Menikah Di Usia Remaja.

Menikah Di Usia Remaja.
Ancaman Kheano.


__ADS_3

Andi berjalan mengekor di belakang Kheano memasuki ruangan yang bertuliskan direktur utama.


"Bisa kamu beritahu alasan sampai kamu meminta saya buat memecat pak Suryo, padahal kamu tahu sendiri selama kamu di luar negeri pak Suryo sudah banyak membantu dalam mengembangkan perusahaan ini"Ucap Andi." Cecar Andi. walaupun berat jika harus memberhentikan pak Suryo dari perusahaan tersebut, namun sebagai bawahan Andi hanya bisa menuruti perintah Kheano sebagai pemilik perusahaan.


"Saya tidak suka ada orang yang berani menghina istriku." ucap Kheano dengan nada datar namun penuh penekanan.


"Maksud kamu??" Andi malah balik bertanya sebab tidak sepenuhnya paham dengan maksud ucapan Kheano.


Kheano yang tadi telah duduk di kursi kebesarannya kembali berdiri lalu menyandarkan keduanya tangannya di meja sebagai tumpuan, kemudian dengan tatapan sulit di artikan Kheano kembali berujar pada Andi.


"Katakan pada pak Suryo agar mengajari istrinya sopan santun, jika masih ingin bekerja di perusahaan ini!!." seru Kheano, ada kemarahan dalam nada bicara Kheano, sehingga Andi bisa menebak jika penyebab dipecatnya salah satu pegawai terbaik di perusahaan itu adalah istri pak Suryo sendiri.


"Dan suruh dia agar meminta istrinya untuk segera meminta maaf pada istriku!!." lanjut Kheano yang kini kembali duduk bersandar di kursi kebesarannya.


Sementara Andi yang mencoba mencerna semua ucapan Kheano akhirnya mengerti mengapa sampai sahabat sekaligus atasannya itu bisa semarah itu, sampai Sampai memintanya untuk memberhentikan salah satu pegawai terbaik bernama pak Suryo tersebut dari perusahaan miliknya.


"Baiklah." jawab Andi sebelum meninggalkan Kheano, yang kini menyibukkan diri, memeriksa beberapa berkas yang sejak kemarin menumpuk di mejanya.


Ketika hendak membuka handle pintu Andi kembali menoleh pada Kheano.


"Aku rasa sang Casanova memang benar benar sudah jatuh cinta pada istrinya." dalam hati Andi tersenyum, saat menoleh ke arah Kheano yang sedang fokus memeriksa beberapa berkas penting, sampai ia tidak melihat jika Sahabatnya itu tengah tersenyum ke arahnya.


Andi kembali ke ruangannya, setelahnya ia meminta salah satu staf untuk memanggilkan pak Suryo ke ruangannya.


Tidak butuh waktu lama pak Suryo yang tengah mengemasi barang-barangnya, segera ke ruangan wakil Dirut saat salah satu staf memberitahu, jika pak Andi selaku wakil Dirut memintanya untuk segera ke ruangannya.


Andi mengatakan semua yang tadi di pinta Kheano selaku Dirut sekaligus pemilik tunggal perusahaannya tersebut.


Andi mengatakan jika istri dari pak Suryo lah yang telah berbuat sesuatu sehingga menyebabkan dirinya sampai di pecat. meski Andi sendiri tidak tahu pasti, apa yang telah di lakukan oleh istri dari pak Suryo terhadap istri dari bos mereka tersebut.


Setelah mendengar semua penjelasan dari Andi, pak Suryo segera pamit pulang untuk menemui istrinya, agar bisa bertanya langsung apa yang sudah di perbuat istrinya tersebut sehingga membuatnya sampai di pecat.


Andi yang kini kembali fokus pada pekerjaannya sejak kepergian pak Suryo, tiba tiba beralih menatap ke arah ponselnya yang terletak di atas meja. saat benda pipih tersebut bergetar, tanda satu notifikasi pesan masuk di aplikasi berwarna hijau miliknya.


