
"Apa yang sebenarnya terjadi bang??." tanya Arya pada pria yang berstatus Abang iparnya tersebut.
"Mereka sudah menuduh Abang dan dokter Tiara berbuat senonoh tanpa ada bukti." jawab Ferdi, nampak jelas kemarahan di wajah pria itu.
"Apa berdua duaan di tempat sepi itu bukan suatu bukti." timpal salah satu warga yang memergoki Tiara dan dokter Ferdi tadi.
"Tadi ban mobil saya kempes kebetulan siang tadi dokter Ferdi juga di tugaskan untuk melakukan penyuluhan di kampung ini, itulah sebabnya mengapa aku terpaksa meminta bantuan pada dokter Ferdi untuk menggantikan ban mobilku yang kempes, karena di sana tidak ada bengkel sama sekali." Tiara pun ikut menjelaskan kejadian yang sebenarnya, namun penjelasan keduanya tidak serta merta membuat warga mengerti. mereka malah kekeh pada tuduhan mereka, karena keduanya sudah di anggap merusak nama baik kampung.
"Sudahlah, mana ada maling yang ngaku, kalau ada maling yang ngaku bakal penuh tuh penjara." salah satu warga yang tadi ikut menggiring keduanya ke kantor perangkat desa, ikut menimpali.
"Jaga ucapan Anda pak, saya bukan pria brengsek seperti yang anda pikirkan!!." Nada suara dokter Ferdi pun mulai meninggi.
"Pak saya berasal dari keluarga baik baik, tidak mungkin saya melakukan hal serendah itu, saya masih punya harga diri." Kini Tiara mulai menitihkan air mata, sebab sejak tadi hampir semua warga menyudutkan dirinya dan Ferdi.
"Bapak bapak saya harap tenang, kita bisa menyelesaikan ini baik baik." perangkat desa meminta warga untuk tetap tenang, dan tidak bertindak di luar nalar, apalagi dengan terus menyudutkan pihak nakes yang di tugaskan di kampung itu.
"Bagaimana warga bisa tenang jika ada orang yang berani berani merusak nama baik kampung kita." timpal warga lainnya.
"Maaf bapak bapak ibu ibu, saya rasa ini hanyalah sebuah kesalahpahaman, sebaiknya kita bicarakan dengan kepala dingin!!." Timpal Arya.
"Maaf pak Arya sekalipun beliau adalah saudara bapak, namun aturan tetaplah aturan, tidak ada yang bisa mengganggu gugat. di kampung kami tidak boleh ada pasangan yang bukan mahram boleh berdua duaan, karena itu akan merusak nama baik kampung kami." ucap salah seorang ibu ibu yang merupakan salah satu warga di kampung tersebut.
Dokter Ferdi semakin tidak tega saat melihat Tiara berlinang air mata.
__ADS_1
"Sekuat apa pun kami mencoba menjelaskan kebenarannya pada kalian, tapi kalian tetap tidak percaya, karena pemikiran kalian yang terlalu dangkal." kata dokter Ferdi yang kini mulai tersulut emosi, karena tidak tega melihat Tiara berlinang air mata.
"Demi menjaga nama baik kampung kita, sebaiknya kita nikahkan saja mereka, agar kejadian seperti ini tidak lagi terjadi di kampung kita." ucapan salah satu warga membuat mata Tiara terbelalak, sementara dokter Ferdi masih bisa bersikap tenang. karena sejak awal di giring ke kantor aparat desa, dokter Ferdi sudah bisa menebak endingnya akan seperti ini. karena begitulah kebanyakan aturan tak masuk akal yang berlaku di kampung kampung pada umumnya.
"Bagaimana bisa kami harus menikah sementara kami tidak pernah menjalin hubungan apa apa selain rekan kerja." protes Tiara tidak terima dengan keputusan dari warga kampung.
"Jika tidak ada hubungan apa apa kenapa kalian harus berdua duaan di tempat sepi, malam malam lagi." timpal salah seorang warga lainnya.
"Berapa kali saya harus jelaskan, kalau tadi ban mobil saya kempes." sekuat tenaga Tiara mencoba meyakinkan warga, namun sepertinya nasib memang mempertemukan keduanya dalam ikatan pernikahan, meski jalannya yang sedikit tragis.
Dokter Ferdi menghela napas dalam sebelum menghembusnya perlahan, sebelum mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya.
"Baiklah, jika itu sudah menjadi keputusan mutlak kalian, saya bersedia menikah dengan gadis ini. tapi sebelumnya, izinkan gadis ini lebih dulu mengabari keluarganya!!." Sebenarnya dokter Ferdi bisa saja menyetujui permintaan warga sejak awal, namun dokter Ferdi tidak langsung melakukannya karena tidak ingin menikahi gadis itu dengan memaksanya, namun pada akhirnya ia pun tidak punya pilihan lain. dokter Ferdi pun segera memutuskan hal terbesar dalam hidupnya yaitu menikah dengan seorang gadis karena tertangkap warga.
