalam keadaan perut kosong!!." Ucap Mirna selembut mungkin.
__ADS_1
"Saya tidak lapar." jawaban Arya terdengar begitu mengecewakan di telinga Mirna.
"Tapi aku sudah lapar." meski kecewa dengan Jawaban Arya , namun Mirna tetap berusaha bersikap sopan pada pria itu, tapi lagi lagi Mirna harus menelan pil pahit akibat penolakan dari pria itu.
"Harus berapa kali saya bilang kalau saya tidak lapar." Meski ucapan Arya tidak kasar, namun begitu menyakitkan di telinga Mirna, apalagi pria itu kini merebahkan tubuhnya di sofa bukannya di ranjang, di mana sudah beberapa malam terakhir mereka tiduri bersama.
Mata Mirna mulai berkaca kaca, air mata yang sejak tadi coba di bendungnya akhirnya lirih sudah.
Karena Arya menolak makan malam, Mirna pun enggan makan. perutnya tiba tiba tak ingin di isi, padahal tadi rasanya ia ingin melahap semua yang tersaji di meja.
Mirna merebahkan tubuhnya di ranjang, wanita itu tidur dengan posisi menyamping agar tak nampak oleh Arya yang tengah berbaring di sofa, jika kini ia sedang menangis.
Sebenarnya Arya sungguh tak tega melihat istrinya sedih seperti ini, namun bayangan foto Dokter Ferdi yang mengusap lembut puncak kepala istrinya masih menari nari di benak pria itu.
Arya bisa menebak jika saat ini istrinya itu tengah menangis, terbukti saat melihat bahu Mirna bergerak.
Sementara Mirna yang kini berbaring menyamping, nampak menangis dalam diam, tak ada suara yang di keluarkan wanita itu, yang ada hanya buliran bening yang terus mengalir deras membasahi wajah cantiknya.
Entah kenapa hati Mirna begitu sakit saat di abaikan oleh pria yang selalu katainya bocah itu.
"Kalau hanya ingin melukai hatiku, kenapa harus menikahi ku??." dalam hati Mirna di sela tangisnya.
Ingin rasanya Arya memeluk erat tubuh istrinya untuk menenangkan wanita itu agar tak lagi menangis, namun itu enggan ia lakukan sebelum gadis itu berterus terang padanya tentang pertemuannya tadi dengan seorang pria.
Perang dingin di antara keduanya pun berlanjut hingga keesokan harinya.
Pagi ini Arya tidak nampak bersiap ke kampus, ia masih asyik di bawah selimut putih yang menutupi tubuhnya sebatas leher. sebenarnya Arya sudah bangun sejak tadi, namun ia sengaja berpura pura tidur untuk menghindari komunikasi dengan sang istri.
Ingin rasanya Arya segera bangun saat istrinya itu mengeluhkan ban mobilnya yang kempes namun itu masih urung dilakukannya.
__ADS_1
Akhirnya Mirna pun memutuskan memesan taksi online untuk berangkat ke kampus.
Setelah setengah jam keberangkatan Mirna ke kampus,Arya yang baru saja mandi dan berpakaian lengkap itu pun masih duduk di sofa kamar dengan seribu pemikirannya tentang sosok pria yang bernama dokter Ferdi, sampai tiba-tiba Arya mendengar suara seseorang dari bawah yang memanggil seseorang dengan panggilan baby girl.