
Beberapa saat sebelum mobil yang di kendarai Andi memasuki area gedung perusahaan Kheano group, pria itu nampak bersuara.
"Mungkin saya tak sehebat kakak kamu, Kheano, tapi saya akan selalu berusaha membahagiakanmu" jujur Rania sempat merasa terharu dengan ucapan Andi, apalagi pria itu nampak begitu yakin dengan ucapannya.
Rania hanya diam sama sekali tak menanggapi ucapan pria itu, mengingat saat ini mobil yang di kendarai Andi telah memasuki area gedung perusahaan.
Sebelum turun dari mobil, tak lupa Andi mengucapkan terima kasih pada Rania.
"Terima kasih, hati hati berkendara jangan ngebut!!." ucap pria itu seraya beberapa kali mengelus lembut puncak kepala Rania.
"Hemt." sahut Rania canggung. bagaimana tidak canggung, sebelumnya jika keduanya bertemu pasti pria itu nampak begitu datar bahkan terkesan dingin, tapi kali ini ia bahkan bersikap begitu lembut dan perhatian.
Andi pun segera turun dari mobil, begitu juga dengan Rania yang ikut turun dari mobil untuk mengubah posisi, duduk di balik kemudi menggantikan posisi Andi.
Saat hendak masuk ke mobil, Rania merasa ada sesuatu yang aneh pada dirinya saat pria itu terus menatap ke arah bibirnya.
"Ternyata rasanya manis." gumam Andi lirih namun masih terdengar oleh Rania, yang kini hendak membuka pintu mobil.
"Apanya yang manis??." tanya gadis itu dengan polosnya.
"Bibir kamu." jawaban Andi benar benar membuat Wajah Rania merah merona menahan malu. tak ingin berlama lama dengan pria itu, Rania pun segera masuk ke mobil dan berlalu meninggalkan perusahaan milik kakaknya.
Andi segera melangkah masuk ke dalam gedung perusahaan, saat mobil yang di kendarai Rania tak lagi nampak.
Tidak sedikit mata menatap heran ke arah Andi yang kini tengah berjalan di loby. bukan tanpa alasan, para pegawai yang kebetulan berpapasan dengan pria itu merasa ada yang aneh dengannya, sebab sejak tadi senyum Andi tak juga sirna dari wajah tampannya. padahal biasanya Andi selalu nampak dingin dan cuek, tak jauh berbeda dengan atasan sekaligus sahabatnya, Kheano.
Sampai ketika berada di lift Andi masih menampakkan sisa senyum di wajahnya, namun seketika senyum itu sirna, saat suara seseorang yang berada di belakangnya mengejutkan pria itu.
"Kayaknya ada yang lagi seneng nih?." pria yang mengejutkan Andi tak lain adalah sahabatnya Arya, yang sengaja datang untuk menemui Kheano, kebetulan Arya lebih dulu naik ke lift namun karena sibuk dengan pemikirannya sendiri Andi sampai tidak menyadari keberadaan Arya.
"Ngapain Lo di sini???." mendengar pertanyaan Andi membuat Arya berdengus kesal.
"Sialan Lo, bukannya menyambut hangat kedatangan sahabatnya, malah nanyanya kayak gitu." sahut Arya dengan wajah di buat buat kesal.
"Btw apa sih yang bisa bikin cowok cuek kayak Lo bisa sebahagia ini??." Tampaknya Andi sama sekali tidak berniat menjawab rasa penasaran Arya, sehingga membuat salah satu Sahabatnya tersebut kembali bertanya. namun baru saja hendak melontarkan pertanyaan yang tak jauh berbeda, pintu Lift pun terbuka.
Melihat itu Andi pun menarik tipis sudut bibirnya, seperti merasa hari ini Tuhan begitu baik padanya. karena tak perlu sibuk sibuk menjawab pertanyaan Arya yang menurutnya tidak berfaedah.
__ADS_1
"Lo mau kemana sih??." tanya Arya saat Andi malah berjalan dengan langkah lebar meninggalkannya di persimpangan ruangan.
