Menikah Di Usia Remaja.

Menikah Di Usia Remaja.
Salah paham.


__ADS_3

Sudah beberapa kali mencoba menghubungi menantunya, namun panggilannya belum juga tersambung.


"Kemana Alisya, apa dia lupa menjemput Kesya??" nyonya Tasya bermonolog, mengkhawatirkan cucunya.


"Jangan jangan Alisya sedang sibuk di kantor sampai tidak mendengar panggilan di ponselnya, jika Alisya sibuk itu artinya Kesya belum ada yang menjemput di sekolahnya." nyonya Tasya semakin khawatir dengan cucu kesayangannya, terbukti sejak tadi wanita itu terus mondar mandir bak sertikaan.


Tiba tiba nyonya Tasya teringat putrinya, Rania, yang kampusnya tidak jauh dari sekolahan Kesya.


"Apa sebaiknya minta tolong Rania saja untuk menjemput Kesya." wanita yang masih cantik di usianya yang sudah berkepala empat itu masih terus bermonolog.


Nyonya Tasya Akhirnya meminta Rania untuk menjemput Kesya di sekolahnya.


Nyonya Tasya pun menghubungi putrinya, butuh tiga kali panggilan baru gadis itu menerima panggilan dari mamanya.


"Rania mama butuh bantuan kamu, cepat kamu jemput keponakan kamu sekarang!! soalnya sejak tadi mama menghubungi Alisya sama sekali tidak di angkat, mama khawatir Kesya akan menangis jika terlambat di jemput." belum Rania sempat Rania mengucapkan sepatah katapun saat menerima panggilan, gadis itu sudah mendapat seribu seruan dari sang mama.


"Tapi ma, sebentar lagi Rania ada kelas." jawab Rania jujur.


"Gimana sih kamu Ran, penting mana, nggak masuk kelas sekali atau terjadi sesuatu sama ponakan kamu. pokoknya mama nggak mau tahu, sekarang juga kamu jemput Kesya di sekolahnya, kalau sampai enggak, mama potong uang jajan kamu." titah mamanya sebelum mematikan sambungan telepon.


"Mah,,,mah,,,."ucap Rania namun sayang panggilan dari mamanya telah terputus.


Rania berdengus. di satu sisi ia tidak ingin bolos mata kuliah, namun di sisi lain ia juga khawatir jika terjadi sesuatu pada keponakannya. meski sering adu mulut dengan gadis kecil itu, namun sebagai Tante Rania tetap menyayangi ponakan satu satunya tersebut. maka dari itu Rania memutuskan minta izin untuk tidak mengikuti kelas lalu segera menjemput Kesya di sekolahnya.


"Benar benar nih bocah, gara gara nih bocah gelar gue sebagai bungsu kesayangan udah di cabut Sama mama." gumam Rania, meski begitu ia tetap tersenyum ketika bayangan keponakannya yang tengah tersenyum manis melintas di pikirannya.


Dua puluh menit di perjalanan kini sebuah taksi online yang di tumpangi Rania telah tiba di sekolahan gadis kecil kesayangan keluarga tersebut.


Karena ponselnya tengah berdering tanda notifikasi pesan masuk, Rania pun fokus pada ponselnya sembari melanjutkan langkah menuju kelas Kesya, setelah membayar ongkos pada sopir taksi online.


"Permisi Bu, saya tantenya Kesya, apa Kesya sudah selesai belajarnya??." Kesya bertanya pada salah seorang guru ketika berpapasan.


"Maaf nona, tadi baru saja ada seorang pria yang mengaku pamannya yang datang menjemput Kesya." mata Rania membulat sempurna saat mendengar ucapan Bu guru, bayangan keponakannya itu menjadi korban penculikan sudah menari nari di pikiran Rania. bagaimana ia tidak berpikir macam macam, ia hanya memiliki satu satunya saudara laki laki yaitu ayahnya Kesya sendiri, jadi siapa pria yang mengaku pamannya itu.


