Menikah Di Usia Remaja.

Menikah Di Usia Remaja.
Ngumpul bareng sahabat. 1


__ADS_3

Malam harinya di kediaman orang tua Kheano para sahabat dari Alisya maupun Kheano berdatangan satu persatu, kini mereka berkumpul di halaman belakang rumah tersebut. Begitupun dengan Al Rasyad yang untuk pertama kalinya kembali menginjakkan kakinya ke rumah pamannya itu, setelah kembalinya Abang sepupunya ke tanah air.


Pertemuan Kheano dan Al saat ini sepertinya masih terlihat kikuk setelah pernah terjadi kesalahpahaman di antara keduanya tiga tahun lalu. namun begitu, Kheano yang tidak bisa menyembunyikan kerinduannya terhadap adik sepupunya tersebut, mengirim sebuah pesan pada Al untuk menghadiri acara santai di rumahnya malam ini.


"Sini bang biar Al bantu." Al menawarkan bantuannya saat melihat Kheano sedang menyiapkan pemanggang yang akan di gunakan.


Melihat tak ada penolakan dari Abang sepupunya tersebut, Al pun membantu Kheano dengan menyalakan api pada pemanggang tersebut.


"Al minta maaf, jika Al tidak sengaja pernah menyakiti hati Abang." ucapan Al membuat Kheano yang kini tengah menyiapkan daging, sosis serta beberapa bahan lainnya yang akan di panggang tersebut beralih pada Adik sepupunya.


"Tidak ada yang perlu di maafkan, lagi pula pemikiran Abang saja yang dulu terlalu kekanak-kanakan, tidak bisa berpikir jernih saat mengahadapi sesuatu." sahut Kheano setelah menyadari sikapnya dulu yang memang terlalu kekanak-kanakan, sampai sampai tidak percaya dengan ketulusan adik sepupunya sendiri.


"Kalau pun ada yang harus minta maaf, seharusnya itu Abang bukan kamu." ucapan Kheano membuat Al terharu sebelum keduanya berpelukan, sepakat untuk melupakan kesalahpahaman yang terjadi di antara keduanya saat tiga tahun yang lalu tersebut.


Untung yang lainnya sibuk mempersiapkan yang lainnya sehingga tak melihat adegan pelukan di antara keduanya.


Setelah api pemanggang siap, Alisya yang hendak meletakkan daging serta sosis ke atas pemanggang tersebut segera di cegah Kheano.


"Kamu mau ngapain??." tanya Kheano sembari mencegah tangan Alisya.


"Mau memanggang daging, emangnya mau ngapain lagi??." sahut Alisya dengan wajah heran saat mendengar pertanyaan suaminya.


"Iya tahu, tapi ngapain kamu yang melakukan itu sayang, biar kakak yang mengerjakan semua itu, kamu duduk aja!!." ucapan Kheano tersebut mendapat sorakan dari hampir semua yang berada di sana.


"Cie...yang takut istrinya lecet." ucap Arya dengan nada menggoda.


"Masih ada nggak sih stok cowok yang kayak gini??." ucap Sisil sengaja memanyunkan bibirnya, sementara Kheano hanya bisa tersenyum sembari menggelengkan kepalanya saat mendapat ledekan dari sahabatnya serta sahabat istrinya.

__ADS_1


"Kalau ngeliat yang kayak gini gue jadi pengen cepat cepat nikah deh." timpal Indah dengan senyum manisnya.


"Gimana mau nikah kalau calon aja belom punya, mau nikah Ama kebo??." kini giliran Indah yang jadi bahan ledekan Dani.


"Sialan Lo." Indah memukul lengan Dani.


"Awh...sakit." Dani pura pura meringis padahal pukulan indah sama sekali tidak berasa saat mengenai lengan kokohnya.


"Kalau di lihat lihat kalian berdua ini cocok loh." timpal Bobi yang sejak tadi diam memperhatikan aksi keduanya.


"Gue sama dia, ogah ..." keduanya menjawab ucapan Bobi hampir bersamaan sembari menunjuk satu sama lain.


Sementara Alisya serta Kheano saling berpandangan saat mendengar jawaban Dani dan Indah tadi, sebelum Kheano mengedipkan sebelah matanya pada Alisya.


"Kak Khe lama lama genitnya semakin kelihatan." batin Alisya malu malu saat Kheano mengedipkan sebelah mata padanya dengan tatapan genitnya.


"Maaf terlambat." ucap seseorang yang ternyata adalah Bu Mirna.