"Anda ingin bertemu dengan pak Kheano bukan, silahkan menunggu di ruang kerja beliau." ucap Andi dengan bahasa Formal seraya melambai ke arah Arya yang berada di belakangnya, hal itu sontak membuat Arya semakin kesal. apalagi sahabatnya tersebut melambai ke arahnya tanpa menoleh sedikitpun.
"Sialan Lo An." umpat Arya sebelum masuk ke ruangan Kheano.
Arya yang hampir setengah jam menunggu di ruangan Kheano merasa bosan, sehingga pria itu ingin keluar hendak menemui Andi di ruangannya.
Namun baru saja hendak membuka handle pintu, secara bersamaan Kheano juga hendak membuka handle pintu dari arah luar.
"Akhirnya Lo datang juga, gue pikir Lo udah lupa kalau janjian sama gue." cetus Arya kesal akibat terlalu lama menunggu.
"Maaf sudah membuatmu terlalu lama menunggu." sahut Kheano dengan wajah tak sesantai biasanya.
"Gue jadi heran sama Lo berdua, tadi Andi nampaknya lagi happy banget, tapi kenapa kamu malah nampak seperti seperti banyak pikiran gini sih Khe??." mendengar penuturan Arya membuat Kheano menghentikan langkahnya yang hendak duduk di kursi kebesarannya, kemudian kembali menoleh ke arah Arya.
"Apa tadi kamu bertemu dengan Andi??." pertanyaan Kheano mendapat anggukan dari Arya yang sejujurnya bingung dengan apa yang terjadi di antara kedua sahabatnya tersebut.
Tanpa menunggu lama Kheano beranjak meninggalkan ruang kerjanya, menuju ruang kerja sahabat sekaligus orang kepercayaannya tersebut.
Andi yang kini tengah duduk di kursinya segera bangkit dari duduknya, ketika melihat Kheano masuk ke ruang kerjanya.
Seketika langkah Kheano terhenti lalu menatap ke arah Andi yang kini juga tengah menatap ke arah kedatangannya.
"Gue minta sekarang juga Lo jelasin, tentang maksud ucapan Lo ditelepon tadi!!." Kini Kheano yang memulai obrolan dengan bahasa santai.
Andi pun diam sejenak sebelum memberi penjelasan pada sahabatnya tersebut.
"Sesuai dengan perkataan saya tadi pak Kheano, malam ini saya akan mengajak kedua orang tua saya menemui kedua orang tua anda." Kheano nampak memijat pelipisnya saat mendengar sahabatnya tersebut malah menjawabnya dengan bahasa Formal. ingin rasanya Kheano protes, namun ia merasa Andi tak salah mengunakan bahasa Formal mengingat mereka masih berada di lingkungan kerja.
Sementara Arya yang sama sekali tidak mengerti kemana arah pembicaraan kedua sahabatnya tersebut ikut menimpali.
"Sebenarnya Lo berdua kenapa sih, gue jadi bingung???." timpal Arya yang kini berdiri dengan meletakkan kedua tangannya di saku celananya.
Seolah tak menggubris rasa penasaran Arya, Kheano malah mengajak Andi bicara di luar.
"Aku ingin bicara denganmu, tapi bukan di sini!!." ajak Kheano, namun dengan alasan profesionalitas kerja Andi menolak ajakan sahabatnya tersebut.
__ADS_1
"Maaf Khe, tapi saat ini masih jam kerja, lagi pula masih banyak pekerjaan yang harus segera aku selesaikan." jawab Andi, secara tidak langsung menolak lembut ajakan sahabatnya tersebut. bukannya Andi takut berhadapan dengan pria yang sebentar lagi akan menjadi calon iparnya itu, namun Andi yakin jika Kheano pasti akan menanyakan alasan mengapa ia tiba tiba ingin melamar Rania. Jujur Andi belum siap berterus terang pada Kheano tentang apa yang sudah di perbuatnya pada Rania.
Namun bukan Kheano namanya, jika tidak bisa membuat seribu macam alasan agar bisa mengajak Sahabatnya tersebut bicara di luar kantor.