Kini perasaan Rania campur aduk, takut ponakannya benar benar menjadi korban penculikan, mana lagi ia harus memikirkan bagaimana harus menghadapi amukan mamanya, itu semua sudah membuat kepala Rania seperti mau pecah.

__ADS_1


"Bagaimana bisa pihak sekolah mengizinkan keponakan saya di jemput sama orang asing." Rania yang sangat mengkhawatirkan keponakannya tanpa sadar nada bicaranya mulai meninggi.


"Maafkan kami nona, tapi pria itu mengaku jika beliau adalah paman Kesya." nampak jelas di wajah Bu guru itu perasaan bersalah, namun dengan segera Bu guru itu menunjukkan arah kemana mobil pria yang baru saja membawa Kesya.


"Nona, sepertinya itu mobil pria yang tadi mengaku pamannya Kesya." ternyata keberuntungan masih berpihak pada Rania, karena mobil pria itu masih terparkir di depan gerbang, dengan pria itu sendiri masih berdiri hendak membuka pintu mobil.


"Brengsek, dasar penculik tak berperikemanusiaan, beraninya menculik ponakan gue" tanpa berpikir panjang Rania berlari ke arah pria itu sembari melepas salah satu sepatunya, di ikuti oleh ibu guru Kesya di belakangnya. secepat kilat sepatu milik Rania mendarat cantik di kepala pria itu, hingga membuat pria itu meringis kesakitan.


"Awrgh." sepertinya Rania menggunakan seluruh kekuatannya untuk melayangkan sepatunya, terbukti saat pria itu nampak meringis kesakitan sembari memegangi kepalanya.


Pria itu pun menoleh ke arah belakang.


"Apa kamu sudah gila??." suara yang tidak asing di telinganya membuat mata Rania membulat sempurna.


"Pak Andi." Seketika langkah Rania tercegat saat pria itu menatap tajam ke arahnya.


"Apa kamu berniat memecahkan kepala saya??." ketus Andi seraya mengelus kepalanya yang masih terasa sakit, akibat ulah adik dari sahabatnya itu.


"Apa nona mengenal pria ini??." tanya Bu guru Kesya saat melihat Rania langkah Rania tercegat. sementara Rania hanya bisa mengangguk perlahan sembari cengar cengir tak jelas merasa tak enak pada guru Kesya.


"Lain kali berkomunikasilah lebih dulu, agar kesalahpahaman seperti ini tidak terjadi lagi nona!!." Rania semakin merasa tidak enak saat guru Kesya bukannya marah, wanita itu malah dengan lembutnya bertutur demikian.


"Sekali lagi saya minta maaf atas kesalahpahaman ini Bu." ucap Rania sedikit menundukkan kepalanya, meminta maaf.


"Sudah lah nona, tidak masalah, tidak perlu meminta maaf, hitung hitung ini juga jadi pelajaran bagi kami, agar tidak mengizinkan orang asing menjemput salah satu anak didik di sekolah paud kami." terang Bu guru tersebut sebelum pamit undur diri.


"Kalau begitu saya pamit dulu nona." akhirnya wanita yang berprofesi sebagai guru Kesya tersebut meninggalkan Rania dan Andi yang masih berdiri dengan posisi masing masing.


Sementara Kesya yang tadi sudah lebih dulu masuk ke mobil Andi, menurunkan kaca mobil.


"Tante Rania." ucap Gadis itu saat melihat adik dari ayahnya tersebut.


"Kesya, ayo turun, kamu pulang bareng Tante aja!!" Rania meminta keponakannya itu untuk segera turun dari mobil Andi, namun nampaknya gadis kecil itu menolak ajakan tantenya.


"Kesya ikut om Andi saja ke kantor ayah, di sana ada bunda lagi nungguin Kesya." ucap gadis itu, sebab tadi begitulah Andi menjelaskan pada gadis kecil itu sampai ia mau ikut bersama dengan Andi.

