Menikah Di Usia Remaja.

Menikah Di Usia Remaja.
Indahnya bintang tak seindah wajahmu.


__ADS_3

Tuan Hartono termasuk sosok ayah yang pengertian, terbukti saat pria itu mengetahui jika ternyata putranya tidak datang sendiri ke Vila tersebut, ia pun segera memutuskan untuk kembali ke Jakarta dengan berbagai macam alasan yang sengaja di buat buat.


"Ayah apa tidak sebaiknya ayah menginap saja malam ini, lagi pula ayah pasti masih lelah!!." nampak menantunya tengah meminta tuan Hartono untuk menginap.


"Iya ayah, apa yang di katakan istri Arya benar, ini sudah malam apa tidak sebaiknya ayah besok saja kembali ke Jakarta." Timpal Arya yang kini berdiri di samping istrinya.


"Bukannya ayah tidak mau menginap Nak, tapi ayah harus segera kembali ke Jakarta malam ini juga, karena besok ayah harus memimpin rapat bersama dewan direksi." sahut Ayah mertuanya yang hendak bersiap kembali ke Jakarta.


"Baiklah, jika ayah memang ingin segera kembali malam ini" ucap Mirna yang tak kuasa menahan ayah mertuanya tersebut begitupun dengan putranya, Arya.


"Mirna, ayah titip putra ayah yang paling bandel ini padamu." dengan senyuman khasnya, tuan Hartono memberi pesan pada menantu kesayangannya tersebut.


"Iya ayah, Mirna pasti akan menjaga putra bandel ayah dengan baik." sahut Mirna yang juga di sertai senyum.


"Dan kamu Arya, jangan berani berani kamu menyakiti menantu ayah!!." kini pria paruh baya tersebut gantian memberikan pesan pada putranya, seraya menepuk pelan bahu Arya.


"Oh,,,,,Arya belum siap untuk tidur di sofa ayah, karena jika Arya berani menyakiti menantu ayah, sudah pasti Arya akan menginap di ruang tamu." jawaban Arya membuat ayahnya tergelak, sementara Mirna langsung mendelik padanya sebelum tersenyum ke arah ayah mertuanya.


"Ada ada saja kamu." ucap Tuan Hartono di sisa gelak tawanya.


"Baiklah, kalau begitu ayah berangkat sekarang, jaga diri kalian baik baik, jangan lupa untuk membuatkan ayah cucu secepatnya!!." ucap Pria itu sebelum masuk ke dalam mobil.


"Siap ayah." sahut Arya tersenyum pada ayahnya , sementara Mirna hanya bisa menunduk menahan malu ketika mendengar obrolan dewasa daru kedua pria yang berbeda generasi tersebut.


Setelah kepergian ayahnya, Arya masih berdiri di pekarangan Vila dengan menatap langit yang berhiaskan bintang bintang, Mirna yang melihat suaminya tersebut yang tengah asyik menatap ke langit, ikut melakukan hal yang sama.


"Indah ya bintangnya." ucap Mirna yang memuji indahnya ciptaan tuhan.


"Bintang memang nampak begitu indah, namun Keindahan bintang tak akan sanggup menyaingi keindahan serta kecantikan istriku." ucap Arya seraya beralih menatap istrinya, sementara Mirna langsung memanyunkan bibirnya, mendengar kalimat Arya yang terdengar gombal.

__ADS_1


"Dasar gombal." sahut Mirna.


Sementara Arya yang mendengar istrinya mengatakan dirinya hanya menggombal, langsung melangkah berdiri di Belakang Mirna.


"Mas tidak sedang menggombal, kamu memang sangat cantik sayang." ucap Arya yang kini memeluk tubuh istrinya dari belakang. tubuh Mirna yang hanya sebahu Arya, tidak membuat pria itu kesulitan untuk mendekapnya kemudian mengendus aroma harum dari rambut panjang istrinya.


"Karena kecantikan istriku lah mengapa saat itu aku meminta ayah untuk mempercepat pernikahan kita, karena aku tidak ingin calon ibu dari anak anakku di ambil orang lain." ucapan Arya membuat Mirna berbalik menghadap ke arahnya.


"Memangnya siapa yang saat itu berniat merebut aku dari mas??." Dengan sedikit mendongak Mirna bertanya pada suaminya.


Sementara Arya yang mendengar pertanyaan istrinya tersebut langsung tersenyum, karena teringat akan kesalahpahaman nya yang sudah cemburu pada Abang iparnya sendiri.