"Maaf mengganggu waktu anda pak Andi, saya hanya ingin mengabarkan pada anda, jika saat ini istri dari pimpinan anda sedang berada di kantor saya. beliau ingin berkonsultasi tentang masalah perceraian." bunyi pesan yang di kirimkan oleh salah satu rekan satu kampusnya dulu yang kini telah berhasil menjadi seorang pengacara.


Setelah membaca pesan tersebut Andi segera menemui Kheano.

__ADS_1


"Ada apa??." tanya Kheano saat Andi tak juga mengutarakan niatnya saat sudah berada di ruangan Kheano.


Andi masih diam, bingung bagaimana cara untuk menyampaikan kabar itu pada sahabat sekaligus atasannya tersebut, sampai Andi hanya bisa meminta Kheano untuk membaca pesan yang masuk di ponselnya, karena tidak ingin Kheano tersinggung jika ia salah bicara.


"Apa ini??" kembali tanya Kheano saat Andi mengarahkan ponsel padanya.


"Baca!!." Ucap Andi.


"Itu pesan dari rekan sekampus ku dulu, yang kini telah menjadi seorang pengacara." lanjut Andi di saat Kheano tengah membaca pesan tersebut.


Usai membaca pesan itu Kheano menghela napas berat.


"Katakan pada temanmu itu agar tidak melayani Alisya jika datang ke kantornya, jika ia masih ingin menjadi seorang pengacara!!." seru Kheano usai menghela napas beratnya.


"Baiklah." jawab Andi singkat, saat mendengar ada kemarahan dari nada bicara Kheano.


Kheano segera beranjak pergi meninggalkan Andi yang masih diam menatap kepergiannya.


Kheano yang pergi dengan terburu buru harus menyantap kemacetan ibu kota.


"Aku pikir setelah tiga tahun meninggalkan negeri ini kemacetan akan berkurang saat kembali." gerutu Kheano saat menyetir di tengah kemacetan jalanan ibu kota.


"Ternyata kamu serius dengan ucapanmu Alisya, aku pikir kamu hanya menggertak saat ingin bercerai dariku." gerutu Kheano.


Setelah hampir satu jam berkutat dengan kemacetan jalanan ibu kota, kini Kheano tiba di kantor papanya. tadi sebelum meninggalkan kantornya menuju kantor papanya, Kheano lebih dulu menelepon Alisya untuk menanyakan keberadaan nya.


Meski sedang marah sekalipun, tidak membuat ketampanan Kheano berkurang sehingga saat tiba di perusahaan papanya Kheano menjadi pusat perhatian, terutama di kalangan pegawai wanita. walau begitu Kheano terbilang cuek bahkan ia terkesan tidak peduli dengan tatapan para wanita cantik, yang terkagum kagum pada ketampanannya.


Kheano menaiki lift menuju ruangan Alisya.


Tanpa mengetuk lebih dulu Kheano membuka pintu ruang kerja Alisya.


"Apa kamu tidak bisa izin atau mengetuk pintu dulu sebelum masuk!!." ucap Alisya ketus, Alisya yang tengah fokus memeriksa berkas penting sebelum di tandatangani oleh papa mertuanya selaku pimpinan perusahaan, teralihkan saat melihat pintu ruangannya terbuka.


"Ini perusahaan papaku, aku rasa tidak perlu izin dari siapapun untuk bisa masuk kemana pun yang aku mau." jawab Kheano tak kalah ketusnya, karena saat melihat Alisya bayangan pesan yang tadi di bacanya di ponsel Andi kembali terekam di kepalanya, sampai membuatnya kembali kesal.


"Tapi ini ruang kerjaku, jadi siapapun yang hendak masuk harus izin padaku, sekalipun anak dari pemilik perusahaan." sindir Alisya.

__ADS_1


"Baiklah,,,,kalau begitu aku kesini sebagai suami dari pemilik ruangan ini, apa seorang suami juga harus izin dulu jika ingin bertemu dengan istrinya??" jawaban Kheano membuat Alisya tak ingin lagi berdebat, karena bagaimanapun suaminya tersebut pasti akan selalu mencari pembenaran jika berdebat dengannya.