"Bu Guru cantik." Indah, Alisya, Ranti, serta Sisil berlari menghampiri Bu guru yang biasa mereka sapa dengan sebutan Bu guru cantik.


"Kalian bisa aja." sahut Mirna saat mantan siswi tersebut dengan tulus memuji kecantikannya yang memang benar adanya.


Mirna pun kini duduk di sebuah kursi yang telah di siapkan Alisya untuknya.


"Kalau kayak gini Bu Mirna nggak terlihat seperti pernah guru kita, lebih pantas menjadi teman sebaya." kata indah jujur, mengingat Mirna yang memiliki wajah yang babi face.


"Kalian emang paling bisa ya kalau muji ibu kayak gitu." sahut Mirna dengan senyum penuh wibawa.

__ADS_1


"Bu, berhubung usia kita tidak terpaut jauh, boleh nggak kita manggilnya kakak atau mbak aja??."pinta Sisil sebagai perwakilan anak anak lain.


"Terserah kalian saja, mau manggilnya apa, ibu boleh, kakak boleh, mbak juga nggak masalah." sahutan Mirna membuat gadis itu bersorak.


"Yes....Kalau gitu kita manggilnya mbak Mirna aja gimana??." Kini Alisya yang memang terlihat lebih dekat Mirna tersebut antusias.


"Iya boleh." sahut Mirna dengan senyum indahnya, sehingga memperlihatkan rentetan giginya yang rapi, putih dan bersih.


Alisya memang lebih dekat dengan Mirna sebab saat di rumahkan oleh pihak sekolah tiga tahun lalu, Alisya di bimbing oleh Bu Mirna sebagai guru home schooling. Alisya sebenarnya tidak sepenuhnya di keluarkan dari sekolah sebab ia masih bisa mengikuti pelajaran sekolah namun ia melakukannya dari rumah, usai ayah mertuanya menghadap pihak sekolah dan menceritakan semuanya pada pihak sekolah, tentang pernikahan Alisya dengan putranya. namun mengingat siswa siswi yang tidak di perbolehkan menikah di saat masih sekolah, maka mau tidak mau pihak sekolah tetap pada aturan, tidak mengizinkan Alisya untuk belajar di sekolah. itu sebabnya Alisya melakukan home schooling dengan bimbingan Bu Mirna dan beberapa guru lainnya.


Sementara Arya yang berdiri di dekat Kheano tersebut tidak bisa di pungkiri jika saat ini ia begitu terpesona dengan penampilan gadis yang kini berusia dua puluh tiga tahun tersebut. gadis yang tiga tahun di atasnya tersebut datang dengan mengenakan dres tanpa lengan berwarna merah dengan panjang selutut, hal itu membuat Arya tak berkedip sedikitpun.


"Seorang ayah tidak mungkin salah memilih calon untuk anaknya." ucapan Kheano membuat Arya segera memalingkan pandangannya dari Mirna.


"Gue nggak ngerti maksud Lo??." Arya berpura pura tidak paham kemana arah omongan Kheano.


"Lo nggak perlu nutup nutupinya dari gue, karena gue udah tahu semuanya dari bokap Lo langsung." lanjut kata Kheano yang semakin membuat Arya salah tingkah.


"Seharusnya Lo bersyukur karena di jodohkan dengan gadis secantik dan sepintar mbak Mirna, jadi untuk apa kelamaan mikir. bukan Lo yang harusnya mikir dua kali buat di jodohkan, yang ada mbak Mirna yang harusnya mikir seribu kali buat di jodohkan sama sosok mahasiswa abadi seperti Elo." mendengar kalimat pedas Kheano membuat Arya mendengus kesal.


"Sialan Lo." umpat Arya.


"Sebagai sahabat sih gue berharap anak Lo nantinya mewarisi IQ ibunya, jangan sampai mewarisi IQ bapaknya. kalau sampai mewarisi IQ bapaknya bisa bertambah entar kuota mahasiswa abadi di Indonesia." ucap Kheano lalu tergelak,. sehingga membuat Kheano menjadi pusat perhatian semuanya, termasuk Mirna yang jadi topik obrolan.


"Lo kalau ngomong, emang kadang nembus sampai ke jantung." ucap Arya dongkol.


"Sejujurnya gue juga nggak nolak saat tahu jika calon yang ayah pilihkan adalah dia(Mirna). tapi bagaimana gue nggak mikir dua kali, saat harus menikah dengan wanita yang notabennya sudah memiliki kekasih." dalam hati Arya yang sejak dulu berpikir jika dokter Ferdi adalah kekasih dari calon istrinya tersebut.

__ADS_1


__ADS_2