
Seminggu setelah kejadian malam itu Kheano berangkat ke Amerika dengan di antarkan kedua orang tua, adik, serta istrinya Alisya sampai di bandara.
Kheano tetap harus meninggalkan sang istri demi melanjutkan kuliahnya di sana.
Dalam hati, Alisya sangat berat melepas kepergian suaminya, apalagi mengingat setelah apa yang terjadi di antara keduanya malam itu. meski begitu Alisya tidak berani mengeluarkan sepatah katapun untuk mencegah pria itu.
Kheano termasuk pria yang gengsi untuk mengungkapkan perasaannya secara lisan, ia lebih menunjukkan perasaannya dengan sikap dan perlakuan.
Bahkan setelah malam itu, Kheano belum sekalipun mengungkapkan perasaannya secara lisan terhadap sang istri, sampai dengan hari ini di mana ia harus pergi untuk waktu yang cukup lama meninggalkan sang istri.
"Mah...pah...Khe titip Alisya." Kheano berpesan pada kedua orangtuanya.
"Kamu tidak perlu khawatir dengan istri kamu, papa sama Mama pasti akan menjaga istri kamu dengan baik." sahut mamanya.
"Sekalipun tanpa memintanya, papa pasti tetap akan menjaga Alisya, karena dia menantu papa." kini papanya Kheano yang berucap sebelum melepas kepergian putra sulungnya tersebut.
"Jaga diri baik baik!!." ucap Kheano, lalu meraih tubuh Alisya ke dekapannya, Alisya hanya bisa menjawab dengan anggukan takut tak bisa menahan air mata jika berucap.
Kelopak mata Alisya menahan genangan yang hampir lolos, saat melihat punggung Kheano hampir menghilang.
Setelah pesawat yang ditumpangi Kheano lepas landas, mereka pun kembali ke rumah.
Hari demi hari di lalui Alisya tanpa kehadiran Kheano, hingga tak terasa sebulan sudah Alisya jauh dari sang suami.
"What are you doing there kak?? apa kakak sesibuk itu sampai tak punya waktu untuk sekedar memberi kabar pada Alisya." dalam hati Alisya, yang kini terlentang sembari menatap langit langit kamar yang sebulan lalu di ditempatinya bersama sang suami.
"Aku sangat merindukanmu kak Khe, apa di sana kakak juga rindu pada Alisya atau malah sebaliknya??." Batin Alisya seraya mengusap air mata. entah kenapa akhir akhir ini Alisya jadi sensitif, tidak seperti Alisya yang biasanya.
Sudah sebulan berada di luar negeri, jangankan menelpon Karena rindu, sekedar memberi kabar pun tidak.
Hal itu semakin memperkuat dugaan Alisya, jika ia sama sekali tidak punya tempat di hati Kheano, meski keduanya sudah melakukan hubungan suami istri malam itu.
Mungkin karena lelah menangis Alisya terlelap, sampai sampai saat seseorang mengetuk pintu kamarnya ia tidak lagi menyadarinya.
"Tok ..tok...tok..." sudah beberapa kali mengetuk tapi tak juga mendapat sahutan, mamanya Kheano membuka pintu kamar Alisya yang tidak terkunci.
__ADS_1
"Kebiasaan nih Ica, ponsel di letakan begitu saja." ucap Mamanya Kheano ketika mendapati ponsel Alisya di tepi ranjang dan nyaris jatuh, saat tanpa sadar Alisya menyenggolnya ketika merubah posisi tidurnya.
Mama mertuanya tersebut kemudian membuka laci nakas untuk memasukkan ponsel Alisya, tapi saat membuka laci mamanya Kheano menemukan sebuah map di sana. karena penasaran dengan map tersebut, ia pun membukanya sebelum beranjak meninggalkan kamar itu.
***
Pagi harinya, Alisya yang biasanya selalu semangat saat berangkat ke sekolah namun tidak dengan hari ini. Alisya terlihat lemas dan wajahnya sedikit pucat, padahal semalam ia tidak begadang.
"Sayang apa kamu sedang tidak enak badan??." tegur mama mertuanya saat melihat Alisya lemas serta wajahnya terlihat sedikit pucat saat sarapan.
"Kalau kamu tidak enak badan, sebaiknya nggak usah masuk sekolah dulu hari ini sayang!!." lanjut mama mertuanya mengkhawatirkan kondisi Alisya.
"Nggak papa kok ma Ica baik baik saja, lagian baru juga beberapa hari naik ke kelas sebelas, kalau nggak masuk sekolah takut kena omel pak Baroto ma." sahut Alisya dengan tersenyum.
"Ya udah kalau gitu,tapi di makan dulu sarapannya!!." seru mama mertuanya saat melihat Alisya hanya mengaduk aduk makanan yang ada di piringnya.
