Menikah Di Usia Remaja.

Menikah Di Usia Remaja.
Malu bukan main.


__ADS_3

Kheano yang di temani bundanya Alisya memapah tubuh istrinya menuju kamar, sementara Ayahnya serta Dokter Ferdi yang kini juga ikut beranjak dari meja makan segera melihat kondisi Alisya.


Setelah meminta izin pada Kheano, dokter Ferdi yang tadi di minta untuk memeriksa kondisi adik iparnya tersebut, segera melakukan pemeriksaan pada Alisya.


"Sudah sejak kapan kamu merasakan mual seperti ini??" tanya Dokter Ferdi di saat memeriksa kondisi adik iparnya tersebut.


Alisya mencoba mengingat, sementara dokter Ferdi kembali bertanya.


"Apa akhir akhir ini kamu juga sering merasa pusing??." lanjut tanya pria tersebut.


"Kalau muntah, ini untuk kali pertama, tapi kalau pusing, akhir akhir ini Alisya memang sering pusing mas." jawab Alisya yang mulai memanggil kakak iparnya tersebut dengan panggilan akrab.


"Maaf sebelumnya kalau pertanyaan mas sedikit sensitif, apa kamu bulan ini kamu sudah datang bulan tepat waktu??." pertanyaan kakak iparnya yang berprofesi sebagai dokter membuat Alisya menggeleng.


"Alisya sudah telat tiga hari, harusnya tamu bulanannya Dateng tiga hari yang lalu." jawaban Alisya membuat Kakak iparnya yang berprofesi sebagai dokter itu semakin mengarah pada prediksi awal.


"Semoga saja prediksi mas benar, tapi untuk lebih jelasnya lagi, sebaiknya kalian segera berkonsultasi dengan dokter spesialis kandungan!!." ucap dokter Ferdi.


"Maksud mas Ferdi, Alisya hamil??." tebak Kheano yang tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.


"Itu masih prediksi mas saja berdasarkan pemeriksaan awal, karena berdasarkan gejala yang di rasakan istri kamu mengarah ke sana." terang dokter Ferdi.


"Aamiin, semoga saja prediksi mas memang benar." ucap Kheano dengan wajah penuh harap, apa yang di katakan pria itu benar benar terjadi, istrinya hamil.


Alisya pun segera menuruti permintaan suaminya untuk memeriksakan kondisinya ke rumah sakit, sementara itu Tiara bertugas menjaga keponakannya selama Alisya ke rumah sakit.


Kesya nampak tengah bermain di ruang tengah dengan di temani tantenya,Tiara, sementara dokter Ferdi yang hari ini juga izin cuti sampai dengan tiga hari ke depan, ikut menemani keduanya.


"Tante, emangnya bundanya Kesya sakit apa, kenapa bunda harus di bawa ke rumah sakit??." pertanyaan dari gadis kecil itu membuat Tiara mengulum senyum, sebelum menjawab pertanyaan.

__ADS_1


"Sayang, Kesya tidak perlu terlalu khawatir dengan kondisi bunda, sekarang sebaiknya ponakan kesayangan Tante berdoa, semoga sebentar lagi Kesya beneran punya dedek bayi!!." dengan lembut dan tenang Tiara memberi pengertian pada keponakannya tersebut.


"Iya Tante." jawab gadis kecil itu sebelum memanjatkan doa untuk sang bunda.


Meski di usianya yang masih terbilang muda bahkan kecil, wajah gadis kecil itu terus nampak khawatir pada bundanya, sampai Ferdi yang sejak tadi memperhatikan gadis itu mencoba menghiburnya dengan mengajak gadis kecil itu bercerita.


"Sayang, kamu nggak boleh sedih gitu dong, kalau Kesya sedih nanti bunda di sana juga bisa sedih!!." mendengar kalimat pria dewasa tersebut, membuat gadis kecil itu menengadah menatap lekat raut wajah dokter Ferdi, yang mengajaknya ngobrol.


"Om memangnya kalau mau punya dedek bayi, semua perempuan itu harus sakit yang om??." pertanyaan gadis itu membuat pria dewasa itu mengulum sebuah senyuman, tidak menyangka gadis seusianya memiliki pertanyaan seperti itu.


"Om juga nggak tahu sayang, soalnya istri Om kan belum pernah hamil." jawaban suaminya tersebut membuat Tiara yang duduk tidak jauh dari keduanya pun mendelik pada pria itu, sementara Kesya segera beralih menatap tantenya.


"Kenapa Tante Ara belum hamil Tante, memangnya Tante nggak mau punya dedek bayi yang lucu??." pertanyaan dari keponakannya tersebut membuat Tiara sulit menelan salivanya, apalagi saat gadis itu bertanya, di saat sosok pria yang kini sah menjadi suaminya juga tengah berada di tengah tengah mereka.