"Saat ini saya tidak mengajak anda sebagai sahabat pak Andi, melainkan saya mengajak anda sebagai pimpinan perusahaan tempat anda bekerja!!." ucapan Kheano kini mulai berbau perintah, sehingga mau tidak mau Andi pun segera bangkit dari tempat duduknya.
"Baik." jawab Andi yang kini tengah berdiri hendak menyusul langkah Kheano, sementara Arya masih setia mematung, sebab bingung dengan sikap kedua sahabatnya yang menurutnya sangat berbeda dari biasanya. sampai seruan Kheano membuyarkan pikiran Arya.
"Apa kamu akan terus berdiri di situ??." Teguran Kheano membuat Arya segera tersadar lalu mengikuti langkah kedua sahabatnya.
Di mobil semua nampak diam. Arya yang duduk di jok belakang tersebut nampak memandang kedua sahabatnya yang nampak diam. Arya terus menatap kedua sahabatnya secara bergantian, sementara yang di pandang sibuk dengan pemikiran masing masing, sampai dengan mobil yang di kendarai Andi tiba di sebuah restoran.
"Sebenarnya aku kesini guna mencari sebuah rumah untuk ku tinggali bersama istriku, bukannya ingin menyaksikan perang dingin di antara kedua pria berandalan itu." Arya yang langkahnya tertinggal oleh kedua sahabatnya tersebut nampak bermonolog.
Kini Ketiganya nampak mengisi sebuah meja yang berada di sisi paling sudut sebuah cafetaria.
"Sebenarnya kita mau ngapain sih di sini, Bini gue udah nungguin nih di rumah." ucap Arya kesal sebab kedua sahabatnya masih nampak diam, layaknya sepasang suami istri yang tengah perang dingin.
Sampai dengan Andi membuka obrolan.
"Mungkin saya tidak sesukses kamu Khe, tapi saya akan berusaha membahagiakan Rania semampu saya." ucap Andi memulai obrolan.
"Dear" Arya terkejut dengan pengakuan Andi, akhirnya kini ia paham kenapa sejak tadi kedua sahabatnya tersebut nampak berbeda dari biasanya.
Setelah mengetahui pokok permasalahan yang terjadi Arya tak banyak bersuara, pria itu membiarkan kedua sahabatnya menyelesaikan selisih paham antara mereka.
"Jujur aku sama sekali tidak keberatan jika kamu berniat melamar Rania, cuma yang bikin aku bingung semua ini terjadi tiba tiba. apalagi setahu aku kamu nggak pernah pacaran sama adikku, Rania. terus terang An, aku khawatir kalau orang tuaku berpikir kamu sudah berbuat yang tidak tidak ke Rania." ucapan Kheano membuat Andi salah tingkah seperti maling yang ketangkap basah.
Namun dengan segera Andi kembali bersikap tenang di depan Kheano, sebelum kembali berujar.
"Kita sudah lama bersahabat Khe, aku memang bukan pria sempurna, tapi aku juga bukan pria bejat yang tega merenggut masa depan anak gadis orang, apalagi gadis itu adik dari sahabatku sendiri." Ucapan Andi membuat Kheano merasa tidak enak, karena sudah berkata seperti tadi pada sahabatnya itu.
"Sejujurnya aku sangat percaya padamu An, tapi yang aku khawatirkan kamu tidak sanggup mengahadapi sikap adikku yang sedikit bar bar." mendengar pengakuan Kheano bisa membuat Andi sedikit lega, setidaknya pria itu mendapatkan lampu hijau dari Kheano.
"Kamu tidak perlu Khawatir Khe, jika adikmu memang jodohku, insya Allah aku sanggup menerima kelebihan dan kekurangannya." Kheano yang mendengar Jawaban bijak dari sahabatnya tersebut, membuat pria itu merasa tenang, karena adiknya mendapat tempat khusus di hati pria itu.
Sebenarnya Sejak awal Khe sudah bisa menebak jika sahabat itu menaruh hati pada sang adik, namun Khe sama sekali tidak berpikir jika Andi sampai berniat menikahi adiknya secepat ini.
__ADS_1