"Walau sebenarnya saat ini ia sama sekali tidak bernafsu untuk makan, namun Alisya tetap memakannya walau hany beberapa sendok, sebelum berangkat ke sekolah dengan di antarkan pak Deden. sesuai dengan perintah Kheano.
Setibanya di sekolah, seperti biasa belajar sampai jam istirahat kelas, Alisya bersama dengan ketiga Sahabatnya pergi ke kantin. walaupun sedang tidak ingin makan Alisya tetap menemani ketiga sahabatnya ke kantin sekolah.
"Gue lagi nggak lapar kalian saja yang pesan." sahut Alisya membuat Indah mengeryit heran. sebab tidak biasanya Alisya menolak, apalagi bakso serta mie ayam buatan mang Jaja adalah makanan favorit Alisya.
"Tumben Lo nggak makan Ca, biasanya juga Elo yang pesan duluan??." bukan hanya Indah yang heran, Dani pun tak kalah Herannya dengan Indah.
"Gue udah sarapan tadi dari rumah." ucap Alisya, walaupun sebenarnya saat sarapan tadi ia hanya makan beberapa sendok saja.
"Ya udah gue pesanin minum aja ya." ucap Indah dan di jawab anggukan oleh Alisya.
"Mang baksonya tiga sama es tehnya empat." ucap Indah saat memesan pada mang Jaja.
Namun baru saja Indah hendak kembali duduk,Alisya berujar.
"Indah gue nggak pengen es teh, gue pengen jus mangga aja." ucap Alisya. walaupun sempat bertanya tanya dalam hati, namun Indah tetap mengiyakan permintaan Alisya kemudian berjalan ke arah mang Jaja untuk merubah pesanan sesuai keinginan Alisya.
"Tumben banget Alisya mau persen jus mangga, biasanya juga dia paling nggak doyan sama jus mangga. katanya nggak enaklah, asam lah." batin Indah sebelum kembali bergabung bersama ke tiganya usai mengganti pesanan minumannya.
__ADS_1
"Nih neng bakso, es teh serta jus mangga pesanannya silahkan di nikmati!!." kata mang Jaja usai menyajikannya di meja.
"Makasih ya mang." ucap Alisya dengan wajah sumringah saat menatap segelas jus mangga tersebut.
"ummmmhh....enak banget sumpah." ucap Alisya setelah meneguk jus mangga tersebut sampai tersisa setengahnya.
Karena penasaran dengan jus yang di bilang Alisya sangat enak tersebut, membuat Sisil segera meraih lalu mencobanya seteguk.
"Lo kenapa sih Ca' jusnya asam gini Lo bilang enak?? pagi ini Lo aneh banget deh."ucap Sisil yang suka ceplas-ceplos tersebut, namun seketika ia meringis saat merasakan sakit di kakinya.
"Orang jusnya emang enak banget, gimana sih." ucap Alisya lalu kembali meneguk jus mangga tersebut sampai tak tersisa.
Melihat Sisil kembali ingin berucap, Indah segera beraksi.
"Arrrghhh." Indah sengaja memberi kode dengan menendang kaki Sisil yang berada di bawah meja, sehingga membuat gadis itu meringis.
"Kenapa Lo nendang ka_." Sisil tidak menyelesaikan kalimatnya, saat melihat bola mata Indah yang tertuju padanya membulat sempurna, seakan memberi isyarat padanya.
Sehingga Sisil pun tak lagi melanjutkan kalimatnya, ia kembali fokus menghabiskan semangkok bakso miliknya.
Selesai makan Indah yang mewakili teman temannya membayar di kasir kemudian menyusul langkah ke tiga Sahabatnya yang baru beberapa langkah berlalu.
Saat waktu pulang sekolah Indah yang menggunakan mobil ke sekolah, menawarkan untuk mengantar Alisya pulang.
"Ca pulang bareng gue yuk!!." ajak Indah.
"Tapi mang Deden pasti udah nungguin gue di parkiran." ucap Alisya, mengingat sebelum berangkat ke luar negeri Kheano memerintahkan mang Deden untuk mengantar jemput Alisya kemanapun.
"Lo suruh aja mang Deden buntutin mobil gue!!." ucap Indah kekeh ingin mengantar Alisya pulang.
Setelah berpikir sejenak Alisya pun berucap.
'Ok deh, gue telepon mang Deden dulu ya." ucap Alisya yang kini tengah merapikan bukunya lalu memasukkan ke dalam tasnya.
Setelah menghubungi mang Deden, kini Alisya menumpangi mobil Indah pulang ke rumah, sementara mang Deden setia membuntuti mobil indah dari belakang.
__ADS_1
Indah sengaja mengantarkan Alisya pulang sebab ia ingin ngobrol empat mata dengan salah satu Sahabatnya itu.