__ADS_1


"Tapi sayang, oma_" Rania tidak menyelesaikan kalimatnya sebab Andi sudah menyela.


"Kheano yang meminta saya untuk menjemput Kesya, dan membawanya ke kantor karena saat ini Alisya bersama dengan Kheano." jawaban Andi membuat gadis itu berdengus kesal, bagaimana tidak, karena harus menjemput ponakannya itu ia harus bolos mata kuliah.


"Kalau tahu gini mending gue nggak usah capek capek naik taksi ke sini, mana gue harus bolos mata kuliah segala lagi." gumam Rania Lirih namun masih terdengar di indera pendengaran Andi.


Rania mendatangi sekolah Kesya dengan menumpang taksi online, karena saat hendak menjemput Kesya tadi ban mobilnya bocor.


"Kalau tidak keberatan saya bisa mengantarkan kamu kembali ke kampus." ucap Andi menawarkan tumpangan pada Rania.


"Ngapain lagi gue ke kampus, orang tadi gue udah izin nggak masuk. lagi pula mobil gue udah di ambil sama orang bengkel, buat di ganti bannya yang bocor." sahut Rania dengan nada kesal.


"Kalau begitu kamu bisa ikut bersama kami ke perusahaan!!." Andi kembali menawarkan Rania untuk ikut bersama dengannya, karena tidak ada pilihan lain akhirnya dengan terpaksa gadis itu pun menggangguk. walau berat rasanya ia harus kembali berada satu mobil dengan pria yang pernah menurunkannya di tepi jalan itu.


Di perjalanan hening tak ada yang bersuara baik Andi maupun Rania, sampai tiba tiba gadis kecil itu mengeluhkan perutnya yang terasa lapar.


"Tante, Kesya lapar." ucap gadis kecil itu seraya mengelus perutnya.


"Kesya lapar_" belum Rania menuntaskan kalimatnya Andi sudah menyela.


"Gadis cantiknya om lapar ya, baiklah cantik, kita makan dulu ya!!." sela Andi, kemudian melajukan mobilnya ke area restoran yang tidak jauh dari tempat itu.


Andi menggendong Kesya sementara Rania membawakan tas gadis kecil itu, keduanya berjalan beriringan. bagi yang tidak mengenal keduanya,sudah pasti menyangka keduanya adalah pasangan muda yang di karuniai seorang putri cantik.


"Kesya mau makan apa nak??." Andi bertanya dengan lembut layaknya seorang ayah yang tengah bertanya pada putrinya, sehingga pelayan yang tengah menunggu untuk mencatat pesanan mereka menyangka Andi adalah ayah dari gadis kecil itu.


"Kesya mau ayam goreng." seperti biasa gadis kecil itu pasti akan memesan makanan kesukaannya, sementara Rania masih diam belum memilih satu pun yang ada di buku menu.


"Ayam goreng sama spaghetti satu." ucap Andi pada pelayan, belum sempat Andi bertanya pada Rania, pelayan itu lebih dulu bertanya.


"Kalau istri anda mau pesan apa tuan??" tanya pelayan yang menyangka Rania adalah istri dari pria itu.


Sementara Andi dan Rania langsung saling bertatapan saat mendengar kalimat pelayan restoran tersebut, sebelum Andi berdehem untuk menguasai keadaan yang sempat canggung.


"Ehem." Andi berdehem membuat Rania segera memalingkan pandangannya dari pria itu, lalu menunjuk sembarang pada buku menu di tanganya. tanpa diduga menu yang ditunjuk Rania sama persis dengan yang di pesan Andi tadi.

__ADS_1


"Ternyata benar kata orang, pasangan suami-istri itu memang satu hati." ucap pelayan itu tersenyum ramah, sementara keduanya hanya diam sibuk dengan pemikiran masing masing.


__ADS_2