Tiara menatap tidak percaya dengan keputusan pria itu, namun karena terus di desak oleh warga akhirnya Tiara pun layaknya dokter Ferdi yang tidak punya pilihan lain, selain menerima pernikahan tersebut.
"Ara, bagaimana bisa seperti ini??." nyonya Sarah yang baru saja tiba segera memeluk erat tubuh putri sulungnya yang berlinang air mata, bukan tidak mau menikah dengan pria tampan itu, namun Tiara menyesalkan cara bagaimana ia bisa menikah dengan pria itu lah yang membuat si sulung berlinang air mata. terpaksa menikah karena tertangkap warga, bukannya menikah karena cinta, itu yang membuat Tiara merasa dirinya sangat menyedihkan di mata Pria itu.
"Ara tidak salah bu, warga telah salah paham pada kami." gadis itu berusaha meyakinkan ibunya. dan sebagai wanita yang telah melahirkannya kedunia ini, nyonya Sarah percaya dengan putrinya bahkan sangat percaya, meski ada seribu orang yang meragukan, ia tetap yakin jika putrinya tersebut tidak mungkin melakukan hal rendah seperti yang di tuduhkan warga pada keduanya.
"Ibu percaya sama kamu nak." wanita itu ikut berlinang air mata, sembari memeluk erat tubuh putrinya, seolah memberi kekuatan pada gadis itu.
Sementara Ayahnya Tiara menatap Ferdi yang kini berdiri di depannya.
__ADS_1
"Maafkan saya tuan, saya sama sekali tidak bermaksud mencoreng nama baik anda sebagai seorang ayah, meski ini hanya sebuah kesalahpahaman, saya tetap akan bertanggung jawab. izinkan saya menikah dengan putri anda!!." Ucapan pria tampan nan matang tersebut membuat tuan Rendi terharu, ia kenal betul dengan sosok dokter Ferdi yang terkenal sopan dan ramah, sejak mereka mulai bertetangga hampir sepuluh tahun lamanya, di dalam relung hati terdalam tuan Rendi sangat yakin, jika Dokter Ferdi sama seperti putrinya, sama sama korban dari pemikiran dangkal warga kampung tersebut.
"Seperti apa pun pernikahan kalian di awali, saya harap kamu bisa menjaga serta menjadi imam yang baik untuk putriku. saya restui jika kamu ingin menikahi putriku." jawab tuan Rendi yakin meski matanya kini mulai berkaca-kaca.
"Terima kasih tuan, insya Allah saya akan menjaga Tiara dengan sepenuh hati." mendengar jawaban pria yang lebih muda darinya tersebut, membuat tuan Rendi memeluk dokter Ferdi.
Sementara Alisya serta Kheano yang juga hadir di sana hanya bisa diam, saat ayahnya yang lebih berhak kini telah memutuskan menerima pernikahan yang sebentar lagi di laksanakan secara sederhana di tempat itu.
Beberapa saat setelah kedatangan keluarga Tiara, kini paman serta adik sepupu Ferdi juga tiba di sana, sebab tadi dokter Ferdi pun memberi kabar pada keduanya. dokter Ferdi menceritakan semua kejadian yang sebenarnya pada paman serta adik sepupunya.
Tidak jauh berbeda dengan ayahnya Tiara, tuan Handoko yang baru saja tiba langsung memeluk keponakannya.
"Nak, bagaimana pun jika kamu sudah memutuskan menikah, itu artinya kamu harus menerimanya dengan sepenuh hati, tidak peduli bagaimana cara Tuhan mempertemukan kalian." Dokter Ferdi mengangguk saat pamannya itu memberikan wejangan padanya.
"Baik Om." jawab dokter Ferdi yakin.
Setengah jam kemudian akan nikah pun di laksanakan, meski di adakan di kantor perangkat desa dengan kondisi seadanya dengan kehadiran seorang penghulu yang menikahkan keduanya, namun dokter Ferdi tetap melafazkan kalimat suci itu dengan lantang, sampai terdengar suara saksi berucap kata sah.
"Sah."
"Sah."
"Sah."
__ADS_1
Saksi serta warga kampung serentak mengucapkan kata tersebut.
Sementara Tiara yang saat ini sudah sah menjadi nyonya Ferdi terlihat diam seperti orang linglung, ia sendiri bingung harus sedih atau bahagia. di satu sisi ia bahagia karena bisa menikah dengan pria yang selama ini di disukainya, namun di sisi lain Tiara merasa sedih mengingat cara bagaimana ia sampai di nikahi oleh pria tampan itu.