"Di tanya bukannya menjawab malah senyum." ujar Mirna dengan wajah kesal melihat suaminya yang malah asyik tersenyum seperti sedang teringat akan sesuatu.


Melihat istrinya mulia bete, Arya pun mulai berucap.


"Kamu ingat nggak sayang, sewaktu mas tidur di sofa semalaman??." tanya Arya kemudian Mirna pun mengangguk, saat mengingat kejadian yang di maksud oleh suaminya.


"Kenapa mas bisa cemburu padahal aku sama sekali tidak pernah dekat dengan pria manapun meski sebelum menikah dengan kamu mas??." pertanyaan istrinya membuat Arya kembali tersenyum kala teringat kesalahpahaman nya beberapa waktu yang lalu.


"Satu satunya pria yang dekat dengan Mirna ya bang Ferdi Abang sepupu Mirna sendiri." lanjut ucap wanita itu.


"Itulah bodohnya mas sayang, mas bahkan cemburu pada orang yang salah." sahut Arya yang merasa geli sendiri saat mengingat kesalahpahaman pada dokter Ferdi kala itu.


"Maksud mas Arya??." cecar Mirna saat dirinya tidak mengerti dengan maksud ucapan suaminya.


"Pria itu Dokter Ferdi." jawaban Arya membuat Mirna mengeryit sebelum kembali mencecarnya.


"Maksudnya mas Arya pria yang mas cemburui itu bang Ferdi??." lanjut tebak Mirna, kemudian suaminya itu pun mengangguk perlahan.

__ADS_1


"Ya ampun mas, bagaimana bisa mas Arya sampai cemburu sama Abang Mirna sendiri??." Mirna kembali mencecar seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.


"Habisnya kamu nggak pernah cerita kalau Dokter Ferdi itu Abang sepupu kamu sayang, sebagai laki laki pastilah mas cemburu saat kamu menemuinya apalagi tanpa seizin ku." lanjut jawab Arya jujur.


Mendengar pengakuan suaminya membuat Mirna langsung tertawa.


"Kenapa malah tertawa??." tanya Arya dengan tatapan berbeda.


"Abisnya kamu lucu sih mas, Abang ipar sendiri malah dicemburui." sahut Mirna masih dengan sisa tawanya, namun melihat tatapan suaminya membuatnya langsung berhenti tertawa.


"Maaf." ucap Mirna saat melihat reaksi suaminya seperti tidak suka saat ia tertawa seperti tadi.


Melihat reaksi istrinya yang seperti sedang ketakutan melihat raut wajahnya, kini giliran Arya yang tersenyum lebar.


"Ternyata seorang dosen juga bisa takut pada mantan mahasiswanya." ucapan Arya membuatnya mendapat cubitan kecil dari sang istri.


"Aku pikir mas beneran marah sama aku." ucap wanita itu kemudian menyandarkan kepalanya pada dada bidang suaminya.


"Mana bisa mas marah sama kamu sayang." sahut Arya sembari mengelus lembut puncak kepala istrinya.


"Sebagai anak mas memang pernah bandel, tapi sebagai suami mas tidak ingin mengecewakan calon anak anak mas dengan menyakiti hati ibunya." jawaban Arya membuat Mirna terharu, wanita itu bahkan menyesal sudah pernah menyematkan kata bocah pada pria itu.


Pria yang kini telah menjadi suami seutuhnya bagi wanita itu, Ternyata memiliki pemikiran yang sangat dewasa, bahkan jauh lebih dewasa darinya.


"Mas ingin memiliki banyak anak darimu sayang." ucapan Arya membuat Mirna menarik diri dari dekapan pria itu untuk memberi jarak di antara keduanya, sehingga kini keduanya bersitatap sendu.


"Memangnya mas pingin punya anak berapa??." tanya Mirna pada pria yang kini menatapnya dengan sendu.


"Kalau masalah itu mas serahkan sama kamu, yang melahirkan kan kamu bukannya mas. tapi jika mas boleh meminta, sebelas juga nggak masalah biar jadi klub kesebelasan sekalian." ucap Arya dengan senyum manis di wajah tampannya.

__ADS_1


"Enak aja, emangnya Mirna kucing." jawab wanita itu sebelum kembali memberi cubitan kecil di perut suaminya.


"Awh.,,,sakit sayang."ucap Arya yang pura pura meringis kesakitan, padahal pada kenyataannya jemari lentik istrinya tak akan sanggup menyakiti perut bak roti sobek milik pria itu.


__ADS_2