"Bukannya Tante kamu nggak mau punya dedek bayi yang lucu sayang, tapi sepertinya Tantenya Kesya belum siap untuk membuat dedek bayi." bukannya Tiara yang menjawab pertanyaan gadis kecil itu melainkan suaminya yang menggantikannya menjawab pertanyaan dari bocah itu, sementara Tiara semakin mendelik ke arah suaminya, saat suaminya tersebut mengatakan hal yang semacam itu pada seorang gadis kecil.


"Oh gitu ya om." jawab Kesya mengangguk, meski sebenarnya ia sama sekali tidak paham dengan makna sesungguhnya dari kalimat pria dewasa tersebut.


"Cucu nenek yang paling cantik, saatnya bobo siang!!." neneknya yang baru saja keluar dari kamarnya, mengajak cucunya untuk segera tidur siang, sebab mengingat pesan bundanya Kesya tadi sebelum meninggalkan rumah ayahnya.


"Baik Nek." sahut gadis kecil itu patuh.


"Om, Tante, Kesya Bobo siang dulu ya, biar Kesya cepat gede." pamit gadis itu sebelum beranjak.


"Iya cantik." sahut Dokter Ferdi.


"Iya sayang." Tiara ikut menyahuti keponakannya.


"Sebaiknya kamu juga istirahat siang Ara, ajak suami kamu, mungkin nak Ferdi juga sudah lelah ingin istirahat!!.".titah bundanya dan Tiara pun mengangguk, sebelum bundanya berlalu untuk menidurkan cucu kesayangannya.

__ADS_1


Setelah Kesya ikut bersama dengan neneknya, Tiara pun kembali ke kamarnya begitupun dengan dokter Ferdi yang mengekor di belakang istrinya.


"Mas mau mandi, gerah banget." ucap Ferdi saat berada di kamar, dan Tiara pun mengangguk.


Niat tidak ingin terlalu membuat istrinya kerepotan melayani dirinya, pria itu pun berinisiatif membuka lemari, untuk mencari keberadaan handuk. naasnya saat pria itu membuka lemari, pemandangan yang membuat matanya melotot adalah pakaian dalam wanita dengan berbagai warna yang begitu menggoda iman tersusun rapi di sana. dan sudah pasti pakaian dalam itu milik istrinya, sehingga membuat pria itu jadi salah tingkah, ia hampir lupa dengan tujuan utamanya yang ingin mengambil sebuah handuk untuk mandi.


Tiara yang kini tengah duduk di depan meja rias, tidak sengaja melihat suaminya yang berdiri mematung di depan lemari yang tengah terbuka, dari pantulan cermin.


Beberapa saat kemudian, Tiara baru menyadari jika lemari yang kini di buka suaminya adalah lemari khusus pakaian dalamnya, sehingga membuat gadis itu dengan tergesa gesa beranjak dari duduknya.


"Mas nyariin apa??." pertanyaan itu semakin membuat Ferdi salah tingkah, apalagi gadis itu bertanya sembari mencoba menutup lemari tersebut.


Untuk menghilangkan salah tingkah yang kini dirasakannya, pria itu pun mengelus tengkuknya sembari mengalihkan pandangan ke sembarang arah.


Sementara Tiara yang melihat gelagat suaminya merasa curiga.


"Apa tadi mas Ferdi sempat melihat pakaian dalamku??." dalam hati Tiara yang kini malunya bukan main.


"Maaf, tadi saya hanya mau ngambil handuk, tapi ternyata_" pria itu tidak menuntaskan kalimatnya saat Tiara sudah menyela.


"Ternyata apa mas??." sela Tiara dengan cepatnya.


"Tapi ternyata saya salah membuka lemari." sahut Ferdi kikuk.


Dari jawaban pria itu, Tiara bisa menebak jika suaminya tersebut sudah melihat hampir semua pakaian yang menutupi bagian sensitifnya. sementara dokter Ferdi segera menampilkan raut wajah biasa, saat melihat wajah gadis itu mulai merona menahan malu.


"Memalukan sekali, apalagi mas Ferdi sama sekali tidak tergoda saat melihatnya??." tebak Tiara saat melihat raut wajah suaminya nampak biasa saja, sebelum mengambil sebuah handuk yang berada di lemari yang berdekatan dengan lemari yang tadi sempat di buka pria itu.


"Ini handuknya mas." Ferdi pun segera menerima handuk pemberian istrinya sebelum berlalu menuju kamar mandi.

__ADS_1


Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan tebakan Tiara, bahkan pria yang kini telah menghilang di balik pintu kamar mandi yang kini telah tertutup rapat itu, malah memegangi dadanya yang berdebar tak karuan sejak melihat benda keramat tersebut tadi.


"Sabar Fer, kamu tidak boleh egois, tidak baik memaksa istri, meski itu sudah menjadi hak mutlak buat kamu!!." di kamar mandi nampak dokter Ferdi seperti tengah memberi semangat pada diri sendiri.


__ADS_2