"Ada apa kamu kesini??." tanya Alisya yang kembali fokus pada beberapa berkas serta laptopnya, sengaja tak menatap ke arah suaminya.


"Dari mana kamu??." tanya Kheano yang kini tengah duduk dengan berpangku kaki, di sofa yang juga berada di ruang kerja Alisya.


"Kenapa masih bertanya, bukankah kamu sendiri tadi yang mengantarkan aku ke rumah Indah." jawab Alisya masih tak menatap ke arah lawan bicaranya.


Setelah dari sekolah paud Kesya, Alisya meminta Kheano mengantarnya ke ruang Indah, meski niat awalnya ia bukannya hendak ke rumah indah.


"Yakin setelah dari rumah Indah kamu tidak kemana mana lagi??." mendengar pertanyaan suaminya membuat Alisya beralih menatap Kheano.


"Jika sudah tahu mengapa bertanya." saat mencerna ucapan dan nada bicara Kheano, Alisya bisa menebak jika pria itu sudah tahu, namun sengaja kembali bertanya.


"Bukankah aku sudah bilang kalau aku ingin kita bercerai." Alisya berdiri dari kursinya lalu berdiri di dekat jendela seraya memandang ke arah gedung gedung yang menjulang tinggi.


"Bagaimana jika aku tidak menolak bercerai denganmu??" ucap Kheano dengan nada tegas.


"Sekalipun kamu menolak, pengadilan tetap akan memutuskan saat aku menggugat cerai darimu." ucap Alisya yang kini berdiri bersekedap dada.


Kheano melangkah mendekati Alisya. sementara Alisya yang merasa Kheano semakin mendekat padanya, segera melangkah mundur sampai punggungnya terpentok tembok.


"Tidak bisakah kita terus bersama sebagai sepasang suami-istri dalam membesarkan anak kita??." Kheano mengungkung tubuh Alisya, yang kini mentok ke tembok.


"Aku bisa merawat anakku sendiri." jawaban Alisya membuat Kheano menghela napas dalam lalu menghembusnya perlahan.


Merasa habis akal menghadapi keras kepala istrinya, akhirnya Kheano mengeluarkan kalimat terakhir yang mampu membuat mata Alisya membulat sempurna.


"Baiklah, jika kamu tetap ingin berpisah denganku, maka aku akan mencari pengacara terbaik di negeri ini, agar hak asuh Kesya jatuh padaku." ucapan Kheano membuat Alisya menatap tajam ke arah Kheano.


"Aku ibunya, aku yang melahirkannya aku juga yang telah menyusui serta menjaganya hingga saat ini , bagaimana bisa kamu akan memisahkan aku dari anakku." ucap Alisya dengan mata mulai berembun.


"Terserah kamu mau bilang apa, pilihan ada di tanganmu. mau tetap hidup bersama denganku sebagai pasangan suami istri atau berpisah dariku dan kamu akan kehilangan Kesya untuk selamanya." ucap Kheano sebelum berlalu meninggalkan ruangan Alisya.


Sebenarnya Kheano tidak tega berkata seperti itu pada Alisya, dan Kheano pun tidak sungguh sungguh ingin memisahkan Alisya dari putrinya, sebab ia tahu kedua wanita istimewa dalam hidupnya tersebut tidak bisa di pisahkan.


Namun Kheano juga tidak punya cara lain lagi, untuk menghentikan Alisya untuk bercerai darinya. maka dari itu Kheano sengaja menjadikan putri kesayangannya itu sebagai senjata untuk mengancam Alisya.

__ADS_1


Sayang sayangku,,,,,jangan lupa like, vote,komentnya ya,,,,and jangan lupa masukan ke novel favorit ya,,,,


Satu Like, vote, and koment sangat membantu Author untuk kembali bersemangat dalam menulis,,,,I love you all,,,,😘😘😘😘🥰🥰🥰😍😍😍😍


__ADS_2